Mendingan Korupsi

12

Desember 4, 2009 oleh sedjatee

Judul tulisan ini mungkin terlalu konyol dan kontroversial. Mendingan korupsi bukanlah sebuah kalimat ajakan atau seruan untuk menggalakkan atau menggiatkan budaya korupsi. Sama sekali bukan. Korupsi telah nyata dan jelas merupakan suatu budaya yang harus diberangus, tak bisa ditawar. Korupsi adalah bahaya laten, sama seperti anggapan kalangan relijius terhadap paham atheisme, atau phobia kalangan kapitalis terhadap ideologi ekonomi komunal.

Namun sepertinya logika berfikir pendek akan mampu menerima frase ”mendingan korupsi”. Hal ini tentunya berpijak pada fakta keadilan masyarakat yang terhampar secara kasat mata dan kasat rasa didepan kita semua.

Pada dua kasus di negeri ini, seorang pencuri ayam menjalani hukuman mati ditangan massa alias pengadilan jalanan. Sementara di belahan nusantara yang lain, rekan seprofesi si maling mendapat hukuman sedikit lebih ringan, ”hanya” sekarat dan patah tulang di beberapa ruas badannya. Sesungguhnya, dua resiko ini bukanlah opsi yang akan dipilih oleh kedua korban.

Mari kita kembali pada upaya penegakan hukum yang dipandang kurang adil dan mencabik-cabik rasa keadilan publik. Seorang nenek tua melarat yang buta huruf, menghadapi tuntutan vonis 3 bulan dikarenakan memungut tiga buah kakao yang nilainya tidak lebih mahal dari harga sebungkus rokok. Hukum ditegakkan dengan begitu lancar dan tanpa kompromi, tatkala pesakitannya adalah sosok jelata tak berdaya. Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar prihatin. Menurut beliau, para penegak hukum harusnya mempunyai prinsip kemanusiaan, buka cuma menjalankan hukum secara positifistik. ”sangat memalukan” katanya.

Sebagai komparasi, betapa mulia dan terhormatnya para penyandang predikat koruptor. Mereka bebas berkeliaran dengan segala atribut mewah hasil merampok pihak lain. Mereka disanjung bahkan bisa menciptakan opini bahwa mereka adalah pahlawan atau tokoh publik yang kredibel. Wajar jika kemudian muncul pertanyaan, apa bedanya maling dengan koruptor?

Dalam Undang-undang 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi –terdapat bbeberapa delik yang dirumuskan sebagai tindak pidana korupsi yaitu kerugian negara, penyuapan, penggelapan dalam jabatan, gratifikasi, pemerasan dan kecurangan. Kalimat diatas tentunya bisa memberikan penilaian bahwa korupsi jauh lebih hina dan tercela, bahkan terkutuk, dari sekadar maling.

Budaya korupsi di masyarakat menyebabkan kerugian di sisi ekonomi. Asian Development Bank menuliskan bahwa di negara-negara yang dianggap memiliki tingkat korupsi yang relatif rendah selalu menarik investasi lebih banyak dari pada negara-negara yang dianggap lebih rentan terhadap kegiatan korupsi. Masyarakat Transparansi Internasional bahkan menyatakan bahwa korupsi salah satu penyebab kemiskinan.

Oleh karenanya Transparansi Internasional mendudukkan Indonesia sebagai negara kedua terkorup di Asia. Indeks persepsi korupsi Indonesia adalah 2,3 atau peringkat ke 143 dari 179 secara internasional.

Tak bisa lagi menutup mata. Wajah negeri ini telah coreng moreng oleh aksi para koruptor. Namun lihatlah, betapa banyak oknum yang pelaku korupsi yang kasat mata terlihat bebas berkeliaran menebar pesona, atau dihukum ringan untuk sekadar basa-basi. Apakah penegak hukum kita belum bekerja optimal? Tentu tidak, mereka telah profesional. Lihat saja proses hukum bisa begitu lancar ditegakkan pada seorang nenek yang mengambil buah kakao.

Kita hanya bisa berandai-andai. Penegak hukum kita hanyalah manusia biasa, bukan Nabi Sulaiman yang cerdas dalam menciptakan keadilan pada kasus perusakan kebun atau sengketa perebutan anak. Dan kita juga bisa berandai-andai, bahwa jika maling ayam akan dihajar sampai mati, jika mengambil kakao dipenjara 90 hari, jika korupsi tetap bisa kesana-kemari, tentunya kondisi ini bisa menjadi perseden buruk untuk pemberantasan korupsi. Karena akal pendek boleh jadi akan mengatakan “mendingan korupsi”.

12 thoughts on “Mendingan Korupsi

  1. New Bie Oon The Blog mengatakan:

    Setuju dah mendingan korupsi= aman,tentram dan sejahtra. maling ayam=sengsara.. opini yang menarik sob… Lanjutkan..!!!

  2. mas tyas mengatakan:

    sebuah budaya yang unik, hal mana POCONG lebih ditakuti dari pada TUHAN, sepertinya SUMPAH POCONG perlu diterapkan untuk pengambilan sumpah jabatan.

    Wah.. Mendingan korupsi sekarang juga sebelum sumpah pocong diberlakukan :mrgreen:

  3. m4stono mengatakan:

    mari kita korupsi berjamaah supaya dapat pahala 27 kali…kalo dapet :mrgreen:

  4. dedekusn mengatakan:

    Saya juga kadang berpikiran seperti itu,
    ……
    Tapi kita punya pengadilan yang Haq,pengadilan maha adil, di Akhirat kelak.

    • dedekusn mengatakan:

      Terima kasih sudah nge-linkblog saya, tapi maaf Sedikit koreksi bukan “Dedekuns” tapi “Dedekusn”:D

      Blog ini juga sudah sy link pada halaman “Link Sobat”
      Terima Kasih.
      SUkses!

  5. Kakaakin mengatakan:

    Miris banget…
    Tega banget sih ngasih makan anak bini pake duit gituan…😦

  6. Hary4n4 mengatakan:

    Sepertinya, di belahan bumi manapun, yg ada hanyalah hukum rimba… Siapa yg kuat, berkuasa, serta punya modal besar…lebih dominan utk mengatur yg lemah dan tak berdaya…

  7. sunflo mengatakan:

    lhahh…kok mendingan korupsi…priben jeh??! ogah aah…

  8. oelil mengatakan:

    1 semangka = 5 thn penjara.
    korupsi 1M=50.000 tahun penjara
    buktinya ???

  9. sedjatee mengatakan:

    thanks atas komeng rekan-rekan yang baik
    buat new bie : ya begitulah…. hukum sudah terbalik…
    buat mas tyas : ntar para pocong kita minta bersumpah …
    buat kang tono : korupsi berjamaah, dikurung berjamaah, rame…
    buat dedekuzn : semoga para koruptor sadar hari akhir…
    buat kakaakin : kalo gak gitu, gak ada bahan bakar neraka neng…
    buat mas haryana : hukum rimba, yang lemah dimakan yang kuat…
    buat sunflo : salut atas tegaknya syariat Allah di negeri engkau…
    buat oelil : sayangnya para hakim dan jaksa gak tahu matematika…

    sukses selalu
    sedj

  10. jangkrik mengatakan:

    artikel yang menarik tentang korupsi kawan,terimakasih informasinya😀
    memang kacau ni kalo urusan dengan orang yang nggak bisa dipercaya,dalam urusan hukum menghukum
    STOP KORUPSI dan SUAP di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: