Tak Pernah Tidur

13

Oktober 19, 2009 oleh sedjatee

semarang2Menyebut kota yang tak pernah tidur, rasanya predikat ini sudah sah menjadi titel kota New York. The big Apple adalah kota yang tak pernah tidur dan juga paling banyak difilemkan. Di kota itu aneka budaya, ras dan agama menghidupkan dinamika kehidupannya. Terkait dengan kemajemukannya, Frank Sinatra menyebutkan bahwa di kota ini tak seorangpun akan merasa asing. Masing-masing orang bisa menemukan satu sudut kota yang bisa mengingatkan pada tempat asal mereka.

Kota Semarang yang kami kunjungi memulai kebiasaan tidak tidur. Menilik sejarahnya dulu, ada seorang dari kesultanan Demak bernama pangeran Made Pandan bersama putranya Raden Pandan Arang, meninggalkan Demak menuju ke daerah Barat Disuatu tempat yang kemudian bernama Pulau Tirang, membuka hutan dan mendirikan pesantren dan menyiarkan agama Islam. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang. Dan kini, ibu kota Jawa Tengah ini juga nyaris tak lagi pernah memejamkan mata seiring berputarnya waktu.

Tak pernah tidur dan susah tidur adalah warna kehidupan metropolis yang menjangkiti masyarakat urban. Jeannett Goetz, psikiatris, mengatakan bahwa susah tidur lebih banyak disebabkan oleh stres. Sedangkan stress situ sendiri adalah salah satu akibat dari tak pernah tidur. Tom Brian dari University of Tulsa memberi beberapa tips untuk mengatasi susah tidur yaitu dengan berolahraga, humor dan aktifitas relijius. Ironisnya memang tiga hal itulah yang mulai hilang dari daftar kebiasaan masyarakat supersibuk.

Beberapa waktu lalu, Semarang pernah menggelar “Semarang Pesona Asia” dengan mengusung slogan the Beauty of Asia. Sepintas lalu, gagasan ini dianggap ngoyoworo alias bualan di siang bolong. Apa yang bisa dijual dari Kota Lunpia ini di level Asia? Anyway heterogenitas wong Semarang yang multietnis punya karakter budaya yang khas dibeberapa titik dibandingkan dua rusuk segitiga JOGLOSEMAR lainnya, Surakarta dan Yogyakarta. Corak warna budaya Semarang lebih plural, sedangkan Yogya dan Solo menonjolkan kekentalan warna kejawaannya, mewakili citarasa monarki yang adiluhung.

Jika New York, the city that never sleep, punya Broadway, Central Park dan Madison Square Garden, di Semarang ada kawasan Simpang Lima. Disinilah urat nadi kehidupan 24 jam, kehidupan malam, dugem. Segala macam hiburan tersedia, termasuk berbagai tempat jajan yang bermakna denotatif maupun konotatif.

Jika lapar, di sini ada tahu petis, tempe penyet, nasi gudeg dengan sate usus, bakmi jowo ataupun nasi goreng babat iso yang menggugah selera. Selain itu juga bisa moci, minum teh hangat yang diseduh di dalam poci tanah liat dengan pemanis gula batu. Bagi yang ingin layanan plus, juga tersedia ciblek.

Ciblek yang sesungguhnya adalah nama burung kecil berukuran belasan senti yang disebut juga sebagai prenjak jawa atau bar-winged prinia. Nama ilmiahnya adalah prinia familiaris. Ciri fisiologisnya adalah ekor panjang, paruh panjang runcing, kaki ramping berwarna coklat kemerahan. Habitatnya adalah daerah berhawa sedang dimana bisa mendapatkan buah, biji-bijian, ulat dan serangga kecil.

Sedangkan ciblek yang satu ini disebut oleh beberapa kalangan sebagai bentuk prostitusi liberal. Mereka tak lain adalah pramuria atau psk. Secara kasat mata dandanan dan gaya bertegur sapa mereka sudah bisa mengidentifikasikan bahwa mereka adalah ciblek, bukan yang lain.

Frase ciblek itu sendiri merupakan akronim dari kata : cilik-cilik betah melek. Dalam kamus jawa, betah melek berarti tahan untuk tidak tidur. Dan benar, mereka tahan untuk tidak tidur secara lazim, berkeliaran di remang malam. Ciblek sama saja dengan kupu-kupu malam. Profesi yang telah ada sejak zaman purba ini pun menjadi salah satu sisi gelap dari kehidupan masyarakat yang tidak pernah tidur.

Malam belum larut. Semua televisi yang terpasang di tempat-tempat makan dan kongkow di kota ini menayangkan acara “Bukan Empat Mata”. Boleh jadi ini adalah sebuah kebanggaan kepada Tukul Arwana, ikon sekaligus pendiri Jamaah Katrokiyah yang merupakan pria kelahiran Semarang. Ketika acara itu berakhir, Semarang tetap tak beranjak tidur. Aku memilih pulang. Pelahan pemutar cd-ku mengalunkan irama lembut suara Daniel Sahuleka, don’t sleep away this night my baby.. Please stay with me at least ’till dawn

13 thoughts on “Tak Pernah Tidur

  1. asepsaiba mengatakan:

    Di malam hari, jika dilihat dari atas pesawat, Semarang juga sangat tertata rapi blok per blog, layaknya tatanan kota di LN.
    Salam kenal…

    sedjatee: iya mas, mudah-mudahan bisa terus silaturrahim.. salam sukses

  2. citromduro mengatakan:

    menyapa taretan di pagi menjelang yang cerah mengawali pekan ini dengan penuh semangat dan kesuksesan menanti

  3. alamendah mengatakan:

    (maaf) izin mengamankan KETIGA dulu. Boleh kan?!
    ciblek ini yang bikin gak bisa tidur. Betah Melek.
    Wakakakakakakak

  4. dwiewulan mengatakan:

    4 taon tinggal di semarang, baru tau niiih sejarah namanya… hehe he
    jadi kangen sama makanan2nya itu loh… makyusss…
    lumayan jadi tombo kangen…suwun….

  5. Dangstars mengatakan:

    Wah..tak pernah tidur..
    Rame dung

  6. M Subchan mengatakan:

    enak lo teh pocinya di simpang lima. walaupun minumnya harus konsentrasi penuh karena banyak ciblek di sekitarnya

  7. wardoyo mengatakan:

    Jadi kangen tongkrongan di simpang lima….

  8. Kakaakin mengatakan:

    Kapan ya bisa ke Semarang…*sambil merenung*

  9. casrudi mengatakan:

    Mungkin iya Semarang termasuk kategori kota tak pernah tidur… yg membuat hangat suasana sampe pagi ya ciblek nya itu… alhamdulillah sih saya belum pernah tahu, baru tahu sekarang dari cerita mas sadjatee… bearti kalau kesana harus hati2 ke goda sama ciblek2 ya, di jakarta saya udah pernah di kejar wanita setengah jadi, salah satu komunitas yg bikin jakarta tak pernah tidur…

  10. kamisama mengatakan:

    itu org pa robot..ko g pernah tidur,,,pada hal islam sangan adil..siang tuk bekerja,,malam tuk istrahat

  11. bundadontworry mengatakan:

    terakhir ke Semarang 2 thn yg lalu, sewaktu mengunjungi adik.
    Sekarang adik sudah nggak tinggal disana lgi.
    terima kasih utk info yg ad dituliskan ini, jadi tahu ttg kotaSemarang.
    Salam.

  12. wardoyo mengatakan:

    Sebagai kota besar Semarang juga mengalami dampak dan ekses generasi urban, ya.. itu … sudah disebut-sebut : ciblek dan semacamnya. Warna hedonisme dan permisif seperti gak bisa dibendung lagi yaa…

  13. ega de seketers(50ers) mengatakan:

    inilah kotaku
    yang memberiku sebuah kenangan
    yang memberiku nama dikota perantauanku dulu,surabaya
    yang mngingatakn teman2 rantau jika melihat diriku
    SEMARANG..

    saya Ega “Poci M50”
    salam Kenal wahai pemberi ilmu-ku
    -poci=pojokan ciblek M50=ankatan Mesin Ke50-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: