Sekat-sekat Kepahitan

Tinggalkan komentar

Februari 17, 2009 oleh sedjatee

berlin_wall

Bumi diciptakan untuk manusia, Adam Alaihissaalam beserta keturunannya. Rahmat Allah adalah juga rahmat bagi semesta, tanpa kecuali. Tetapi kemudian anak cucu Adam, atas dasar hasrat kemanusiaannya, mulai membuat sekat-sekat, mengusung simbol-simbol yang terkadang hanya sebuah bendera, dan akhirnya menciptakan kemurungan-kemurungan.

Bertahun- tahun, tembok itu berdiri tegak. Orang-orang Jerman harus saling mengucapkan selamat berpisah. Dinding itu menjadi menjadi sekat yang bagi angkuh dan dingin. Orang menyebutnya tränenpaläst, istana air mata. Dan memang, karena bangunan itulah banyak air mata rakyat Jerman tertumpah. Disinilah sanak saudara saling berpisah, hanya karena sebuah batas, tembok itu. Sekat itu telah membelah satu keluarga yang mulanya utuh menjadi “barat” dan “timur”, “kiri” dan “kanan” serta “kapitalis” dan “sosialis”, simbol-simbol yang tak sepenuhnya bisa dipahami oleh mereka yang menjadi korban stigma perbedaan.

Barat dan timur, atau kapitalis dan sosialis itu, kemudian tumbuh dengan warna-warnanya sendiri. Hamburger, sosis dan bir begitu melimpah ruah di Barat, begitu juga dendangan lagu-lagu, opera dan film. Sedangkan saudara di timur hanya bisu, mereka tak bersalah, semua hanya karena mereka “timur”. Di sisi timur tembok itu berdiri serdadu berwajah kaku dengan bedil di tangan yang penuh berisi peluru. Perbedaan, oleh Tuhan, diciptakan untuk menjadi rahmat, dan rahmat adalah untuk semua isi semesta tanpa kecuali. Namun di sana, perbedaan tampil dengan dimensinya yang lain, jurang menganga.

9 November 1989, setelah begitu angkuh selama sekitar tiga dekade, tembok itu akhirnya rubuh. Kehancurannya menjadi ekspresi sebuah perasaan manusia yang tidak betah pada keterkungkungan. Perjalanan menuju reunifikasi Jerman memang tidak serta-merta usai. Tetapi robohnya Tembok Berlin itu menjadi penegasan bahwa manusia, sesuai kodratnya, sangat ingin bisa berinteraksi dengan sesamanya secara leluasa, cair dan tanpa rasa bersalah.

Hari ini, sekat itu masih menjadi garis hitam tebal yang membuat jarak begitu jauh antara RRC dan Taipei, begitu juga di semenanjung Korea. Seorang kakek bermarga Kim di selatan telah berpuluh tahun memendam kerinduan pada saudaranya Kim yang lain yang berada di utara. Sebuah kerinduan yang tak jelas ujungnya. Demikian juga banyaknya drama kemanusiaan berwarna buram yang hari ini dialami oleh mereka yang terdiskriminasi oleh konsep-konsep idiologi, kasta, sejarah, trah, status dan kelas. Tak ada yang merasa bersalah. Seperti sebuah kutukan. Dalam derita panjangnya itu kakek Kim, juga orang-orang pinggiran, hanya bisa menggugat nasib. Nasib yang menyeret mereka kepada resiko-resiko seorang marjinalis.

Ternyata, dalam wujud maupun yang tak berwujud, ada banyak sekat yang tercipta di sekeliling kita. Tetapi secara naluriah, kita akan berusaha meniadakannya agar kita semua dapat berdiri sejajar sama tegak. Karena toh sekat-sekat itu manusia yang menciptakan, Tuhan tidak. Kalaupun perbedaan itu ada, dia adalah rahmat yang harus disikapi dengan hati terbuka, bukan dengan membuat sekat. Seperti sebuah pepatah Afrika, it is a small thing that is taken to measure a big thing. Yang besar kelihatan besar karena ada yang kecil.

Begitulah. Jika dalam hidup kita lebih sering menemukan keberuntungan, maka cobalah berempati pada yang tak beruntung. Empati itu “jangan bercerita tentang lezatnya hidangan yang kau santap kepada mereka yang tak pernah mengecap makananmu”. Manusia tak pernah sanggup menepis takdir, dan oleh karenanya takdir harus dijalani. Kenyataan hidup terkadang menampilkan banyak perbedaan. Tetapi bukan untuk dipersengketakan. Dan selama manusia masih membawa simbol-simbol kebesaran untuk menggerus orang lain, perbedaan akan menjadi sekat-sekat hitam yang tak pernah mengenakkan. Sekat membuat orang terlunta dalam kepahitan. Murung. Tragedi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: