Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash

“Panah Mereka, ya Sa’d… Panah Mereka…, Demi Ayah dan Ibumu!” (Muhammad Rasulullah Memberi Semangat kepada Saat pada Perang Uhud).

Ketika cahaya kenabian sedang bersinar di kota Mekkah, Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu sedang menjelang usia muda. Ia memiliki perasaan yang lembut dan amat berbakti kepada kedua orang tuanya, wa bil khusus kepada ibunya. Meski pada saat itu Sa’d akan berusia 17 tahun. Namun ia sudah berpikiran dewasa dan bijak layaknya orang tua. Ia tidak pernah –misalnya- senang dengan senda gurau yang biasa dilakukan anak seumurannya. Akan tetapi ia malah tertarik dengan mempersiapkan anak panah. Memperbaiki busur panah. Dan berlatih memanah seolah ia tengah mempersiapkan diri untuk sebuah masalah besar. Ia juga tidak pernah senang dengan apa yang ia lihat pada kaumnya yang memiliki akidah yang rusak dan kondisi yang buruk. Sehingga seolah ia sedang menunggu sebuah tangan kuat yang dapat menghancurkan mereka dan menyingisngkan kedzaliman yang mereka perbuat.

Dalam kondisi sedemikian, Allah Swt berkehendak untuk memulyakan semua manusia dengan tangan yang lembut ini. Dan ternyata tangan tersebut adalah tangan penghulu semua makhluk yaitu Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan ditangannya adalah sebuah bintang Allah yang tidak pernah redup: yaitu Kitabullah. Maka segeralah Sa’d bin Abi Waqash memenuhi panggilan petunjuk dan kebenaran, sehingga ia menjadi orang ketiga atau keempat yang masuk Islam. Oleh karenanya, sering kali ia berucap dengan perasaan bangga: “Hanya menunggu selama 7 hari, aku menjadi orang ketiga yang masuk dalam Islam.”

***

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam amat bergembira dengan Islamnya Sa’d. Karena dalam diri Sa’d ada tanda-tanda kecerdasan dan kegagahan yang menandakan bahwa bulan sabit ini sebentar lagi akan menjadi purnama. Sa’d juga memiliki garis keturunan yang mulia, dan juga posisi terhormat yang dapat membuat semua pemuda Mekkah akan mengikuti jejaknya. Lebih dari itu, Sa’d adalah kerabat Rasulullah . Sebab ia berasal dari Bani Zuhrah. Sedangkan Bani Zuhrah adalah keluarga Aminah binti Wahb, ibunda Rasulullah. Rasulullah  amat bangga dengan hubungan kerabat ini. Diriwayatkan bahwa Nabi  saat itu sedang duduk bersama beberapa orang dari sahabatnya, lalu Beliau melihat Sa’d bin Abi Waqash datang. Rasul  bersabda kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya: “Inilah pamanku. maka setiap orang, perlihatkanlah kepadaku pamannya!”

Akan tetapi keislaman Sa’d bin Abi Waqash tidaklah berjalan dengan mudah dan tenang. Pemuda yang beriman ini merasakan ujian terberat dan paling keras. Sehingga karena terlalu kerasnya, Allah Swt menurunkan sebuah ayat Al Qur’an tentang dirinya. Sekarang kita akan memberikan kesempatan kepada Sa’d untuk mencerikatakn kisah ujiannya ini.

***

Sa’d radhiallahu ‘anhu mengatakan: 3 hari sebelum aku masuk Islam, aku bermimpi seolah aku tenggelam dalam kegelapan yang bertingkat-tingkat. Saat aku sedang berusaha selamat dari gelombang kegelapan tersebut, lalu ada sebuah bulan yang menerangiku dan aku mengikutinya. Aku melihat ada segerombolan orang yang telah mendahuluiku jalan menuju bulan tersebut. Aku melihat Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Shiddiq radhiallahu ‘anhuma. Aku bertanya kepada mereka: ‘Sejak kapan kalian berada di sini?! Mereka menjawab: ‘Sejak 1 jam.’ Begitu siang menjelang, aku mendengar bahwa Rasulullah  telah melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi untuk masuk Islam. Aku mengerti bahwa Allah Swt menghendaki kebaikan atas diriku. Dengan sebab tersebut, Ia hendak mengeluarkan aku dari kegelapan menuju cahaya.

Lalu aku mendatanginya segera, dan aku menjumpai Beliau di Syi’b Jiyad . Beliau saat itu sedang melakukan shalat Ashar. Aku pun masuk Islam, dan tidak ada yang mendahuluiku mauk Islam selain orang-orang yang aku lihat dalam mimpiku. Kemudian Sa’d melanjutkan kisah keislamannya. Ia berkata: “Begitu ibuku mendengar bahwa aku telah masuk Islam. Ia langsung marah, dan aku adalah anak yang amat berbakti kepadanya dan amat mencintainya. Ibuku datang menemuiku dan berkata: “Wahai Sa’d, agama apakah yang telah kau anut dan telah memalingkan kamu dari agama ibu dan bapakmu? Demi Allah, jika engkau tidak meninggalkan agama barumu itu maka aku tidak akan makan dan minum sehingga aku mati. Sehingga hatimu akan bersedih karenaku, dan engkau akan menyesali tindakanmu itu. Dan manusia karenanya akan mencibirmu untuk selamanya.”

Aku lalu berkata: “Janganlah engkau lakukan itu, Bunda! Aku tidak akan meninggalkan agamaku karena alasan apapun.” Ia pun lalu melakukan janjinya. Ia tidak mau makan dan minum. Ia terus melakukan hal itu berhari-hari tidak makan dan tidak minum. Badannya menjadi kurus, tulang punggungnya menjadi bengkok dan kekuatannya menurun drastis. Aku selalu mendatanginya dari waktu ke waktu untuk memintanya agar mau memakan sedikit makanan atau meminum sedikit minuman. Ia menolak permintaanku dengan keras. Ia masih bersumpah untuk tidak makan dan minum hingga mati atau aku harus meninggalkan agamaku.

Pada saat itu aku katakan kepadanya: “Wahai bunda, meski aku begitu mencintaimu, namun cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya lebih besar lagi. Demi Allah, jika engkau memiliki 1000 nyawa, lalu satu per satu nyawamu itu keluar dari tubuhmu, maka aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku ini demi apapun juga!” Begitu ia melihat kesungguhanku, ia mau makan dan minum dengan hati yang kesal. Lalu turunlah firman Allah Swt: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman [31] :15)

***

Hari di mana Sa’d bin Abi Waqash radhiallahu ‘anhu masuk Islam adalah hari dimana kaum muslimin merasakan adanya kebaikan terbanyak pada Islam: Pada perang Badr, Sa’d dan saudaranya yang bernama Umair memiliki kisah tersendiri. Umair radhiallahu ‘anhu pada saat itu adalah seorang pemuda yang baru saja baligh. Begitu Rasulullah  memperhatikan barisan pasukan muslimin sebelum berangkat ke medang perang, Umair saudara Sa’d mundur kebelakang karena khawatir Rasulullah  akan melihatnya sehingga akan menolaknya karena usianya yang masih kecil. Benar saja Rasulullah  melihatnya lalu menolaknya yang membuat Umair menangis. Tangisannya membuat hati Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam luluh sehingga Beliau membolehkan Umair turut-serta.

Pada saat itu Sa’d menjadi gembira. Ia mengikatkan tali sarungnya pada diri Umair karena ia masih kecil. Dan berangkatlah kedua bersaudara tadi untuk berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh. Begitu peperangan usai, Sa’d kembali ke Madinah sendirian. Sedangkan Umair telah gugur menjadi seorang syahid di medan Badr, dan Sa’d memohon kepada Allah agar saudaranya diberikan pahala seperti yang telah dijanjikan.

***

Pada perang Uhud. Saat pendirian pasukan muslimin mulai goyah dan berpisah dari barisan Nabi  sehingga tersisa sedikit saja yang bersama Beliau yang berjumlah tidak lebih dari 10 orang. Waktu itu Sa’d bin Abi Waqash berdiri membela Rasulullah  dengan busur panahnya. Tidak satupun anak panah yang dilesatkan kecuali memakan seorang korban dari pihak kamu musyrikin. Saat Rasulullah  melihat Sa’d melesatkan anak panahnya dengan cara ini, Rasulullah lalu memberikan semangat kepadanya dengan bersabda: “Panah mereka ya Sa’d, panah mereka demi ayah dan ibumu!” Maka dengan motivasi Rasulullah , Sa’d berbangga hati selama hidupnya seraya berkata: “Rasulullah  tidak pernah menggabungkan kedua orang tua dari seseorang saat bersumpah kecuali kepadaku saja.” Dan itu terjadi saat Rasululullah  bersumpah demi ayah dan ibunya secara bersamaan.

***

Akan tetapi Sa’d baru meraskan kebahagiaannya saat Umar Al Faruq radhiallahu ‘anhu bertekad untuk mengalahkan bangsa Persia lewat perang yang dapat membuat negeri mereka hancur, istana mereka roboh dan untuk mencabut akar penyembahan berhala dari muka bumi. Maka Umar mengirimkan surat kepada seluruh pegawainya yang ada di semua daerah yang berbunyi: “Kirimkanlah kepadaku semua orang yang memiliki senjata atau kuda, pertolongan atau pendapat, atau kemampuan dalam bersyair atau beretorika dan lainnya yang dapat membantu kami dalam peperangan!”

Maka datanglah gelombang para mujahidin ke Madinah dari setiap penjuru.Begitu semuanya telah terpenuhi, Umar Al Faruq meminta pendapat kepada Ashabul Halli wal Aqdi  tentang orang yang dapat memimpin pasukan yang amat besar ini sehingga Umar dapat memberikan mandat kepadanya. Mereka semua berpendapat orang tersebut adalah: Si singa menerkam yaitu Sa’d bin Abi Waqash radhiallahu ‘anhu. Maka Umar memanggil beliau dan memberikan panji komando kepadanya.

Begitu pasukan yang besar ini hendak meninggalkan Madinah, Umar bin Khattab memberikan wasiat dan pesannya kepada panglima pasukan ini: “Ya Sa’d, Janganlah engkau terpedaya dari jalan Allah jika ada yang mengatakan: Dia adalah paman Rasulullah dan sahabat Rasulullah. Sebab Allah Swt tidak akan menghapuskan keburukan dengan keburukan. Akan tetapi Ia akan menghapuskan keburukan dengan kebaikan. Ya Sa’d, Tidak ada nasab di antara Allah dan seseorang selain ketaatan. Manusia yang tinggi dan rendah dihadapan Allah adalah sama. Allah adalah Tuhan mereka, dan mereka adalah para hamba-Nya. Mereka akan mulia karena taqwa dan mereka akan mendapatkan ganjaran di sisi Allah dengan ketaatan. Lihatlah apa yang telah dilakukan oleh Nabi karena itulah perintah yang sebenarnya.”

Berangkatlah pasukan yang penuh berkah ini. Dalam pasukan ini terdapat 99 orang yang pernah ikut dalam perang Badr. Ada 310 lebih orang yang pernah melakukan Bai’at Ridwan. 300 orang yang turut dalam Fathu Makkah bersama Rasulullah dan 700 orang anak-anak para sahabat. Berangkatlah Sa’da dan pasukannya menuju Al Qadisiyah . Pada hari Harir , pasukan muslimin bertekad untuk mengalahkan Persia. Kaum muslimin mengepung musuh mereka dengan begitu ketatnya. Mereka menyerang dan merangsek barisan musuh dari segala penjuru dengan bertahlil dan bertakbir. Maka kepala Rustum panglima pasukan Persia sudah diangkat dengan tombak-tombak pasukan muslimin. Maka merasuklah ketakutan dan kepanikan dalam setiap hati musuh Allah, sehingga bila ada seorang muslim yang menunjuk seorang dari pasukan Persia maka ia bisa mati, atau muslim tadi membunuhnya dengan senjata dengan amat mudah. Sedangkan ghanimah tidak usah dibayangkan. Adapun yang menjadi korban,cukuplah Anda ketahui bahwa yang mati hanya karena tenggelam mencapai jumlah 3000 orang.

***

Sa’d dianugerahi umur panjang dan harta yang banyak. Akan tetapi saat ia menjelang wafat, ia meminta sebuah jubah yang terbuat dari shuf (wol) tebal. Ia berkata: “Kafankan aku dengan shuf itu, sebab aku menghadapi pasukan musyrikin dalam perang Badr dengan mengenakan baju itu. Aku berharap dapat berjumpa dengan Allah sambil mengenakan shuf itu”

========================================

Referensi : Shuwar min Hayati Shahabah

Penulis : Dr. Abdurrahman Raf’at Basya

Penerbit : Darul Adab al Islami

Diterjemahkan oleh : Bobby Herwibowo, Lc.

Gambar : inside imam hasan askari mosque, qom, iran – google


 

Iklan

8 pemikiran pada “Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash

  1. Salam Takzim
    Maap om baru sempat kemari, maklum kesibukan harian, menjelang tutup yahun om
    Yang penting sehat saja deh om, buat om terima kasih atas kehadirannya
    Salam Takzim Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s