Jiwa untuk Persahabatan

2

Februari 24, 2009 oleh sedjatee

wy-adipati-karna

Pria gagah itu terdiam dalam gundah. Tiba-tiba saja dia berhadapan dengan kenyataan yang tak pernah diduga-duga. Didepannya kini seorang wanita ningrat dengan wajah berlinang air mata.

“Ksatria, perbolehkanlah aku berbicara sebagai seorang ibu kepadamu. Bahwa hari ini, tanpa pernah terbersit dalam dugaanmu, izinkan kusampaikan sebuah kenyataan bahwa engkau yang besar dalam asuhan dan kasih sayang Radha dan Adhirata, bukanlah darah daging mereka”

Ksatria tampan dengan busana perang itu tertegun. Kalimat yang terdengar olehnya bagai petir menyambar di siang bolong. Belum lewat keterpanaannya, kalimat-kalimat kembali meluncur deras dari lisan wanita paruh baya di depannya.

“Ksatria, satu takdir yang tidak bisa dipungkiri manusia adalah kenyataan dari siapa ia dilahirkan. Kita manusia tak bisa memilih siapa ibu yang melahirkan kita… hari ini, aku membuka sebuah tabir yang telah lama kututup untuk manusia, dan tabir itu hanya akan kubuka untukmu. Ketahuilah anakku, akulah wanita yang melahirkanmu”

Lalu wanita itu bertutur. Tentang masa mudanya yang memesona Batara Surya, sehingga sang dewa menginginkannya. Tentang kehamilannya dari benih Batara Surya, namun sang dewa tetap menjaga keperawanannya. Tentang lahirnya jabang bayi lelaki berbusana perang melalui lobang telinganya, lalu sang bayi dihanyutkannya ke sungai untuk menutup aibnya.

“Maafkan ibu, Ananda… kendati ibu tak sempat mengasuhmu, ketahuilah bahwa cintaku kepadamu tetap terjaga. Maafkan ibu, Anakku… Ibu hanya ingin engkau kembali kepada ibu dan bersatu dengan adik-adikmu para Pandhawa…”

Ksatria itu diam. Pandangan yang semula tertunduk, diangkat menengadah langit. Wajahnya memerah, pancaran kecewa, sedih, haru dan juga tersinggung. Lalu dia… yang punya harga diri begitu tinggi, menjawab dengan kata-kata yang merobek hati.

“Kemanakah cinta Ibunda waktu itu, tatkala pada Pandhawa menghina dan merendahkanku sebagai anak sudera ? kemanakah cinta Ibunda tatkala Arjuna menolak bertanding memanah denganku hanya karena aku bukan dari keluarga istana?” Wanita itu hanya bisa menjawab dengan tangis.

“Maafkan aku, Ananda… kumohon.. lupakanlah masa lalu. Demi keluhuran keluarga kita, bergabunglah engkau dengan adik-adikmu Pandhawa. Tinggalkan peperangan ini dan biarlah ini semua berakhir tanpa ada darah yang tertumpah lebih banyak. Karena seusai perang ini, engkau akan dapatkan kemuliaan apapun yang engkau damba..”

“Tidak Ibunda… aku berperang bukan untuk mencari kemuliaan dunia. Aku tahu siapa pihak yang bersalah dalam peperangan ini. Namun jikalau aku berperang di pihak Kurawa, aku tidak sedang membela kejahatan mereka. Aku tidak membela keserakahan dan kedurjanaan mereka. Aku berperang untuk sebuah budi yang belum terbalas. Aku bertempur untuk membalas persaudaraan yang mereka ulurkan kepadaku tatkala Pandhawa merendahkan aku.”

“Anakku… kumohon… simpan busurmu dan jauhilah Kurusetra… Ibu ingin menikmati masa tua yang utuh bersama anak-anak yang ibu cintai..”
“Tenanglah Ibu, peperangan ini adalah takdir dewata yang kita semua tak bisa memungkiri. Tak usah engkau khawatir Ibu, seusai peperangan ini, Pandhawa akan tetap berjumlah lima, dengan aku atau Arjuna sebagai penggenapnya” lalu ksatria berbaju zirah dan anting-anting besar di kedua telinga, berlalu meninggalkan wanita yang terus menangis.

Kunti, wanita yang berurai air mata itu hanya bisa meratapi takdir. Masa lalu telah terjadi, dan saat-saat menyedihkan ini adalah bagian dari masa lalunya. Esok, tanpa bisa dicegahnya, ia akan melihat kedua putra terkasihnya baku hantam saling bunuh. Malam beranjak suram. Lolong serigala menyambut bulan yang mulai meninggi. Angin berdesah sedih membawa aroma kematian yang semakin tajam.

Hari keempatbelas di Kurusetra. Dua ksatria yang sama-sama tampan, sama-sama gagah bertempur dalam tatapan sedih sang ibunda. Karna dan Arjuna diatas kereta masing-masing, bagai dua matahari yang berkilau di jagad yang kusam. Hanya dengan satu anak panah, sesuai sumpahnya, Karna terperosok di tengah keretanya, tatkala panah Arjuna menghujam mengakhiri riwayatnya.

Ruh Karna, pahlawan yang mempersembahkan jiwa untuk persahabatan, disambut dengan taburan bunga oleh para dewa…

2 thoughts on “Jiwa untuk Persahabatan

  1. Ninis^Rina Khairunnisa SUpriatna mengatakan:

    salam kenal… yuk kita berbagi ilmu..

    • sedjatee mengatakan:

      terima kasih, salam kenal juga dari saya… btw alamat blognya mana? saya pengen juga baca2 blog yang laen, khususnya dimana saya bisa belajar dari tulisan yang ada… senang berbagi ilmu dengan anda, ditunggu korespondensi berikutnya… saya di sedjatee@gmail.com
      terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: