Adipati Karna

12

November 20, 2009 oleh sedjatee

“Wahai Anak Kusir Kereta, menyingkirlah dari perlombaan ini”
Pemuda itu menepi, membawa busur panahnya
Wajah kesalnya menyiratkan dendam
Pada seorang yang berwajah mirip dengan dirinya

“Wahai Pemanah Muda, bergabunglah dalam persaudaraan kami”
Angin sejuk mengobati hatinya yang teriris
Tawaran yang menumbuhkan satu loyalitas
Pada suatu persahabatan yang diulurkan padanya

“Wahai Anakku, akulah ibumu, betapa aku sangat mencintaimu”
Ia balik bertanya, kemanakah cinta ibu saat Pandawa menghinaku
Jawaban itu meluruhkan hujan air mata
Pada wajah wanita yang menghanyutkannya di masa bayi

”Wahai Anakku, bergabunglah dengan para saudaramu”
Tetapi ia lebih teguh pada sumpah persahabatannya
Sikap yang menghadirkan nestapa di hati Kunti
Pada kemuraman senja di pinggiran Kurusetra

”Wahai Ksatria, seseorang kini akan datang melemahkanmu”
Mentari seakan membisikkan pesan cinta
Pada ksatria yang tengah khusyuk bersemadi
Putera Sang Matahari yang menjadi Raja Awangga

”Wahai Raja, berilah aku pakaian terbaikmu”
Pinta seorang dewa yang menjelma sebagai brahmana
Ia meminta baju zirah dan sepasang anting dewata
Pada Raja Awangga yang dermawan dan berbudi

”Wahai peminta-minta, ambillah keinginanmu dariku”
Ia bersumpah, tak seorangpun pulang darinya dengan tangan hampa
Kini ia tak lagi dengan baju zirah yang menjadi separuh kekuatannya
Pada hari yang sangat dekat dengan Baratayudha

”Wahai Adinda, mengapa engkau ingin perang besar ini segera terjadi”
Lalu ia menjawab tanya Sang Kresna tentang jalan menghapus angkara murka
Itulah komitmen yang erat digenggamnya
Pada jalan ksatria, jalan yang dipilihnya

”Wahai Pregiwa, Konta Wijayadanu adalah takdir suamimu”
Ia menghibur dan meminta maaf atas kematian Gatotkaca ditangannya
Ia membesarkan hati Arimbi yang kehilangan putra terbaiknya
Pada hari kelimabelas peperangan trah Barata

”Wahai Bapa Salya, duduklah di kursi keretaku”
Ia meminta mertuanya untuk bertindak bagai Kresna di kereta Arjuna
Namun Salya menjalankannya setengah hati
Pada episode Karna Tanding yang masyhur di Kurusetra

”Wahai kakanda, aku menunggu ruhmu di langit dewata”
Ia menjawab lambaian ruh Surtikanti yang dicintainya
Tatkala Pasopati Arjuna menghujam ke lehernya
Pada suatu siang yang matahari menutup diri dengan awan

”Wahai prajurit, teladanilah Adipati Karna, pahlawan yang teguh janji”
Demikian Tripama menuturkan ajaran sikap kenegaraan
Dari diri seorang pahlawan yang teguh menggenggam sumpah
Di adalah putera Sang Surya, Adipati Karna

Sedjatee – medio november 2009

About these ads

12 thoughts on “Adipati Karna

  1. heru mengatakan:

    hemm…. bingung ngartiinya :D

  2. sunflo mengatakan:

    suka wayang ya mr?? aq dulu juga suka cerita wayang…tp sekarang giliran wayang dah molai ‘punah’, jadi ga bisa ngikuti lagi critanya…hehe…

  3. wardoyo mengatakan:

    Mantap SANEPO-nya…. hdup Karna

  4. alamendah mengatakan:

    (maaf) setelah sekian lama baru bisa berkunjung.
    Salam saja.

  5. zipoer7 mengatakan:

    Salam Takzim
    Mohon izin memberi Award kepada Sahabat dijemput ya jika berkenan
    Salam Takzim Batavusqu

  6. zipoer7 mengatakan:

    Salam Takzim
    Mohon izin memberi Award kepada Sahabat jika berkenan dijemput ya
    Salam Takzim Batavusqu

  7. atmo kanjeng mengatakan:

    hm, apa kisah ini diambil dari bhagavad gita?

  8. wardoyo mengatakan:

    Berkunjung lagi… jangan lupa : JALAN MASIH PANJANG
    Terutama karena perang antar reptil masih belum selesai. Salam.

  9. sedjatee mengatakan:

    rekan-rekan bloger yang super… thanks atas komentar pada tulisan ini. tulisan ini adalah puisi khusus untuk idola imaginer saya…
    buat kakaakin : salam sukses selalu…
    buat heru : kalo bingung, minum bodrek…
    buat sunflo : wayang adalah candu, nikmatilah…
    buat mas wardoyo : lumayan mas, daripada mikirin reptil mas…
    buat bung alemandeh : thanks atas kunjungannya… sukses..
    buat mister zipoer batavusqu : thanks atas awardnya….
    buat mas atmokanjeng : ini puisi ngambil ide dari banyak sumber mas…
    sukses sejati… sukses selalu…

    sedj

  10. booksaddict mengatakan:

    Waktu masih kecil dan hanya melihat dunia hitam dan putih, saya tidak suka dengan Karna dan memasukannya ke golongan hitam. Tapi setelah dewasa dan membaca Mahabrata versi buku, barulah saya paham ada dunia abu-abu. Pandawa tidak selalu benar dan Karna ternyata lebih perwira dari Arjuna.

    • indarto - purworejo mengatakan:

      Karna adalah hasil dari bukti kebohongan yang ditutupi. Jiwa ksatria adipati Karna sudah jarang dijumpai saat ini. Hidup Karna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: