Ingat 5 Perkara, Sebelum 5 Perkara

32

Januari 22, 2010 oleh sedjatee

Tulisan ini hanya coretan tentang perjalanan dari rumah ke kantor (maupun sebaliknya), rutinitas yang dijalani dengan melalui lima perkara yang sama setiap rit-nya. Harapannya tulisan ini dapat menjadi ibrah, pelajaran, bagi para new-entry yang melalui jalur yang sama. Siapkan ketabahan Anda yang paling tangguh. Bila anda penderita ambeien, semoga kemacetan ini tidak membuat anda menjadi rajin ke RSCM atau ke tempat dukun Ponari yang telah tamat kariernya nun jauh disana.

Perjalanan ke tempat kerja adalah ibadah, oleh karenanya perjalanan itu seharusnya dijalani dengan kenikmatan, meski tak harus disertai dengan merem-melek. Dan selalu kusyukuri, meski perjalananku hanyalah dengan kendaraan alakadarnya. Sepeda motor yang cukup teraniaya karena tak proporsional menopang tubuh yang nongkrong diatasnya.

Perkara pertama telah jelas dan pasti adalah angkot dan bus kota. Mereka adalah masalah. Mereka mangkal di sembarang tempat, termasuk persimpangan dan menyebabkan kemacetan parah di jalan sempit nan padat ini. Tanpa rasa bersalah bermanuver seenaknya seperti kerbau pengen kawin. Dan biang musabab itu adalah dua sejoli yaitu seonggok tubuh yang meringkuk di belakang kemudi dan makhluk kumal yang gelantungan mirip siamang di salah satu pintunya. Entah anak jin buangan dari mana mereka itu sebenarnya, sehingga perilaku mereka di jalan sama sekali tak mencerminkan keindahan akhlak manusia yang beretika.

Perkara kedua adalah peniup peluit di simpang kereta api dekat pertigaan pasar bintaro. Persimpangan adalah rawan macet, palang kereta api menjadikannya lebih parah, sedangkan peniup peluit sok hebat itu memberi tekanan psikologis yang menjengkelkan. Ia bukan polisi, tetapi pengangguran yang dimasa kecil pernah bercita-cita menjadi polisi. Ia lebih mirip dengan orang-orangan sawah alias tak pernah ganti baju. Kepada setiap pengemudi ia selalu berkata dengan nada memaki, peluitnya melolong-lolong menyuruh kendaraan menyeberang rel meski kereta hanya tinggal sejengkal dari persimpangan. Sepertinya ia sengaja hendak mengirim para pengemudi ke alam baka.

Perkara ketiga adalah, hahaha… ini dia, endemi paranoia masyarakat apatis: polisi tidur dimana-mana. Belum pernah ada riset tentang frekuensi kebut-kebutan dan kecelakaan di jalan tikus itu, tetapi mereka terus membangun polisi tidur. Kasihan korps bayangkara negeri ini, nama mereka dicatut untuk suatu perbuatan paling tidak senonoh untuk menghalangi kelancaran berkendaraan secara tidak beradab. Bayangkanlah ketidaknyamanan berkendaraan jika di suatu jalan puluhan meter dijejali oleh belasan ”polisi tidur” yang ukurannya tidak standar, asal-asalan dan sangat destruktif. Para pengemudi yang ingin berkelit dari kemacetan parah jalan raya, sebenarnya telah cukup tersiksa memasuki gang sempit yang dihiasi jemuran kutang dan cawat di kiri kanan, dan penderitaan itu dioptimasi oleh hadangan ”polisi tidur” di mana-mana.

Perkara keempat adalah satpam sekolahan, khususnya yang satu itu. Wajah naifnya disetel angker, tukang ramal yang kurang pengalaman akan keliru menebaknya sebagai keturunan demit. Yang jelas mereka telah lupa cara tersenyum. Mereka seenaknya menutup jalan hanya untuk uang seribuan yang melambai-lambai. Itulah tips mereka setelah memberikan jalan untuk mobil orang paspasan yang begitu bangga anak bebalnya belajar di sekolah mahal yang tidak berprestasi. Sangat menjengkelkan, otoriter sekaligus materialis.

Perkara kelima adalah lampu lalulintas. Bukankah lampu lalulintas adalah perangkat wajib untuk kelancaran arus lalulintas? Jawabnya benar jika pemasangannya terukur, realistis dan rasional. Tetapi mari perhatikan ruas jalan Hang Tuah VII dari perempatan Sisingamangaraja hingga Hang Jebat. Ruas yang panjangnya tak lebih 30 meter itu dijejali 3 lampu lalulintas. Sudah bisa dibayangkan, inilah pembuat kemacetan paling konyol yang pernah dilakukan aparat penegak disiplin. Seorang pengemudi menilai tindakan itu sebagai ”tidak punya otak”, karena kemacetan justru lebih sering terjadi setelah lampu-lampu sialan itu didirikan disana.

Memasuki gerbang kantor, berarti aku telah melewati lima perkara yang selalu kuingat. Namun perjuangan belum usai karena masih ada lima marabahaya yang laen. Perkara adalah masalah, dan lima masalah selanjutnya adalah: …eemmmm….  Ah, biarlah itu semua menjadi urusanku. Sekian dan terima kasih…

32 thoughts on “Ingat 5 Perkara, Sebelum 5 Perkara

  1. bocipalz mengatakan:

    setidaknya sampai di kantor / rumah dengan selamat🙂

  2. Dangstars mengatakan:

    mantep deh artikelnya,,makasih telah berbagi😛

  3. ina mengatakan:

    setiap orang pasti mempunyai pengalaman masing-masing baik manis maupun pahit… sabar ya mas sedjatee karena hidup itu indah …

  4. Zico Alviandri mengatakan:

    Saya cengengesan aja baca tulisan mas sedjatee😀 Kemana lagi coba menumpahkan kekeselan kalo gak di blog😀

  5. Abula mengatakan:

    tulisan yang kreatif

  6. […] ngat 5 Perkara, Sebelum 5 Perkara […]

  7. Abula mengatakan:

    terima kasih telah memberi inspirasi

  8. oelil mengatakan:

    wah..saya membayangkan betapa tersiksanya sampeyan setiap harinya… yang sabar pak…ada hikmah dibalik ketidaknyamanan itu..salah satunya terbitnya post ini kan…dan banyak lagi kan

  9. […] ngat 5 Perkara, Sebelum 5 Perkara […]

  10. sangsaka mengatakan:

    asli ketipu ama judulnya…😆 kirain bahasan ‘religi’ heuheu, tau nya ada yg lagi curhat:mrgreen:

  11. Hajier mengatakan:

    Postingan sangat menarik. Tapi inget mas, dibalik kesialan2 dalam perjalanan tadi, pasti ada sesuatu yang menarik dan positif yang bisa di dapat dalam perjalan mas ke kantor.
    Coba besok di post hal2 yang positif dengan judul postingan ‘Ingat 5 Perkara, Sebelum 5 Perkara Part II’ hehehe……….

  12. Mr.o2n mengatakan:

    He,he,he mantep ni artikel nya aku kira tadi berkaitan dgn sabda Rasul,ternyata lain to.
    Berkungjung ni di blog sahabat🙂
    Kali aja dapet kungjungan balik😀

  13. sunflo mengatakan:

    semoga setiap langkah kita selalu dilindungi olehNya ya, mr… sukses selalu dech… maap lama ga bkunjung niieh… ^^

  14. Hary4n4 mengatakan:

    lima perkara yg bikin hidup seperti dalam penjara kerumitan.. keluar tak bisa, kedalam pun..makin sengsara.. wah wah..harus bener2 punya kesabaran yg tinggi ya mas..

    moga tetap semangat utk bertahan..
    salam hangat dan damai selalu…

  15. […] Peri01 yang lagi memendam rasa jangan dipendam katakan dan katakan agar dia tahu tunjukkan. Sedjatee apa kabar, ingat sebelum diingatkan, ingat lima sebelum datang yang lima. Setiawan dirgantara […]

  16. zipoer7 mengatakan:

    Salam Takzim
    Selamat pagi, mohon izin menempatkan berita louncing blog saya yang baru, semoga berkenan
    http://isro-m.com/
    Salam Takzim Batavusqu

  17. bundadontworry mengatakan:

    bunda selalu ramah kalau bertamu kesini, krn yang punya rumah juga baik hati dan selalu tersenyum😀😀
    salam.

  18. […] Peri01 yang lagi memendam rasa jangan dipendam katakan dan katakan agar dia tahu tunjukkan. Sedjatee apa kabar, ingat sebelum diingatkan, ingat lima sebelum datang yang lima. Setiawan dirgantara […]

  19. […] ngat 5 Perkara, Sebelum 5 Perkara […]

  20. Mas Paidi mengatakan:

    Salam kenal buat anda!
    Sukses slalu dengan tulisannya.
    Jabat erat slalu dari blogger pemula nih!

  21. wardoyo mengatakan:

    Narasi yang hebat. Pengalaman yang tidak menyebalkan justru selalu diingat … hahaha..

  22. awanda mengatakan:

    om is..sekali2 (sering jg gk papa) angkat sisi positip dari beliau. pasti ada kan yang dirasakan?

  23. engkaudanaku mengatakan:

    Semoga selalu ada hikmah yang bisa kita petik dari setiap perkara, aamiin🙂

  24. bundamahes mengatakan:

    hmmm..curcol nih pak ceritanya! hahaha..ngekek aku mocone!

  25. Phesona mengatakan:

    Meski cuma beberapa kali bertemu muka di D107, tp bs saya bilang kalo tulisan ini tuh Pak Ismoyo banget!

    Kan ibadah, makanya nikmati ajalah..
    InsyaAlloh Balikpapan gak macet. Ha3..

  26. darahbiroe mengatakan:

    waduw bingung nuy jwawabnya diumpetin dimana yak heheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: