Tetap Bertahan

2

Juni 12, 2009 oleh sedjatee

bocah2

“Kita harus memberi perlawanan, Kang. Kalau diam saja, kita akan diusir !”
“Apa kita sanggup menghadapi orang kecamatan sama centeng juragan Tionghoa itu, Djan?”
“Sanggup atau tidak itu tergantung kita, Kang. Kita punya harga diri, Kang!”
Wiryo termenung sambil mengangguk-angguk. Ia membenarkan apa yang dikatakan Samidjan. Namun perang batin tak bisa dihindari. Sebagai ketua RW ia harus bisa mengatur warga bila ingin dinilai baik oleh kelurahan. Di sisi lain, hati kecilnya pun tak rela jika tanah kelahiran dan tumpah darahnya itu harus ditinggalkannya karena tergusur. Tanah ini, kampung ini adalah sejarah hidup mereka, bahkan leluhur mereka. Dengan cara apapun mereka harus mempertahankannya.

Kampung Demangan dekat dengan pasar dan stasiun. Tak heran jika seratus lebih keluarga yang ada di Demangan mendapat berkah dari kedekatan itu. Siapa tak kenal Darto Kirik mantan copet yang menjadi petugas keamanan stasiun paling disegani. Siapa pula tak tahu nama mbah Sapangat, penjaga kakus pojok pasar yang rajin sembahyang. Mereka adalah orang kecil ini yang mendapat berkah dari lokasi strategis kampung Demangan. Kasihan jika mereka harus angkat kaki dari Demangan. Akan kemana mereka pergi dan bermukim? Tidak.., sampai kapanpun kampung ini tak boleh tergusur.

===##===

“Sedulur-sedulurku semua, saya sengaja hadir di hadapan sampeyan, dalam rangka memberi kabar baik buat kita semua” kata petugas kecamatan membuka dialog dengan warga. Pulisi berpangkat sersan di sebelahnya manggut-manggut, tak terkecuali pria bermata sipit yang dipanggil Tuan Johan. Ia datang dengan kawalan beberapa pria kekar yang tak pernah tersenyum. Pak lurah terlihat paling tidak necis dengan peci tua dan batik kumalnya. Ia kelihatan paling tidak berwibawa. Persis wataknya yang penakut dan mau cari untung sendiri.

Sore ini warga kampung berkumpul di madrasah dekat masjid untuk mendapat pengarahan dari kecamatan. Sepertinya, apa yang akan disampaikan oleh aparat berkaitan dengan rencana penggusuran kampung Demangan yang telah lama berhembus.

“Bapak-bapak.., sampeyan semua tentunya ingin kota ini menjadi indah, rapi dan tertib, nggih nopo nggih?” ucap petugas kecamatan membuka dialog.
“Nggiiiihhhh…..” jawab warga serempak. Pak pulisi menatap Tuan Johan sambil ber-hehe-hehe.
“Sampeyan semua pasti senang kalau kota kita ini tambah ramai, ada perkulakan, ada pertokoan, ada tempat hiburan? Iya apa iya..?” lanjutnya
“Nggiiiiihhh…”
“Naaahhh., cita-cita panjenengan semua itu dalam waktu dekat ini akan segera menjadi kenyataan. Oleh karena itu sore ini Tuan Johan meninjau untuk Impestasi dalam rangka membantu keinginan kita semua untuk menata kota kita ini menjadi kota yang asri, yang tertib, begitu to?” “Nggiiiihhhhh…”
Pak lurah ndomblong sambil menganggukkan kepala seperti seekor kerbau.

Petugas kecamatan kembali angkat bicara
“Nah.. inti dari rencana pembangunan kota ini adalah bahwa kampung Demangan termasuk sebagian dari rencana penataan kota yang sesuai masterplan akan dijadikan pusat perbelanjaan dan hiburan. Dengan kata lain, di Kampung Demangan akan segera dibangun pusat perbelanjaan yang konsekuensinya adalah para warga harus bersedia menyerahkan tanahnya untuk dilaksanakan pembangunan sesuai rencana kota. Sebagai gantinya, warga akan mendapatkan ganti rugi yang pantas atas tanah yang diserahkan. Lebih dari itu warga akan ditransmigrasikan ke luar Jawa dengan diberi fasilitas tanah, rumah, kebuh dan sawah serta bantuan biaya hidup untuk beberapa waktu. Bagaimana, sampeyan semua setuju to..?”
Warga bungkam seribu bahasa. Pak Lurah yang senang dengan situasi seperti ini segera menambahkan “kalau semuanya diam, itu biasanya berarti setuju”.

“Saya ndak setuju, saya tidak mau pindah” jawab Samidjan sambil berdiri dengan tangan terkepal.
“Betul” sambung warga yang lain. Suasana riuh.
“Sebentar-sebentar.., bapak-bapak jangan salah faham soal ini. Pemerintah tidak berencana main usir sendiri. Pemerintah tidak main gusur. Pemerintah menyiapkan ganti rugi yang pantas, ditambah dengan mentransmigrasikan warga dengan fasilitas yang mencukupi..”
“Tidak perlu.. kami tidak akan menjual tanah kami.” Jawab seorang warga dengan wajah membara. “Betuuulll..” sambung warga yang lain.

“Bapak-bapak sekalian. Saya sarankan bapak-bapak untuk tidak menghambat rencana pembangunan yang disusun oleh pemerintah. Ini semua adalah demi kebaikan rakyat banyak, yang mendapat manfaat pembangunan kota ini adalah rakyat, ya tidak lain adalah kita semua”
“Rakyat gundhulmu..”Jawab Kang Suro sambil melempar puntung rokoknya. “Silakan kalian membangun kota ini, silakan. Tapi kalian harus hormati hak kami untuk tinggal di sini. Jangan gusur kami dari Demangan”
“Pak Suro.. Pak Suro.. tenang Pak. Pemerintah sangat menghormati hak warga. Oleh karenanya pemerintah akan membeli hak warga dengan harga yang berlaku. Tanah Bapak dan para warga yang lain akan dibeli, bukan dirampas..”
“Terserah apa katamu. Yang jelas kami tidak akan melepas tanah kami. Kami akan tetap bertahan disini, sampai kapanpun” jawab Giyono menggebu-gebu.
“Sedulur-sedulur.. Ayo pulang saja. Tidak ada gunanya kita lama-lama disini.” Teriak Kang Suro yang disetujui oleh warga yang lain “Ayoooo….”

Warga Demangan pergi dengan hati murka. Brak… Braaakkk.. Mereka pulang sambil menendangi bangku-bangku yang mereka pakai dalam pertemuan itu. Tinggallah Wiryo sebagai wakil warga yang tinggal disitu menemani para tamu yang masih terheran-heran dengan kejadian yang baru saja berlangsung.
“Pak Wiryo ini gimana to.. suruh mengatur warganya sendiri saja kok tidak bisa. Terus terang saya kecewa. Apa kata pak camat nanti kalau mengatur orang Demangan saja kita gagal”
“Pokoknya, kalo ada apa-apa terhadap warga disini, saya tidak mau bertanggung jawab. Kalian semua adalah pembangkang” kata petugas kecamatan kemudian mengajak rekan-rekan tetamu yang lain untuk pergi dari ruangan itu. Tinggallah Wiryo sendiri, memendam sakit hati.

===##===

Kehidupan di Demangan kembali bergulir sebagaimana biasa. Para warga telah larut dengan aktifitas mereka, di pasar dan di stasiun. Tidak tampak bekas apapun dari pertemuan tiga hari yang lalu dengan para pejabat pemerintah. Wiryo sedang menata dagangan di gerobak sotonya pagi itu. Dari kejauhan kelihatan Tarno pulang dengan mengayuh becaknya.
“Lho… pagi-pagi kok pulang, ndak jadi narik, No?” tanya Wiryo.
“Celaka, Kang. Belum dapet penumpang sudah diusir sama kota praja” jawab Tarno bingung.
“Aku dikejar-kejar sama kota praja, mau digebuki. Becak orang-orang Kemantren sepertinya ndak dikejar-kejar seperti kami.” Lanjut Tarno sambil menerawang.

“Lha kamu.., kok balik lagi, Yem?” tanya Wiryo pada Djumiyem yang dibantu Ragil anaknya mendorong gerobak buburnya masuk Demangan.
“Aduuuh… piye iki. Pagi-pagi mau jualan sudah disuruh pergi sama tramtib. Kang Giyono tadi dikejar-kejar mau dipukuli.” Ujar Djumiyem sambil mengusap peluhnya.
“Sekarang kemana Giyono..?” tanya Tarno.
“Larinya ke arah stasiun, mungkin mau minta perlindungan sama Lek Darto Kirik” jawab Ragil.
“Ya.. sudah-sudah. Sekarang semua ngumpul di sini saja. Tarno.., kamu ajak Sukir, Slamet, mbah Kromo sama Tugiran keluar, bantu ibu-ibu yang kemungkinan sekarang lagi diobrak-abrik. Gil.., kamu ajak Bedjo sama Mardi ke tempat Darto Kirik, panggil dia kemari. Kin.. pemuda semua suruh ngumpul di sini ya..” Tarno memarkir becaknya untuk segera memanggil beberapa orang, demikian juga Ragil dan Solikin. Tiba-tiba..,

“Ono opo iki” terdengar teriakan Darto Kirik yang datang dari arah stasiun diikuti warga yang lain. Belum ada yang menjawab, terdengar suara jeritan.
“Pakdhe.. Kang Darto.., tuluuungg..!” teriak  Sutrimah yang berlari dari arah pasar. “Kang Trubus diciduk, dibawa ke kelurahan, dipukuli” suasana kacau
“Wis.. sekarang begini, Pakdhe Wiryo sama beberapa orang tetap disini. Yang lain ayo ikut aku ke kelurahan” kata Darto Kirik sambil melangkah keluar Demangan.
“Hati-hati lho Kang, di sana ada beberapa pulisi” pesan Sutrimah. “Ora wedi”

Dengan langkah gagah, Darto Kirik diikuti beberapa warga Demangan menuju kelurahan untuk menuntut pembebasan Samidjan, Trubus dan mungkin beberapa orang lainnya yang tengah di tahan di kelurahan. Dalam hati mereka menduga-duga, barangkali ini semua ada kaitannya dengan rencana penggusuran kampung mereka, ditambah sikap tidak kooperatif yang ditunjukkan warga pada pertemuan beberapa hari lalu.

Belum lama Darto Kirik keluar dari Demangan, tiba-tiba
“Kebakaraaaaan…” teriak orang-orang “Kebakaran..!” “Apiii…, Apiiiiii…”
terlihat Yu Ginem lari dari dalam kampung, diikuti Parti sambil menggendong anaknya. Dari beberapa rumah di belakang kampung terlihat kobaran api.

Beberapa orang segera lari ke arah belakang kampung untuk memadamkan api. Tiba-tiba entah dari mana datangnya, usaha warga Demangan untuk memadamkan api ternyata dicegah oleh beberapa orang berbadan kekar yang dikenali ikut mengawal Tuan Johan saat pertemuan warga beberapa hari lalu. Tak ayal bentrokan pun terjadi. Warga Demangan berhadapan dengan orang-orang berbadan kekar yang diduga adalah centeng pengusaha yang menerima proyek penggusuran Kampung Demangan ini. Tarno, Wiryo, Slamet dan beberapa warga tampak kewalahan menghadapi serangan orang-orang berbaju hitam yang mahir berkelahi itu. Warga yang sehari-hari hidup rukun itu sepertinya tak sanggup melawan para centeng bayaran. Namun perlahan-lahan warga memenangkan perkelahian dan bisa meringkus para pembuat onar.

Ketika Darto Kirik dan rombongannya kembali dari kelurahan dengan membawa Samidjan, Trubus serta Kasmidi yang juga ditahan, pergulatan itu telah usai. Terdengar sumpah serapah warga Demangan yang berkumpul menghakimi pengacau yang kini babak belur. Mereka menanti keputusan Darto Kirik, sosok yang mereka patuhi dalam hal keamanan Kampung Demangan ini.

“Asu…” “Bajingan Kowe..” kemarahan warga tertumpah dengan memaki, menendang, memukuli bahkan menelanjangi preman yang tertangkap itu.
“Stooooop….!” teriak Darto Kirik lantang, warga yang emosi semuanya terdiam. Kini giliran Darto Kirik memukul dan meludahi wajah tawanan itu satu persatu.
“Wis.. Wis… Darto… Cukup, Cukup.” Ucap mbah Djoyo dan Wiryo bebarengan.
“Serahkan saja ke pulisi..” kata beberapa warga
“sudah… biar aku yang bawa mereka ke Koramil” jawab Darto Kirik sambil menendangi bajingan itu.

===##===

desa2

Suasana mencekam telah berlalu. Api pun telah dipadamkan. Beberapa Warga Demangan berkumpul di depan kampung. Mereka berjaga sambil memperbincangkan kejadian yang baru saja menimpa kampung mereka. Rencana penggusuran kampung mereka, pelarangan becak-becak mereka, pengusiran barang dagangan mereka hingga pembakaran rumah-rumah mereka. Mereka hadapi semua dengan tegar, tanpa bantuan polisi, tanpa perlindungan aparat. Semua mereka jalani dengan tabah hanya demi mempertahankan Demangan, tanah kehidupan mereka.

Sebagian tetua kampung turut merenung, membuka lembaran kenangan masa lalu dalam benak mereka. Asap rokok dari bibir tua terlihat membubung ke langit malam yang sedikit bertabur bintang. Entah apa yang ada di benak mereka. Namun yang pasti mereka telah mulai berfikir bahwa ancaman yang lebih besar bisa kembali datang mengusik mereka. Tetapi hati dan jiwa mereka telah mantap. Walau dalam kegetiran seperti apapun, mereka akan tetap bertahan.

2 thoughts on “Tetap Bertahan

  1. Fadhilatul Muharram mengatakan:

    kunjungan dinas…

    *saya suka foto2nya*

    itu asli yah?? ngambil sendiri?

    salam…

  2. darahbiroe mengatakan:

    perang batin pak wiryo dikala itu 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: