Gudeg Yu Suminem

22

Desember 15, 2009 oleh sedjatee

“Dari mana aja sih, Pa.., jam segini baru pulang” tanya Wati pada suaminya. Wajahnya cemberut, matanya tak lepas dari majalah yang sedang dibacanya, kendati dari tadi ia mendengar suara suaminya memarkir sepeda motor di depan rumah. Wati lelah sepulang kerja, begitu juga Dharma suaminya yang bekerja di kantor yang berbeda. Dharma memaklumi kelelahan isterinya, kantornya jauh dan terkadang macet.
“Ya dari kantor to Ma, kantor kan baru bubar jam lima, ini tadi ada sedikit macet. Tadi sekalian mampir ke warung, beli lauk untuk makan malam kita” jawab Dharma sambil mengambil gelas, menuangkan air putih dan mereguknya, segaaar.

Tiba-tiba terdengar suara anak-anak berseru sambil menghambur padanya “Papa…” anak-anak itu memeluk bapaknya sambil tertawa-tawa.
“wah… habis main dari mana saja nih, baunya asem betul” tanya Dharma pada Sarah dan Ferdi anaknya.
“Kami main batu di depan masjid” jawab Ferdi kecil
“Papa.., bawa makanan apa?” tanya Sarah yang lima tahun.
“ooooh… tentu ada…, papa belikan gudeg dari warung Yu Suminem, nanti kita makan sama-sama ya..”
“hore…” teriak bocah-bocah kecil itu
“tapi…, sekarang kita mandi dulu yuk…” ajak Dharma
yang selanjutnya terdengar hanyalah derai tawa Bapak dengan kedua anaknya dari kamar mandi. Terkadang ada yang bernyanyi. Anak-anak memang sangat menyenangkan.

Dharma bekerja pada suatu media massa. Pekerjaan yang memberikan penghasilan pas-pasan. Waktu kerjanya cukup fleksibel, tapi terkadang bisa banyak kesibukan yang memaksa bekerja di luar jamkerja. Namun sesekali juga banyak waktu senggang untuk bermain dengan anak-anaknya. Dikantornya pekerjaannya adalah di bagian perwajahan, berkutat dengan peralatan grafis dan gambar-gambar. Untuk menambah uang dapur, Dharma sesekali menyalurkan bakat menulisnya untuk dimuat di media itu lalu mendapat sedikit honor.

“Nanti malam minta izin ke rumah Pak Direktur, ya Ma” pinta Dharma pada isterinya yang sedang menata makanan untuk makan anak-anaknya.
“lho apa nggak bisa dijumpai di kantor to”
“Sebenarnya ini bukan urusan kantor. Saya mau nawarin dia buku anak-anak, kalo dia mau beli buku kita bisa dapat lumayan lho..” Dharma menerangkan maksudnya pada isterinya. Tanggal tua begini, dompet Dharma terkadang tinggal menyisakan beberapa lembar uang ribuan. Untung dia bukan perokok, namun begitu kadang-kadang dia juga punya utang. Makanya selain menulis, dia juga jualan buku dan compact disk. Dharma menawarkan buku-buku langka dari beberapa penerbit yang dia kenal baik. buku-buku mahal itu bisa memberinya sedikit uang bensin agar tak terus menerus minta uang pada isterinya. Melihat gelagat kurang baik itu, Dharma mengurungkan niatnya.
“Eh.., besok aja deh jumpai pak Direktur, kayaknya agak capek nih saya.”

“Ini apaan ini…,” tanya Wati pada suaminya sambil menunjukkan beberapa gambar telefon selular. Istri yang baik itu selalu merapikan berkas-berkas suaminya sambil melihat-lihat dokumen yang dibawa.
“oh.., itu gambar untuk mendesain iklan handphone. Lha wong kerjaku ngurusi gambar-gambar kok ya pakai terkejut, kayak nggak pernah tahu aja.”
“Trus ini tulisan siapa…”
“Itu cerpen saya, belum dimuat. Gimana.., bagus nggak?” Dharma balik bertanya.
“Alaaah.., Ngapain nulis kayak gini, nggak berbobot”
“Ada honornya lho” gurau Dharma pada Wati, Wati tetap cemberut tapi wajahnya sangat manis.

###

Sore itu wajah Dharma sangat cerah. Maklumlah tanggal satu, saat paling indah karena di kantor tadi dirinya terima gaji. Tak hanya itu, honor cerpen yang dimuat juga telah ia dapatkan. Termasuk persen dari penjualan buku anak-anak pada direkturnya. Ia ingin memberikan semua uang itu bulat-bulat sebagai kejutan buat isterinya. Uang yang akan diberikan pada isterinya memang hanya sedikit, maklum ia cuma pegawai rendahan. Tapi kali ini ia menerima uang lebih banyak dari biasanya, dan ia berharap isteri yang disayanginya itu senang menerima.

Dharma berhenti di warung Yu Suminem, lalu memesan Gudeg lengkap untuk keluarganya. Warung Yu Sumi masih lengang sore itu. Nampak Sri dan Lastri sedang menata dagangan, mereka membantu Yu Sumi berjualan gudeg dari sore hingga jam sembilan malam.
“Gudeg satu bungkus, tempe dan tahu bacem tiga-tiga potong” pesan Dharma
“ooo… Mas Dhar, monggo mas,” jawab Yu Suminem sambil membungkuskan pesanan Dharma.
“Telur dan paha ayam dua ya Bu”
“Ya.., pakai sambel goreng to Mas?” tanya Yu Sumi
Tiba-tiba Yu Sumi tergopoh-gopoh memanggil Lastri.
“Las.., Las.., ini tolong bungkuskan sambel goreng. Itu Bapakne dateng, aku mau bikinkan kopi dulu.”

Dari jauh tampak pak Kabul datang dengan sepeda tuanya. Suami Bu Suminem ini bekerja sebagai tukang sapu di kantor swasta. Seperti biasa, sore sepulang kerja pak Kabul menuju warung isterinya, melepas lelah sambil membantu menyiapkan dagangan gudeg sore. Tanggal satu begini ia pulang cepat.

Dharma memandang haru. Dia merasa lebih beruntung mendapat pekerjaan yang lebih nyaman dari Pak Kabul. Pria tua itu mengumbar senyum buat isterinya yang juga telah tersenyum pada sang suami.

“Ini kopinya, Pakne, ingin makanan apa? Tape goreng atau onde-onde?” tanya Yu Sum sambil menyuguhkan kopi buat sang Arjuna.
“Tape goreng saja.., yang anget ya Bune!” jawab pak Kabul sambil melepas topi kumalnya.
“Rokoknya?” dijawab “Rokok Kebo saja, ada yang udah diecer kan?”
Lalu kedua pasangan tua itu duduk berdampingan. Pak Kabul menyeruput kopi dari gelas biru, gelas itu sudah tampak tua, tapi itulah gelas terbaik di warung itu.

“Bune, ini aku udah terima gaji” kata pak Kabul sambil menyerahkan amplop coklat pada isterinya.
“Wah.., matur nuwun yo pakne.” jawab bu Suminem sambil tersenyum
“Tapi ya cuma segitu saja, lha wong aku cuma tukang sapu.”
“Tapi merangkap Direktor Warung Gudeg lhho”
mendengar celoteh isterinya itu pak Kabul tertawa.

“Pakne, ini sarung, handuk sama baju gantinya. Kalau mau mandi silakan aku mau nyiapkan makan.”
“Ya Bune, aku mandi sebentar lagi”
“Makan dengan sambel goreng dan telor asin ya Pakne?” tanya Yu Sumi “ya…” jawab pak Kabul
“Selesai makan nanti, Pakne pulang ke rumah saja, menemani Gendhuk belajar. Pakne ngaso dulu, nanti habis isya baru kesini lagi”

Rutinitas harian orang-orang kecil itu direkam lekat di hati Dharma. Ini bukan basa-basi, bahasa mereka sederhana namun diucapkan dengan penuh rasa cinta. Mereka adalah orang-orang biasa yang hidup di dunia yang lebih keras dan kasar. Namun masih menyisakan kehangatan yang kini hilang dari rumah-rumah mewah. Mereka orang lugu yang tak mengenyam pendidikan cukup, tapi jiwa mereka terdidik dengan baik untuk memerankan kehidupan dalam kodrat mereka sebagaimana mestinya. Toh, dalam kerasnya aktifitas menempuh hidup, kesibukan itu tak membuat mereka kehilangan fungsi sebagai bagian dari kehidupan orang lain. Mereka mampu menepikan ego dan hidup dengan nyaman.

“Jenang gulo… kowe opo lali, marang aku iki…” dua pengamen mendatangi warung Yu Sumi.
Lastri segera mengambil uang receh lalu memberikan ke pengamen yang kemudian pergi
“Suarane jelek” kata Sri
tapi pak Kabul berkata bijak “jangan gitu Sri, belum tentu kamu bisa nyanyi sebagus itu. Kalau kamu ndak mau memuji orang lain, mbok ya jangan mencela” kalimat itu membuat Dharma terkesan pada Pak Kabul.

###

Kini Dharma memasuki rumahnya dengan kenangan berharga dari pak Kabul dan Yu Suminem.
“Wadhuh.., dari mana aja kok baru pulang” tanya Wati pada suaminya.
“Ya dari kantor to, lalu mampir ke Yu Sumi, ini gudegnya lengkap. Oh ya Ma, ini gaji dan sedikit tambahan dari honor nulis dan persenan jual buku” katanya sambil menyerahkan amplop berisi uang kepada Wati. Kejutan itu diberikan pada isterinya.
“Terimakasih…” isteri tercintanya menjawab sambil tersenyum datar, tapi wajahnya berseri secerah mentari pagi. Segera saja Sarah dan Ferdi memeluk ayahnya yang baru pulang.

Tiba-tiba “Jenang gulo… kowe opo lali, marang aku iki…” terdengar suara pengamen di depan rumah mereka. “Ferdi, berikan ini untuk om pengamen ya Nak”
Ferdi segera membawa uang receh itu ke luar rumah, diikuti Sarah yang menyusul adiknya.
“terima kasih ya Dik” kata pengamen sambil menerima uang receh Ferdi.
“Ya Om.., suara om bagus” kata Sarah.

Dharma terkejut, anak kecil ternyata lebih bijak dalam menjalani hidup. Bahkan anak kecil sudah bisa memberikan pujian. Hal itulah yang akan membuat seseorang lebih sanggup mengendalikan dirinya untuk tidak mencela orang lain.
“Ferdi.., Sarah.., saatnya mandi” panggil Dharma
Dan anak-anak itu segera tahu. Lalu Dharma pun melakukan rutinitasnya, mengambil gelas, meminum air putih, lalu memandikan anaknya.

Dari ruang depan terdengar suara Wati yang sedang membuka-buka berkas suaminya berseru “ini tulisan apa lagi, … huh sok cerpenis, sok penyair, … nggak mutu”

22 thoughts on “Gudeg Yu Suminem

  1. alamendah mengatakan:

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Jenang gulo kwe ojo lali…
    marang aku iki…
    mbiyen nate janji…
    mboh, ah.

    Yang paling utama adalah rasa syukur atas yang kita terima.

  2. sunarnosahlan mengatakan:

    kangen sama gudeg, belum metik dikebun

  3. zipoer7 mengatakan:

    Salam Takzim
    Celoteh yu Sumi dengan suaminya lebih bersahaja ya dibandingkan bu Wati yang suka curiga dengan keterlambatan pulang pak Dharma
    Cerita yang bagus kang, itu potonya tahun berapa ya?
    Salam Takzim Batavusqu

  4. kaskuser mengatakan:

    salut sama perjuangan ibu ini
    btw Hi salam kenal, just blogwalking doang. main dong ke blog saya

    http://blog.unsri.ac.id/kaskuserr/nais-inpo-gan/mrlist/1234/

    http://blog.unsri.ac.id/kaskuserr/news/mrlist/1233/

    dijamin KETAGIHAN …!!!! ^_^

    salam

  5. dedekusn mengatakan:

    Cerita menarik dari sebuah keluarga sederhana,

  6. katakatalina mengatakan:

    belajar dari keluarga yu sumi dan pak kabul. semoga saya bisa menjadi yu sumi.

  7. bundadontworry mengatakan:

    saya mendapat pelajaran hidup yg berharga dr Yuk Sumi,
    semoga Pak Dharma tetap sabar dan bisa selalu berbesar hati.
    salam.

  8. Batavusqu mengatakan:

    Salam Takzim
    Yuk Sumi tinggal dimana sih kang, boleh minta alamatnya ga
    Salam Takzim Batavusqu

  9. sunflo mengatakan:

    hmmm..cerita yg penuh makna hidup neeh…^^

  10. JakaPrasetya mengatakan:

    ” Kalau kamu ndak mau memuji orang lain, mbok ya jangan mencela ”

    Terharu saya baca ceritanya, dapet tambahan bekal buat ngejalanin hidup dah,😥

    Suwun share-nya

  11. wardoyo mengatakan:

    Rutinitas menjadi suatu keindahan saat membacanya dengan kacamata berbeda. Memang benar-benar indah.
    Salam.

  12. dedekusn mengatakan:

    Cerita Gudeg yg menarik

  13. m4stono mengatakan:

    bagus kang….mencerahkan…….

    niatnya kan muji itu memuji dibalik pemilik si suara itu…🙂

  14. Blogger Nekat mengatakan:

    mas,, tukeran LINK yuk.. linknya sudah terpasang di halaman depan di SIDEBAR LINK,,, silahkan di check mas

  15. fadhilatul muharram mengatakan:

    hey, mau ngajak utk ikutan tasyakuran blog dila di http://dhila13.wordpress.com/2009/12/17/tasbih-bukan-kontes-biasa-sticky/ yang beruntung nanti akan dapat sebuah novel sebagai bingkisan.. dateng yaa…🙂

    komen utk gudeg si yu itu… hmm….keren bang.😉

  16. kakaakin mengatakan:

    Hmm… terkadang banyak hal yang bisa dipelajari dari cara orang lain menghargai kesederhanaannya…🙂
    Selamat tahun baru 1431 H
    Sekalian mau ngasih kado tahun baru, sederhana aja sih…
    Jika berkenan, silakan diambil di tempat saya ya…🙂
    http://try2bcoolnsmart.wordpress.com/2009/12/17/sebuah-tanda-tangan-dan-kado-tahun-baru-untuk-sahabat/

  17. booksaddict mengatakan:

    ceritanya bagus, tapi bikin lapar, kangen tempe bacem, foto jadoelnya keren.

  18. heru mengatakan:

    semoga aku dapat menarik pelajarannya

  19. kangmas mengatakan:

    assalamualaikum mas lama tak jumpa…minta ijin copas ah..bagus masala’e he he..

  20. uniharuni mengatakan:

    wah nulis pake basa jawa harus bagus gini ya?
    jadi minder mo pake basa jawa…

  21. Gertrude Mattlin mengatakan:

    It sounds like you are creating troubles yourself by trying to solve this issue as opposed to taking a look at why
    their is really a problem inside the very first place

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: