Kisah Amr bin Jamuh

“Orang Tua yang Bertekad Menginjak Surga dengan Kakinya yang Pincang”

Amr bin Jamuh adalah salah seorang pembesar Yatsrib pada zaman jahiliah. Dia juga merupakan pemuka Bani Salamah. Dia juga terkenal sebagai salah satu tokoh Madinah yang penderma dan memiliki kehormtan diri tinggi. Salah satu kebiasaan para pembesar pada masa jahiliah adalah bahwa masing-masing dari mereka harus membuat sebuah berhala di rumahnya; agar ia mendapat keberkahan dari berhala tersebut setiap pagi dan petang. Pada waktu musim-musim tertentu mereka juga harus menyembelih hewan untuk dikorbankan kepada berhala tadi, dan juga agar berhala-berhala tersebut dapat menjadi pelindung mereka pada saat-saat bahaya dan sempit.

Berhala milik Amr bin Jamuh diberi nama dengan Manat yang ia buat dari kayu yang bagus. Amr adalah tokoh yang amat perhatian terhadap berhala ini dibandingkan tokoh yang lain. Ia menjaganya dan memberikan wewangian terbaik bagi berhala ini.

***

Amr bin Jamuh sudah menginjak usia 60 tahun saat cahaya iman menerangi rumah-rumah penduduk Yatsrib dengan gerakan dakwah yang dilakukan oleh Mus’ab bin Umair. Dari tangannya telah masuk ke dalam Islam tiga orang anak Amr bin Jamuh yang bernama: Muawwadz, Muadz dan Khallad. Ada juga teman sebaya mereka yang masuk ke dalam Islam bernama Muadz bin Jabal. Telah masuk Islam juga istrinya yang bernama Hindun. Dan Amr bin Jamuh tidak tahu bahwa mereka semua telah beriman.

Hindun, Istri Amr bin Jamuh melihat bahwa kebanyakan penduduk Yatsrib telah memeluk Islam; dan tidak ada seorang pembesar Madinah pun yang tetap berada dalam kemusyrikan selain suaminya dan beberapa orang lain. Istrinya berharap agar Amr bin Jamuh tak mati dalam keadaan kafir dan masuk ke dalam neraka. Namun Amr bin Jamuh sendiri khawatir apabila anak-anaknya meninggalkan agama nenek moyang mereka dan mengikuti dakwah yang dibawa Mus’ab bin Umair radhiallahu ‘anhu yang telah berhasil mengeluarkan banyak orang dari agama nenek moyang, dan memasukkannya kepada agama Islam.

Amr bin Jamuh lalu berkata kepada istrinya: “Ya Hindun, jagalah anak-anakmu agar tidak berjumpa dengan pria itu (maksudnya Mus’ab bin Umair) sehingga kita memutuskan apa yang mesti kita lakukan terhadap orang ini.” Istrinya menjawab: ‘Baik kalau begitu. Akan tetapi apakah engkau bersedia mendengar langsung dari anakmu Muadz apa pendapatnya tentang orang ini?” Amr berkata: “Celaka kamu! Apakah Muadz telah keluar dari agamanya dan aku tidak mengetahui hal ini?” Istrinya yang shalihah ini lalu berkata dengan lemah lembut kepada suaminya yang sudah menua: “Tidak, akan tetapi ia pernah ikut beberapa majlis yang digelar oleh orang ini, dan ia ingat akan beberapa hal yang diucapkan oleh orang ini.” Lalu Amr berkata: “Panggilah dia untuk menghadapku…!” Saat Muadz datang dihadapannya, Amr berkata kepadanya: “Ceritakan kepadaku apa yang telah dikatakan oleh orang (Mus’ab bin Umair) ini!” Maka Muadz langsung membacakan al Fatihah.

Lalu Amr berkata: Alangkah indahnya ucapan ini?! Apakah semua pembicaraannya seperti ini?!” Muadz menjawab: ‘Bahkan lebih indah dari ini, wahai ayahku. Apakah engkau mau mengikutinya. Semua kaummu telah bersumpah setia kepada Mus’ab bin Umair!” Amr yang telah tua berdiam diri sejenak lalu berkata: “Aku tidak akan melakukannya hingga aku meminta pendapat kepada Manat dan aku akan melihat apa yang akan dikatakannya.” Maka Muadz berkata: “Apa yang dapat diucapkan oleh Manat, wahai ayahku. Dia hanyalah sebuah kayu yang tuli. Tidak dapat berpikir dan berbicara!” Amr pun berkata dengan sengit: “Aku katakan kepadamu bahwa aku tidak akan mengambil keputusan sebelum bermusyawarah dengannya.”

***

Lalu Amr bin Jamuh datang menghadap Manat. Kebiasaan mereka kaum jahiliah adalah jika ingin berbicara dengan berhala mereka berdiri tegak lurus di hadapan Manat bertumpukan pada kakinya yang sehat, kaki Amr yang satunya lagi amat pincang. Amr memuji Manat dengan pujian terindah, lalu berkata: “Ya Manat, tidak disangsikan bahwa kau telah mengetahui orang yang datang dari Mekah dan berdakwah di negeri kita. Tiada yang ia kehendaki selain keburukan saja… ia datang ke sini untuk menghalangi kami dari menyembahmu. Aku tidak mau bersumpah setia kepadanya –meski aku mendengarkan betapa indah ucapannya- hingga aku bersyuwarah terlebih dahulu kepadamu. Berilah pendapatmu kepadaku!” Namun Manat tidak berkata sepatah katapun kepada Amr.

Lalu Amr berkata: “Mungkin engkau telah murka… Aku tidak akan melakukan apapun yang dapat membahayakanmu setelah ini. Akan tetapi tidak menjadi masalah, aku akan membiarkanmu sendiri dalam beberapa hari ini hingga amarahmu menjadi reda.”

***

Anak-anak Amr bin Jamuh mengerti betapa ayah mereka begitu cinta kepada berhalanya yang bernama Manat. Dan kecintaan tersebut semakin bertambah dengan berjalannya waktu. Akan tetapi mereka menyadari bahwa ayah mereka mulai ragu akan kehebatan Manat dalam hatinya. Dan mereka juga sadar bahwa mereka harus mengubah pengaruh Manat ini dari hati ayahnya, dan itulah cara satu-satunya menuju iman.

Pada suatu malam, anak-anak Amr bin Jamuh radhiallahu ‘anhuma bersama Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu mendatangi Manat. Mereka membawa Manat dan memasukkannya ke dalam sebuah lubang di Bani Salamah tempat mereka membuang sampah. Mereka pun kembali ke rumah masing-masing tanpa ada seorang pun yang mengetahui ulah mereka. Begitu pagi datang menjelang, Amr pergi dengan langkah pasti untuk memberikan salam kepada berhalanya, namun sayang kali ini ia tidak menjumpainya. Ia langsung berseru: “Celaka kalian, siapa yang telah berani berlaku nista kepada tuhan kita malam tadi?!…” Tidak ada seorang pun yang mengaku. Serta-merta ia mencari berhal tadi di dalam dan di luar rumah. Dia terlihat begitu marah dan emosi. Ia mengancam dan mengecam terus-menerus hingga ia menemukan Manat dengan kepala tersembul di lubang.

Maka Amr langsung mencucinya hingga bersih dan memberikan wangi-wangian kepadanya. Lalu ia mengembalikan Manat ke tempatnya. Ia berkata kepada Manat: “Demi Allah, kalau saja aku tahu siapa yang melakukan ini terhadapmu, pasti akan aku siksa dia!”

Pada malam kedua, para pemuda tadi mendatangi Manat dan melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan padanya kemarin. Begitu masuk pagi, Amr yang tua mencarinya lagi dan ia menemukan Manat sedang berada di lubang dengan berlumuran kotoran. Lalu ia mengambilnya, mencucinya dan memakaikan padanya wangi-wangian. Dan ia menempatkan Manat kembali kepada tempatnya.

Para pemuda tadi terus saja melakukan hal yang sama setiap hari. Saat Amr sudah merasa jengkel, ia datang menghadap Manat sebelum beranjak tidur dengan membawa pedangnya dan pedang tersebut ua gantungkan ke kepala Manat. Lalu ia berujar: “Ya Manat, Demi Allah aku tidak tahu siapa yang melakukan hal ini sebagaimana kau melihatnya. Jika kau mampu, tolaklah kejahatan dari dirimu ini. Bawalah pedang ini bersamamu!” Setelah merasa nyaman. Amr pun berangkat tidur.

Begitu para pemuda tadi merasa yakin bahwa ayah mereka yang tua, Amr sudah terlelap tidur, maka serta merta mereka langsung berhambur menuju berhala tadi. Mereka melepas pedang dari leher berhala dan mereka membawa keluar berhala tersebut. Mereka mengikatkan Manat dengan tambang kepada seekor anjing yang telah mati. Mereka lalu melemparkan keduanya ke dalam sumur Bani Salamah dimana mengalir dan berkumpul di dalamnya kotoran dan sampah.

Begitu Amr yang tua terjaga dan ia tidak mendapati berhalanya, ia pun pergi untuk mencarinya. Ia mendapati bahwa Manat sedang tertelungkup wajahnya dalam sumur dan terikat dengan seekor anjing yang telah mati. Pedang yang ada bersama Manat telah di ambil. Kali ini, Amr tidak mengeluarkan Manat dari lubang, ia membiarkan Manat di tempatnya. Lalu ia berujar: Demi Allah, bila engkau adalah seorang tuhan  Tidak mungkin engkau terikat bersama anjing di tengah sumur Tidak lama kemudian ia masuk ke dalam agama Allah.

***

Amr bin Jamuh radhiallahu ‘anhu merasakan manisnya iman yang membuat ia menyesal atas setiap saat yang dilaluinya dalam kemusyrikan. Ia masuk ke dalam agama yang baru dengan jiwa dan raganya. Ia mendedikasikan jiwa, harta dan anaknya untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tidak lama berselang, maka meledaklah perang Uhud. Amr bin Jamuh menyaksikan para putranya sedang bersiap-siap untuk menghadapi para musuh Allah. Ia mendapati mereka setiap pagi dan petang bagaikan para singa di tengah hutan. Mereka begitu semangat untuk mendapatkan kesyahidan dan meraih ridha Allah. Kondisi ini membuat ia turut bersemangat. Ia bertekad untuk berangkat bersama mereka berjihad di bawah panji Rasulullah. Akan tetapi anak-anaknya bersepakat untuk menghalangi ayah mereka untuk melaksanakan niatnya. Sebab ayahnya adalah seorang yang amat tua renta. Ditambah lagi, kakinya amat pincang. Padahal Allah Swt sudah memberikan dispensasi baginya. Maka anak-anaknya berkata kepada Amr: “Wahai ayah, Allah telah memaafkanmu. Mengapa engkau membebani dirimu sendiri padahal Allah sudah memaafkanmu?!”

Maka Amr yang tua renta pun menjadi amat berang. Ia langsung datang menghadap Rasulullah untuk mengadukan mereka kepada Beliau. Ia  berkata: “Wahai Nabi Allah, anak-anakku ingin melarangku untuk melakukan kebaikan ini. Mereka beralasan karena kakiku pincang. Demi Allah, aku berharap dapat menginjak surga dengan kaki ku yang pincang ini.” Maka Rasul shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada anak-anak Amr: “Biarkan ia; semoga Allah memberikan kesyahidan baginya.” Lalu anak-anak Amr membiarkan sang ayah mereka karena taat dengan perintah Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

***

Begitu waktu berangkat di umumkan, maka Amr bin Jamuh mengucapkan kata berpisah kepada istrinya seperti ucapan perpisahan seorang yang tak akan kembali lagi. Ia lalu menghadap kiblat dan mengangkat kedua telapak tangannya ke arah langit seraya berdoa: “Ya Allah berikanlah aku kesyahidan dan jangan kembalikan aku kepada keluarga lagi dengan rasa putus asa”

Lalu ia berangkat dengan dilindungi oleh ketiga anaknya dan pasukan yang banyak dari Bani Salamah. Saat peperangan berkecamuk dengan sengit, dan manusia sudah mulai terpisah dari barisan Rasulullah, Amr bin Jamuh radhiallahu ‘anhu terlihat pada barisan pertama. Ia melompat dengan kakinya yang sehat sambil berseru: “Aku merindukan surga!!! Aku merindukan surga!!!” dan dibelakangnya terlihat anaknya yang bernama Khallad. Kedua anak beranak tersebut membabatkan pedang mereka seraya melindungi Rasulullah dari musuh hingga keduanya tersungkur sebagai syahid di medan laga. Jarak kematian sang anak dari ayahnya hanya sedikit berselang.

Begitu peperangan berhenti, Rasul shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdiri dihadapan para jenazah untuk menguruk tanah kubur mereka. Beliau bersabda kepada para sahabatnya: “Biarkan darah dan luka mereka, aku menjadi saksi bagi mereka semua!” Lalu Beliau bersabda: “Tidak ada seorang muslim yang terluka di jalan Allah, kecuali pada hari kiamat ia akan datang dengan darah mengalir yang warnanya seperti warna za’faran dan wangi seperti wangi misyk.” Beliau juga bersabda: “Kuburkanlah Amr bin Jamuh bersama Abdullah bin Amr; mereka berdua adalah orang yang saling mencinta dan satu barisan di dunia.” Semoga Allah meridhai Amr bin Jamuh radhiallahu ‘anhu dan para sahabatnya yang menjadi Syuhada Uhud. Dan semoga Allah memberikan cahaya dikubur mereka.

========================================

Referensi : Shuwar min Hayati Shahabah

Penulis : Dr. Abdurrahman Raf’at Basya

Penerbit : Darul Adab al Islami

Diterjemahkan oleh : Bobby Herwibowo, Lc.

Gambar : inside quba mosque – youpic.com

Iklan

3 pemikiran pada “Kisah Amr bin Jamuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s