Kisah Jabir bin Abdullah

 “Ia Telah Meriwayatkan Bagi Kaum Muslimin dari Nabi  1540 Hadits”

Berangkatlah sebuah rombongan menyusuri jalan dari Yatsrib ke Mekkah. Rombongan tersebut sudah membuat janji dengan Rasulullah . Setiap orang yang menjadi anggota rombongan tersebut amat berharap bahwa mereka akan segera berjumpa dengan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, meletakkan tangannya di tangan Beliau untuk berbai’at agar selalu patuh dan taat kepada Beliau, disamping itu pula mereka akan melakukan sumpah setia kepada Beliau untuk senantiasa mendukung dan membantu Beliau.

Dalam rombongan tersebut terdapat seorang tua yang termasuk pemuka kaum rombongan tersebut. Orang tua ini membonceng seorang bocah lelaki kecil bersamanya, dan ia meninggalkan kesembilan putrinya di Yatsrib, karena ia tidak punya anak laki-laki lagi selain bocah ini. Orang tua ini amat berharap bahwa putranya dapat turut menyaksikan pembaiatan ini, dan agar bocahnya tidak melewatkan sebuah hari bersejarah dalam hidup ini. Orang tua ini bernama Abdullah bin Amr Al Khajrajy Al Anshary radhiallahu ‘anhu. Sedangkan anaknya bernama Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiallahu ‘anhuma.

***

Cahaya keimanan terpancar di hati Jabir bin Abdullah saat ia masih belia, dan cahaya tersebut terpendar ke seluruh anggota tubuhnya. Islam telah menyentuh relung hati bocah ini bagai tetesan embun yang membuka kelopak bunga, lalu memenuhinya dengan wewangian. Jabir sudah akrab berhubungan dengan Rasulullah  sejak ia masih berusia dini. Saat Rasulullah  tiba di Madinah sebagai orang yang berhijrah, bocah kecil yang beriman ini langsung menimba ilmu lewat tangan dan binaan Rasulullah  sendiri. Jabir termasuk salah seorang murid yang paling cerdas yang lulus dari pembinaan dan bimbingan Muhammad  dalam bidang penghapalan Kitabullah, menguasai ilmu keagamaan, dan periwayatan hadits Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Hal ini cukup dibuktikan dengan adanya Musnad Jabir bin Abdullah yang mencakup lebih dari 1540 hadits. Kesemuanya dihapal oleh murid yang cerdas ini dan diriwayatkan dari Nabi  untuk kemaslahatan kaum muslimin semuanya. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memastikan dalam kitab shahih mereka berdua adanya lebih dari 200 hadits shahih yang pernah diriwayatkan Jabir. Jabir pun menjadi sumber cahaya dan petunjuk bagi kaum muslimin untuk beberapa masa. Sebab Allah Swt telah memanjangkan umurnya sehinggga usianya hampir mencapai satu abad.

Jabir radhiallahu ‘anhu tidak turut serta bersama Rasulullah  dalam perang Badr dan Uhud, sebab dalam satu sisi saat itu ia masih berusia dini. Disisi lain, ia diperintahkan oleh ayahnya untuk menjaga kesembilan saudarinya, hal itu dikarenakan tidak ada orang lagi selain dirinya untuk melakukan hal itu. Jabir berkisah: “Pada malam sebelum terjadinya perang Uhud, ayah memanggilku seraya berkata: “Aku menduga bahwa aku akan terbunuh bersama para sahabat Rasul  yang terbunuh. Demi Allah, aku tidak meninggalkan orang yang paling aku cintai selainmu setelah Rasulullah .” Aku mempunyai sejumlah hutang, maka bayarkanlah hutangku! Sayangilah para saudarimu! Jagalah mereka dengan baik.”

Keesokan harinya, ayah menjadi korban pertama dalam perang Uhud. Setelah aku menguburkannya, maka aku mendatangi Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan berkata: “Ya Rasulullah, ayahku memiliki sejumlah hutang, sedangkan aku tidak memiliki apa-apa untuk melunaskannya kecuali hasil dari pohon kurma milik ayah. Kalau aku mengandalkan buah kurma tersebut untuk membayarkan hutang ayah, pasti tidak akan terlunaskan selama bertahuntahun. Sedangkan aku tidak punya uang untuk memberikan nafkah kepada para saudariku.” Rasulullah  langsung berdiri dan berangkat bersamaku ke tempat jatuhnya buah kurma kami. Beliau bersabda kepadaku: “Sebutkan berapa hutang ayahmu!” Maka aku pun menyebutkannya. Maka para penagih hutang terus saja memunguti hasil buah kurma sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala membayarkan semua hutang ayahku dari hasil pohon kurma tersebut pada tahun itu. Kemudian aku melihat ke tempat jatuhnya kurma, dan aku lihat rupanya ia tidak berubah sedikitpun seolah ia tidak berkurang meski satu biji saja.

***

Sejak ayahnya meninggal, maka Jabir radhiallahu ‘anhu tidak pernah ketinggalan untuk turut-serta dalam peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Dalam setiap peperangan, ia memiliki kisah yang layak untuk dikisahkan dan dikenang.

Jabir berkisah: Pada perang Khandaq kami sedang menggali parit saatitu. Tiba-tiba kami menemukan sebuah batu yang amat keras dan kami tidak sanggup untuk memecahnya. Kami pun mendatangi Rasulullah  dan berkata: “Ya Nabi Allah, di parit yang sedang kami gali ditemukan adanya sebuah batu keras. Pacul kami tidak sanggup untuk memecahkannya.” Rasulullah  menjawab: “Biarkan batu tersebut, aku sendiri yang akan datang ke sana dan menghancurkannya!” Kemudian Beliau bangun dan perut Beliau diganjal dengan batu karena merasa amat lapar, hal itu karena kami sudah tiga hari tidak makan apaapa. Nabi  langsung mengambil cangkul kemudian Beliau memukulkan cangkul tersebut kepada batu dan akhirnya batu tersebut dapat dipecahkan dengan mudah. Pada saat itu aku merasa kasihan kepada Rasulullah  yang menderita lapar. Aku pun menghampiri Beliau dan berkata: “Bolehkah aku kembali ke rumah, ya Rasul?” Beliau menjawab: “Pergilah!”

Sesampainya di rumah, aku berkata kepada istriku: “Aku melihat Rasulullah  dalam kondisi yang amat lapar. Tidak ada seorang manusia pun yang sanggup menahan lapar seperti itu. Apakah engkau memiliki sesuatu untuk dimakan?” Istriku menjawab: “Aku hanya memiliki sedikit gandum dan domba yang masih kecil.” Maka aku segera mengambil domba tersebut, lalu aku menyembelihnya, memotongnya dan aku masukkan ke dalam tungku. Aku pun segera mengambil gandum yang aku tumbuk sendiri kemudian aku serahkan kepada istriku. Aku pun melakukan peragian terhadap tepung itu. Begitu aku tahu bahwa daging sudah hampir matang, dan adonan tepung sudah hampir lembut dan sebentar lagi dapat dibakar. Aku pun berangkat menghadap Rasulullah  dan aku berkata kepada Beliau: “Ada sedikit makanan yang kami buat untukmu, ya Rasulullah. Silahkan Engkau dan 1 atau 2 orang untuk menyantapnya.” Rasul bertanya: “Ada berapa banyak yang kau masak?” Aku pun memberitahukan Beliau apa saja yang aku masak.

Begitu Nabi  mengetahui porsi makanan yang aku buat, Beliau bersabda: “Wahai para pejuang Khandaq! Jabir telah menyiapkan makanan, marilah kita makan bersama!” Kemudian Beliau menatapku dan bersabda: “Temuilah istrimu dan katakan kepadanya: ‘Janganlah tungku diturunkan, dan jangan dulu tepung tadi dijadikan roti, sebelum aku datang ke sana.” Aku pun pulang ke rumah, dalam hatiku ada rasa galau dan malu yang hanya diketahui oleh Allah Swt saja. Aku bertanya sendiri: “Apakah semua pejuang Khandaq dapat menyantap makanan yang hanya terdiri dari satu sha’ gandum dan seekor domba kecil?!”

Kemudian aku menemui istriku dan aku berkata kepadanya: “Celaka kita, aku telah menceritakan segalanya! Rasulullah  akan datang ke sini dengan semua pejuang Khandaq!” Istriku bertanya: “Apakah Beliau tidak bertanya kepadamu berapa jumlah makanan yang kau siapkan?’ Aku menjawab: “Ya, Beliau menanyakannya.” Istriku berkata: “Tidak usah kau risau, sebab Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Maka ucapannya membuat semua kegalauanku sirna seketika. Tidak lama kemudian, datanglah Rasulullah  bersama rombongan kaum Muhajirin dan Anshar. Rasul  berkata kepada mereka: “Masuklah dan jangan berdesak-desakan!”

Kemudian Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada istriku: “Berikan kepadaku sepotong roti, agar ia membantumu dalam membuat roti. Ambillah sesendok kuah air dari tungkumu tapi jangan diturunkan dari perapian.” Tiba-tiba roti jadi semakin banyak, yang ditaruh di atasnya daging. Kemudian Beliau membawa makanan tersebut kepada para sahabatnya, dan mereka semua menikmati makanan tersebut sehingga mereka merasa kenyang. Kemudian Jabir berkata: “Demi Allah, mereka semua sudah pulang namun tungku kami masih penuh dengan daging kambing dan adonan kami masih dapat dibuat roti tidak kurang sedikitpun, persis seperti semula.” Kemudian Rasulullah  bersabda “Makanlah engkau, dan hadiahkan sebagiannya!” Lalu istriku makan, dan sepanjang hari ia membagikan dan menghadiahkan makan tersebut kepada banyak orang.

***

Demikianlah kisah Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiallahu ‘anhu dan ia menjadi sumber cahaya dan petunjuk bagi kaum muslimin untuk beberapa masa, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan untuk memperpanjang usianya hingga mencapai umur mendekati satu abad. Suatu saat Jabir berangkat untuk berperang di jalan Allah ke negeri Romawi. Pada saat itu pasukan dipimpin oleh Malik bin Abdillah Al Khats’amy.  Malik saat itu sedang memeriksa pasukannya yang tengah berangkat menuju medan laga. Malik melakukannya untuk mengetahui kondisi mereka, memberikan semangat, dan membantu serta melayani prajurit yang sudah tua. Lalu ia berjumpa dengan Jabir bin Abdullah, yang ia dapati sedang berjalan kaki padahal ia bersama seekor bighal  yang tali kendalinya ia pegang dengan tangan.

Malik kemudian bertanya kepada Jabir: “Ada apa denganmu wahai Abu Abdillah (pangggilan Jabir)? Mengapa engkau tidak menunggang bighalmu?! Padahal Allah sudah memberimu tunggangan yang dapat membawamu.” Jabir menjawab: “Aku pernah mendengar Rasulullah  bersabda: ‘Siapa orang yang kakinya terbasuh debu saat berperang di jalan Allah, maka Allah akan mengharamkan dirinya dari neraka.”

Malik lalu meninggalkan Jabir kemudian ia menuju barisan terdepan pasukan. Kemudian Malik menoleh ke arah Jabir, kemudian Malik memanggil Jabir dengan suara yang amat keras seraya berseru: “Ya Abu Abdillah, mengapa engkau tidak menunggangi bighalmu, padahal ia sudah menjadi milikmu?!” Jabir mengerti maksud Malik. Kemudian Jabir menjawabnya dengan suara yang keras: “Aku pernah mendengar Rasulullah  bersabda: ‘Siapa orang yang kakinya terbasuh debu saat berperang di jalan Allah, maka Allah akan mengharamkan dirinya dari neraka.” Maka spontan semua prajurit melompat turun dari tunggangan mereka. Semuanya berharap mendapatkan pahala tersebut. Tidak pernah didapati ada pasukan yang berjalan kaki melebihi pasukan tersebut.

***

Selamat untuk Jabir bin Abdullah Al Anshary. Ia pernah turut berbai’at kepada Rasulullah  padahal ia belum mencapai usia baligh pada saat itu. Ia juga beruntung pernah mendapat bimbingan Rasulullah  sejak usia dini, dan ia banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah  yang kemudian riwayatnya banyak digunakan oleh para perawi hadits. Ia juga beruntung dapat turut-serta berjihad bersama Rasulullah  saat masih berusia remaja, kemudian ia membasuhkan kakinya dengan debu untuk berjuang di jalan Allah Swt padahal ia adalah seorang tua renta yang telah lanjut usia..

========================================

Referensi : Shuwar min Hayati Shahabah

Penulis : Dr. Abdurrahman Raf’at Basya

Penerbit : Darul Adab al Islami

Diterjemahkan oleh : Bobby Herwibowo, Lc.

Gambar : day of arafah by nadir keval – nadirkeval.com

Iklan

3 pemikiran pada “Kisah Jabir bin Abdullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s