Pengakuan Seorang Pelacur

13

Mei 11, 2009 oleh sedjatee

Bagiku ia tak lebih dari seorang bajingan atau penjahat kelamin. Ia bukannya pria paling hebat yang pernah menyetubuhiku. Kemaluannya pun tak sesangar tampilan wajahnya yang berjambang lebat. Ah, persetan dengan segala bisik-bisik disekitarku yang menyebutkan bahwa ia adalah orang kuat. Tak penting bagiku segala atribut atau jabatan laki-laki yang datang melacur. Yang paling penting adalah uang bayaran itu harus segera aku terima setelah mereka puas menikmati tubuhku.

Menurutku ia hanyalah orang yang terlalu percaya diri. Mungkin karena ia memang orang yang bergelimang uang. Namun sejujurnya ia hanyalah pria yang mengalami ejakulasi prematur. Denganku, dan sangat mungkin dengan pelacur lain, ia hanya membeli sensasi. Dengan uangnya ia bisa membayar segala jenis pelacur, dari yang bertarif mahal hingga yang murahan. Namun itu tak bisa menutupi kelemahannya, dimana ia hanyalah seorang yang besar nafsu tetapi kekuatan seksualnya tak sehebat hasrat libidonya.

Lelaki berwajah kaku itu sejujurnya bukanlah pria yang romantis. Ia tidak cukup cerdas untuk bisa bersenandung dengan nada yang benar seperti lagu yang dinyanyikan. Dan tidak terlalu sulit untuk menaklukkannya. Cukuplah dengan sedikit kata-kata merayu ia akan segera berubah menjadi orang yang penurut, seperti kerbau yang dicokok hidungnya. Dengan sedikit rayuan ia akan merasa tersanjung lalu menjadi seorang yang royal untuk memberi apapun.

Terbuai oleh rayuan, itu kemudian menjadikannya sebagai (salah satu) pelangganku. Tak usah ditanyakan apakah aku (pernah) merasa puas berhubungan badan dengannya. Tapi tanyakanlah padanya seberapa sering ia takluk hanya dengan desah-desah komersil dari bibirku. Lalu ia akan segera mengobral cumbuan dengan kata-kata mesra yang mungkin tidak pernah ia ucapkan kepada wanita malang yang telanjur menjadi isterinya.

Boleh jadi ia juga terlampau arogan dan tipikal pria berfikiran pendek. Sering aku mendengarnya mengumpat atau memaki melalui telefon selularnya. Bahkan aku mendengar ucapannya saat ia menyuruh seseorang untuk membunuh. ”aku sudah muak dengan ocehannya, tolong deh, loe habisin dia secepatnya”

Begitulah kata-kata yang pernah terlontar suatu kali. Aku tak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Yang jelas wajahnya terlihat sangat masam kala itu, lalu ia menggauliku dengan hasrat yang meluap-luap, lalu setelah ia terkapar lemas ia memaki dan mengusirku sambil melemparkan segepok uang dari kantong celananya.

Itulah terakhir kali aku melayaninya. Sepanjang sore ia murka dengan pengalaman barunya, yangmana ia meniduri perempuan yang ternyata adalah gundik salah seorang kenalannya. Ah.. bagiku itu biasa, adalah hal lazim bagi kawanan hidung belang untuk saling bertukar pasangan. Tapi ini mungkin menyangkut harga diri, sesuatu yang membuatnya kalap hingga semudah itu membuat perintah pembunuhan.

Kini, tatkala aku tengah bersenggama dengan pelangganku yang lain, pria yang menjadi pelangganku itu kini muncul di televisi. Ia memakai baju tahanan yang mungkin tak pernah terpikir olehnya selama ini. Ia mungkin berfikir bahwa dirinya kebal hukum, namun faktanya saat ini hukum tengah mengepung dirinya.

Setelah itu aku menjadi sadar, bahwa aku pernah melayani seorang pembunuh. Ah, bagiku dunia menjadi semakin gelap. Aku teringat lagi saat terakhir melewati malam yang pendek bersamanya. Aku teringat pada setumpuk uang pemberiannya yang terakhir sebelum ia mendekam di penjara. Ah…, hanya segepok uang, tapi lihatlah amplop yang membungkusnya. Amplop coklat dengan tulisan Kementerian Pelacuran itu akan terus kusimpan. Amplop itulah saksi bisu bahwa aku juga pernah melayani seorang pejabat penting di negeri ini, dan kuharap itu akan menaikkan reputasiku sebagai pelacur…

13 thoughts on “Pengakuan Seorang Pelacur

  1. darmawan175 mengatakan:

    wah om…kula boten mudeng…
    banyak kata2 asing di dalamnya

  2. rahmat gendro mengatakan:

    waduhhh……..

  3. sedjatee mengatakan:

    terima kasih atas komentar para pembaca
    buat WAWAN : tulisan ini buat orang dewasa, so… anak kecil gak boleh nanyakan arti kata : pelacur, penjahat kelamin, dan lainnya, hehe….
    buat RAHMAT GENDRO : matur nuwun, antasena yang ini ada nama belakangnya lho mas… jadi, bukan untuk mendeskreditkan trah Pandhawa… hhehehe….

  4. miftah mengatakan:

    wah sebelumnya saya mohon maaf nih pak, mnurut saya walaupun tulisan diatas (pengakuan seorang pelacur dan antasena menjadi tersangka) tidak menyebut nama namun tidak bisa saya pungkiri bahwa tulisan tersebut mengarah kepada kasus yang menimpa salah seorang pejabat di negeri ini, dan persoalan tersebut menurut saya tidaklah sesederhana yang diberitakan selama ini, pun kalau memang begitu adanya rasanya kurang tepat jika akhirnya kita sudah mendahului memutuskan berita bahwa itulah yang terjadi, dan akhirnya saya lebih khawatir jika malah menciderai hak saudaranya nanti jika faktanya tidaklah demikian (baik pengakuan seorang pelacur maupun antasena menjadi tersangka)

  5. pujohari mengatakan:

    coba menengahi neh…
    pertama, klo mr sedjatee benar (artinya faktanya demikian) makin menunjukkan kebrobokan mental pejabat kita…jadi ingat, slogan mereka (di daerah)…katanya ga apa2 korupsi yang penting pembangunan dijalankan. artinya banyak yang berpikiran kita boleh bagus dalam satu hal, tetapi dalam hal yang lain ga apa2 tidak bagus….
    kedua, klo faktanya tidak demikian (mr sedjatee salah) berarti harus melakukan rehabilitasi nama baik…karena yang ini via blog tentu rehabilitasinya minimal juga harus lewat blog….

  6. sedjatee mengatakan:

    Thanks buat Mif dan Pudjo atas komentarnya.. setiap kejadian di sekitar kita bisa menjadi inspirasi untuk melahirkan tulisan.. dan tulisan ini hadir bukan untuk meramaikan perang opini, apalagi menjustifikasi benar-salahnya seseorang… tulisan ini hadir sebagai reaksi naluriah seseorang yang gemar mencorat-coret.. dan benar seperti ide mr. pudjo, jikalau pada akhirnya situasi berubah dan seorang yang pada mulanya dinyatakan salah ternyata terbukti tidak bersalah, tentu hal itu akan menjadi inspirasi baru untuk menuliskan tentang kebenaran… satu hal yang saya lakukan adalah: melatih kepekaan menulis dari situasi yang berkembang di sekitar kita… thanks, salam sukses…

  7. miftah mengatakan:

    wah kalau saya sih melihat bahwa setiap khabar harus senantiasa kita seleksi(saring) dan cari kejelasannya (bahasa kerennya tastabbut dan tabayyun), kalau setiap opini kita tulis atau sampaikan dengan kalimat atau tulisan sebagaimana dua judul yang saya sebutkan diatas tanpa saring dan cari kejelasannya terlebih dahulu (karena menurut saya bahasa yang digunakan bukan bahasa atau kalimat isu/gosip tapi lebih ke judgement) masalah lain belakangan bisa gawat menurut saya, bisa jadi orang sudah terlanjur musuhan dan bahkan gebuk2kan ehh tiba2 ada klarifikasi bahwa itu salah. saya jadi teringat apa yang diriwayatkan imam muslim” cukuplah seseorang dikatakan pendusta jika ia menyampaikan segala perkara yang ia dengar”.
    soalnya dari kalimat yang disampaikan sudah terlanjur menjudge, kalau saya lebih nyaman dengan tulisan seperti siapa yang binatang, aji pagar jiwa dan semacamnya. he…he….

  8. fia mengatakan:

    setelah membaca tulisan mas, saya sependapat dengan mas miftah. saat ini kita belum mengetahui keputusan akhir tentang kisah yang mirip dgn cerita diatas. kalimatnya terkesan sudah mengklaim bahwa itu yang sebenarnya. Takut menjadi fitnah lo mas. Hanya sekedar saran jika masih sekedar gosip atau belum jelas kebenarannya jangan langsung divonis sendirilah, berbahaya lo…, nulis yang aman-aman aja deh dan yang dapat membangkitkan semangat jiwa n ruhiyah, kan malah mendapatkan pahala.
    setuju ga…

  9. bambang sp mengatakan:

    Wah gue udah tau tu siapa yang dimaksud, lumayan juga lu pernah ditiduri pejabat e salah penjahat

  10. duniameylan mengatakan:

    bagus… tapi itu beneran cerita asli???
    wah kalo gitu hebat banget dong… bener2 real…
    dan ternyata begitu ya pengakuan wanita”…”…
    terus berkarya ya… ku juga pengen banget jadi penulis…

  11. masge mengatakan:

    Pelacur juga manusia dia toh punya hati meski harga dirinya kerap tersia-sia.

  12. pembunuhkanker mengatakan:

    Cerpen yang menarik… membacanya bagai melihat potret kehidupan pelacur beneran,,.,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: