Gita untuk Bunda

8

Desember 28, 2009 oleh sedjatee

Untukmu kutuliskan sebuah renungan, tentang perjalanan usia yang kita semua akan mengalaminya, apabila Tuhan berkenan. Ialah untuk seseorang yang darinya telah lahir anak-anak yang kini menjadi perhiasan di masa yang tak lagi muda. Seseorang yang menggeluti sebuah monotonitas keseharian untuk menggariskan sebuah rute masa depan ke arah cemerlang. Seseorang yang mendedikasikan diri untuk orang-orang pada rumah sederhana yang ia yakini sebagai pijakan untuk melompat lebih tinggi

Engkau mungkin tak pernah membaca syair Henry Watford Longfellow, tapi spirit puisi itu tertanam kuat dalam jiwamu. Bagimu, masa tua bersama anak cucu adalah sama indah dengan masa mudamu dahulu:
… sebab usia adalah kesempatan itu sendiri,
seperti masa muda dalam busana berbeda.
Tatkala senja berlalu
Langit indah dipenuhi bintang yang tak terlihat di siang hari.

Untukmu kutuliskan kekaguman akan semangatmu bertutur pada kami bahwa dalam usiamu kini, engkau masih tetap bugar. Tetap sehat meski hanya udara pedesaan yang mengisi rongga nafasmu. Perasaan syukur itulah yang menjadikan masa tuamu terasa bermakna. Bukan masa tua yang dipenuhi sesal, bukan usia lanjut yang memendam kehampaan.

Kalaupun perjalanan waktu menjadikanmu lanjut usia, engkau sangat sadar akan hal itu. Menjalankan peranmu adalah bahagia bagimu. Hari-hari yang lalu tetaplah kenangan indah bagi engkau. Meskipun Dr. Roeslan Abdulgani pernah menuturkan bahwa :
Menjadi sepuh (tua) itu adalah merasa sepi (sunyi).
Lalu segalanya terasa sepa (hambar)
Dan seakan diri adalah sepah (ampas)

Bagimu.., menjadi tua hanyalah sebuah fenomena alamiah. Jika berkenan menikmati masa muda, bersiaplah merasakan masa tua. Setiap yang hidup mengalaminya, karena kehidupan adalah siklus usia itu sendiri. Masa tua harus ada karena ia adalah penumbuh generasi berikut, seperti Roland Holst berpuisi:
Kenapa engkau hanya bernyanyi untuk bunga musim semi?
Bukankah daun-daun yang jatuh di musim gugur
Kan menjadi penyubur bunga di musim semi?

Untukmu kusampaikan salam cinta dari kami. Seperti cintamu pada kami yang senantiasa mencium tanganmu lalu menyebar untuk menunaikan pesanmu, meretas jalan hidup yang menjadi amanatmu. Teruslah berpesan, dan akan selalu kudengar pesanmu yang menunjukkan betapa engkau mencintai kami.

Kepadamu.., kuibaratkan masa senja adalah temaram menuju gelap, yang tak kalah indah dari saat fajar menyingsing. Masa tua sering diilustrasikan bagai pohon yang telah berhenti berbuah. Para subjeknya adalah mereka yang punya batasan psiko-motorik sehingga tidak seproduktif masa sebelumnya. Namun engkau selalu optimis, karena engkau tetaplah matahari bagi kami.
Engkau memetik semangat Sophocles yang menyelesaikan mahakarya Oedipus Rex dalam usia 85 tahun, atau Johann Wolfgang van Goethe yang menuntaskan trilogi Faust pada saat berumur 84 tahun.

Untukmu kuingatkan kembali, ayat suci yang dahulu engkau ajarkan kepada kami. Tentang hakikat perjalanan hidup yang menggilirkan warna hitam dan putih, yang menggulirkan duka dan bahagia, yang memutarkan pahit getir dengan kejayaan. Kesemuanya berjalan atas kehendak Sang Pencipta. Allah berfirman di surat Yasin ayat 68, yang insyaAlah artinya adalah kurang lebih: jikalau Tuhan memanjangkan usiamu, niscaya akan dikembalikan kepada kejadian (penciptaan)nya. Ya benar.., manusia lahir teramat lemah, lalu tumbuh dan berprestasi, kemudian akhirnya kembali menjadi lemah, dalam demensi yang lain, TUA

Tatkala tiada kata yang lebih indah, biarkan bibir kami selalu menyenandungkan doa untuk kesehatan dan keberkahan bagimu. Tatkala jasamu tak terbalas oleh apapun dari kami, yakinlah Tuhan akan memberi lebih banyak dan lebih indah untukmu. Biarkan sinarmu terus memancar, menjadi penyemangat dan penerang jalan bagi kami. Engkaulah pintu surga, tiada yang terlambat meski hari ibu telah berlalu, terima kasih untukmu, Ibunda…

pikirkupun melayang, dahulu penuh kasih
teringat semua cerita orang tentang riwayatku

oh bunda, ada dan tiada dirimu kan slalu ada di dalam hatiku
(Potret – Bunda)

Sedjati– terima kasih juga, untuk seseorang yang telah menjadi Ibunda bagi anak-anak hebatku…

8 thoughts on “Gita untuk Bunda

  1. sunflo mengatakan:

    howdy mr sedj?? moga baik2 selalu, lama tak jumpa walo di dunia maya…^^
    semoga Allah merahmati para ibu2 hebat yaaa… mari kita sayangi ibu2 kita ..^^

  2. demoffy mengatakan:

    tangisanku…
    akankah terdengar olehmu bunda…

    kasihmu sepanjang masa..

    salam kenal..🙂

  3. agoesman120 mengatakan:

    Sebuah ungkapan pengabdian buat Bunda… Tak ada yg mengalahkan kasih Bunda….
    Salam Hangat..Sukses Juga buat Sedjatee…

  4. Casrudi mengatakan:

    Salam hangat Mas Sedjatee….. ungkap kasih untuk Bunda dan Istri yang tulus, sepertinya tak akan habis kata untuk melukis keberadaan mereka….

  5. alfarolamablawa mengatakan:

    KELIMAXXXXX
    hehehe
    Kasih ibu sepanjang masa…hanya memberi tak harap kembali hehehe

  6. _DELIMA_ mengatakan:

    SUKSES SLL MAS
    KaSIh ,iBU SpanJANG
    ZAMANN TK ABiz d mKN
    WAKtu~sUrGA~D KAKI IBU

  7. Dangstars mengatakan:

    Tersentuh dengan kata-kata di artikel ini
    Thanks telan berbagi😀 😀

  8. ABDUL AZIZ mengatakan:

    Assalamu’alaikum,
    Renungan yang begitu dalam, menyadarkan saya yang sudah beranjak senja. Semoga bisa menjadi pohon yang terus berbuah, seperti digambarkan dalam renungan ini.
    Sayang, saya sudah ditinggal ibunda ketika masih kelas 1 SMP.
    Terima kasih Mas.
    Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: