Kampanye dan Kesemrawutan Kota

1

Februari 17, 2009 oleh sedjatee

20081222_125127_bendera

PEPERANGAN TELAH DIMULAI. Mungkin itulah yang ada di kepala para calon legislative kita. Sekian banyak partai, masing-masing dengan sekian banyak caleg. Hingar bingar yang hanya sekali dalam lima tahun ini adalah sebuah pesta, persis seperti julukannya selama ini, pesta demokrasi.

Pesta demokrasi. Demikianlah sebuah rezim masa lalu menamai sebuah ritual demokratisasi yang dahulu sebenarnya masih semu. Hari ini, tatkala ritual yang sama berada di fase yang lebih liberal, rezim yang mengusung slogan reformasi benar-benar menjadikannya sebagai sebuah pesta yang sebenarnya.

Betapa tidak. Bagaikan ada pembukaan lowongan pekerjaan, masyarakat kita menjadi bak para pencari kerja. Lowongan itu terbuka untuk siapapun, ibu rumah tangga, para pekerja seni, para politisi, akademisi, kiyai hingga penggembala sapi. Mereka punya hak yang sama untuk sama-sama mengaku sebagai wakil rakyat.

Dan langit-langit negeri ini menjadi begitu penuh warna. Kibaran bendera menjulang di setiap sudut ruang-ruang publik. Para produsen bendera kebagian rezeki. Penjual kain kebagian rezeki. Para pengangguran pun kebagian rezeki untuk upah memasang bendera atau baliho di lokasi-lokasi yang angker dan berbahaya. Tak terhitung berapa banyak biaya yang tiba-tiba dikucurkan untuk momen lima tahunan ini.

Tanpa disadari, kota-kota yang pada awalnya tak rapi tentunya berubah menjadi semakin semrawut. Bendera parpol yang ongkos produksinya tidak lebih mahal dari harga sebungkus rokok, akan dengan cepat menjadi kumal dan kusam memperburuk panorama kota. Gambar caleg dengan senyum kewibawaan yang dipaksa-paksa, menghiasi setiap dahan pepohonan.

Kota kita menjadi kumuh untuk sesaat. Tiba-tiba saja seorang pejabat menyerukan parpol untuk segera menurunkan alat peraga kampanye yang merusak keindahan kota. “janganlah atribut kampanye itu mengganggu keindahan kota”. Kata-kata sang pejabat begitu lantang dikutip banyak media.

Nun beberapa waktu yang lalu. Tatkala sang pejabat sedang bertarung untuk meraih kedudukannya, atribut kampanye dia pun bertabur di penjuru kota. Berbagai spanduk, baliho dan poster bergambar dirinya terasa menyesakkan ruang gerak kita. Dan kini, tatkala ia telah berada di tampuk kekuasaan, ia lupa pada sejarah masa lalu, bahwa ia juga pernah memberi andil serupa pada kekumuhan kota-kota kita.

Begitulah para politisi sebenarnya. Saling menuduh, menyalahkan, tanpa pernah sadar bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari kesalahan yang sama di masa lalu… semoga kita terlindung dari orang-orang semacam mereka…

One thought on “Kampanye dan Kesemrawutan Kota

  1. hilal mengatakan:

    apa kabar, pak? wah, lama sekali hiatusnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: