Televisi Baru

16

Januari 30, 2010 oleh sedjatee

Ketika Mahar menyodorkan bangkai cicak ekor bercabang, Tuk Bayan menunjukkan bangkai tokek ekor bercabang sebagai bukti bahwa ia lebih hebat dari Mahar. Demikian seterusnya hingga Mahar mengeluarkan magisnya yang terakhir: sebuah televisi portable bekas hitam putih yang membuat mulut Tuk Bayan dan kroninya ternganga lebar dengan mata melotot takjub.

Demikian sepenggal kisah dunia mistis dalam tetralogi keempat novel Andrea Hirata, Maryamah Karpov. Masyarakat dunia gelap, Tuk Bayan dan para sekutunya, menganggap kotak berkaca yang bisa memunculkan gambar dan suara itu adalah benda keramat yang punya kekuatan gaib. Oleh karenanya memiliki benda itu akan menaikkan gengsi mereka selaku dedengkot paranormal. Hari gini, masih ada makhluk jaman sekarang yang belum melek teknologi oleh karena kejahiliahannya.

Tak jelas kapan benda kotak ini dikenal sebagai televisi. Sesepuh kita, Mbah Wikipedia, tidak memberi nama pasti tentang oknum si pembuat kotak ajaib ini. Namun demikian beberapa catatan menyebut temuan Paul Nipkow, 1884, sebagai salah satu milestone awal sejarah televisi. Yang pasti penciptaan televisi sebagai media penyiaran tidaklah melibatkan hal-hal dari dunia mistis. Pemindaian gambar dan suara ke kotak tabung televisi bukanlah persekongkolan teknologi dengan kalangan lelembut.

Menarik untuk mencermati masa pengenalan televisi di beberapa negara dunia. Jika Eropa barat, Jepang dan AS telah mengenalnya sejak 1930-an, maka karena faktor kemiskinan dan keterbelakangan beberapa negara kepulauan di Pasifik dan beberapa negara Afrika baru mengenal televisi pada 1990-an. Di negeri kita tercinta siaran televisi pertama ditayangkan pada tanggal 17 Agustus 1962 bertepatan dengan peringatan HUT RI ke XVII. TVRI menandai hari lahir mereka dengan hari pertama siaran secara kontinyu pada 24 Agustus 1962. Liputan perdananya adalah upacara pembukaan Asian Games ke IV di Stadion Utama Senayan Jakarta.

Televisi sebagai teknologi terus melakukan metamorfosis dari tipe paling primitif CRT hingga jenis terbaru kategori LCD, plasma tv hingga televisi LED. Harga yang melangit tidak menjadi momok untuk tidak menaikkan grafik penjualan televisi dunia. Menurut Electronic Marketer Club (EMC), perhelatan sepakbola piala eropa 2008 konon mendongkrak pertumbuhan angka penjualan televisi hingga 21% lebih dari tahun sebelumnya. Dan menjelang pagelaran piala dunia 2010, juru nujum dan tukang ramal telah memprediksikan fenomena yang sama pada tahun ini.

Sepertinya ramalan itu menunjukan gelagat yang benar adanya. Secara terduga, sistemik dan terencana, seseorang menggotong sebuah televisi berwarna lengkap dengan kardus, remote dan gabusnya, ke kamarku. Maka supaya terlihat kaget binti terkejut dan bahagia, kupasang tampang terperangah dengan wajah berseri-seri. Mirip gelandangan yang didatangi petugas zakat. Oh my God, di awal dekade kedua abad 21 ini, akhirnya aku melek teknologi meski bukan karena keterbelakangan atau kemiskinan. Huehehehe… suit.. suit…

Belum banyak yang bisa diperbuat dengan televisi (baru tapi tak baru) ini. Pertandingan bola yang kutunggu-tunggu masih lima bulan lagi digelar. Namun demikian televisi ini telah mengungkap beberapa hal yang selama ini kuanggap mitos. Dari informasi televisi, ternyata bukan mitos bahwa ada penjara wanita dengan fasilitas hotel bintang lima. Juga bukan mitos bahwa ada bangsat dan sumpah serapah lain di gedung dewan yang mulia. Dan juga bukan mitos tentang rakyat sebuah negeri yang sering menakut-nakuti kepala negaranya sendiri.

Inilah saatnya merenungkan kegigihan Paul Nipkow dan jasa para stasiun televisi yang sedikit banyak telah berkontribusi menyiarkan kepada kita semua kabar burung (kabar tentang perilaku burung tak bersayap), gosip (makin di gosok makin sip), berita-berita selingkuh (selingan keluarga utuh), adegan panas (berita kebakaran, gambar kompor, setrika atau acara memasak), film telanjang (film dokumentasi satwa, serangga dan reptil) dan lain sebagainya. Terima kasih untuk seseorang yang telah menyediakan dana untuk memboyong benda keramat ini. Cukup sekian tulisan ini, mau melototin televisi dulu…

About these ads

16 thoughts on “Televisi Baru

  1. Abula mengatakan:

    saya juga komen sambli melototin televisi lho :D

  2. Hary4n4 mengatakan:

    Wah sayang, televisi-ku gambarnya kayak nyamuk seliweran..gak jelas bin remang-remang..hehe :-D

    televisi telah membuka mata kita pada dunia asing diluar sana. Televisi telah memenuhi otak kita dgn berita2 yg ndak jelas maksud dan tujuannya. Televisi telah merubah gaya dan tingkah laku kita. Televisi…telah hidup dalam kehidupan kita…

    Salam hangat dan damai selalu…

  3. Halaman Putih mengatakan:

    Lebih canggih lagi, sekarang televisi sudah bisa masuk saku karena jadi fitur dalam ponsel. Nonton TV bisa dimana saja dan kapan saja.

  4. dedekusn mengatakan:

    Ga kebayang spt apa dunia ini sekarang kalau tanpa TV

  5. kopral cepot mengatakan:

    televisi di rumah rusak … sy coba untuk tidak diperbaiki dalam 2 bln inih (belon ada biayanyah ;) ) ternyata perilaku anak2 mulai berubah dr yang awalnya ngotot ingin cepet2 diperbaiki sampai akhirnya mencari kesibukan lainnya .. yg sulung Alhamdulillah makin getol baca buku dilahap abis tiap liburan.. adik2nyah berburu laptop bapaknya kalo lagie nganggur buat maen game he he he

    Salam sukses hatur tararengkyu n terimakasih dah berunjung ke rumah baru

  6. Dangstars mengatakan:

    mantep artikelnya, :P
    Ada yg merasa kesindir pastinya

  7. sunflo mengatakan:

    hehehe… si kotak ajaib telah menyihir dunia, mr… tergantung kitanya saja yang kudu bisa mengendalikan pengaruh sihirnya…. semoga sukses dan bahagia selalu tuk mr sekeluarga…aaamiiiin…

  8. sangsaka mengatakan:

    heuuuuuu… dapet telepisi dari manaaaa yaaaaaa????

  9. sunarnosahlan mengatakan:

    televisi sudah seperti nasi, tiap hari jadi menu penting

  10. sangsaka mengatakan:

    kunjungan siang sobat sekalian mo nebeng nonton tipi :mrgreen:

  11. M Subchan mengatakan:

    hadirrrrrrrr bang. baru tau saya kalo situ penggemarnya mahar hehehe….lagi, lagi, lagi,………..

  12. Kakaakin mengatakan:

    Senangnya ada tipi di kamar :)
    Kalo di rumahku sih ada tipi sebiji aja di ruang tamu.
    Tipi bisa jadi sumber keributan loh… rebutan milih chanel..apalagi kalo disetel dengan volume nyaring, dijamin ribut tuh :mrgreen:

  13. jundi313 mengatakan:

    Om…
    tiba-tiba saya teringat pada pencerahan pakdhe Faudhil ‘Adhim..
    Televisi tanpa sensor orangtua bisa menjadi racun bagi pikiran anaknya.
    Coba saya tampilkan kutipan sebuah dialog ayah dan anak berikut…
    “Pak, kapan kita beli tipi. Kalo gak punya tipi, kapan nanda pinternya?”
    Sang ayah dengan senyuman simpul penuh kebijaksanaan menjawab: “Anakku, kira-kira orang yang menciptakan tipi itu pinter gak, Nanda?”
    Sang anak menjawab “Pinter dong, Yah. Bisa bikin kotak yang ada gambar bergerak-geraknya kayak gitu, kok”
    Sang ayah melanjutkan penjelasannya “Nah, dia itu pinter malah karena gak pernah nonton tipi” :P

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: