Di atas sebuah kereta

1

Juli 13, 2009 oleh sedjatee

sepurAku berada di sebuah kereta yang berjalan lamban, kumuh dan sarat penumpang. Menurut data terkini dari Bank Dunia, seratus juta lebih penumpang keretaku ini hidup di bawah garis kemelaratan alias daily living cost less than one dollar per person. Sebuah kereta yang dipadati para perokok, yang mana sebagian besar penumpangnya mendambakan BLT (bantuan langsung telas)

waktu menunjukkan 19:45, keretaku mulai berjalan sendiri setelah terlalu lama dikangkangi oleh orang asing. Dari yang berambut pirang yang dijuluki kumpeni, hingga yang bermata sipit dari negeri matahari terbit. Bahkan ada yang bilang bahwa kereta rongsokan ini adalah hadiah dari bangsa nippon, saudara tua para penumpang kereta. Terserah apa kata orang, yang jelas kereta ini mulai berjalan dalam sederhana. Namun para penumpang bergejolak, sepertinya mereka belum siap berjalan bersama kereta yang dimasinisi oleh orang dalam sendiri, yang tak lain adalah deklarator kereta ini.

Tepat pada 19:66 seorang tentara membawa supersemar lalu berkuasa. Ia mengambil alih lokomotif sembari melemparkan masinis lama melalui jendela. Bersama rejim militernya, kereta ini mulai dipermak dengan Rencana Perjalanan Lintas Kota alias Repelita. Untuk menyikapi para penumpang yang doyan bikin anak, sang masinis menyerukan Keluarga Berencana. Ujung-ujungnya ia mendapat penghargaan dari Unesco. Peningkatan kualitas SDM dilakukan dengan memperbanyak posyandu dan kelompencapir. Akhirnya sang masinis menganugerahi dirinya dengan gelar Bapak Pembangunan.

Di ujung kekuasaan sang jenderal, tepatnya pada 19:88  terjadilah huru-hara. Krisis ekonomi dan krisis multidemensi menyebabkan para penumpang kereta mulai jengah dengan tangan besi lalu meneriakkan satu kata “REFORMASI”. Kemudian setelah itu, beberapa orang bergantian menjadi masinis di kereta ini. Pada mulanya adalah seorang teknokrat pembuat pesawat yang gemar menyanyikan lagu “sepasang mata bola”. Kemudian seorang kyai yang dianggap suka klenik, hobi melancong ke luar negeri dan secara kontroversial menjuluki dewan yang mulia sebagai taman kanak-kanak. Tak ketinggalan seorang ibu rumah tangga yang sering dikritik karena tidak begitu lancar berretorika dan dianggap hanya membonceng nama besar deklarator kereta.

Pada jam 20:04, para penumpang menggunakan hak pilihnya untuk memilih masinis kereta. Maka jadilah keretaku dipimpin oleh seorang bekas tentara yang sering dijuluki jenderal peragu, tetapi para pendukungnya menyebut sebagai jenderal akademis. Ia memenangi pesta demokrasi dua putaran dalam pemilihan masinis dan dipilih oleh 69 persen penumpang kereta ini. Namun legitimasi yang seolah-olah kuat itu tak menjadikan keretaku berjalan lancar, tetapi malah tertatih-tatih. Krisis terjadi silih berganti. Dari tsunami yang menghantam salah satu gerbongnya, gempa bertubi-tubi hingga banjir yang menenggelamkan lokomotifnya.

Namun begitu sang masinis tetap selalu tampil ceria meski beberapa waktu lalu ia dinilai hanya bisa tebar pesona. Lihat saja setiap minggu malam beliau bermain parodi di televisi bersama wakilnya dan duplikat orang-orang terkenal di negeri ini. Dalam acara dagelan itu mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari para penumpang yang menjadi tenaga kerja yang dianiaya di kereta lain, tentang masalah flu babi dan peralatan tempur para awak kereta api yang ketinggalan teknologi dan lanjut usia.

Jam 20:09 pada suatu stasiun yang riuh dan penuh suara caci maki, penumpang kereta kembali melakukan jajak pendapatnya. Sang jenderal duduk manis di kursi masinis untuk kedua kalinya. Ia kembali naik tampuk setelah berkompetisi dengan deputi masinis kereta dan mantan masinis terdahulu. Para penumpang menginginkan perubahan, dan itu semua terserah sang masinis. Yang jelas, ia hanya berkata “LANJUTKAN” dan melajulah keretaku kembali bersamanya.

Para penumpang kereta tak perlu sedih menyikapi fakta tertinggalnya indeks pembangunan manusia, melejitnya jumlah pengangguran atau besarnya kasus putus sekolah. Para penumpang harus optimis bahwa harapan itu masih ada. Hanya sebagian kecil saja penumpang yang mau menjadi “lebih cepat lebih baik”. Namun bagaimanapun, para penumpang harus bangga bahwa meski mereka kini menumpangi sebuah kereta setengah tua, mereka masih bisa berharap kereta ini berhenti di suatu stasiun yang bisa memberikan mereka kehidupan nyata yang lebih baik, bukan sekadar janji dan harapan. Lihatlah rangkaian gerbong berwarna merah putih yang pudar yang terus melaju perlahan, ada sebuah gambar garuda yang sepertinya sedang terkulai, dan sebuah tulisan samar-samar di tiap pintu gerbongnya: INDONESIA.

One thought on “Di atas sebuah kereta

  1. Obat Gula mengatakan:

    Sangat berbahaya sekali tuh,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: