Rindu yang Tertahan

5

April 19, 2009 oleh sedjatee

goodbye2

Pria usia lanjut itu terlihat bingung. Ia keluar masjid lalu dipandanginya kendaraan yang lalu lalang di depannya sambil sesekali diusapnya peluh yang membasahi keningnya. Semarang panas terik, ia berjalan menuruti kata hatinya. Tak lama ia berhenti di bawah sebuah pohon, meletakkan bungkusan plastik hitam kemudian duduk bersandar. Ia mengipasi tubuhnya dengan pecinya sambil termenung.

“Assalamualaikum pak, Bapak menunggu seseorang atau mau naik angkutan?” tanyaku.
“Waalaikumsalam, eh.. silakan Nak.., Bapak sebenarnya mau pulang ke Madiun, tetapi belum tahu kendaraan yang mau Bapak naiki.”
“Mari saya antar Bapak ke terminal..” lanjutku sambil mengajaknya masuk ke mobilku. Dia duduk lalu aku memasangkan sabuk pengaman ke badannya. Ia mulai terlihat nyaman ketika mobil berjalan dan AC berhembus sejuk ke tubuhnya.
“Pak, ini tisu, airnya silakan diminum” ucapku sambil kutawarkan tisu dan sebotol air minum, tanpa sungkan ia segera mengambilnya, menyeka keringatnya lalu meneguk air minum yang ada.
“Saya tiba di Semarang ini tadi pagi. Kemarin berangkatnya lewat Solo, jadi sekarang saya mau cari bus yang ke Solo saja.” Ucapnya.
“Baik pak, kita cari bus jurusan Solo, nanti di Terminal Solo Bapak bisa pilih bus lagi. Maaf… sebaiknya kita makan dulu ya Pak.. Bapak belum makan bukan..?” tanyaku
“Terima kasih Nak..” wajahnya menyunggingkan senyum sembari mengangguk perlahan.

Usai makan ia kembali berada di mobilku. Mobil kujalankan pelan-pelan ke arah halte dimana bisa kudapatkan bus jurusan Solo. Dalam hembusan AC yang sejuk, Bapak yang terlihat tua itu bertutur kepadaku, tentang sebuah rindu yang tertahan.

)!(  )!(

Tentara yang menjaga pintu itu menerima kedatanganku dengan sikap ramah. “Maaf Pak, sebelum masuk Bapak harus mengisi buku tamu lebih dahulu. Bisa sebutkan nama dan asal Bapak..?”
“Saya Sukirno dari Madiun”
“Keperluan kedatangan Bapak?”
“Saya mau bertemu Kolonel Hartono, untuk urusan keluarga”
“Bisa tunjukkan tanda pengenal Bapak? KTP misalnya?”
“Oh ada… monggo nak…” kuberikan KTP yang selalu tersimpan di dompet lusuhku.
“Terima kasih. Silakan Bapak duduk di ruang tunggu, Bapak Kolonel masih ada tamu di dalam”

Ajudan yang ramah itu kembali lagi ke tempat duduknya. Tempat kerja Hartono ternyata sangat bagus, ruangannya bersih dan sejuk. Ia sudah berpangkat tinggi dan menjadi salah satu komandan di Kodam ini. Di dinding terlihat gambarnya dalam busana perwira militer lengkap. Betapa gagahnya ia. Tak terasa anganku bernostalgia pada kenangan berpuluh tahun yang lalu.

Ah.. tak kusangka, anakku telah begitu gagah dan tampan. Kuucapkan syukur kepada Allah bahwasanya anak ini bisa menikmati keberhasilan. Tak kulupa betapa di masa kecilnya ia begitu gampang sakit. Ketika kolera mewabah di daerah, ia ikut-ikutan sakit. Begitu juga ketika penyakit cacar melanda, ia dan adik-adiknya tak ketinggalan mencicipi penyakit itu. Wajar jika ketika itu ia gampang sakit. Bukankah setiap hari ia berkutat dengan kerbau dan kambing piaraan, serta menyabit rumput bersamaku? Wajar juga jika waktu kecil dulu ia pernah pathekan, karena hampir tiap sore mandi mencebur ke sungai bersama kawan-kawan sebayanya.

Kubayangkan ia pasti akan segera memelukku dan bertanya tentang simbok, Darmanto dan Sumarni, lalu kami akan bernostalgia tentang masa lalu sambil tertawa bersama. Atau mungkin ia akan bertanya tentang sepeda kecilnya yang kini dipakai cucuku, ya keponakannya, anak genduk Sumarni. Atau barangkali ia akan menanyakan teman-teman sepermainannya, Slamet yang menjadi guru madrasah, Mulyadi yang kini tukang kebon kecamatan, atau Sutrisno yang jadi blantik kebo-sapi.

Kemudian ajudan berpangkat sersan itu mengajakku bercakap-cakap
“Bapak dari Madiun sendiri?” tanya ajudan itu sambil duduk di sebelahku, di ruang tunggu.
“Iya.. sendiri, saya … bapaknya Hartono.”
“Ooooo…”
“Tepatnya saya bapak angkat.”

)!(    )!(

Saya Sukirno, pensiunan guru sekolah dasar di Madiun. Hartono adalah anak angkat saya. Hartono tidak lahir dari rahim isteri saya. Ia anak semata wayang almarhum Sudibyo, sahabat karib yang juga adalah saudara sepupu saya. Ia wafat ketika wabah kolera melanda daerah kami. Hartono masih kelas dua sekolah dasar ketika bapaknya wafat. Sebelum wafat, mendiang sempat menitipkan Hartono agar bisa terus sekolah dan selanjutnya ia saya didik dan saya perlakukan sebagai anak saya sendiri. Maka jadilah Hartono sebagai anak di rumah saya, sekaligus murid di sekolah saya. Apalagi dua tahun setelah itu ibu kandungnya juga meninggal. Anak kandung saya sendiri waktu itu masih kecil-kecil, Darmanto masih lima tahun, sedangkan Sumarni baru dua tahun.

Hartono adalah anak yang cerdas, maka saya tak tanggung-tanggung membiayai sekolahnya. Termasuk ketika lulus SMA ia ingin masuk tentara, saya dengan penuh keikhlasan menjual sepasang kerbau milik kami untuk sangu ia masuk akademi. Dan setelah itu saya bersyukur karena selama pendidikan ia tak lagi meminta biaya dari saya. Terlebih saat ini a saya mendengar ia sudah berpangkat tinggi, Kolonel.

Alhamdulillah, di masa tua, saya bisa menikmati sisa hidup dengan tenang. Anak saya Darmanto menjadi pegawai di kantor bupati, sedangkan genduk Sumarni menjadi juru tulis di puskesmas desa. Hartono inilah yang saya anggap paling berhasil, karena saya bisa membiaya dia sampai sekolah akademi. Sedangkan untuk kedua adiknya saya hanya bisa menyekolahkan sampai SMA saja.

)!(   )!(

Obrolanku dengan ajudan itu terhenti ketika dua orang tetamu keluar dari ruangan. Ajudan tadi segera berdiri dan memberi penghormatan dan mengantarkannya hingga keluar gedung. Lalu seperti tadi, ajudan itu masuk. “Pak Kirno.. silakan masuk Pak.., ditunggu Bapak di dalam” ucapnya tatkala keluar dari ruangan.

Hatiku berdegup, entah kenapa tiba-tiba ada perasaan ragu-ragu, sungkan dan rikuh untuk masuk ke ruangan itu. Ah tidak. Yang diruangan itu adalah anakku. Biarpun ia kolonel, akulah yang menggendongnya di masa kecil dahulu, akulah yang berdoa untuk keberhasilannya di setiap doaku.

Aku telah berdiri di pintunya dengan membawa bungkusan dari kampung yang kusiapkan untuknya. Ruangannya lebih sejuk dari ruang tunggu tadi. Kursi dan meja terlihat mahal, rapi dan bersih. Bahkan ada televisi, komputer, kulkas dan dua pesawat telefon. Ia sendiri tengah memeriksa berkas-berkas yang ada di hadapannya.
“No.. anakku..”
“Eh.. Bapak.. silakan masuk pak, duduk pak…” ia menyalamiku seperti sikap seorang tentara.
Aku bertambah bingung, namun juga aku masuk dan duduk di kursi yang besar dan empuk.

“Bagaimana kabar ibu, dik Darman dan dik Marni, maaf Bapak tadi harus menunggu lama karena banyak tamu hari ini. Ya begini ini pak saya sekarang.”
hm.. sekarang ibu dan dik Marni… bukankah ia dahulu menyebut simbok dan genduk Marni.
“ndak apa-apa, le.. adik-adikmu baik-baik saja le… tapi ..”
tak sempat kulanjutkan ucapanku, karena tiba-tiba salah satu telefon itu berdering dan ia memberi isyarat untuk berbicara dengan telefon terlebih dahulu. “Siap Jenderal, sekarang saya siap” lalu ia mengembalikan gagang telefon itu.
“Wah.. maaf ini pak, saya harus mendampingi Pangdam menghadap Gubernur. Ada tamu dari luar negeri di gubernuran, jadi saya harus berangkat ke sana sekarang. Bapak istirahat di rumah saja, nanti biar diantar sama Sersan Totok. Mungkin nanti malam saya baru bisa kembali ke rumah.” Bagitu kata-katanya sambil mengenakan topi dan menyiapkan beberapa map.

Ketika dia keluar ruangannya, aku menguntit dari belakangnya. Ketika dia sudah memasuki sedan mulus warna hijau tua, aku melambaikan tangan kepadanya dan ia membalas lambaianku. Kolonel Hartono, anakku, berlalu untuk menjalani kehidupannya. Aku tertegun memegang erat rasa rindu yang terpendam sekian lama.

)!(    )!(

“Berarti Bapak seharusnya malam ini ke tempat Pak Hartono, kok Bapak malah mau pulang ke Madiun?” tanyaku pada wajah tua yang wajahnya kini berubah muram.
“Ndak apa-apa Nak.., saya mau pulang saja”
“Bapak tidak ingin kerumah Pak Hartono? Disana mungkin Bapak bisa ketemu sama isteri beliau dan juga cucu-cucu Bapak”
“Ndak apa-apa, Nak. Sepertinya anak saya itu sangat sibuk sehari-harinya. Jadi daripada saya di sana merepotkan dia dan keluarganya lebih baik saya pulang saja.”
“Bapak sudah memberitahu Pak Hartono kalau mau pulang ke Madiun?”
“Saya sudah sampaikan ke ajudannya, Sersan Totok itu.”

“Bener nih Pak.., Bapak nggak pengen ngobrol lagi, kangen-kangenan sama Pak Hartono? Bukankah tadi Bapak belum sempat ngobrol sama beliau?”
“Sebenarnya saya ingin cerita-cerita sama anak saya itu, tapi … ya sudah lah.. mudah-mudahan lain kali ada kesempatan bertemu anak saya lagi. Saya sudah cukup senang bisa ketemu dia dalam keadaan sehat dan melihat kondisi kehidupannya. Saya bahagia melihat dia sudah berhasil.”

“Nak…”
“Djati..” potongku.
“Nak Djati… terima kasih ya Nak, telah mau mengantar dan mengajak makan saya…”
“Ya.. Pak”
“Kuharap Nak Djati mau terima ini” katanya sambil mengeluarkan bungkusan kertas koran dari plastik hitam yang sejak tadi dibawanya.

“Apa ini pak?”
“Itu kain tenunan isteri saya. Hasil tenunan terakhir isteri saya, yang sebenarnya harus saya sampaikan kepada anak saya Hartono.”
“Lho kok untuk saya? Apa nanti ibu tidak kecewa?”
“Isteri saya meninggal tiga bulan lalu. Selama sakit ia beberapa kali menyebut Hartono. Ia rindu pada anak yang bertahun-tahun tidak bertemu. Bahkan ketika belum sakit ia sempat menenun kain itu khusus buat Hartono.” Pria tua itu mengusap matanya yang basah dengan lengan batik yang kumal. “Kunjungan saya menemui anak saya Hartono sebenarnya adalah untuk mengabari kematian ibunya, juga untuk menyampaikan kain ini. Tetapi tadi saya tidak sempat menyampaikannya.”

“Baik Pak, Terima kasih Pak….”
“Ini kartu nama anak saya Darmanto. Jika Nak Djati ke Madiun, singgahlah ke gubug kami. Sekarang saya pamit Nak, Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”

Bus mulai bergerak pergi meninggalkanku. Di balik jendela, sepasang tangan tua melambai kepadaku. Juga melambai pada sebuah kenangan tak terlupakan. Ia melambai kepada keriuhan dan kerasnya hidup. Keriuhan hidup yang telah merenggut indahnya persaudaraan dan kasih sayang. Kerasnya hidup yang membuat hatinya hancur pedih. Kerasnya hidup yang tak memberi kesempatan baginya untuk mengurai rindu yang tertahan.

5 thoughts on “Rindu yang Tertahan

  1. darmawan175 mengatakan:

    Wah, ceritanya menghanyutkan…kayak di film2

    Kadang saya juga merasa sesuatu yang hilang dari orang kota: keramahan menyambut tamu dengan alasan kesibukan. karena bagaimanapun pertemuan fisik itu sangat vital. dan tidak tergantikan dengan adanya surat, telegram, telpon, sms, internet, bahkan 3g sekalipun.

  2. darahbiroe mengatakan:

    hehhe khirna ketemu juga pensiunan guruna sapa hehe

  3. bungsagabari mengatakan:

    haduh,,malem2 sendirian di kos, baca cerita kaya gini,,
    mendadak kangen orang tua pak

    ….sama pengen jadi kolonel tp yg berbakti jg;)

  4. Kirana mengatakan:

    Eumz… Crita ea kren, q mpe iktn sdih uga, q bsa rasain gmna prasaan c bpak tua tu, krn q qni tngah mrasakn uga rndu yg ttahan.. Mnyakitkn..

  5. Abi Fatih mengatakan:

    Subhanallah..Cerita yang penuh hikmah..ijin share ya Jazakallah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: