Sepucuk Untuk Bisma

26

Januari 26, 2010 oleh sedjatee

Angin mendesir membawa aroma darah yang menakutkan. Kepak dan jerit kelelawar diselingi rintih kesakitan menakuti bulan di langit sunyi. Kurusetra hening menyimpan kengerian. Mayat serdadu dan bangkai binatang tunggangan teronggok bisu berselimut debu.

Bayangan hitam itu mematung, matanya menatap kosong. Gurat garis lanjut usia tergambar jelas meliputi sorot matanya yang tajam. Rasanya ia ingin sekali mengubur pedang dan busurnya. Namun baginya peperangan belum usai, meski ia menjalaninya tak sepenuh hati. Ia tertunduk menatapi sepatu lusuhnya. Lamunannya berkelana ke masa lalu.

***

“Bagaimana dengan teknik memanahku, Eyang, apakah caraku memanah telah memuaskan Eyang?” tanya bocah belasan tahun kepada pria tua dihadapannya.
”Bagus sekali, Arjuna. Cukuplah engkau belajar dariku. Kemahiranmu telah sama dengan kemampuanku. Namun begitu engkau akan kuminta berguru pada seseorang yang lebih ahli dalam memanah, ia akan menitiskan pusaka Gandewa kepadamu”

Si bocah tersenyum puas. Ia lalu mengantar Arjuna kepada Durna yang diyakini bisa menjadikan cucunya itu sebagai ksatria terbaik.

***

Telah sembilan hari perang berkecamuk, namun ia masih dalam kegelisahan. Bocah yang dahulu belajar membidikkan anak panah darinya, kini berdiri gagah di seberang pasukan. Bocah itu kini menjadi senopati Pandhawa, sedangkan dirinya menjadi panglima bagi Hastina, tanah yang dibelanya.

Bayangan iblis membisikkan cemooh ”untuk apa Engkau engkau bertarung bagi Astina? Bukankah Engkau tak pernah sedetikpun mengecap tahta, tak malukah Engkau berperang melawan anak-anak yang seharusnya Engkau kasihi?”

Ya. Dialah pengasuh bocah-bocah yatim itu tatkala Pandu mangkat di usia muda. Bocah-bocah trah kuru itulah pemilik sah tahta Astina. Kini tatkala Pandhawa hendak mengambil kembali sesuatu yang menjadi hak mereka, tepatkah jika ia kini menjadi orang terdepan yang memberi perlawanan pada mereka?

Iblis kembali mencemoohnya ”Engkaulah manusia terbodoh yang begitu saja membuang peluang menjadi raja. Engkau jugalah manusia terbodoh yang membiarkan mereka tertipu oleh Sakuni pada permainan dadu. Makan semua sumpahmu, itu semua hanyalah sampah”

Ya. Dia pernah bersumpah bahwa ia tak akan pernah membersitkan ambisi menjadi raja Hastina yang sebenarnya adalah haknya. Dan ia juga bersumpah bahwa meski ia tak memegang tampuk Hastina akan terus membela tanah tumpah darahnya itu. Bahkan tatkala ibu tirinya mengkhawatirkan dirinya kelak berketurunan dan itu akan membangkitkan lagi hasrat pada tahta Hastina, ia bersumpah untuk menjadi brahmacari, lalu dewata menaburkan bunga nirwana sebagai apresiasi diakhir ucapan sumpahnya yang sakral.

***

Ia enggan berperang, ia bertempur setengah hati. Arjuna pun sepertinya tak sampai hati menorehkan luka pada guru, kakek sekaligus orang tuanya. Namun petarung tua itu, Bisma, tak lagi punya pilihan hidup.

Selama dan seusai peperangan ini ia melihat perpecahan hebat pada garis keturunannya. Saling bunuh itu tak terhindarkan, dendam kesumat itu tak terelakkan. Hidup lebih lama hanyalah memperpanjang siksa batinnya selama ini. Namun ia belum melihat isyarat kematian yang mendekat yang bisa mempercepat perjalanan ruhnya menuju nirwana.

”Bertarunglah dengan kesungguhan hatimu, Arjuna. Aku telah menyaksikan kebangkitan negeri trah Bharata, juga kebesaran dan kini saat kehancurannya. Aku tak melihat satu alasan untuk berlama-lama dalam kesedihan ini. Bidik sasaranmu dengan seluruh atensi, lalu lepaskan anak panah terbaikmu.”

”Bangunlah negeri ini dengan baik seusai perang, Arjuna. Aku telah mengajarkan semua ilmu kehidupan kepadamu. Juga ilmu peperangan dan ilmu pemerintahan. Berbuatlah yang terbaik untuk para kawula. Meski aku tak akan melihat lagi kejayaan negeri ini, aku yakin Hastina akan kembali memancarkan cahayanya di tanganmu dan saudara-saudaramu.”

***

Matahari telah menyemburatkan cahaya merahnya. Malaikat kematian meniupkan nafiri peperangan di kancah yang membusuk. Iblis menari menabuh genderang perang, menyoraki perpecahan saudara, menyemangati jiwa-jiwa munafik untuk lari dari peperangan.

Petarung tua itu bersiap kembali ke medan laga dengan perangkat tempurnya. Kegamangan masih menyelimuti. Ia tak yakin Arjuna yang tanpa tanding itu mau membentangkan Gandewa Dibya dan melepas Pasopati kearahnya. Keluhuran budi penengah Pandhawa itu tak akan pernah sanggup membuatnya meneteskan air mata.

Tiba-tiba wajah tua itu berbinar. Ia melihat senyum Dewi Amba terkembang di langit Kurusetra yang muram. Di ujung pasukan lawan ia telah melihat Khrisna berbisik kepada Srikandi yang gemulai berlindung di balik punggung Arjuna. Waktunya telah tiba.

Senja di hari kesepuluh, pandangan Arjuna terus memburu panglima sepuh pasukan Hastina. Di balik punggungnya Srikandi telah menyiapkan senjata terbaiknya. Sekali, hanya sekali, panah Srikandi menyentuh raganya, pahlawan terbaik Hastina itu tumbang. Arjuna menyempurnakannya dengan ribuan panah menyerbu.

Tubuh tua itu bertabur panah, roboh tak menyentuh tanah. Ia bertopang kasur anak panah yang menancap di badannya, kepalanya terkulai. ”Beri aku bantal”. Ketika Duryudana menyerahkan bantal terbaik yang ada, namun ia menolak. Arjuna menghujamkan anak panah ke tanah, tepat di belakang kepalanya, ia hanya berkata ”inilah bantal yang paling tepat untuk ksatria”.

Tak ada keluh kesakitan, hanyalah pancaran bahagia dan ketenangan. Seluruh keturunan Kuru berkumpul mengelilingi sang maharesi yang tengah menuju alam keabadian. Semua ratap dan tangis sedih itu dijawab dengan satu jawaban ”Pulangkan semua tabib, kembalikan semua pengobat lara. Hentikan tangis kalian dan tinggalkan aku sendiri di Kurusetra. Akulah Bisma, lelaki yang bisa menentukan sendiri saat kematiannya”

Kurusetra hening menyimpan kengerian. Mayat serdadu dan bangkai binatang tunggangan teronggok bisu berselimut debu. Di langit kusam, senyum Dewi Amba membentang menanti kedatangan sukma sang kekasih. Pria setengah mati itu terlentang merekam kejadian mengerikan di akhir hayatnya. Ia belum ingin berpulang. Petarung tangguh itu hanya ingin melihat peperangan segera berakhir karena ia telah menyempurnakan tugasnya sebagai guru bangsa: menyiapkan generasi penerus Hastina yang lebih baik dari dirinya sendiri.

sedjati – ramadhan 1430

26 thoughts on “Sepucuk Untuk Bisma

  1. dedekusn mengatakan:

    Kunjungan siang. Wah,,,, Tentang pewayangan ruanya. SUkses!

  2. indra java mengatakan:

    Bisma anak mana tuh??:mrgreen:

  3. Mr.o2n° mengatakan:

    Berkisah tentang pandawa ni,bgs tu alur ceritanya.

  4. peri01 mengatakan:

    nice post🙂
    salam

  5. Abula mengatakan:

    Salam Hangat Buat Bisma

  6. badruz mengatakan:

    hm…jadi kangen nih sama film seri Mahabbatain..eh mahabarata😆
    lumayan bagus sih…

    salam.

  7. oelil mengatakan:

    Penikmat wayang yo pak…banyak nilai2 falsafah yg terkandung yg bisa kita jadikan contoh ya pak..

  8. Ayahnya Ranggasetya mengatakan:

    Darah berdesir sejak dari membaca paragraf pertama.🙂

    Hebat sekali ya zaman pewayangan, bahkan kematian dapat ditentukan kapan waktu tibanya.

  9. katakatalina mengatakan:

    perang baratayuda, intrik, kasih sayang berbaur jadi satu. salam damai selalu, sobat…

  10. Hary4n4 mengatakan:

    Bisma, Bima..dua Kesatriya yg sangat saya kagumi..
    Teguh pada sumpah, dan tak ada kemunafikan..

    Terasa tersekat tenggorokan, saat membaca tulisan ini..
    Salam hangat..
    Salam damai selalu..

  11. Dan (TlsnKhdpn) mengatakan:

    Perang merupakan keniscayaan dalam hidup manusia, ada perang suci, ada perang fitnah, Semoga ALLAH menjadikan kita sebagai prajurit-Nya dalam perang suci membela kebaikan yang kan berbuah pada perbaikan, bukan perang fitnah yang membawa kekacauan dan kehancuran.

  12. sunflo mengatakan:

    hehehe… mrsedjatee nie belajar cerita wayang dari mana siih?? detail banget, aq blom pernah jumpai, kecuali cerita di majalah anak2 dl n di radio2 pas acara wayang kulit sampe pagi… ^^

  13. citromduro mengatakan:

    cerita pewayangan memang banyak mengandung filosofi

  14. citromduro mengatakan:

    tertangkap spam rupanya
    diulang disini

    cerita pewayangan banyak menyimpan filosofi

  15. citromduro mengatakan:

    sekali lagi tertangkap

    bebaskan kami dong

  16. Pejuang Kata mengatakan:

    dalam cerita ada hikmah … untaikan kata memberi arti bahwa sesungguhnya hidup ini berarti .. smoga kisah bikin kita gelisah untuk resah bahwa jaman terus berubah tetapi kesejatian musti tetep dicari

    salam hangat para pencari jejak hidup dari “Pejuang Kata”

  17. wardoyo mengatakan:

    Bhisma…bhisma… kasihan sekali dikau..
    terpenjara oleh sumpah sendiri
    dan mati oleh orang-orang yang disayangi..

  18. citromduro mengatakan:

    wah masih sempat tertangkap lagi
    kenapa bisa tertangkap???
    banyak alasan kenapa komen ditangkap sebagai spam.
    url yang diberikan dianggap sebagai spam
    tapi pengalaman saya karena terlalu cepat memberikan komentar sewaktu masih loading
    gimana tahu kalau tertangkap sebagai spam???
    komen yang masuk sebagai spam biasanya tidak keluar,
    komentar yang perlu rekomendasi biasanya akan keluar bahwa komen sedang menunggu moderasi, tapi kalau ketangkap langsung tidak kelihatan
    cek dulu sudah keluar atau tidak komen yang kita berikan

    gitu mas sedjatee pengalaman saya

    makasih ya telah mengeluarkan komentar saya yang tertangkap

  19. Kakaakin mengatakan:

    Saya masih susah memahami kisah pewayangan ini😦

  20. sunarnosahlan mengatakan:

    meskipun nyaris hafal kisahnya, namun selalu suka untuk membaca kembali, sayang sampai saat ini saya masih belum menemukan kisah mahabarata yang utuh dalam bentuk satu buku, sedangkan ramayana sudah saya koleksi

  21. dedekusn mengatakan:

    Kunjunga siang , sambil baca2 sepucuk untuk Bisma🙂

  22. endang kusman mengatakan:

    Makasih atas kunjungannya ke blog saya. Postingannya sama dengan blog saya yang ini

  23. irvan mengatakan:

    mohon info tentang kisah R.Wisanggeni, putra arjuna,beserta gambarnya..
    kirim ke email : chungbuk_mview@yahoo.com
    makasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: