04. Meninggalkan Shalat [bagian #1]

Allah berfirman: Maka datanglah sesudah mereka , pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh (Maryam: 9-60)

Ibnu Abbas berkata, “Makna menyia-nyiakan shaiat bukanlah meninggalkannya sama sekali. Tetapi mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya”

Imam para tabiin, Sa’id bin Musayyib berkata, “Maksudnya adalah orang itu tidak mengerjakan shaiat Zhuhur sehingga datang waktu Ashar. Tidak mengerjakan shaiat ‘Ashar sehingga datang Maghrib. Tidak shaiat Maghrib sampai datang Isya’. Tidak shalat ‘Isya’ sampai fajar menjelang. Tidak shaiat Shubuh sampai matahari terbit. Barangsiapa mati dalam keadaan terus-menerus melakukan hal ini dan tidak bertaubat, Allah menjanjikan baginya Ghayy’, yaitu lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam dasarnya lagi sangat tidak enak rasanya.”

Di tempat yang lain Allah berfirman: maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat , (yaitu) orang-orang yang lupa akan shalatnya. (Al-Maun: 4-5) Orang-orang lupa adalah orang-orang yang lalai dan meremehkan shalat.

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang orang-orang yang lupa akan shalatnya. Beliau menjawab, ‘Yaitu pengakhiran waktunya.”

Mereka disebut orang-orang yang shalat. Namun ketika mereka meremekan dan mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya, mereka diancam dengan ‘wah’, adzab yang berat. Ada juga yang mengatakan bahwa ‘wah’ adalah sebuah lembah di neraka jahannam, jika gunung- gunung yang ada di dunia ini dimasukkan ke sana niscaya akan melelehlah semuanya karena sangat panasnya. Itulah tempat bagi orang-orang yang meremehkan shalat dan mengakhirkannya dari waktunya. Kecuali orang-orang yang bertaubat kepada Allah Ta’ala dan menyesal atas kelalaiannya.

Di ayat yang lain Allah berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.(Al-Munafiqun: 9)

Para mufassir menjelaskan, “Maksud ‘mengingat Allah ‘ dalam ayat ini adalah shalat lima waktu. Maka barangsiapa disibukkan oleh harta perniagaannya, kehidupan dunianya, sawah-ladangnya, dan anak-anaknya dari mengerjakan shalat pada waktunya, maka ia termasuk orang-orang yang merugi .” Demikian, dan Nabi pun telah bersabda: Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika shalatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah ia.”

Berkenaan dengan penghuni neraka Allah berfirman, Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat , dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang bathil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian’ Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat (Al-Muddatstsir: 42-48)

Nabi bersabda: Sesungguhnya ikatan (pembeda) antara kita dengan mereka adalah shalat . Barangsiapa meninggalkannya, maka telah kafirlah ia.”

Beliau juga bersabda: “Batas antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat. Rasulullah juga bersabda: “Barangsiapa tidak mengerjakan shalat ‘ Ashar , terhapuslah amalnya. Juga, Maka, apabila shalatnya baik, baik seluruh amalnya , dan apabila rusak shalatnya, rusak seluruh amalnya. Lihat dalam Shahih Al- Jami’ (2573).

“Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja , sungguh telah lepaslah jaminan dari Allah .” 40 Juga, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengu-capkan ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada yang berhak diibadahi selain Allah) dan mengerjakan shalat serta membayar zakat. Jika mereka telah memenuhinya maka darah dan hartanya aku lindungi kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya maka itu kepada Allah .”

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menjaganya maka ia akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari kiamat nanti. Sedangkan yang tidak menjaganya maka tidak akan memiliki cahaya , bukti , dan keselamatan pada hari itu. Pada hari itu ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Qarun , Haman, dan Ubay bin Khalaf .”

Umar bin Khathab berkata, “Sesungguhnya tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan shalat.” Sebagian ulama berkata, “Hanyasanya orang yang meninggalkan shalat dikumpulkan dengan empat orang itu karena ia telah menyibukkan diri dengan harta, kekuasaan, pangkat/ jabatan, dan perniagaannya dari shalat. Jika ia disibukkan dengan hartanya ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Jika ia disibukkan dengan kekuasaannya ia akan dikumpulkan dengan Fir’aun. Jika ia disibukkan dengan pangkat/ jabatannya ia akan dikumpulkan bersama Haman. Dan jika ia disibukkan dengan perniagaannya akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf, seorang pedagang yang kafir di Mekah saat itu.”

Mu’adz bin Jabal meriwayatkan Rasulullah bersabda: Barangsiapa meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, telah lepas darinya jaminan dari Allah.”

Umar bin Khathab meriwayatkan, telah datang seseorang kepada Rasulullah bertanya, “Wahai Rasulullah, amal dalam Islam apakah yang paling dicintai oleh Allah ta’ala?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya. Barangsiapa meninggalkannya sungguh ia tidak lagi memiliki dienlagi, dan shalat itu tiangnya dien ”

Kala Umar terluka karena tusukan seseorang mengatakan, “Anda tetap ingin mengerjakan shalat, wahai Amirul Mukminin?” “Ya, dan sungguh tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyialan shalat.”, jawabnya. Lalu ia pun mengerjakan shalat meski dari lukanya mengalir darah yang cukup banyak .

Abdullah bin Syaqiq -seorang tabiin- menuturkan, “Tidak ada satu amalan pun yang meninggalkannya dianggap kufur oleh para sahabat selain shalat.”

Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang seorang wanita yang tidak shalat, menjawab, “Barangsiapa tidak shalat telah kafirlah ia .”

Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa tidak shalat maka ia tidak mempunyai dien .”

Ibnu Abbas berkata, “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja sekali saja niscaya akan menghadap Allah yang dalam keadaan murka kepadanya .”

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyia-nyiakan shalat, Dia tidak akan mempedulikan suatu kebaikan pun darinya .”

Ibnu Hazm berkata, ‘Tidak ada dosa yang lebih besar sesudah syirik selain mengakhirkan shalat dari waktunya dan membunuh seorang mukmin bukan dengan haknya.”

Ibrahim an-Nakha’iy berujar, ‘Barangsiapa meninggalkan shalat maka telah kafir.” Hal senada diungkapkan oleh Ayyub as-Sikhtiyaniy.

‘Aun bin Abdullah berkata, “Apabila seorang hamba dimasukkan kedalam kuburnya, ia akan ditanya tentang shalat sebagai sesuatu yang pertama kali ditanyakan. Jika baik barulah amal- amalnya yang lain dilihat. Sebaliknya jika tidak baik, tidak ada satu amalan pun yang dilihat (dianggap tidak baik semuanya)

Beliau bersabda, ” Apabila seorang hamba mengerjakan shalat di awal waktu , shalat itu -ia memiliki cahaya- akan naik ke langit sehingga sampai ke ‘ arsy , lalu memhonkan ampunan bagi orang yang telah mengerjakannya, begitu seterusnya sampai hari kiamat. Shalat itu berkata “Semoga Allah menjagamu sebagaimana kamu telah menjagaku.” Dan apabila seorang hamba mengerjakan shalat bukan pada waktunya, shalat itu -ia memiliki kegelapan- akan naik ke langit. Sesampainya di sana ia akan dilipat seperti dilipatnya kain yang usang lalu dipukulkan ke wajah orang yang telah mengerjakannya. Shalat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu telah menyia-nyiakanku”

Rasulullah bersabda: “Ada tiga orang yang shalatnya tidak diterima oleh Allah; seseorang yang memimpin suatu kaum padahal kaum itu membencinya, seseorang yang mengerjakan shalat ketika telah lewat waktunya, dan seseorang yang memperbudak orang yang memerdekakan diri.”

Beliau juga bersabda, ” Barangsiapa menjama’ dua shalat tanpa udzur, sungguh ia telah memasuki pintu terbesar diantara pintu-pintu dosa besar .”

Mengajarkan Shalat Kepada Anak

Rasulullah bersabda: “Perintahkanlah kepada anak-anakmu untuk shalat jika mereka telah mencapai umur tujuh tahun . Dan jika telah berumur sepuluh tahun pukullah dia jika meninggalkannya .” Dalam riwayat yang lain: Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun , dan pisahkanlah tempat tidur diantara mereka .”

Imam Abu Sulaiman al-Khaththabiy berkata, “Hadits ini menunjukkan betapa beratnya hukuman bagi orang yang meninggalkan shalat jika telah mencapai akil balighnya.”

Sebagian sahabat Imam Syafi’i berhujjah dengan hadits ini dalam kaitannya dengan kewajiban membunuhnya, jika ia meninggalkannya dengan sengaja setelah baligh. Mereka berkata, ‘jika ia boleh dipukul padahal belum baligh, maka ini menunjukkan bahwa setelah baligh nanti ia harus dikenai hukuman yang lebih berat darinya. Padahal tidak ada hukuman yang lebih berat setelah pukulan selain dibunuh.”

Judul : Al Kabaair (Dosa-Dosa Besar)

Penulis: Syamsuddin Muhammad bin Utsman bin Qaimaz At-Turkmaniy Al-Fariqiy Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi’iy (Imam Adz Dzahabi)

Penerbit: Maktabah Al-Malik Fahd Al-Wathaniah

Penerjemah: Abu Zufar Imtihan Asy-Syafi’i,

Penerbit: Pustaka Arafah – Solo, Cetakan: V. Mei 2007.

Diringkas oleh penulis blog dari : kampung sunnah

Iklan

13 pemikiran pada “04. Meninggalkan Shalat [bagian #1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s