Memori Sepotong Ubi

7

Agustus 31, 2009 oleh sedjatee

ubi

“Besok malem Den Bei nanggap wayang, Le… kowe mau ikut nonton apa nggak.” Kata Pak Hardjo pada anaknya. “Lakonnya apa, pak?” Djono malah balik bertanya, “Semar mBangun Kahyangan” jawab Pak Hardjo. “Kalo mau ikut sekarang cari ubi dulu, mumpung masih siang.” “Boleh ngajak Kuncung sama Amat Kasan, Pak?” tanya Djono pada bapaknya. Si bapak hanya mengangguk dan segera menyambung “tapi suruh jaga diri baek-baek, jamannya masih rusuh, Le. Kalo ada ontran-ontran jangan melu cawe-cawe, nanti kita diciduk” kata Pak Hardjo sambil membersihkan cangkul.

Keadaan memang belum aman. Pemilu sudah lewat hampir empat tahun lalu, tapi suasana republik masih belum aman. Kelompok-kelompok besar pemenang pemilu, PNI, MASYUMI, NU dan PKI, masih menyisakan iklim panas di masyarakat pedesaan yang bodoh dan lugu. Belum lagi gejolak politik lain yang diantaranya adalah munculnya gerakan PRRI dan PERMESTA. Belum lagi tegangnya suasana sidang konstituante dalam perumusan Undang-undang Dasar selalu diwarnai persaingan keras dari kelompok relijius dan nasionalis.

Langit bersih masih bersemburat merah, rembulan terang, usai shalat maghrib belasan orang tua dan anak-anak tampak bergerombol di dekat surau Desa Kedungjalak. Kesemuanya lelaki. Tampak tiga orang dari mereka memegang obor bambu yang belum dinyalakan. Djono, Amat Kasan dan Kuncung membawa bungkusan daun pisang berisi ubi rebus yang mereka dapatkan di sawah siang kemarin. Pak Mangun membawa parang untuk mengambil daun pisang sebagai alas duduk atau tidur bagi yang mengantuk.

Lalu berjalanlah rombongan orang desa itu menuju ibukota. Udara di daerah itu dingin khas pegunungan sehingga semua yang berjalan memakai sarung. Tiga obor hanya dinyalakan satu. Selain karena sinar bulan cukup terang, juga untuk menghemat minyak tanah. Celoteh gembira orang desa itu riuh rendah membelah persawahan menuju kota. “Kang Hardjo bawa bocah tiga, apa nggak ewuh?” tanya Pangat pada Pak Hardjo. “ya ewuh, Ngat… tapi piye maneh, kalo ada Djono ya pasti ada Amat Kasan dan Kuncung. Kamu nanti bantu aku kalo ada apa-apa, ya Ngat!” Pangat mengangguk sambil menghisap klobotnya.

Amat Kasan menjadi yatim ketika dia masih balita. Bapaknya, Kambali, gugur ketika bersama-sama Hardjo dan Mangun ikut bertempur saat Agresi Militer Belanda. Sedangkan Sukir ayah Kuncung meninggal karena penyakit pes. Keduanya kini tinggal bersama simbok mereka.

Rombongan itu memasuki kota sekitar pukul setengah delapan. Mereka berhenti di sebentar di desa Kebonsari untuk sholat Isya di langgar desa itu. Orang desa seperti tumpah memenuhi kota. Berjubel mengelilingi panggung bambu di halaman depan rumah Raden Ngabehi Sucitro yang malam itu menggelar wayang kulit untuk ruwatan anak-anaknya. Lampu-lampu petromax menerangi panggung.

Menjelang tengah malam, ki Dalang akan segera menampilkan adegan goro-goro, saat dimana Ki Lurah Semar beserta ketiga puteranya muncul untuk bernyanyi dan menghibur penonton dengan dagelan dan celoteh-celoteh jenaka. Namun sepertinya Den Bei ingin memberikan kejutan bagi para penonton. Dari pintu samping rumah orang kaya itu beberapa pemuda mengangkat puluhan tampah. Lalu segera naik ke panggung yang tingginya sekitar dua meter. Di tampah telah terjejer rapi beberapa makanan seperti ubi rebus, kacang rebus, pisang, juadah, dan apem. Ada juga beberapa jambu air dan belimbing kecil.

Bagai macan lapar, orang desa yang telah berada di situ sejak sore mulai merangsek ke depan. Kebanyakan mereka telah kelaparan karena tidak membawa bekal atau bahkan tak makan terlebih dahulu. Makanan terlampau sulit didapat, kebetulan sekali Den Bei yang murah hati ini menyediakan makanan. Namun perlu perjuangan berat untuk mendapatkannya.

“Kowe bocah-bocah disini saja. Biar Lek Pangat sama Lek Sarju yang maju. Kalo nggak dapat ya nggak apa-apa, kita sudah bawa ubi rebus dari rumah.” Kata pak Mangun meredam niat bocah-bocah yang mau ikut berebut makanan. “Ju..! kowe saja yang maju sama Pangat.” Kata pak Mangun. “Nggih … “ Keduanya mengangguk lalu segera maju penuh semangat.

Pangat dan Sarju segera maju, padahal aksi dorong-mendorong mulai terjadi. Petugas pembagi makanan kewalahan karena beberapa anak muda nekat memanjat bambu penyangga panggung untuk langsung mengambil makanan dari tampah-tampah itu. Panggung makin goyah setelah aksi dorong-mendorong itu tak terkendali. Akhirnya… “Gubraaakk….”

Panggung roboh, peralatan dan gamelan ikut berhamburan. Petromax menyala juga terlempar menimbulkan kebakaran. Teriakan ketakutan dan debu yang berhambur dalam gelap membuat suasana menjadi mencekam. Arus dorong menjadi berbalik arah menjauhi panggung. Semua mencari selamat sendiri-sendiri.

“Lariii…” Pak Mangun menyeret Amat Kasan untuk segera menjauhi tempat itu. Pak Hardjo lari sambil memegangi tangan Djono dan Kuncung. Tak ada yang sempat terpikir kecuali bagaimana caranya agar selamat. Yang terjatuh sudah tentu akan terpijak.

Tiba-tiba Kuncung meronta, ingatannya tertuju pada sarung peninggalan mendiang bapaknya yang tak sempat dibawa lari “Pakde.., sarung saya ketinggalan”. Pak Hardjo diam saja dan terus menyeret kedua anak itu. Tapi Kuncung nekat, melepas genggaman Pak Hardjo dengan paksa lalu lari berbalik arah, menyongsong gelombang manusia yang berlari di tengah gelap.

“Cung…!” teriak pak Hardjo, suaranya hilang bagaikan kepak sayap nyamuk di tengah gempita pesta. Djono hanya melihat punggung teman karibnya itu berlalu sekejap kemudian hilang dalam gelap, “Kuncuuuuuunngg !!!” lalu menangis.

***

langkah-sang-petani“Besok malem Pak Wali nanggap wayang, Bapak mau ikut mirsani apa tidak?” tanya Agus pada bapaknya. “Lakonnya apa, Le?” Pak Djono malah balik bertanya, “Semar mBangun Kahyangan” jawab Agus.
“Kalo mau ikut besok pagi Bapak saya carikan undangan di kursi VIP, malemnya nanti kulo derekaken mirsani ringgit.” “Boleh ngajak Amat Kasan, Le?” tanya Pak Djono pada anaknya. “Boleh.., Lek Amat Kasan tinggal ngasih tahu saja, nanti semuanya saya yang ngatur” kata Agus yang posisinya di birokrasi memungkinkan untuk mendapatkan fasilitas VIP pada acara wayang kulit di lingkup kantor walikota.

Tapi Pak Djono kemudian meralat kata-katanya “Le.., Bapak nggak jadi ikut, kowe nggak usah nyarikan tiket buat kami, lain kali Bapak ikut tapi jalan-jalan saja nggak usah nonton wayang” katanya sambil meletakkan kembali ubi rebus yang hampir masuk ke mulutnya. Entah mengapa tiba-tiba dia kehilangan selera memakan ubi rebus kesukaannya. Seketika ruangan depan yang belum diplester itu hening. Dua orang yang sedang duduk di kursi kayu itu menahan diri untuk tidak berkata-kata.

Djono merenung, menghela nafas panjang dengan sedikit terbata-bata. Ingatan petani tua itu kembali ke peristiwa enam windu yang lalu. Saat itu salah seorang sahabat karibnya, Kuncung, harus meninggalkannya selama-lamanya. Selain Kuncung, dua orang anak-anak dan seorang simbok penjual gulali juga tewas pada pegelaran wayang di rumah Den Bei. Kenangan itu ingin dihapus dari memori Djono, juga oleh Amat Kasan, rekan sesama petani tua yang di masa usia senja ini masih terlihat sangat akrab.

Agus tak sanggup menatapi wajah sedih bapaknya. Petani tua itu bahagia dalam kesederhanaan hidupnya. Hanya untuk sesaat ini, wajah itu sedikit berduka. Duka yang timbul ketika kepadanya diingatkan pada sebuah kisah sedih di masa lalu. Kisah saat ia kehilangan sahabat seperti berputar kembali, yaitu ketika dirinya teringat lagi pada wayang dan sepotong ubi.

7 thoughts on “Memori Sepotong Ubi

  1. kawanlama95 mengatakan:

    dengan mengingat pristiwa tersebut mengongatkan kembali kepada pristiwa2 masa lalunya dan ini kisah yang pedih namun membawa hikmah. salam kenal. met pagi

  2. engkaudanaku mengatakan:

    Haru…menyayat hati. Peristiwa masa lalu yang masih berkesan, teringat, meninggalkan seberkas luka yang akan kembali menganga tuk sampaikan perihnya. Pilu.

    Salam,

  3. dedenia72 mengatakan:

    wah cerita yang bagus..dalem banget..
    great job..
    salam rimba raya lestari

  4. masmpep mengatakan:

    ubi tetap aktual kok pak hari ini. gerobak tela-tela mulai merajai sudut kota. singkong keju juga enak. asal dikemas dengan menarik, dan memiliki citarasa yang maknyus, ubi saya kira sebentar lagi menjadi ikon republik ini…

  5. Chairul Akhmad mengatakan:

    Great story… ilustrasi ubinya yang bikin selera makan kian membara… hehehe… Apalagi puasa begini. Salam hangat.

    sedjatee: mas chairul akhmad, matur nuwun sampun kerso mirsani tulisan kawula… btw, blog panjenengan dimana neh… mau bertamu juga.. hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: