Mblantik Kecelik

14

Oktober 20, 2009 oleh sedjatee

BasiyodBagi pecinta kebudayaan Jawa, judul diatas akan langsung menautkan ingatan pada satu nama. Dia adalah Pak Basiyo. Namun kebanyakan orang muda sekarang tak banyak yang mengenal beliau, sama minimnya dengan dokumentasi tentang kehidupan beliau. Sekelumit tentang beliau diriwayatkan oleh sesepuh kita mbah Wikipedia, Basiyo adalah pelawak Yogyakarta yang gaya lawakannya mampu melintasi batas ruang dan waktu. Basiyo dipercaya meninggal dalam usia 70-an yakni pada tahun 1984. Jadi beliau kira-kira kelahiran 1910-an.

Basiyo terkenal dengan lawakan yang disebut Dagelan Mataram yaitu lawakan menggunakan Bahasa Jawa. Sebagian sparing partner lawakan Basiyo adalah Darsono, Hardjo Gepeng, Suparmi dan Sugiyem, mereka adalah karyawan RRI Nusantara II Yogyakarta. Karya Basiyo diantaranya: Basiyo mBecak, Degan Wasiat, Kapusan, Kibir Kejungkir, Maling Kontrang-kantring, Gathutkaca Gandrung, Besanan, dll yang mencapai lebih dari 100-an judul.

Tak hanya melawak, Basiyo juga mempopulerkan gending Pangkur Jenggleng, yakni menyanyi (nembang) Pangkur yang diselingi lawakan, tanpa kehilangan irama (tone) dari tembang yang sedang dibawakan. Bagi banyak kalangan, lawakan Basiyo jauh lebih bermutu, lebih cerdas, dibandingkan lawakan para komedian jaman kini. Dalam masa jayanya, Basiyo acap berkolaborasi dengan nama-nama besar seperti Bagong Kussudiardjo, Djunaedi, Ki Narto Sabdo, Nyi Tjondrolukito. Para pengagumnya, seperti budayawan Umar Kayam, pelukis Affandi, sastrawan Arswendo Atmowiloto, memuja Basiyo sebagai pelawak yang cerdas, memiliki daya spontanitas dan nalar yang jernih. Dagelan Basiyo berkisah sederhana, khas wong cilik, penuh canda dan ajaran moral namun tanpa bermaksud menggurui.

Basiyo1Apresiasi kepada Basiyo sebagai ikon Yogyakarta diberikan oleh produsen kaos Dagadu dalam edisi Bintang Kedjora. Selain Basiyo yang digelari the Jokefather, tokoh agung yang dikaoskan adalah Ngarso Dalem Sri Sultan HB IX, Pangeran Diponegoro, Panglima Besar Sudirman, Ki Hadjar Dewantoro dan Pak Tino Sidin.

Lakon mBlantik Kecelik saya dapatkan saat bertandang ke blognya Mas Galuh (nuwun mas). Lakon ini juga diberi titel lain yaitu Kodok Munggah Kebo. Simpel saja. Lakon ini berkisah tentang suasana rumah seorang blantik (pedagang hewan). Sang Blantik yang hendak pergi mencari dagangan, menitipkan tiga ekor sapi kepada isterinya (yang cukup bloon) dirumah untuk menjual sesuai harganya. Namun ketika Si Blantik pergi, seorang penipu berhasil membohongi si isteri sehingga raiblah dua ekor sapi. Sesampai dirumah, bertengkarlah Si Blantik dengan isterinya, sampai akhirnya si Blantik memutuskan keluar rumah.

Ia termenung ke dekat pekuburan. Tiba-tiba seorang ibu kaya (yang juga bloon) lewat dan memunculkan niat buruk si Blantik untuk membodohinya. Dengan mengaku sebagai seorang dari kahyangan para dewa, si Blantik berhasil menggondol uang dan perhiasan dalam jumlah lebih besar dari kerugian sapinya. Si ibu yang tertipu bersama suaminya melaporkan kejadian itu kepada pak Lurah.

Di rumah Pak Lurah, ibu tertipu bersama suaminya akhirnya dipertemukan dengan si Blantik dan isterinya. Betapa terkejutnya isteri si Blantik tatkala tahu bahwa suami ibu tersebut adalah penipu yang menggondol dua ekor sapi miliknya. Dengan kata lain, isteri Blantik dibohongi oleh si penipu, namun si Blantik gantian membohongi isteri si Penipu. Impas. Di akhir cerita Pak Lurah berpesan bahwa meskipun kehidupan semakin susah, ekonomi sulit, hidup harus dijalani dengan tabah, jujur dan saling menghormati. Kalaupun pekerjaan susah didapat, pak Lurah mengajak dua orang itu untuk sama-sama bekerja di kelurahan, mengabdi kepada masyarakat.

Demikianlah Basiyo. Ia tak setenar para pesohor zaman sekarang. Namun dialah seniman yang sesungguhnya. Dialah yang benar-benar membawa misi seni untuk mencerdaskan dan membentuk karakter masyarakat. Dia berkreasi bukan untuk meraih uang atau nama besar. Dan oleh karenanya, dia lebih pantas dihargai dan diapresiasi lebih tinggi.

14 thoughts on “Mblantik Kecelik

  1. alamendah mengatakan:

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Waktu kecil saya sering mendengar dagelan-dagelan ini dari spiker (toa) di rumah orang2 yang kondangan (punya hajat). Tapi memori saya agak kurang jelas untuk mengingatnya.

  2. wardoyo mengatakan:

    Nama yang akrab di telinga … BASIYO. Waktu kuliah dulu (tahun 80-an) kalau ada teman yang nglawak pasti dikomentar “..uh dasar Basiyo..!!”
    Jadi rupanya beliau tu seniman tho.

  3. atmokanjeng mengatakan:

    pernah dengar di radio beberapa kali disiarkan RRI Solo, kadang sekarang masih diputar…tapi lakonnya terus diulang2…tentang Kang Mas Gatotkaca itu lho…
    kalau di televisi saya salut juga sama Jogja TV yang ada acaranya Guyon Maton…
    …dan sebagai wujud ikut melestarikan budaya jawa…saya coba sedikit2 nulis cerita cekak di blog saya..meski tidak sebagus Suparto Brata..

  4. kopral cepot mengatakan:

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Sruuuuput kopi di pagi hari
    Silaturahmi eratkan hati
    Saling berkunjung rasa tersanjung
    Kalo mengeluh rejeki menjauh
    Keluh kesah membuat susah

    Sruuuput kopi di pagi hari
    Lihat mentari senanglah hati
    Mencari rizki ikhtiar diri
    Mencari Ilmu bekal mengabdi

    Sruuuput kopi di pagi hari
    Maknyooos bisa nyeroscos
    Sok sanaos ngan ukur waos
    Nyarios modal pribados teu sawios dianggap bodooos

    *Pagi jelang siang .. menantang sampe petang*

    SEMANGAAAAAAAAAT😉

  5. Kakaakin mengatakan:

    Penuh pesan moral ya kisahnya…
    Beda banget sama lakon-lakon yang ada sekarang, hanya mementingkan tawa,dan cenderung menghina dan menindas pemeran yang lain untuk mendapatkan kejenakaan…

  6. Dangstars mengatakan:

    Wah…asik juga ceritanya..
    Gimana yah istilahnya” teman makan teman dimakan teman lagi..”
    Atau “alangkah sempitnya dunia ini..?”
    asik .

  7. Dangstars mengatakan:

    Bolak balik ya malingnya…?
    he..he..

  8. batavusqu mengatakan:

    Salam Takzim
    Mengunjungi sahabat di siang hari, agar ketemu Basiyo-Basiyo muda menemani istirahatmu,
    Salam Takzim Batavusqu

  9. bundadontworry mengatakan:

    saya nggak ngerti ttg budaya daerah jawa Mas,
    tetapi setelah membaca tulisan diatas, ternyata bagus banget ya.
    isi ceritanya ttg akhlak manusia.
    malah jadi senjata makan tuan, penipu malah tertipu.
    lucu sekaligus ironis.
    terima kasih utk sharingnya Mas.
    Salam.

  10. Dream House mengatakan:

    salam sahabat
    perasaan pernah denger tentang pak basiyo. tapi mungkin karena di jaman saya sudah banyak hiburan yang masuk, nama basiyo itu asing sekali di telinga. makasih mas telah menambah wawasan saya.

  11. Yessi mengatakan:

    yuhuuu..first visit niy..
    salam kenal
    im YC from Salatiga😉

  12. wardoyo mengatakan:

    SALAM PERSAHABATAN

  13. casrudi mengatakan:

    Blantik… Kalau di sunda sebutnya “Balantik”… Mungkin aslinya dari bahasa jawa…

    Seniman2 zaman dulu memang terkesan berkarakter dan misinya jelas… Wali songo banyak berkesenian dengan misi untuk menyebarkan ajaran agama, Pak Basiyo menjadi seniman untuk meng’karakterkan’ masyarakat, sementara seniman2 sekarang (engga semua) cuma untuk eksistansi dan popularitas…

    Btw punya kaos dagadu gambar Pak Basiyo seru kali ya?…🙂

  14. pak widhi mengatakan:

    ada link download nya kah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: