Dari Maria Eva ke Olimpico Roma

Tinggalkan komentar

Juni 4, 2009 oleh sedjatee

logo-finale-champions-league2009Bapak punya gawe. Dengan menyandang status sebagai sesepuh keluarga, ini menjadi isyarat bahwa akan ada reriungan bagi keluarga besar kami. Dan benar. Di tanah kelahiran kami, pekan lalu menjadi hari-hari yang rame namun melelahkan.

27 Mei, sore hingga malam hari. Malam yang dihadiri lengkap oleh generasi anak yaitu saya dan para sepupu. Malam berjalan dengan perbincangan orang-orang yang sejak kecil tercandu oleh musik dan sepakbola. Dan kali ini, tatkala teknologi telah menjadi bagian dari gaya hidup, perbincangan terasa lengkap dengan hadirnya gadget dari para sepupu.

Usai makan malam, kami menimbrungi petugas perangkat suara yang sedang mencoba peralatan musik pengiring resepsi. Selanjutnya sudah pasti, kami segera memegang instrumen musik yang ada, gitar, ukulele, perkusi dan kibor lalu mengais sisa-sisa bakat yang ada untuk bermusik bersama. Ah… enak juga. Dangdut oke, keroncong oke, campursari oke, ngepop juga oke. Lagu berbahasa inggris boleh, bahasa jawa boleh, bahasa melayu juga boleh.

Malam semakin larut. Pembicaraan semakin terbatas pada teknologi komunikasi di tangan masing-masing. Para pemuda desa yang katrok, termasuk saya, hanya bisa melongo melihat Blackberry Storm, LG Prada, I Phone atau smartphone jenis lain bergentayangan di depan kami. Walah.

Para sepupu yang telah menjadi anggota Jamaah Fesbukiyah, rame-rame menambahkan saudara sendiri dalam daftar teman pada Facebook mereka. Sekali lagi aku ndomblong, dan semakin ndomblong tatkala salah satu pemuda ndeso menanyakan ”Mas, ada gambar saru-nya atau tidak?”. We lha dalah. Ternyata untuk urusan satu ini, orang ndeso juga tidak mau ketinggalan, tidak peduli bahwa sudah ada UU anti pornografi dan pornoaksi.

Mungkin karena peserta dialog larut malam itu hanya para pejantan, salah seorang merespon dengan membuka nokia E-series-nya. Lalu ditampilkanlah adegan saru tanpa baju dengan pemain utama biduan tidak terkenal bernama Maria Eva dan lawan mainnya seorang politisi senior yang menjabat sebagai ketua bidang pembinaan mental kerohanian salah satu parpol besar negeri ini. Ah, hanya adegan tanpa baju semata.

Dialog menjadi sepi untuk sesaat tatkala kopi panas disuguhkan dengan kacang rebus yang masih mengepulkan uapnya. Hmm… mantap. Bahkan sangat mantap bagi rekan-rekan masa kecil yang menyeruput kopi sembari menghisap Djarum 76, jatah dari tuan rumah.

Kemudian, entah ide dari mana, beberapa orang muncul sambil menggotong televisi layar lebar dari ruang keluarga kami, lalu menggelar karpet untuk ndlosor berramai-ramai. Ah, suatu ide bagus untuk menyambut pagelaran sepakbola antarklub yang diakui sebagai yang terhebat di kolong jagad ini. Final Liga Champion 2009 di Roma yang mempertemukan dua tim hebat, MU versus Barcelona.

Olimpico Roma memunculkan kegamangan tersendiri bagi Edwin van der Sar. Kiper Manchester United ini pernah gagal di final liga champions tahun 1996. waktu itu, Ajax Amsterdam yang dibelanya harus takluk oleh raksasa italia, Juventus. Van der Sar dipeluk pelatih Louis val Gaal hanya berurai airmata tatkala Gianluca Vialli akhirnya mengangkat supremasi kasta tertinggi antarklub Eropa itu.

Kota roma sendiri pernah mengukir kenangan yang kurang menyenangkan bagi Josep ’Pep’ Guardiola, pelatih el Catalan. Pep yang menjadi bagian dari Camp Nou sejak 1990 adalah salah satu legenda Barcelona yang berkontribusi pada pemenangan Piala Champions 1992 saat ditukangi oleh Johan Cruijf. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh sentral Barca, dan dialah kapten tim hingga ia keluar dari Barca tahun 2001. Tetapi peruntungan selanjutnya di serie A tidaklah secemerlang karirnya di La Liga. Sinar Pep Guardiola meredup tatkala membela Brescia dan AS Roma. Bahkan di klub yang disebut terakhir ini Pep tersandung kasus stimulator Nandronole yang diharamkan dunia olahraga.

Mata sudah semakin berat menahan kantuk. Dan benar-benar tertutup sebelum wasit Massimo Busacha meniup peluit awal di Olympico Roma. Hanya sempat terbangun sebentar tatkala Samuel Eto’o menjebol gawang Van der Sar di menit ke 10, dan juga tatkala halaman rumah semakin gemuruh ketika si cerdas Lionel Messi membuat Van der Sar semakin terlunta dengan kenangan pahitnya di menit 70.

Lionel Andres Messi, bocah 22 tahun itu menciptakan satu gol dengan cara tak lazim bagi seorang bertubuh mungil 169 cm, dengan tandukan kepala. Ia pun melakukan sundulan dalam kondisi yang nyaris tak mungkin, yaitu tatkala bola sudah melampaui sudut termudah untuk disundul. Tetapi ia telah menunjukkan kelas sejak kompetisi ini dimulai. Dan pertandingan malam itu hanyalah pentahbisan formal bahwa dia jauh lebih layak untuk disebut terbaik dibandingkan Cristiano Ronaldo yang bermain untuk MU.

Mata benar-benar terbuka setelah Michel Platini, sang presiden UEFA, menyerahkan tropi kepada Carles Puyol. Josep Guardiola akhirnya tersenyum di stadion yang pernah memberi kenangan pahit baginya. saya pun ikut tersenyum tatkala iringan simponi dari Royal Philharmonic Orchestra mengalunkan lagu tema Liga Champions yang megah “Die meister, die besten, les meilleurs equipes, the champions

Saya yang dari awal menjagokan Barcelona, diledek sebagai pendukung ”bar kelonan” karena sepanjang laga saya tertidur di depan televisi. Untunglah, badan segera bugar. Ada tugas meliput resepsi pagi ini. Hehe… namun usai subuh masih jua sempat membuka laptop untuk menuliskan kisah sederhana pada suatu malam di desa yang bersahaja. Kutulis judul ”dari Maria Eva ke Olimpico Roma” bukan untuk menyaingi karya besar sastrawan Idrus, ”Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” yang menjadi salah satu ikon sastra cerpen Indonesia. Dan kini coretan tak bermakna itu hadir disini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: