Bangsa Maling

10

Agustus 25, 2009 oleh sedjatee

maling

Berbusana serba gelap lalu mengendap-endap dalam kegelapan,. Kepala dan wajah tertutup skebo alias topi monyet, hanya lobang kedua mata saja yang terlihat. Peralatan standar yang selalu dibawa adalah clurit dan linggis. Sasarannya adalah kandang ayam di belakang rumah. Lalu “keooook…” si ayam berteriak, hanya sesaat, karena kemudian unggas itu dibungkam dalam pelukan mesra makhluk yang dikenal sebagai maling.

Itulah sekelumit introduksi tentang maling. Lebih khusus itu adalah maling jadul, maling kuno, maling konvensional alias maling primitif.

Website penyedia rujukan, Tololopedia, mendefinisikan : Maling adalah pekerjaan yang sedang trendy di kalangan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah jembatan. Maling berasal dari bahasa Vietnam “Mậh”(籄) yang berarti kuda dan “Lỉng”(饞) yang merupakan nama marga. Dinamakan demikian karena Maling pertama dalam sejarah adalah penduduk Vietnam dari Cina bernama Ling Ling yang mencuri kuda milik ketua RT nya. Dari Vietnam, kebudayaan Maling menyebar ke negara-negara sekitarnya seperti Cina, Indonesia, India, Bangladesh dan yang paling terutama, Malaysia.

Maling berasal dari spesies homo malingicus. Dapat ditambahkan bahwa spesies ini memiliki ciri tubuh dan kebiasaan yang sangat mirip manusia. Habitat awalnya adalah daerah miskin dan kumuh, bila ia hijrah ke daerah makmur akan mengalami perubahan fisiologis yaitu perubahan warna mata menjadi hijau. Namun seiring perkembangan teknologi, spesies ini kini juga dapat hidup di lingkungan elit dan terhormat.

Profesi maling menawarkan keuntungan yang sangat tinggi karena seorang maling hanya perlu modal tangan yang cekatan dan yang pasti keberuntungan. Resiko umum adalah dihajar massa atau ditampar banci. Bahkan maling-maling yang beruntung bisa mendapat tempat tinggal dan makanan gratis selama beberapa minggu hotel Cipinang. Keuntungan seorang maling berkisar antara Rp 100-Rp 1.000.000.000 per hari (hasil maling yang paling tidak berguna yaitu kertas bertuliskan “Anda tidak beruntung”).

Tak jelas kapan profesi ini mulai digeluti oleh manusia. Namun sejarah permalingan selalu memposisikan para pelaku ini sebagai kelompok durjana. Masyarakat jawa menempatkan status ini sebagai salah satu dari lima dosa besar Mo-limo yaitu main (berjudi), minum (mabuk-mabukan), madat (mengkonsumsi narkoba), madon (zina), dan maling (mencuri).

Seiring perubahan perekonomian dunia dan sebagai efek tak langsung dari pemanasan global, spesies homo malingicus mengalami transformasi genetik menjadi beberapa spesies turunan diantaranya homo copetensis, homo jambreticus, kleptomaniacus dan homo koruptorus. Yang disebut terakhir terkadang tak mirip lagi dengan ciri-ciri biologis spesies aslinya. Jenis ini identik dengan kelas atas, necis, sedikit profesional dan agak intelek, walaupun sama-sama bersifat parasit juga. Perubahan karakter ini bukanlah karena pelakunya sedang menyamar untuk menutupi identitas aslinya namun karena habitat dan wilayah inkubasi yang lebih spesifik.

Pada ranah akademik, plagiarisme termasuk perbuatan yang dikategorikan maling. Sedangkan dalam hal yang berkaitan dengan hak cipta, pembajakan (piracy) juga masuk dalam kategori maling. Lantas bagaimana dengan maling berjamaah, maling yang dilakukan secara berkomplot, bahkan oleh suatu institusi (katakanlah berupa suatu negara). Apakah yang demikian terkategorikan sebagai maling? Di jaman susah seperti sekarang, siapapun bisa jadi maling, dan apapun bisa dimaling.

Dalam suatu masyarakat negara, tumbuh suatu mahakarya visual yang disebut batik. Ia terlukis indah dalam helai busana yang begitu dibanggakan. Ia dipakai dalam banyak momen hidup. Ia menjadi busana resmi maupun tak resmi di kantor, sekolah, gedung pesta hingga istana negara. Tiba-tiba, tetangga mereka mengklaim dan mendaftarkan ”batik” ini sebagai produk mereka. Ini terjadi karena menurut jiran yang baik itu: si empunya budaya tidak pernah mendaftarkan karya nenek moyang tersebut sebagai kekayaan budaya mereka.

Di negeri kelahiran si Batik, warga negara terus memproduksi dan memakai karya yang didaftarkan oleh jiran tetangga yang mengaku sebagai saudara serumpun. Nah lo… siapakah yang maling? Apakah warga negara yang memproduksi dan mengenakan busana batik tanpa seizin saudara serumpun yang mendaftarkannya? Atau jiran yang baik yang secara sadar mengambil karya tetangganya untuk diklaim sebagai milik mereka?

Sebagai catatan: ada suatu bangsa yang suka mengambil kekayaan tetangganya. Ia pernah mengambil pulau milik tetangga. Ia juga pernah mengklaim beberapa lagu dan kesenian dari tetangganya. Konon sebagai imbalannya mereka mengimpor beberapa gembong teroris untuk memporakporandakan negara tetangganya itu. Mereka adalah bangsa yang tidak berbeda jauh dengan kita. Mereka adalah bangsa maling.

10 thoughts on “Bangsa Maling

  1. pujohari mengatakan:

    Klo urusan maling klaim atas budaya, saya rasa negeri tetangga tersebut tidak bisa kita persalahkan begitu saja. Kan klaim itu untuk tujuan pariwisata, sedangkan slogan pariwisata mereka adalah Ma****** is Trully ASIA. So, karena trully ASIA ya semua budaya Asia dipikirnya sah untuk diklaim. Mungkin suruh mereka rubah dulu slogannya..hehehe…

  2. sedjatee mengatakan:

    hehehe… asal jangan ngaku kalo Candi Borobudur itu bikinan mereka… yang paling parah mereka memasang gambar Werkudoro di iklan pariwisata mereka… apa benar Pak Cik Werkudoro bikinan orang sana? hehehe….

  3. fazadante mengatakan:

    ayo saya partisipasi kalo mao perang ma jiran!

    haha.

  4. kabariberita mengatakan:

    Malingsis musti diganyang ..

    salam damai selalu

  5. thejacker007 mengatakan:

    semoga aj bapak SBY bisa tegas mengatasi masalah ini dan kita sebagai warga negara harus siap menerima segala kemungkinan

  6. kangmas mengatakan:

    JANGAN..!!!ga usah perang dulu….lebih baik klo introspeksi diri dulu..mungkin sang tetangga tersebut “hanya” ingin menyadarkan,bahwa tetangganya mempunyai seuabreg kebudayaan yg layak jual.dan sangat mubadir klo ditelantarkan..he he buktinya…setelah sang tetangga mengklaim,baru tetangganya ngerti klo mereka punya “keris..batik..tari pendet..lagu rasa sayange..yg mereka pikir itu semua sudah jadul..basi ..kuno..ga gaul..ha ha ha (rasain loh).mang kemarin-kemarin kemana…??????? he he pilih KFC opo Getuk TRio+wajik week mas…
    tulisanne manteb manteb

  7. ikung mengatakan:

    Asslm…
    Numpang lewat…thx dah mampir di blogku ya:)…

  8. Hanster mengatakan:

    wkwkwkwkwk
    Maling… Tobat lah kau…
    Udah bulan puasa nih..

  9. Mumu mengatakan:

    Hehehehe.. cinderamata kita diklaim juga!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: