Tahta yang Terbelah

1

Juni 8, 2009 oleh sedjatee

soloraya

Nuladha laku utama, tumrape wong tanah Jawi
Wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati
Kapati amarsudi, sudaning hawa lan nepsu
Pinesu tapabrata, tanapi ing siyang ratri
Amamangun karyenak tyasing sasama.

KGPAA Mangkunegoro IV – Wedhatama

Akhir pekan ini aku kembali ke Surakarta atau Solo, tanah kelahiran belahan jiwaku. Tulisan the Spirit of Java, menyambut di gerbang kota. Kota yang damai, ramah, artistik dan eksotik. Meski kini Solo tengah mennggeliat dengan pembangunan sentra perdagangan, hiburan dan gaya hidup, kekentalan budaya lebih lestari terpelihara dibandingkan Yogyakarta yang sibuk dengan akulturasi sebagai ekses riuhnya migrasi komunal.

Sebait sajak diatas adalah satu tembang Sinom yang terangkum dalam Wedhatama, salah satu masterpiece dari KGPAA Mangkunegoro IV. Generasi sekarang mungkin tak banyak yang tahu karya besar ini. Isi bait diatas adalah puja-puji untuk Panembahan Senopati, pendiri dinasti Mataram Islam. Mataram yang dibangunnya, tetap eksis sebagai sentra peradaban tanah Jawa dalam lima abad ini.

Dalam syair itu maupun dalam kehidupan, Senopati, adalah pahlawan yang pemberani, disegani, namun bersahaja dan teladan masyarakat. Begitulah seharusnya sosok bangsawan dimata rakyatnya. Namun jika Senopati tahu akan apa yang terjadi di Surakarta belakangan ini, ia mungkin akan menangis pilu. Ada sengketa elit yang tak kunjung paripurna, ada dua matahari di langit Surakarta.

Sama-sama sebagai putra selir, Hangabehi dan Tedjowulan sama-sama mengklaim diri mereka sendiri sebagai Pakubuwono XIII. Ayahanda mereka, Pakubuwono XII mangkat dengan sejarah memiliki enam orang selir tanpa permaisuri. Masing-masing punya dalih yang dianggap kuat. Hangabehi adalah anak lelaki tertua dari selir pertama. Sedangkan Tedjowulan yang menyebut dirinya sebagai ‘raja rakyat’ mengaku telah mengantongi mandat secara lisan dari mendiang PB XII.

Menilik kebelakang, perpecahan Hangabehi dengan Tedjowulan bukanlah yang pertama. Maka hal ini tak terlalu memunculkan histeria. Kisah mereka, menebalkan kembali kata intrik, sekaligus mengaburkan esensi penguasa dalam kasanah kebangsawanan kita.

Mataram kuat dan disegani. Begitulah gambarannya sejak didirikan oleh Panembahan Senapati hingga kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo, sang penggempur VOC. Percikan friksi mulai mengemuka pasca mangkatnya Amangkurat I. Sang putera, Pangeran Adipati Anom, yang naik tahta sebagai Amangkurat II tidak disukai oleh elite istana karena dianggap terlalu kooperatif terhadap Kumpeni. Para petinggi Mataram waktu itu lebih mendukung Pangeran Puger, adik Amangkurat II, sebagai pemimpin mereka. Itu benar-benar terwujud tatkala keraton dipindahkan ke Kartasura dan Pangeran Puger naik tampuk sebagai Paku Buwono I.

Mataram benar-benar terpecah menjadi dua oleh perjanjian Giyanti. KPH Mangkubumi naik tahta sebagai Hamengku Buwono I di Yogyakarta, sementara Paku Buwono tetap bertahta di Surakarta. Dan Surakarta pun kemudian terbelah dengan naiknya Raden Sahid sebagai Mangkunegoro.

Menarik untuk mencermati kembali Babad Tanah Djawi, yang berkisah tentang raja-raja Jawa di masa lalu. Dituturkan bahwa pasca penaklukkan Majapahit, Raden Fatah memboyong panji-panji dan tanda kebesaran kerajaan dari Majapahit ke Demak. Setelah itu, segala upeti hasil bumi, hasil dagang, barang tambang dan ternak mengalir ke Demak. Lingkungan kerajaan makin gemerlap kaya raya. Kejayaan itu semakin besar setelah kekuasaan berpindah ke Pajang kemudian Mataram yang tanahnya subur makmur.

Lebih dari daya cipta material seperti diatas, status kebangsawanan dan segala keluhuran yang melekat adalah prestise yang tak bisa dicari padanannya. Dalam konteks kekinian, kultur feodal di jagad monarkhi negeri ini memang sudah tak lagi sekental dahulu. Namun sebagaimana Abraham Maslow menjelaskan the Hirarchy of Need, di level tertinggi, pengakuan atas eksistensi berada di garis depan kebutuhan manusia.

Hasrat untuk dihargai, hasrat untuk berkuasa, adalah sebuah dahaga yang sulit dieliminasi dari rongga hawa nafsu manusia. Mungkin itu semua bisa menjelaskan mengapa ada rivalitas tingkat elit atas nama kekuasaan yang sulit dipadamkan dalam sejarah kehidupan ini.

One thought on “Tahta yang Terbelah

  1. eemboz mengatakan:

    Postingannya bagus mas!
    Manusia harus belajar dari sejarah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: