Kreatif… ayo kreatif…

1

April 12, 2009 oleh sedjatee

orhan-pamuk2

Jika saat ini “Benim Adim Kirmizi” atau “My Name is Red” sedang berada di tangan Anda, mungkin Anda akan mengalami apa yang saya rasakan: enggan berkedip dan sayang untuk sekadar menghela nafas. Meski untuk novel hebat ini saya terlambat mengkhatamkannya, saya merasa tidak kehilangan gaya sang penulis yang konsisten dan eksperimental. Orang tidak kreatif seperti saya telah kehabisan kata untuk novel karya peraih nobel sastra ini. Beberapa media memberi sanjungan dengan kata-kata yang amat pas: The Guardian berkomentar “unforgettable”, The Observer menjulukinya “magnificent”, The Spectator mengatakan “wonderful” sedangkan New York Times menuliskan “bintang baru telah terbit dari timur: Orhan Pamuk”.

Penulis novel itu, Orhan Pamuk, sejauh ini baru menulis tujuh buah novel. Tetapi ia hanya menulis untuk sebuah kualitas. Ia bukan penulis roman picisan atau novel pop yang hanya memenuhi selera dan mengikuti trend pembaca. Meski sedikit, karyanya telah diterjemahkan dalam 40 bahasa dan menyabet berbagai penghargaan kelas dunia. Sebuah reputasi yang untuk lingkup Indonesia mungkin hanya bisa disetarai oleh Pramoedya Ananta, Goenawan Mohammad, Umar Kayam atau STA.

Well, saya tak akan mengomentari isi novel itu. Tetapi cobalah untuk tertarik pada proses kreatif Pamuk dalam menghadirkan “Benim Adim Kirmizi”. Penokohan yang realistik dan humanistik, alur dialog yang logis dan natural, setting sejarah yang akurat, serta gaya retorika yang memukau, jelas bukan hasil dari kreatifitas yang berbasis pada raupan keuntungan atau tendensi material.

Tahukah kita, Pamuk pada awalnya adalah lebih tertarik pada seni rupa dan bercita-cita sebagai pelukis. Namun keluarganya yang menginginkan Pamuk menjadi seorang insinyur, dan oleh karenanya Pamuk kuliah pada bidang Teknik Arsitektur. Calon tukang insinyur itu ternyata kemudian tenar sebagai penulis. Ia kreatif, dan kreatifitas itulah yang melambungkan dirinya.

Fakta tentang Pamuk setidaknya melengkapi kisah orang-orang kreatif yang mendobrak belenggu rutinitasnya. Gordon Taylor dalam “The Invention that Changed the World” menguraikan bahwa orang-orang kreatif, menekuni suatu kreatifitas di luar bidang yang ditekuninya, sampai akhirnya mendapatkan sesuatu yang pada awalnya tak pernah direncanakan. George Eastman, penemu kamera dan korporasi Eastman Kodak, pada awalnya adalah pekerja tata buku pada sebuah bank. King Gillette, kreator pisau cukur Gillette, dahulunya adalah penjaja tutup botol. Adapun John Dunlop, perancang ban Dunlop, adalah seorang ahli bedah binatang.

Untuk melahirkan kreatifitas, Dryden dan Vos dalam “Learning Revolution” menyebut beberapa kiat. Keluarlah dari bidang Anda, terus berkutat pada bidang tertentu hanya akan memajalkan kreatifitas. Bermainlah dengan kombinasi, mengkombinasi juga merupakan sebuah kreasi. Gunakan seluruh indera, dengannya akan mudah tertangkap berbagai rangsangan yang memunculkan kreatifitas.

Senada dengan yang lain, Michael Michalko dalam “Thinkertoys” menguraikan langkah-langkah untuk memulai kreatifitas yaitu: substitusi, kombinasi, adaptasi, modifikasi, isolasi, eliminasi dan rekomposisi. Cara-cara tersebut hanyalah cara biasa saja, tapi dari hal yang biasa itulah pernah lahir kreasi-kreasi yang luar biasa.

Orang kreatif salah satunya dicirikan dengan kemampuan berkelit dari masalah-masalah pelik. Maka berbahagialah orang-orang yang bisa masuk dalam kategori ini. Kemampuan membuat keputusan nekat dan konyol juga menjadi ciri orang kreatif. Dan di Indonesia sekarang ini, para calon legislatif adalah orang-orang kreatif. Orang tidak kreatif seperti saya, hanya bisa bengong melihat tingkah laku caleg dalam mensikapi hasil pemilu legislatif. ada yang menarik kembali sumbangannya dari sebuah masjid karena jamaah masjid tidak menyontreng namanya. ada pula yang tiba-tiba “gendheng” dan harus diterapi oleh paranormal. ada yang ngamuk dihadapan panwas karena perolehan suara-nya jauh dibawah perkiraan. dan ada pula yang meninggal. orang tidak kreatif seperti saya tidak tahu persis hubungan antara demokrasi dengan stress, depresi atau mati. tapi yang pasti, ekspresi caleg menyikapi kekalahannya dengan stress, ngambek, depresi atau “mutung” kemudian ngamuk merupakan indikasi bahwa mereka adalah orang yang kreatif… yup… kreatif man…

One thought on “Kreatif… ayo kreatif…

  1. pujohari mengatakan:

    Mr. Sedjatee, dhalem wonten posting enggal…..Eh, ternyata ada kesamaan dengan tulisan terbaru Mr. Sedjatee….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: