Sekali Merdeka, Merdekaaa Sekali…

4

Agustus 19, 2009 oleh sedjatee

SBY_lanjutkan_2009

Empat belas agustus. Turun dari buskota khas Jakarta yang jorok, bau namun tetap menjadi idola dan selalu penuh sesak, lalu terengah-engah mencapai Stasiun Senen. Judulnya: pulang kampung untuk liburan yang lumayan panjang, tiga hari. Aku libur tiga hari. Merdeka…

Melongo di pintu loket. Tiket semua destinasi terjual ludes karena banyak orang berhasrat sama untuk pergi pada long weekend ini. Tiba-tiba teringat seorang teman yang hendak menjual tiket milik koleganya yang batal pulang. Dan benar, akhirnya tiket berkursi itu menjadi milikku. Aku duduk manis, bermimpi sepanjang kereta berjalan bersama masinis. Merdeka…

Lima belas agustus dini hari. Tiba di rumah terindah yang sekelilingnya telah menjadi begitu cantik. Penuh dengan bendera, lampu hias, umbul-umbul dan cat merah putih di tepian jalan. Yang mengejutkan, rumput dan ilalang telah tercerabut dari halaman rumah. Juga selokan yang kotor itu telah bersih buah dari kerja bhakti para tetangga menjelang lomba kebersihan. Lumayan, tak perlu bersusah payah menghias dan membersihkan rumah. Sudah ada yang menanganinya. Merdeka…

Enam belas agustus malam hari. Sebuah ritual tahunan bertajuk tirakatan digelar dan seluruh warga membaur. Dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan, semua mulut terbuka untuk bernyanyi. Dari kanak-kanak hingga tua bangka, dari pejabat pemerintah hingga tukang sayur, dari yang berkaus compang-camping hingga yang berbusana batik rapi, semua bersuara meski pada nada dasar yang tak sama. Ada yang slendro, ada yang pelog. Berkumandanglah nyanyian bangsa, Indonesia Raya, merdeka, merdeka…

Tujuh belas agustus. Ada banyak hal tak lazim yang coba diukir untuk mewarnai hari yang sakral ini. Ada yang upacara di dasar laut, ada yang di puncak gunung, ada yang di dalam tanah. Intinya adalah pengibaran bendera dan pengucapan salam perjuangan, merdeka…

Upacara di bawah laut. Sangat fenomenal, sangat unik, walau sebenarnya hanya begitu-begitu saja. Keistimewaan itu hanyalah membentangkan bendera di dalam air yang bertekanan. Agak sulit dilakukan tetapi cukup istimewa. Manusia bukan makhluk air, ia tak bisa bergerak leluasa di tempat yang bukan habitat hidupnya. Yang terlihat hilir mudik adalah ikan-ikan di dalam laut itu. Makhluk air itu bergerak lincah. Meski manusia mengklaim daratan dan lautan adalah wilayah manusia, para ikan tetap menikmati kebebasan di dalam laut. Mereka bergerak lepas. Merdeka…

Hari kemerdekaan selalu diwarnai dengan pemberian remisi. Para pesakitan yang menghuni berbagai hotel prodeo di tanah negeri ini, berharap akan datangnya diskon atas masa pengurungan mereka. Dan seperti biasa, menteri kehakiman dengan murah hati memberikan remisi bagi para napi. Dari yang hanya sebulan hingga enam bulan, itu semua lumayan. Yang istimewa tentunya adalah remisi bebas bagi sekitar 5000 napi. Akhirnya mereka bebas dari kurungan, merdeka…

Upacara paling sakral tentunya adalah yang digelar di istana negara. Dengan inspektur upacara seorang presiden dan dihadiri oleh elit negara, upacara ini selalu memunculkan nuansa serius, sakral dan megah. Namun (entah kenapa) ada satu momen yang tiba-tiba memberi warna tersendiri untuk upacara kali ini. Tak lucu namun lucu, lazim namun tak lazim.
Protokol : laporan komandan upacara kepada inspektur upacara
Komandan : lapor… upacara peringatan HUT RI … siap di mulai…
Inspektur : lanjutkan…
Komandan : lanjutkan (sambil nyengir kuda, menahan geli)
Hadirin : huahahaha… huehehehe… wakakaka…. (teringat masa kampanye)
Penonton : plak-plak-plak (tepuk tangan) suit…suit….
Tawa dan tepukan itu adalah ekspresi yang spontan. Kebebasan berekspresi adalah kemerdekaan hak asasi manusia, termasuk di momen paling sakral sekalipun. Dan di istana negeri ini, kemerdekaan berekspresi itu menorehkan citarasa tersendiri. Sangat ekspresif. Boleh-boleh saja… Sekali merdeka, merdekaaaa sekali…

4 thoughts on “Sekali Merdeka, Merdekaaa Sekali…

  1. wardoyo mengatakan:

    Merdeka ahh…
    Sudah masuk hari ketiga puasa Ramadhan. Terasa juga kalau saat berbuka menjadi merdeka … merdeka makan, minum dan merokok…
    Ehh… apakah puasa itu belenggu?? Belenggu buat siapa??

  2. ganesha mengatakan:

    Merdeka atau mati..,
    Sebelum mati harus merdeka,,
    Hehehe..,

    Kunjungan balik,,
    Salam kenal,,😀

  3. Teguh Iman Prasetya mengatakan:

    merdeka atau mereka

    sedjatee: inggih nuwun.. salam merdeka…

  4. Coretta Cremona mengatakan:

    Hm, I am happy with this however not wholly positive, therefore i’m about to research a tad bit more.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: