Saga Sang Penidur

1

Juni 4, 2009 oleh sedjatee

kumbakarno_soloWonten malih tuladhan prayogi,
satriya gung nagari Ngalengka,
Sang Kumbakarna arane,
tur iku warna diyu,
suprandene nggayuh utami,
duk wiwit prang ngalengka,
denya darbe atur,
mring raka amrih ing raharja,
Dasamuka tan keguh ing atur yekti,
dene mungsuh wanara.

Bait diatas adalah pupuh keempat dandanggula dalam serat Tripama, salah satu masterpiece KGPAA Mangkunegara IV. Serat Tripama sendiri merupakan karya yang penuh dengan ajaran kepatriotan. Dalam Tripama, KGPAA Mangkunegara menyebut tiga tokoh yang patut menjadi teladan dalam konteks kebangsaan. Ketiga orang itu adalah Patih Suwanda atau Sumantri dari Mahespati, Arya Kumbakarna dari Alengka, dan Adipati Karna atau Suryaputra dari Awangga. Siapakah Kumbakarna?

Dia adalah seorang ksatria yang bertubuh raksasa. Ia lahir sebagai putra kedua Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi. Ia ditakdirkan untuk menjadi adik dari Rahwana, penguasa Alengka yang bertindak angkara murka, namun ia bertekad untuk tidak menjadi bagian dari rezim tercela itu.

Dia adalah remaja yang gemar hidup bersahaja, lalu para dewa berkenan atas sikapnya. Tatkala Bathara Brahma memberi sebuah hadiah kepadanya ia ingin mengucap meminta “Indrasaan” yang berarti kehidupan istana Sang Indra, namun lidahnya kelu dan salah mengucap “Nendrasaan” yang berarti tidur yang lama. Lalu jadilah ia seorang penidur. Enam bulan tertidur dan enam bulan terjaga.

Dia seorang raksasa, namun berhati bening dan penuh cinta. Ia sering menasehati sang kakak untuk berlaku asih dan jujur, menyarankan sang Rahwana untuk mengembalikkan Sinta kepada Rama, namun justeru amarah yang diterimanya. Lalu ia memilih tidur, sebuah jalan sunyi yang disuarakan oleh hatinya. “jikalau Kakanda tiada berkenan akan ucapanku, itu tak mengapa, tetapi bersiaplah suatu saat keruntuhan akan menimpamu”

Dia terlelap dalam tidur tatkala Rama dan pasukan kera menggempur Alengka. Dia tergugah karena prajurit Alengka membangunkannya dengan segenap keonaran dan senjata. Dia terbangun oleh berbagai hidangan lezat didekatkan ke hidungnya, lalu ia menyantap habis semuanya untuk kemudian segera menghadap sang Raja.

Dia datang kepada Rahwana yang sedang berada di ambang kekhawatiran. Dia datang untuk mengucapkan “sudahlah kakanda, kembalikan Sinta kepada Rama agar rakyat kita terhindar dari peperangan ini”. Tetapi Rahwana menjawab “dasar engkau saudara tak tahu balas budi. Selama ini engkau kuberi makanan dan kehidupan, namun kini engkau tiada membantuku, kembalikan semua yang telah kuberikan kepadamu” dan ajaib, dia kemudian memuntahkan semua isi perutnya di hadapan sang raja yang menangis.

Dia kemudian kembali kepada Rahwana dengan busana putih dan berkalung bunga lalu berkata “baiklah kakanda, selama ini aku menasehatimu karena aku sangat mencintaimu. Dan kini aku siap ke medan perang, tetapi ingatlah, aku berperang bukan untukmu. Juga bukan karena anakku Aswanikumba terbunuh oleh Sugriwa. Aku berperang untuk Alengka, tanah leluhurku dan kehidupanku. Pasukan Ayodya menyerang negeriku, maka wajib bagiku membela negara…”

Dia berangkat ke medan perang pada garis terdepan dengan semangat seorang patriot. Dia menghadapi Rama dan pasukannya tanpa tatapan kebencian. Dia bertempur gagah hingga panah Rama memutus kedua lengannya. Ia hanya berperang dengan kedua kakinya hingga panah Rama kembali menebas kedua kakinya. Ia yang tanpa tangan dan kaki bertempur dengan berguling-guling, sampai akhirnya panah ketiga Rama memenggal lehernya.

Dia gugur, dan sebagai penghormatan atas kematiannya, Rama menyerukan gencatan senjata hingga jasadnya disempurnakan pada sebuah pancaka. Kematian seorang yang menjadi ikon sebuah patriotisme. Dia adalah pahlawan yang memilih jalan sepi, tidur menyingkirkan diri dari hingar-bingar tirani di sekelilingnya.

Dia adalah Kumbakarna, seorang yang memberi teladan kecintaan pada tanah air tanpa basa-basi. Kata-kata patriotisme yang diucapkan Kumbakarna tidak populer bagi Rahwana dan para sekutunya. Namun semangat dan tindakannya melebihi semua ekspektasi tentang dirinya. Ia membuktikan bahwa sebagai apapun, cinta pada negara, rakyat dan tanah air dapat diwujudkan dalam pelbagai tindakan nyata, lebih dari sekadar teori-teori politik dan bualan semata. Memang ada banyak orang yang fasih berbicara atas nama bangsa dan negara, namun hanya sedikit yang satu kata satu perbuatan, dan Kumbakarna adalah satu diantara yang sedikit itu.

One thought on “Saga Sang Penidur

  1. masmpep mengatakan:

    tripama pernah saya baca lewat para priyayi–umar kayam. menarik. diantara sumantri, kumbakarna, dan dan karna saya kira yang paling relevan kumbakarna. right or wrong is my country dan berjayalah inggris di lautan, he-he-he.

    salam blogger,
    masmpep.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: