Belajar dari Ekalaya

1

Maret 4, 2009 oleh sedjatee

ekalaya

Anjing itu mati. Mulutnya terbungkam oleh tujuh anak panah sekaligus. Arjuna, sang pemilik anjing itu, melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa anak panah itu meluncur dari arah yang sama dan pada saat yang sama. Disekeliling itu tak ada orang yang berkeliaran dengan busur dan panah. Pastilah panah itu meluncur dari jarak yang jauh.

Arjuna mengutuk kejadian itu. Namun dalam hati ia takjub dengan kemahiran ilmu pemanah rahasia itu. Ini adalah ilmu sapta tunggal, memanah dengan tujuh anak panah sekaligus. Dan Arjuna tahu pasti bahwa di kolong jagad ini hanya ada satu orang pemilik ilmu memanah itu, dialah sang guru, Durna.

Tetapi Arjuna tahu betul, ini bukan anak panah Durna. Dan tak mungkin seorang resi seperti beliau mau meluncurkan anak panah hanya untuk seekor anjing. Terlebih itu adalah binatang piaraan murid kesayangannya.

Mendapat laporan sang murid, Durna tak kalah terkejutnya. Sebagai satu-satunya pemilik ilmu hebat itu, ia merasa tidak pernah mengajarkan kepada siapapun. Apalagi saat ini Durna telah berkomitmen kepada Bisma untuk hanya mendidik remaja keturunan Kuru, yaitu Pandhawa dan Kurawa.

Kemudian penyelidikan pun segera dilakukan. Durna beserta para Pandhawa segera berkeliling Padepokan Sokalima untuk mencari tahu si pemanah mahir itu. Dan akhirnya, dibawah sebuah bukit yang cukup jauh mereka menemukan sesuatu. Dari jarak jauh mereka mengintai.

Di bawah rerimbunan pohon, seorang pria berbusana bangsawan tengah bersimpuh dihadapan sebuah patung. Itu adalah patung Durna. Ukuran dan bentuknya sangat mirip dan hidup, gambaran seorang Durna yang sedang mendidik muridnya. Pria itu seperti sedang bercakap-cakap dengan patung yang menjadi guru baginya. Lalu diambilnya busur dan anak panah yang tergeletak disampingnya, membidik seekor burung yang terbang diatas para pengintai, dan… shuuut… tujuh anak panah beterbangan dan akurat menusuk sasarannya.

Pemanah ulung itu adalah Ekalaya atau Palgunadi, pengelana dari Paranggelung. Beberapa waktu lalu dia secara baik-baik pernah memohon untuk bisa menjadi murid Durna. Namun karena terikat komitmen kepada Bisma, Durna menolaknya. Penolakan itu tak membuat Ekalaya patah semangat. Kendati ia tak bisa mendekati padepokan Sokalima untuk sekadar melihat para Pandhawa berlatih, sikap batin dan kesungguhannya menuntunnya untuk belajar mandiri. Ia kemudian membuat patung berwujud Durna, lalu dengan kesungguhan hati ia berlatih seorang diri di hadapan patung ”sang guru”. Semangat dan kesungguhannya itulah yang kemudian menjadikan sesuatu yang mustahil menjadi mungkin untuk diraih.

Boleh jadi tidak semua kita mengenal Ekalaya. Ia tak begitu populer di kalangan kita, tetapi Ekalaya mengajarkan suatu hal yang realistis untuk dilakukan oleh semua orang yaitu : semangat menuntut ilmu, kemandirian dalam belajar dan kesungguhan untuk beramal. sederhana memang, namun tak cukup gampang untuk dilaksanakan.

One thought on “Belajar dari Ekalaya

  1. Eric S Brown Garage mengatakan:

    Related……

    […]just beneath, are numerous totally not related sites to ours, however, they are surely worth going over[…]……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: