Namaku Suto

27

September 30, 2009 oleh sedjatee

tua gila

Namaku Sutono, biasa dipanggil Suto. Usiaku mungkin sudah 80 tahun, tapi tepatnya aku sudah lupa. Yang masih bisa kuingat adalah pada saat terjadi Gestok waktu itu aku berusia sekitar 36 tahun. Orang-orang dikampungku kebanyakan memanggilku mbah Suto Punjul, yang berarti lebih, karena tubuhku jangkung melebihi tinggi badan kebanyakan orang pada umumnya, dan hidungku yang mancung menunjukkan sisa ketampanan masa mudaku. Entah mengapa mereka tidak memilih menyebutku Suto Dowo jika memang badanku tinggi, atau Suto Mancung jika benar memang hidungku mancung.

Aku adalah mantan pemain kethoprak yang dikenal oleh seluruh orang di Grobogan, daerahku. Bukan semata karena badanku yang tinggi dan wajahku yang tampan, namun karena aku memang dikenal piawai dalam memerankan tokoh utama dalam setiap pentas kethoprak kami. Kelompok kethoprak kami, Sri Budoyo, tak hanya naik pentas di Grobogan. Tetapi juga di Blora, Cepu, Sragen, Karanganyar dan Karesidenan Pati. Diantara teman-teman Lekra, aku termasuk yang paling rajin dan bersemangat mengenalkan pesan-pesan revolusi melalui kegiatan kesenian yang aku geluti. Rakyat adalah penguasa. Dan aku menjadi semakin bersemangat ketika akhirnya Panglima Tertinggi pada 1964 menyatakan pembubaran Manikebu, Manifesto Kebudayaan yang menjadi corong budaya orang kapitalis. Hidup Lekra..!!

Kethoprak kami biasanya mementaskan lakon yang bermuatan kisah perjuangan orang-orang kecil semacam lakon Ki Ageng Mangir, Pemberontakan Kuti- Semi ataupun lakon Ken Arok. Dalam kisah-kisah itulah tergambar bahwa rakyat kecil seperti Ken Arok bisa mengalahkan kekuatan tiran Tunggul Ametung melalui sebuah perjuangan tak kenal lelah. Atau ceritera ketabahan Ki Ageng Mangir yang tak mau tunduk kepada Panembahan Senopati, orang paling berkuasa pada zaman itu. Dengan mementaskan lakon itulah aku menyampaikan pesan kepada rakyat yang miskin bahwa revolusi adalah sebuah keharusan, sebuah kebutuhan.

***

“Bung Suto, gawat Bung..” ucap Bung Teguh, pimpinan partai di daerahku.
“Ada kabar apa Bung?”
“Panglima Tertinggi Revolusi dua hari lalu mengumumkan negeri dalam keadaan gawat, para pemimpin gerakan mulai ditangkapi..” lanjut Bung Teguh dengan wajah ketakutan sembari membongkar berkas-berkas bergambar palu arit yang ada di lemari kemudian membakarnya.
“Bung tahu bahwa orang-orang partai di Semarang sudah mulai ditangkapi?”
“Belum, Bung..”
“Beberapa petinggi pergerakan yang melarikan diri ke Salatiga kemarin bahkan ditangkap oleh massa lalu dipukuli beramai-ramai hingga tewas”
“Bagaimana nasib Bung Noto, Bung Urip?”
“Sama saja, mereka belum ketahuan rimbanya”
“Lalu menurut Bung, bagaimana sebaiknya kita?” aku mulai khawatir.
“Saya akan melarikan diri, dan sebaiknya Bung juga lari..” lanjutnya. Lalu sambil memelukku ia berpamitan, “Tetap berjuang Bung, revolusi harus tetap berjalan. Setelah Panglima Tertinggi bisa mengatasi keadaan, kita akan ketemu lagi. Kita harus lanjutkan perjuangan membebaskan rakyat yang tertindas. Sampai jumpa Bung” ucap Bung Teguh sambil mengepalkan tangan kemudian segera berlari meninggalkanku dalam kebingungan.

Sepuluh hari aku pergi tanpa arah tujuan. Hanya demi menyelamatkan diri aku menyusuri hutan jati, bersembunyi diwaktu siang dan mencari makan seadanya di malam hari. Aku merasa seolah-olah diriku sedang dicari-cari untuk dibunuh. Keselamatanku terancam. Bukan itu saja, aku sedih memikirkan nasib Supinah, istriku dan kedua anakku Sabar dan Prasojo. Mudah-mudahan mereka tidak termasuk orang yang dicari-cari sebagai antek-antek bahaya laten. Ku hanya berharap semoga Panglima Tertinggi bisa mengatasi keadaan sehingga perjuanganku bisa kulanjutkan kembali.

Dengan hati memendam takut, khawatir, sedih dan rindu, malam ini aku memberanikan diri keluar dari hutan jati di tengah hujan lebat bulan Desember. Aku tahu, desaku masih jauh, tetapi aku bertekad untuk pulang ke rumah. Aku ingin segera mengetahui nasib isteri dan kedua anakku. Kematian mungkin menjadi taruhannya, tetapi biarlah, aku ingin segera pulang.

Ketika aku mencapai rumahku setelah tengah malam, betapa terkejutnya aku melihat isteriku yang kucintai ternyata mengkhianatiku. Dari celah dinding bambu rumahku aku melihatnya sedang bersenggama dengan seorang pria yang tak jelas terlihat dalam cahanya lampu teplok. Sungguh penglihatanku tak salah. Wanita telanjang bulat itu adalah Pinah isteriku, dan ia sedang bersetubuh dengan lelaki lain. Tanpa pikir panjang aku segera mendobrak bilik itu dan menghajar lelaki itu. Perkelahian itulah yang menyebabkan keributan sehingga orang-orang menjadi tahu kehadiranku.
“Ini Suto… Suto masih hidup”
“Heeeeiii Suto datang, ayo tangkap..!”
“Hajaaar…” “Palu Arit… asu kowe…”
orang-orang kampung menghajarku dan membawaku ke koramil.

***

Lima belas tahun tahun pembuanganku di Pulau Buru kurasakan sebagai penderitaan berkepanjangan. Kerja paksa yang kujalani semakin menegaskan bahwa aku adalah kelas yang tertindas. Sewaktu rezim penguasa memberi ampunan bagi para tahanan politik sepertiku, aku tak tahu lagi kemana aku harus kembali. Kepada isteri aku tak lagi rindu bahkan teramat benci. Kepada para tetangga aku juga malu, akan dikemanakankah wajahku? Mungkin hanya pada Sabar dan Prasojo sajalah aku masih memiliki harapan. Semoga mereka menjadi orang baik-baik, tidak seperti diriku yang terlalu maju namun tanpa perhitungan dan kini tinggal menyesali buah pekertiku.

Aku kembali ke desaku dalam usia tak lagi muda. Dengar-dengar Pinah juga ditangkap dan ditahan bersama para Gerwani dan mati bunuh diri di dalam tahanan. Sungguh memilukan. Aku pulang sebagai seorang bekas tahanan pulau Buru yang punya kewajiban melapor kepada pak lurah setiap senin dan melapor kepada koramil setiap tanggal sepuluh. Dan wajib ikut upacara tiap tujuh belas Agustus.

“Bapak..” panggil Sabar ketika aku tiba di pintu rumah yang reyot seperti dulu.
“Iya Le…” lalu kami berpelukan dalam tangis. Tak kubayangkan akhirnya aku bisa kembali bertemu Sabar dan Prasojo yang kini telah menjadi lelaki dewasa. Namun betapa sedih jika melihat keadaan mereka. Tanah kami yang secuil di pinggiran kampung diambil alih oleh pemerintah dan kini menjadi perkebunan jati. Sabar dan Prasojo tak bisa sekolah karena memang tak punya biaya untuk itu. Pun mereka tak tahan karena kebanyakan orang selalu memandang sinis kepada keduanya. Anak PKI, anak Gerwani.

Yang paling menyedihkan adalah ketika suatu hari Sabar pulang dari tempat kerjanya dengan wajah menangis. Ia yang hanya menjadi jongos di kantor transmigrasi diberhentikan dari pekerjaannya hanya karena adanya laporan bahwa ia anak PKI. Padahal beberapa hari sebelumnya Prasojo juga baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai sopir karena tak juga memiliki izin mengemudi. Bagaimana dia bisa mendapat izin mengemudi jika itu harus didahului dengan berurusan dengan aparat. Bukankah dia anak PKI? Ah.. kasihan anak keturunanku. Aku tak sanggup lagi membayangkan kesedihan-kesedihan yang mungkin bakal terjadi di masa ke depan. Kesalahanku di masa lalu, rupanya itulah yang menjadi biang dari segala kesulitan hidupku dan anak-anakku sekarang ini.

Namun tiba-tiba harapanku kembali berbinar, aku ingat pesan Bung Teguh bahwa jika Panglima Tertinggi Revolusi bisa menguasai keadaan, kita bisa berjuang lagi memperbaiki nasib rakyat, termasuk nasib diriku sendiri.

Jika ingat akan hal itu biasanya semangat hidupku kembali menggelora. Aku tak segan-segan berteriak kepada orang banyak “Revolusi untuk rakyat, revolusi untuk rakyat”. Biasanya bila aku sudah berlaku demikian orang-orang mulai memandangiku, lalu tertawa atau membuang muka.

Kadang-kadang, saat teringat pada masa perjuangan revolusi, aku akan mengikat kepalaku dengan kain kemudian bernyanyi “Nasakom bersatu, hancurkan kepala batu…” kalau sudah demikian anak-anak kecil akan menguntit di belakangku sambil tertawa dan bersorak sorai. Dan aku terus berjalan dengan gagah, menyanyikan nasakom bersatu. Namun bila Sabar atau Prasojo melihat kelakuanku itu, mereka pasti akan langsung menggandengku kembali kerumah kemudian mengunciku di dalam kamar.

***

Namaku Sutono, orang memanggilku mbah Suto. Ada yang memanggilku mbah Suto Punjul. Tetapi beberapa orang menyebutku mbah Suto Gendheng. Karena menurut mereka aku sering meracau sendiri, bernyanyi sendiri, kemudian menangis meraung-raung.

Padahal tidak. Mereka tak tahu bahwa aku adalah Ken Arok, rakyat kecil yang menghancurkan tirani penguasa. Mereka tak kenal karena aku sedang menjadi Ki Ageng Mangir. Mereka itulah yang gendheng karena mau berlama-lama hidup sebagai rakyat yang tertindas tanpa melakukan upaya revolusi untuk merubah nasib mereka. Mereka yang gila, mereka itulah yang gendheng.

“Ayo ikut aku, mari kita berjuang untuk kemajuan rakyat. Rakyat miskin harus dibela. Tanah negeri ini adalah untuk rakyat. Kita ganyang setan-setan kota, penjilat darah rakyat tertindas. Hidup Rakyat… Revolusi…. Revolusi…” teriakku di tengah keheranan orang-orang yang memiringkan jarinya di jidat mereka. Aku terus bernyanyi “Genjer-genjer, neng kedhokan pating keleler. Mbokne thole teko-teko nggawani genjer. Genjer-genjer diuntingi dijejer-jejer, jaman susah paling enak mangani genjer…” sambil memakai ikat kepala dan bendera seadanya. Tetapi bukan lagi yang bergambar palu arit.

27 thoughts on “Namaku Suto

  1. Mumu mengatakan:

    Salam Bung Panjul, kenal Daryun n Kacung?

  2. Oelil mengatakan:

    Orang seperti mbah suto di kampungku juga ada beberapa…nasib mereka merupakan korban intelek yang memanfaatkan keadaan…siapa yang salah…??? Intelek itulah yang harusnya bertanggung jawab.
    Tp syukurlah….di masa sekarang sudah tidak ada lagi diskriminasi seperti itu di kampungku…
    salam mas,

  3. Dadang Supriadi mengatakan:

    masih semangat juga walau usianya 80 th

  4. kopral cepot mengatakan:

    serpihan dari sejarah rakyat bukan sejarah penguasa …
    spirit revolusi tdk hanya untuk dikenang …
    Salam

  5. kolojengking mengatakan:

    Salam kenal pak…🙂

    Kebenaran memang harus diperjuangkan, kesejahteraan rakyat tak bisa begitu saja didapat. Butuh perjuangan, butuh pengorbanan.

    Tulisan jenengan bagus sekali. Entah itu narasi atau bukan, namun saya begitu menikmati ceritanya sampai ujung.

    Di blog saya ada tips yang mungkin bermanfaat buat jenengan :

    Tips & Trik : Membuat nama pada komentar nge-link ke blog wordpress

    Salam.

  6. apegede mengatakan:

    suto wijoyo. dikampung ada beberap mbah-mbah yang punya nasib sama seperti mbah Suto. Semoga kita generasi sekarang bisa mencontoh teladan2 yg baik dari pendahulu kita

  7. zipoer7 mengatakan:

    Salam Takzim
    Mbah Suto sulit sekali hidupmu, tidur dihutan, istri ditiduri, pulang digebukin, padahal dia tidak tahu apa itu PKI secara harfiah. Memang penguasa Orde Baru tak pernah mau tau itu.
    Salam Takzim Batavusqu

  8. Asep Sofyan mengatakan:

    lumayan. pembukaan agak kepanjangan.

  9. eL mengatakan:

    klo namaku el.. hehehhe
    maen lagi neh liatin mainan yang seru2..

    lmyn panjang critanya tapi asyik juga bacanya.. sampe bingung baliknya

  10. Kakaakin mengatakan:

    Kisah yang tidak terlalu saya sukai, sama halnya dengan yang bertema perang, perjuangan dan sejenisnya, karena ada rasa sedih setelah membacanya..😦

  11. mas tyas mengatakan:

    Ia adalah salah satu korban dari sisi dunia politik yang munafik!!

  12. Zico Alviandri mengatakan:

    Pelajaran berharga dari masa lalu. Semoga tidak terulang ketika rakyat semakin cerdas, kritis, dan dewasa.

  13. kopral cepot mengatakan:

    Selamat pagi ..
    Selama masih ada mentari, anak negeri tak pernah mati
    Hidup hanya untuk berbakhti pada Ilahi Rabbi ..
    Anak bangsa terus berkarya …
    Ada Asa dan cita di depan mata …
    Untuk Indonesia kembali JAYA …

    Salam

  14. zipoer7 mengatakan:

    Salam Takzim
    Sahabat, saya mau bagi-bagi hadiah nih yang khusus buat pria Sedjatee berupa Banjir Award Dijuemput ya !!!🙂
    Salam Takzim Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: