Centrang Nomer 3

5

Juli 3, 2009 oleh sedjatee

transformer1

Pemilihan presiden semakin dekat. Tinggal hitungan jari sebelah tangan, hajatan demokrasi nasional kedua tahun ini akan dilangsungkan. Dan pilpres sendiri akan menjadi arena untuk banyak kepentingan. Yang paling meriah adalah pilpres menjadi gelaran tebak-tebakan di kalangan masyarakat bawah.

Rivalitas tensi tinggi yang terjadi di kalangan capres-cawapres, partai pendukung dan tim sukses kontestan pilpres terlihat begitu marak, tajam dan pedas. Di level masyarakat bawah, yang terjadi justru sebaliknya. Masyarakat terkesan begitu tenang menyikapi hajat demokrasi ini.

Tim sukses capres sibuk dengan berbagai tindakan kampanye, dari yang santun hingga yanng tidak beretika. Para suksesor yang sebagian besar adalah orang terkenal, terkadang bertindak kebablasan hanya demi menjual pilihan mereka ke publik. Salah satu bahkan terlihat kalap hingga mendiskreditkan salah satu etnis. Kejadian ini terlihat begitu vulgar dalam tayangan media. Sisi ketidakdewasaan politik pun terlihat jelas ketika salah satu capres dengan tampilan memelas menjual opini seolah dirinya sedang dikeroyok oleh para kompetitornya. Ironisnya, dalam banyak jajak pendapat masyarakat justru sering bersimpati kepada kandidat yang terkesan dianiaya atau dikeroyok alias bertampang memelas. Padahal yang ada adalah sebuah kritik oleh oposisi terhadap kinerjanya yang tidak terlalu istimewa. Sungguh ironis.

Suatu terobosan baru dimunculkan kali ini dengan adanya forum debat bagi capres maupun cawapres. Meski bertajuk debat, pemaparan dan pertemuan para capres yang disorot banyak kamera televisi ini lebih terkesan sebagai suatu musyarawah para capres. Setelah debat hanya berlangsung rukun dan dikritik banyak kalangan, para capres dan cawapres tampil garang pada debat putaran berikutnya. Sekarang hanya menunggu pembuktian apakah performa apik capres yang menjadi bintang forum debat berkorelasi positif pada perolehan suaranya dalam pilpres nantinya. Karena di kalangan kita, visi dan misi para capres tidak lebih penting dari gizi yang disebarkan oleh mereka.

Masa kampanye capres kali ini dimeriahkan juga oleh kiprah beberapa lembaga survey. Keberadaan mereka sempat membuka harapan bagi pembelajaran politik masyarakat. Namun belakang hari masyarakat tak terlalu respek dengan mereka ketika kemudian diketahui bahwa lembaga survey hadir dalam blantika demokrasi dengan misi pesanan kontestan pemilu untuk kemudian melakukan survey ”ecek-ecek” yang menguntungkan kontestan pembayar. Memalukan. Tetapi masihkah ada rasa malu pada mereka yang dari awal memang hanya orang-orang yang bermental ”jualan”?

Salah satu dampak positif bagi perekonomian di masa kampanye adalah terdongkraknya belanja iklan yang berarti akselerasi gerak roda ekonomi. Tak bisa dianggap kecil, beberapa lembaga peneliti memprediksi bahwa belanja iklan pemilu tahun ini mencapai angka 5 triliun rupiah. Namun angka sebesar itu tidaklah berarti bahwa kita disuguhi tontonan iklan yang sejuk dan edukatif, faktanya justru banyak iklan yang dikomentari sebagai iklan penyesatan dan pembodohan. Pengamat pemasaran mengeluhkan iklan capres yang terkesan kurang elegan. Seorang calon pemimpin bangsa dijual dengan cara mirip menjual mie instan. Ironisnya, tim sukses malah begitu bangga dengan keyakinan bahwa hal ini mudah dihafal oleh masyarakat bawah, tanpa disadar mereka sedang melakukan pembodohan kepada masyarakat.

Ketololan politik pun semakin kentara dengan adanya iklan yang dipesan untuk menyerukan pemilu satu putaran. Para pemerhati menyebut ini sebagai suatu ekspresi ketakutan untuk kalah. Aturan perundangan memungkinkan pilpres berlangsung dua putaran. Namun tim sukses pemasang iklan satu putaran ini berdalih bahwa pemilu satu putaran akan menghemat anggaran pemilu, dan itu bisa dipakai untuk rakyat. Tak sadarkah mereka bahwa belanja iklan mereka yang begituu besar juga akan lebih bermanfaat bila disalurkan untuk rakyat? Sungguh mengada-ada, satu pengamat bahkan menjuluki mereka munafik.

Ditengah hiruk-pikuk perang opini para capres di masa kampanye, masih ada sekelompok masyarakat yang tidak terpengaruh oleh panasnya gesekan antar kontestan. Mereka tidak bertarung dalam pemilihan legislatif ataupun capres, namun boleh kita anggap bahwa merekalah sang juara. Mereka tenang menyikapi pemilu, namun bukan berarti mereka apatis. Mereka mengharapkan adanya suatu perubahan sebagai imbas pemilu ini. Mereka memimpikan perbaikan kehidupan dan mereka berharap pemimpin yang terpilih mendengarkan jerit hati mereka. Mereka turut berkampanye, mendukung calon pilihan mereka, namun mereka tidak bertikai dengan pesaing mereka. Mereka hanya orang kecil tetapi mereka berpolitik dengan santun dan cerdas.

Suatu sore yang teduh di pinggiran kota. Seorang bapak sibuk di depan warung rokoknya. Ia yang mengenakan baju merah bergambar binatang bertanduk, tampak dengan iklas memperbaiki letak spanduk capres warna biru yang terkulai di tiang listrik dekat warungnya. Aku termenung, antara kagum dan bingung, apakah dalam pilpres ia memilih nomor satu sesuai warna kaosnya, ataukah memilih nomor dua seperti atribut kampanye yang dipegangnya.
“sibuk ya Pak” tanyaku
“iya nih, kasihan, spanduknya pada lepas.” katanya.
”wah, pendukung nomor dua nih, tapi kok pake baju nomor satu?”
”hehehe…. lebih cepat lebih baik” (uh… sungguh demokratis orang ini)
”jadi pilihan Bapak?” (makin bingung aja)
”Centrang nomer 3” jawabnya pasti

5 thoughts on “Centrang Nomer 3

  1. Singal mengatakan:

    hehehe….bisa saja…

  2. masmpep mengatakan:

    saya juga mencontreng (istilah generik versi kpu) no 3 pak. tapi apapun komentarnya, presiden kita kini sby, he-he-he.

  3. wardoyo mengatakan:

    Wuih.. bagus-bagus artikelnya…
    numpang mampir ya, dari http://www.cerminsejarah.wordpress.com
    terimakasih

  4. Agus Suhanto mengatakan:

    halo,
    sy Agus Suhanto, tulisan yang menarik🙂 … lam kenal yee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: