Pulanglah Bersama Cinta

3

Maret 14, 2009 oleh sedjatee

elderly-palestinian

“Ibu.., izinkan ananda menikah…” ucap Yahya el Moshavi bersungguh-sungguh kepada ibundanya.
Sang ibu tertegun menatap putra semata wayangnya itu. Raut wajah remaja belasan tahun itu mengenangkan kembali ingatannya kepada mendiang suami. Wajah tampan yang sangat mirip mendiang suaminya itu masih terlihat kekanak-kanakan. Tak percaya sang bunda pada ucapan anaknya yang meminta izin menikah. Pastilah Yahya sedang berolok-olok atau mengajaknya bercanda. Karena itu sang ibu tetap cuek mengemasi pakaian ke dalam tasnya.
“Bunda.., izinkanlah ananda menikah..” Yahya mengulang kembali kalimatnya dan barulah sang ibu sadar betapa anaknya sedang bersungguh-sungguh.

“Wahai bocah yatim.., berhentilah mengigau. Lebih baik engkau mengemasi pakaianmu dan kita akan segera meninggalkan Jabaliyah. Lekaslah sebelum roket Israel merobohkan gubuk ini..” jawab sang ibu sambil memasukkan sebuah foto kedalam tas pakaiannya.
“Ibu belum menjawab permintaanku..” jawab Yahya. Jawaban ini membuat sang ibu benar-benar memandang anaknya. Ibu sadar bahwa anaknya sedang berkata dengan serius.
“Menikah… Engkau akan menikah dalam usiamu yang semuda ini..?”
“Ya.., inilah kesempatan terbaikku dan aku tak ingin kehilangan peluang itu..”
“Sadarlah anakku, menikah bukanlah perkara sederhana. Fikirkanlah bahwa engkau akan memikul tanggung jawab yang tak ringan. Engkau harus menafkahi keluargamu dan kulihat engkau belum berkesanggupan untuk menjalaninya” jawab sang ibu panjang lebar
“Lupakah ibunda bahwa Allah akan mencukupkan nafkah dan melapangkan rezeki hambanya yang berniat lurus karena Allah. Dan untuk ibu ketahui, untuk pernikahan ini ananda tak terbebani dengan hal-hal yang memberatkan itu.” Jawab anaknya dengan lancar dan penuh sopan santun.

“Oh begitukah..? dengan siapa engkau akan menikah anakku?”
“Dengan bidadari.., untuknya telah kusiapkan mas kawin terbaik yang kumiliki” jawab Yahya mantap.
“Bidadari..!”
“lihatlah Ibunda..” kata Yahya sambil membuka jubah panjangnya
Sang ibu tertegun. Lusinan granat tangan menggelantung di dada sang anak, tak ketinggalan sebuah mushaf Quran kecil peninggalan mendiang suaminya di saku depan bajunya.
“Bunda.., dengan izin Allah, perkenankanlah ananda berangkat ke perbatasan. Malam ini pasukan Sayyed Hosein akan menyusul pasukan Hamas yang telah berada di sana.”

Wanita itu mengangguk dengan bibir mengulum tangis dan mata yang berkaca-kaca. Dipeluknya permata hati sedang tumbuh remaja itu. Ada kebanggaan tiada tara bahwa anaknya besar sebagai anak berjiwa tangguh, patriotik dan pemberani, mewarisi karakter ayahnya yang telah berpulang. “berangkatlah.., Nak.. pulanglah bersama cintamu…”

*****

“Salma.. malam ini aku harus berangkat ke perbatasan.” ucap Ahmad el Moshavi pada isterinya yang tengah menidurkan puteranya. Ucapan ini sering terdengar dari bibir Ahmad, namun entah mengapa untuk kali ini Salma tak juga memberi jawaban. Salma hanya bisa menatap dengan tatapan yang dalam. Lalu pandangannya dialihkan ke putranya yang tertidur dalam pelukan.

Yahya elMoshavi lahir dalam keluarga pejuang. Nama itu sendiri merupakan harapan dari sang ayah yang mengidolakan Yahya Ayash, mujahid yang memperjuangkan palestina. Ayahnya adalah seorang yang memperjuangkan harga diri sebuah bangsa. Ia hanyalah pedagang biasa, namun tatkala panggilan jihad memanggil, ia juga siap bertempur untuk agama dan tanah kelahirannya.

Empat tahun setelah kelahiran Yahya di rumah Ahmad dan Salma, tiba-tiba Israel menyerang Jabaliyah, distrik di Timur Laut Gaza. Naluri pejuang Ahmad el Moshavi langsung tumbuh menyambut serangan itu. Tak ada kata menyerah atau kalah dalam kamus perjuangan orang Arab dan Ahmad mewakili karakter itu.

“Kapan Kakanda akan pulang..? tanya Salma memecah kebisuan mereka.
“Setelah perjuangan ini usai. Aku pasti kembali kepadamu” jawab Ahmad “Bacakan selalu ini didekatnya…” lanjutnya sambil mengulurkan sebuah mushaf.

Sejarah kemudian mencatat, serangan bom Israel ke Palestina menewaskan ratusan warga sipil. Serangan ini memunculkan dendam berkepanjangan, khususnya bagi milisi Hamas dan gerakan intifadahnya. Ahmad memang akhirnya pulang ke Jabaliyah, kepada Salma dan si kecil Yahya, namun kepulangan itu hanyalah kembalinya sebuah nama dan semangat perjuangan yang ia titipkan melalui sebuah surat kepada isterinya.

“Salma…
kutitipkan Yahya padamu. Ajarkanlah ia kebaikan dan kebenaran. Didiklah ia untuk menjadi pemberani, jangan besarkan ia sebagai penakut. Jangan ajari ia untuk takut padaku, namun ajari ia untuk takut kepada yang menciptakan aku… ”

*****

11380995Sepuluh tahun setelah serangan yang merenggut jiwa sang ayah, serangan yang sama kini terjadi lagi. Yahya telah berada dalam barisan pejuang di perbatasan Gaza untuk mempertahankan harga diri bangsa dan tanah kelahirannya.

“Hey bocah .., wajahmu sangat mirip dengan mendiang sahabatku, adakah engkau anak Ahmad elMoshavi?” ujar seorang pejuang yang mengenal ayah Yahya.
“Benar wahai paman.., aku Yahya..”
“Alangkah muda usiamu, tidakkah sebaiknya engkau kembali kepada ibumu, ia pasti sangat merindukanmu”
“Akupun sangat merindukan ibunda, Paman.., namun biarlah kutempuhi perjuangan ini sampai akhir. Inilah saatnya aku membuktikan cinta kami kepada mendiang ayah. Akan kubuktikan bahwa ibu telah menunaikan amanah ayah dengan benar dalam mendidikku. Biarlah Allah yang memberikan keputusan, kita meraih kemenangan ini atau aku yang binasa…” jawab Yahya sembari bersiap untuk maju.

*****

Peperangan sebulan lebih antara Hamas dengan Israel diakhiri dengan gencatan senjata. Kedua pihak mengklaim meraih kemenangan. Kemenangan yang mereka definisikan dengan bahasa mereka sendiri. Ribuan sipil, banyak diantaranya wanita dan anak-anak di pihak Palestina menjadi korban namun salam kemenangan tetap menggema di langit mereka.

Di Jabaliyah.., seorang ibu kembali ke rumahnya yang nyaris hancur oleh serangan udara musuh negerinya. Dalam sisa semangat hidupnya ia membersihkan kenangan-kenangan yang tersisa. Telah sepekan lebih perang usai, dan setiap pagi wanita itu membuka tirai kamar anaknya. Namun setiap pagi itulah ia hanya selalu menemukan sebuah kamar yang hampa tanpa penghuni. Yang bisa ditemui hanyalah gambar dua orang pria yang telah mengisi penuh hatinya dengan cinta.

Penantian itu telah diakhirinya sendiri. Ia bertekad untuk tidak lagi menanti kedatangan sang buah hati. Ia sangat mengerti bahwa anak yang berpamitan kepadanya tempo hari, telah kembali ke tempatnya yang baru. Tempat yang disana juga ada suami yang dicintainya. Anak yang berpamitan untuk menjemput cintanya itu telah benar-benar kembali, pulang ke tempat ia seharusnya kembali, pulang bersama cinta.

3 thoughts on “Pulanglah Bersama Cinta

  1. maricurhat mengatakan:

    *BLOGWALKING*

    ^^

    Mampir yua k blog aQ🙂

  2. jundi313 mengatakan:

    subhanallah, tulisan om tampan sedjatee menggugah hati para jejaka bujang yang dipenuhi dengan euphoria kata-kata “nikah”. Tulisan ini seakan mengingatkanku bahwa pernikahan bukanlah puncak pencapaian prestasi seorang hamba. Tapi kecintaan yang luar biasa kepada Allahlah kuncinya. Yahya pulang bersama pilihan cintanya. Pilihan yang cinta yang benar-benar tepat. Allahuakbar….!!

  3. Fadhilatul Muharram mengatakan:

    ini cerpenkah?? hmm

    salam kenal😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: