Siapa yang Binatang?

1

Maret 12, 2009 oleh sedjatee

caci-maki1Stasiun senen, selasa dini hari, Mata ini belum sepenuhnya terbuka. Tetapi kaki harus segera melangkah dari gerbong yang pengap. Dasar kere… udah tahu long weekend ditambah libur Maulid Nabi, masih juga naik kereta begituan, dasar marjinalis… ah… biarin, rasanya lebih egaliter dan demokratis, hehe….

Terlihat mayasari bhakti jurusan Blok M masih ngetem di seberang stasiun. Segera saja aku bergabung dengan para penumpang yang telah duduk terkantuk-kantuk didalamnya. Ah.. rasanya mobil ini parkir dengan cara agak norak, terlalu ke tengah sehingga menyumbat arus dari kiri maupun kanan. Lho, bukannya sopir angkutan umum semuanya norak. Gitu aja kok repot, hehe…

Tatkala ribuan klakson tak juga mampu meminggirkan bus norak ini, salah satu sopir yang kesal segera mendekat untuk mengobral makian… “heh lu… anjing loe… markir yang bener lu… goblok…” sopir kami menjawab dengan gagah perkasa “apaan loe nganjing-anjingkan gue, loe yang anjing, babi loe… dasar kon***” (ups, rasanya kata mutiara satu ini tak usah saya deskripsikan dengan senonoh di tulisan ini)

Agak sumbang di kuping, tapi itu menjadikan kantukku hilang oleh rasa geli mendengar sumpah serapah yang meriah di pagi hari. Well, tanpa sadar mereka sedang memamerkan superioritas manusia. Manusia adalah simbol kesempurnaan, maka untuk suatu hal yang bernuansa kehinaan, manusia akan segera mengidentikkan dengan binatang. Salah satu buktinya adalah penyebutan nama binatang sebagai umpatan kebencian, kekesalan atau kehinaan. Demikian juga, manusia akan menyebut perilaku keji dan nista yang dianggap “diluar batas kemanusiaan” sebagai tindakan “biadab kebinatangan” atau “nafsu hewani” dan sebagainya. Perilaku manusia dianalogikan sebagai binatang manakala manusia bertindak kejam atau sadistis. Demikiankah..?

Jika sudut pandangnya adalah kekejaman, sungguh kurang tepat jika perilaku kejam melulu dialamatkan kepada binatang. Binatang apapun, tidak pernah berlaku kanibalis terhadap sesama jenisnya. Tidak ada cacing memangsa cacing. Binatang juga tidak pernah membunuh selain untuk dimakan, itupun terhadap binatang lain yang merupakan makanannya. Tidak ada binatang membunuh karena iseng, atau sekadar coba-coba. Belum ditemukan harimau membunuh keluarganya, apalagi dengan aksi mutilasi seperti yang terjadi di jagad manusia.

Sobat.., anak membunuh orang tua, perilaku kanibalis dan kebiadaban mutilasi telah terjadi di kalangan manusia. Adilkah jika tindakan itu disebut sebagai perilaku binatang, padahal para binatang tidak pernah melakukannya?

Jika sudut pandangnya adalah perilaku seksual, rasanya juga kurang pas jika penyimpangan seksual diidentikkan sebagai nafsu hewani. Benar adanya bahwa anjing mau membuntingi saudaranya sendiri atau anaknya sendiri (incest). Dan kini hal yang sama juga dilakukan oleh manusia. Tapi ingat, binatang tidak pernah membunuh pasangan bersetubuhnya dan tidak mengaborsi kebuntingannya. Tepatkah jika hal diatas disebut sebagai tindakan hewani, sedangkan para hewan tidak melakukannya?

Asal tahu saja, para binatang memiliki siklus reproduksi yang teratur dan hal itu mempengaruhi perilaku seksualnya. Harimau hanya bersenggama pada masa subur selama tiga hari dalam siklus 30-60 hari. Jika hal itu menyebabkan kehamilan, maka harimau tidak akan bersenggama sampai proses kelahiran yang berjangka 112 hari. Sedangkan gajah jantan mulai melakukan kegiatan seksual pada usia sekitar 30 tahun. Siklus kawin para gajah adalah sekali setiap 16 minggu. Jika gajah betina dalam keadaan bunting, ia tidak akan kawin hingga melahirkan setelah 20 bulan.

So.., bagaimana dengan manusia? Wow… mana tahan… Jika para binatang memiliki musim tertentu untuk kawin, maka bagi manusia tujuh hari dalam seminggu adalah hari baik untuk bersenggama. Setiap detik, ada manusia yang sedang kawin, tanpa mempedulikan musim, tanpa peduli sedang hamil atau tidak.

Nah.. siapa yang binatang? Tetaplah para binatang. Bisa jadi ia berbentuk manusia atau berwujud hewan. Dalam hal ini adalah manusia yang olehNYA disebut sebagai : mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. … ulaaika kal an’ami balhum azhal (7:179)…

One thought on “Siapa yang Binatang?

  1. miftah mengatakan:

    wah saya tertarik dengan tulisan ini, enak di baca dan endingnya passss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: