Ode buat Guru

4

Mei 1, 2009 oleh sedjatee

durna_soloUntuk sementara perang dihentikan. Untuk sesaat tak boleh ada kilat ayunan pedang, dentang perisai atau sergapan tombak. Untuk satu kesempatan ini, letakkan semua kesumat, tundukkan kepala dan biarlah padang Kuruksetra hening. Pahlawan itu telah gugur, bagaimanapun ia sangat berjasa.

Gurat-gurat haru tergambar pada wajah-wajah sendu semua yang ada. Ia memang sosok yang kontroversial, namun ia penuh canda. Ia terkadang angkuh dan antagonis, tetapi tak dipungkiri ia cerdas. Ia adalah guru, sebuah kenyataan yang menjadikan hidupnya penuh makna. Kini perjalanannya usai sudah. Murid-murid yang tengah bertikai itu berkumpul di altar pemujaan, kemudian syair-syair kepada dewa disenandungkan buat seorang panglima yang berpulang sebagai pahlawan. Dialah sang guru, Drona.

Kenangan masa lalu kembali bermain-main di pelataran hati Arjuna. Tak terkira kecintaan sang Drona kepadanya. Kecintaan seorang guru kepada murid yang menjadikannya pemanah terbaik di muka bumi. Betapa sang guru sangat bersungguh-sungguh menurunkan segala kepintarannya untuk menjadikan Arjuna sebagai ksatria, dan sumpah itu dibuktikan dengan menukar ibujari Arjuna dengan ibujari Ekalaya. Maka Arjuna pun menjadi pemanah yang tiada tanding.

Nostalgia pun berkecamuk di dada Bima. Tak pernah diingkarinya, Resi Drona adalah guru yang menjadikannya seorang petarung tangguh. Drona lah juga yang menunjukkan kepadanya untuk mencari Dewaruci. Akhirnya bukan saja Bima menjadi semakin digjaya, namun juga menemukan kemampuan untuk melihat segala persoalan hidup dari raksasa kecil itu.

Sang pandhita telah tiada. Betapapun ia adalah manusia yang punya dua sisi hidup, hitam dan putih. Ada sisi kepahlawanan yang telah ia tunjukkan dengan pengabdian hingga akhir hayat sebagai panglima Astina. Ia mencintai Pandawa, karena merekalah murid-murid terbaiknya. Tetapi bagaimanapun ia berhutang budi pada pada Kurawa yang memuliakannya dalam kenegaraan Astina. Ada sisi kemanusiaan dimana ia pernah ingin merasakan cinta, lalu ia tahu bahwa cinta juga punya rasa getir luarbiasa, dan akhirnya ia tak mau merasakan cinta kembali. Ada sisi keadilan dan kebajikan, dimana ia harus berlaku seimbang pada Pandawa dan Kurawa yang oleh Bisma meraka dititipkan untuk menjadi muridnya. Ternyata ia sanggup. Dalam hitam-putih manusia biasa, ia tetaplah guru, guru yang berjasa.

Sang guru telah tiada. Pandawa menunduk, di peperangan ini sang guru berseberangan kubu dengan mereka. Tetapi sang guru tetaplah guru yang tak ingin meninggalkan bekas luka pada para muridnya. Senapati agung itu pupus sebagai bunga bangsa Astina. Ia bertarung gagah perkasa. Hingga akhirnya bayang-bayang sukma Ekalaya berkelebat bersama pedang Drestadyumna, menuntaskan dendam itu, mengakhiri perjalanan seorang Drona atau Durna atau Kumbayana.

===+++===

Berdirilah, ucapkan sesuatu buat guru. Nama-nama mereka mungkin tak pernah lama berada dalam ruang-ruang hati kita, namun goresan-goresan tangan mereka masih ada dalam diri kita. Wajah-wajah mereka mungkin tak lagi membuat kita terpesona, namun ada ukiran budi yang membentuk jiwa kita. Itulah prasasti yang tak akan sanggup kita hapuskan. Mereka teramat berjasa.

Tengadahlah, lihat kembali kenangan bersama guru. Kini disaat kita tengah menapaki jalan yang sangat jauh dan gemerlap, mungkin guru kita masih berada di tempat mereka yang dahulu. Menghabiskan hari-hari mereka dengan rutinitas senada, tetapi kekuatan cinta mereka sanggup meluruhkan semua belenggu kebosanan. Mereka amat mencintai kita.

Saat ini kita punya waktu untuk mengingat sosok guru yang bersahaja. Jika kita belum bisa menumbuhkan rasa kagum kepada mereka, biarkan nurani kita yang menghimpun serpihan-serpihan jasa itu lalu menuangkannya dengan bahasa sederhana. Atau jika kita masih belum menemukan satu penghargaan yang pas buat mereka, bangkitlah, lalu berdirilah, pejamkanlah kedua mata, akan terlihat wajah tulus mereka menatap teduh kepada kita sembari tersenyum. Inilah saatnya, kita dengungkan sebaris kata, sederhana sahaja … terima kasih, Guru …

sedjatee – ditulis untuk hari pendidikan nasional, tanggal dua mei tahun dua ribu sembilan

4 thoughts on “Ode buat Guru

  1. rahmat gendro mengatakan:

    pak guru, kulo badhe tanglet
    nek pak guru gajine kecil pripun pak?

  2. sedjatee mengatakan:

    biarpun gaji kecil, mudah-mudahan besar berkahnya…
    makanya, yang pernah jadi murid, jangan lupa sama gurunya….
    hehehe….

  3. darmawan175 mengatakan:

    pak guru, kula geh tanglet, apakah ada guru Durna era 2009?

  4. sedjatee mengatakan:

    Durna… ada dalam versi Jawa dimana ia dideskripsikan begitu licik dan mau menang sendiri… namun pandanglah Durna secara jernih seperti yang dituliskan oleh Maharshi Wyasa di Mahabharata… ia adalah seorang loyalis, seorang guru, seorang pecinta dan pendidik yang tulus… adakah sosok yang demikian sekarang ini? insyaAllah harapan itu masih ada…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: