Aji Pagar Jiwa

2

Maret 18, 2009 oleh sedjatee

dukun1

Jika ingin berbagi pengalaman-pengalaman spiritual, maka yang paling tepat adalah berdiskusi dengan Kang Kliwon. Sedulur tuwo [1] kami yang satu ini adalah seorang yang tekun mendalami hal-hal yang bernuansa kebatinan. Dan sejauh yang pernah diceritakan kepadaku, ia telah memiliki banyak pengalaman menarik yang sedikit banyak aku pun merasa kagum kepadanya.

Ilmu iku kelakone kanthi laku [2]” demikian ia pernah menyitir sebaris tembang mocopat untuk memberi sebuah nasehat kepadaku. “oleh karena itu aku banyak menjalani lelaku dalam rangka meraih ilmu yang bermanfaat untuk membangun keutamaan jiwa dan raga” demikian lanjutnya. Jika sudah mulai menyerempet-nyerempet pembicaraan tentang ilmu kebatinan, gaya bicaranya pun berubah bak seorang begawan.

Ia mengaku beberapa kali mengalap [3] berkah sekaten di kraton Solo, termasuk memburu kotoran kerbau bule Kyai Slamet yang diyakini bisa membuat orang jadi awet muda, panjang usia dan murah rezeki. Skenario nalar rasionalku tak bisa memahami keyakinan kakangku itu, namun amat sulit untuk bisa merobah pola fikirnya. Ia pun bercerita bahwa dirinya baru saja menjalani tirakat sesuai anjuran Syekh Siti Jenar yang menemuinya beberapa waktu sebelumnya. Dalam pertemuan itu Sang Syekh menitahkannya untuk topo pendhem [4] di segoro kidul [5] selama beberapa hari. Hal itupun telah ia jalani dengan sepenuh hati dan keyakinan.

Yang menghebohkan tentunya adalah pengakuannya bertemu dengan Bathara Narada, patih para dewa dari kahyangan Jonggring Saloka. Ketika saya mengoreksi bahwa Bathara Narada tidak bisa melihat kebawah, Kang Kliwon tetap ngeyel [6]. Ia bersikukuh bahwa ia pernah bertemu dengan Bathara Narada. Saya katakan padanya, jangan-jangan yang dijumpainya itu bukan Narada, tetapi Togog atau Durna. Namun ia tetap pada keyakinannya. “Jangan maen-maen lho Dimas Djati. Pemimpin para dewa kok dipakai guyonan. Bertemu Sang Hyang Narada itu enggak maen-maen lho, biasanya ini orang bakal menjadi orang besar dan melahirkan keturunan orang-orang besar”

Wuaahh.. saya jadi teringat pada kisah Wahyu Cakraningrat, sebuah wahyu yang didapat oleh Abimanyu melalui sebuah perjuangan dan pengorbanan yang maha hebat. Wahyu inilah yang menggariskan akan lahirnya raja-raja besar dari keturunan Abimanyu. Lalu Astina, kerajaan besar pasca perang Bharatayudha akhirnya dipimpin berturut-turut oleh Parikesit, Yudayana, Gendrayana dan seterusnya, yang kesemuanya adalah keturunan Abimanyu. Hebat dong, Kang Kliwon melahirkan keturunan orang-orang hebat. Tapi perlu waktu untuk membuktikan apakah Kang Kliwon dan anak-anaknya benar-benar menjadi orang hebat.

***@@@***

Awal Ramadhan ini saya dan dua sepupu saya berada di dalem Kemantren selama dua hari untuk nyekar [7] ke pusara leluhur kami. Lebih dari itu saya juga rindu untuk berdiskusi dengan Kang Kliwon. Menurut kabar yang kudengar, sepertinya mulai terbukti bahwa kakangku itu benar-benar akan menjadi orang besar. Saat ini dalam usia 40 tahun ia mulai berkarir sebagai tukang kebon sekolah menengah di Kemantren.

“Assalamualaikum Kang..”
“Weee… Dimas Djati, Dimas Suryo, Dimas Danar monggo-monggo … silakan… silakan masuk..” lalu kami berbasa-basi seperti biasa.
“Kabarnya kakang sekarang menjadi guru es em pe, sudah berapa lama Kang?”
“Bukan guru kok Dimas, baru dua bulan, dan itupun masih staf biasa” jawaban penuh kepolosan dengan gaya merendah itu membuatku seakan tak kuasa menahan geli.
“oh begitu.. ya mudah-mudahan besoknya Kakang bisa meraih besluit sebagai kepala sekolah”
“ah, jangan muluk-muluk lah Dimas, kalo bisa jadi guru kesenian saja saya sudah bersyukur”

“Kakang masih sering nglakoni [8] seperti dulu, Kang?”
Mendengar pertanyaan ini wajahnya berubah menjadi penuh antusias.
“Ya masih to, Dimas. Kita sebagai manusia jangan pernah malas untuk terus menimba ilmu, rak begitu to Dimas?” lalu dia melontarkan sebuah tawaran “Begini Dimas Djati, saya mau mengajak panjenengan tirakat sama guru saya yang di Gunung Merapi.”
“Mbah Maridjan?”
“Bukaaaan.., guru saya ini wali lho Dimas, namanya eyang Kromo”
“Terus.., saya disuruh ngapain”
“Dimas Djati nanti tirakat disana sesuai arahan Eyang, nenuwun sama Gusti Allah supaya diberi murah rejeki, sehat lahir bathin, gimana Dimas?.”

Batinku tertawa. Kang Kliwon bercerita bahwa Mbah Kromo juga bisa membantu banyak orang untuk mencari jodoh yang cantik, pinter, kaya, tapi isteri mbah Kromo sendiri hanya biasa-biasa saja. Menggelikan, sungguh menggelikan. Sangat bagus dalam suasana siang di bulan puasa mendapat hiburan lelucon dari Kang Kliwon seperti ini.

“Eyang Kromo itu sakti lho Dimas”
“Kalo itu saya percaya Kang.., lha wong muridnya saja sakti, masak gurunya tidak”
Dianggap sebagai orang sakti, Kang Kliwon tersenyum bangga. Hehe…
“Dimas, ada satu hal yang mau saya sampaikan. Tapi Dimas Djati harus janji untuk tidak memberi tahu siapa-siapa ya” kata Kang Kliwon dengan mimik serius.
“Iya Kang, saya janji” jawabanku itu disambutnya dengan mendekatkan duduknya kepadaku.
“Begini Dimas, sebulan lalu saya tirakat di tempat Eyang Kromo selama tujuh belas hari, dan setelah itu saya diberi ilmu yang sangat bagus, namanya Aji Pager Jiwa” katanya setengah berbisik. Aku hanya melongo antara pura-pura bego dan menahan geli.
“Aji Pager Jiwa itu, Dimas, merupakan ilmu kebal yang dimiliki oleh para ksatria di jaman Kraton Pajang hingga Kraton Mataram, termasuk sinuwun [9] Panembahan Senapati sendiri memiliki ilmu itu.”
“Bagus ya Kang..” timpalku
“Iiiyaa.., sakti mandraguna. Betul-betul ilmu yang sangat hebat.Tirakatnya berat lho Dimas”
“Apa saja tirakatnya, Kang?”
“Tujuh belas hari itu saya puasa terus. Yang sepuluh hari ngrowot [10], yang tujuh hari saya mutih [11]. Selama tirakat harus pati geni [12]. Dan selama tujuh malam terakhir saya kungkum [13] di kali.”
“Banyak godaannya ya Kang..”
“Kalo itu jangan ditanya lagi. Segala jenis dhemit dan lelembut [14] datang menakuti, menggoda, tetapi tirakatku tetap bisa kutuntaskan dengan baik.” Lanjutnya sambil menyalakan rokok.
“lho kok ngrokok, berarti sudah nggak pati geni?” tanyaku
“Pati geninya sudah selesai.”
“Tapi ini bulan Ramadhan, Kakang ndak puasa?”
“Ahh.. kemarin saya sudah puasa, tujuh belas hari. Jadi hari ini saya prei [15]
“Hebat ya kang, Kakang sanggup menjalani tirakat seberat itu”
“Ah… biasa” jawabnya merendah “untuk meraih suatu derajad yang tinggi, pengorbanannya juga harus besar, bukan begitu Dimas?”

Aku hanya tersenyum. Lantas Kang Kliwon yang ternyata tidak puasa itu masuk ke dalam ruangan kemudian keluar diikuti anaknya, Suwondo, dengan membawa sebutir kelapa muda dan sebilah golok. Benar-benar menggoda, sepertinya dia akan melanjutkan buka puasanya siang itu.

“Dimas, saya buka puasa duluan ya, hehe.., jangan kuatir, di dalam masih banyak kelapa muda untuk buka puasa Dimas nanti sore” lalu clas.., clas.., clas… golok mulai menebas kulit kelapa, akhirnya,
“Aduuuh..!” teriakan keras Kang Kliwon membuatku menghampirinya. Tangan kirinya terkena tebasan golok dan mengeluarkan darah segar.
“Lho.. kok main-main golok, sedang menguji Ajian Pager Jiwa atau gimana sih Kakang ini?” tanyaku
“Aji Pager Jiwo gundhulmu.. Aduuuuhhhh biyuuung…. ”
“Aku panggilkan mbah Kromo ya Kang?”
“Ndak usah… dukun celeng..!”

——————————

sedjati – ramadhan 1427


[1] Sedulur tuwo = saudara tua[2] Ilmu iku kelakone kanthi laku = ilmu berbuah bila ada amal[3] Mengalap = memperebutkan[4] Topo pendhem = bersemedi dengan menanam tubuh di dalam tanah[5] Segoro Kidul = laut selatan[6] Ngeyel = bersikukuh, membantah[7] nyekar = ziarah kubur[8] nglakoni = menjalani, dlm hal ini adalah menjalani tirakat[9] sinuwun = yang mulia[10] ngrowot = hanya makan rerumputan dan umbi-umbian[11] mutih = hanya makan nasi putih dan air tawar[12] pati geni = larangan menyalakan api untuk keperluan apapun[13] kungkum = berendam[14] Dhemit dan lelembut = hantu dan makhluk halus[15] prei = libur

2 thoughts on “Aji Pagar Jiwa

  1. rahmat gendro mengatakan:

    pak is, tujuane jenengan nulis artikel niki nopo? ngece kang kliwon utawi nopo?? nek kang kliwon kleru dalan mbok di bimbing, mboten malah di bombong…..

  2. sedjatee mengatakan:

    matur nuwun Ki Rahmat, cerpen ini lahir dari pengalaman saya dengan kakang saya itu. ngece? saya kira tidak, bagi saya ini adalah khazanah baru yang sebelumnya tidak banyak saya ketahui. benar atau keliru? saya belum merasa pantas untuk menjustifikasi hal itu. yang jelas beliau termasuk orang yang gak mau dikritik, suka anggap enteng terutama sama orang muda seperti saya. satu hal, beliau senang dianggap sebagai orang “linuwih” so.. demikianlah yang akhirnya saya sikapi buat beliau, hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: