Budiono: NO, Budianduk: NDUK

6

Agustus 6, 2009 oleh sedjatee

pecahan-rp-2000
satu dialog di sebuah warung kopi pada suatu sore di satu negara berkembang.
“denger-denger ada duit baru dua-rebuan, udah pada megang belon?” tanya seseorang
“baru denger juga, emang elo dah tau tampangnya?” jawab yang lain
“tau dari tipi aja, katanya gambarnya antasari” sambung yang lain
“halah… orang kayak gitu kok dijadiin gambar duit, emangnya kagak ada orang laen, mending dikasih gambar tukul aja” kata si penanya disambut gelak tawa yang lain.
“enggak.. yang ini antasari pahlawan yang dari kalimantan” timpalku sekenanya, maklum, sama-sama belum melihat benda dimaksud. ada rasa miris dalam hati. di warung ini, seorang pejuang yang telah mendedikasikan hidupnya bagi tanah air, untuk sejenak terpinggirkan. ia termarjinalkan karena ketidaksefahaman tentang nama.

tak ada yang rancu dalam mempersepsikan nama pada dialog diatas. dengan sedikit penjelasan, si pemilik nama wajah pada uang baru itu kembali ke tempat yang terhormat. ia tetaplah pahlawan bangsa, meski nama yang sama juga banyak disandang oleh berbagai jenis dan watak manusia.

what is a name. apalah arti sebuah nama. demikian william shakespeare pernah berkata dalam fiksi romantisnya “romeo and juliet”. ada bobot nilai yang tanpa sadar sedang disimplifikasikan oleh adanya pernyataan itu. jika nama tak terkait dengan simbol-simbol, mungkin sah-sah saja kita melakukan “asal ngomong” atau “asal sebut” atau “asal panggil”. tetapi jika suatu nama sudah dilekatkan dengan entitas, kelas atau status, maka menyebut sesuatu haruslah dengan menimbang makna dan substansi.

saya jadi teringat pada satu masa tatkala majelis ulama mengeluarkan statemen bahwa bunga bank itu adalah riba, masyarakat kemudian berpolemik. padahal ibarat memakai kolor, riba adalah lobang kaki kiri dan bunga bank adalah lobang sebelahnya. jika masih ada orang yang bersikeras bahwa bunga bank bukan riba, maka pakailah kolor itu pada satu lobang kakinya, dan biarkan sebelahnya nglewer. kita tidak perlu menyalahkan john maynard keynes, walau sejujurnya, karena bukunya “general theory of employment, interest and money” itulah praktek bunga di bidang perbankan menjadi mendunia. yang benar adalah, kita telah terjebak dalam permisivisme dan hipokritisme yang kita ciptakan sendiri. kita percaya bunga bank adalah riba, namun kita tidak sampai hati untuk mengatakannya karena kita merasa turut membesarkannya.

bicara tentang dimensi riba menurut agama dan keyakinan, menarik untuk menyimak apa yang dikatakan oleh st. thomas aquinas, seorang paderi katholik jujur di abad 13 lalu. dia menentang praktek menganakkan uang yang tengah marak di tengah peradaban eropa. katanya “uang itu tidak pernah punya suami”. artinya, boleh-boleh saja uang beranak pinak. namun memiliki anak tanpa pernah bersuami, pastilah anak itu lahir dari suatu tindakan yang haram. sesuatu yang haram cara membuatnya, haram pula mengkonsumsinya.

masalah nama, sebutan atau panggilan, dalam banyak hal sebenarnya adalah kesepakatan antar manusia saja. sebagai contoh, sebuah benda disebut “ketela” karena masyarakat bersepakat dengan sebutan itu. masyarakat lain mungkin bersepakat untuk menyebut benda itu sebagai “ubi”. apapun namanya, substansinya tidak berubah.

di masa lalu, pemberian nama manusia sangat mempertimbangkan banyak hal, termasuk gengsi. namun di zaman sekarang selain unsur gengsi, pemberian nama adalah bukti kemampuan plagiasi suatu masyarakat yang latah di negeri ini. tak usah heran jika nama-nama hispanik seperti diaz dan lopez sudah menjadi nama bocah-bocah kampung. tak perlu terkejut bila nama aristokrat inggris, henry, dinegeri ini menjadi nama seorang tukang fotokopi. dan jangan kaget jika seorang penggali sumur di pinggiran jakarta punya panggilan serupa dengan panggilan petinggi microsoft, billy. atau seorang penjual rokok yang namanya sama dengan panggilan mantan presiden amrik, ronnie.

kanjeng nabi pernah bersabda “di hari berbangkit nanti, seseorang akan dipanggil dengan namanya dan nama bapaknya” mungkin oleh sebab itu khalid begitu bangga dengan klan al-makhzumi, utsman begitu jumawa dengan dinasti al-umawi. dan di indonesia, ngarso dalem juga selalu mengenakan nama kebesaran hamengku buwono.

kanjeng nabi juga pernah bersabda “berikanlah anakmu nama-nama yang baik, karena itu adalah doa” mungkin karena itu umar, zubair dan abbas menamai anaknya dengan abdullah. abu bakar memberi nama juniornya dengan muhammad dan abdurrahman. kanjeng nabi sendiri memberi nama cucunya hasan dan husain.

memberi nama yang baik adalah doa. nama “urip” berarti hidup. dengan begitu, memberi nama “urip” adalah sebuah doa dan harapan untuk hidup. namun hakikat akhir kehidupan adalah kematian. mbah surip, yang sejatinnya bernama urip ariyanto, kini telah berpulang. nama urip yang disandangnya tak mampu menjadikan ia hidup selamanya. ia tunduk pada hukum tuhan, yaitu mati pada waktu yang telah ditetapkan baginya. pada akhirnya mbah surip pun wafat.

rifat kecil belum bisa menyebut nama dirinya dengan benar, juga nama orang-orang disekelilingnya. bocah satu setengah tahun itu belum bisa berbicara jelas, namun turut mempelajari buku latihan baca tulis kakaknya. bila seorang kanak-kanak sepertinya melakukan kekeliruan menyebut nama karena keterbatasan perangkat komunikasi verbalnya, maka itu bukanlah suatu kesengajaan yang terstruktur. bahkan hanya dagelan semata.
“ini budi” kata si kakak, “..di” tiru si rifat kecil.
“budiono” kataku, “..no” tirunya.
“budianduk” kataku, “..nduk” tirunya.
budiono: no, budianduk: nduk.

6 thoughts on “Budiono: NO, Budianduk: NDUK

  1. wahyu am mengatakan:

    budianduk coy😆

  2. kangmas mengatakan:

    carane masang “penunjuk waktu piye mas”???

    sedjatee: ambil di http://www.al-habib.info…. coba aja mas…

  3. Iwan mengatakan:

    cerdas nian tulisane om ini..
    salut!

    analogi yg cerdas…tapi punta makna lebih dalam dari yg tersurat…

    belajar banyak dari om

  4. wardoyo mengatakan:

    Mampir mas… numpang ketawa ….wakwakwak…

  5. Mumu mengatakan:

    Kwakah kah kah kah kah! Atit elutt niyyy..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: