Kisah Sendu Memorabiliaku

24

Februari 11, 2010 oleh sedjatee

Temanggung, tujuh belas tahun yang lalu.

Tiba-tiba sebuah sepeda terparkir di ruang utama rumah kami. Kami hanya terdiam memandangnya dalam bahagia. Saat itu juga kami harus tersadar bahwa benda itu akan mengubah banyak hal dalam kehidupan kami. Ia akan mengurangi pemakaian energi tubuh kami untuk mengangkat pupuk atau hasil panen padi misalnya. Bagaikan sebuah simbol status, dengan penuh rasa bangga, ayah, aku dan adikku bergiliran memakainya. Terlebih untukku, sepeda itu menggenapi kehadiranku bersama teman-teman SMA di bangku sekolah, bermain gitar, bertanding sepakbola atau belajar bersama.

Setelah menemani masa SMAku dengan sempurna, pagi ini aku memarkir harta terbaik kami, sepeda kebanggan kami pada penitipan sepeda di terminal bus. Hari ini, apapun yang terjadi, masa depanku ditentukan. Aku telah berpamitan dan memohon doa kepada ayah, ibu dan kedua adikku untuk perjuanganku beberapa minggu lalu dan nasibku pagi ini.

Bus antar kota yang kunaiki akhirnya menembus Yogya. Rasa gamang kembali menyeruak ke dalam hati. Sanggupkah aku, lulusan SMA yang hanya mengenal sepeda, bersaing dengan mereka yang terbiasa dengan motor hebat dan mobil berkilat. Sembari menahan lapar aku tertatih ke papan pengumuman. Lembar demi lembar, baris demi baris, ketika optimisme tinggal setipis rambut, akhirnya kutemukan satu nama. Dada terasa sesak, tanpa sadar air mata meleleh. Aku mendapatkan hari terindah dalam hidup, hari ini, jalan perubahan masa depanku terbentang. Letih dan lapar hilang seketika. Aku berhasil.

Gerimis menyiramku saat aku turun di terminal. Aku memberikan lembaran terakhir uang bekalku kepada penjaga penitipan sepeda dengan sesungging senyum yang ia tak tahu maknanya. Belasan kilometer masih terbentang hingga rumahku, namun aku terus mengayuh dengan semangat tertinggi. Aku tersenyum kepada mendung dan hujan, aku tersenyum kepada pepohonan dan sawah yang menghampar, aku tersenyum kepada gembala dan petani, aku tersenyum kepada perigi jernih di pinggiran jalan yang ku lalui. Akhirnya roda sepeda melambat di jalan kecil di pinggiran rumpun bambu, dan aku mengepalkan tanganku ke langit dan senyum yang kukirim untuk ayah dan ibu. Di ujung sana, di teras rumahku yang bersahaja, menangkap isyaratku yang bermakna bahwa Tuhan telah mengabulkan doa kami, aku diterima di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

Hari-hari berikutnya, tiada hari tanpa bersepeda, aku melengkapi segenap persyaratan dan dokumen yang menjadi bekal untukku meraih status mahasiswa. Sepeda kami, tanpa keluh dan lelah terus menemani kami, dalam duka dan bahagia. Lalu tiba saatnya mengucapkan kata-kata pamit. Sore ini aku harus ke Jakarta. Aku telah siap menyandang status mahasiswa dengan setumpuk berkas di tas sekolahku. Dan akhirnya di ujung siang itu, ayah mengulurkan uang untuk bekal aku keberangkatanku setelah pagi tadi membawa sepeda kami ke pasar. Aku meninggalkan rumah dengan hati perih. Aku kehilangan sebuah memorabilia yang telah menemaniku meraih sebuah mimpi yang lebih indah.

Temanggung, tujuh belas tahun kemudian

Sore yang teduh, aku memboncengkan ayah dengan sepeda motor menikmati udara musim kemarau yang tak begitu panas. Jalanan yang kulalui masih sama, penuh tanjakan, dihiasi kokoh mahoni menjulang di tepian kiri dan kanan, serta hamparan tanaman padi di musim penghujan yang berganti menjadi bentangan kebun tembakau di musim kemarau. Dahulu jalanan ini penuh jejak roda sepeda kami dan dengus nafas memburu yang selalu dihiasi senyum dan canda ceria. Kini, waktu telah mengubahnya. Hanya kepulan asap dan raung knalpot yang menggantikan dering bel sepeda kami. Tanpa sengaja kami memperbincangkan sepeda kami dahulu, lalu kami terdiam, mengenang sejenak sebuah kisah sendu sebuah memorabilia yang akan menjadi bagian dari sejarah keluarga kami.

==00==

Tulisan ini saya persembahkan sebagai partisipasi pada hajatan yang digelar saudaraku tercinta Mister Isromachfudin di humberqu-nya yang meriah. Menyambut undangan beliau di http://isro-m.com/pengalaman-mengesankan-dalam-bersepeda.html saya hanya memiliki sebuah kenangan tentang sepeda. Maaf fotonya gak orisinil, sekadar ilustrasi semata, foto benerannya ada di kampung nun jauh di sana, mepetnya dateline rasanya tak cukup waktu buat mengambil dan memindainya. Salam hormat buat tuan rumah yang punya acara. Semangat…

24 thoughts on “Kisah Sendu Memorabiliaku

  1. ina mengatakan:

    Jadi sedih membacanya ihik-ihik…masa lalu akan tetap indah untuk dikenang…sukses selalu akh sedjatee…

  2. Hary4n4 mengatakan:

    Semoga masa lalu itu, akan menghiasi hari2 indah ke depan.. Selamat untuk ikutan kontes sepedanya. Moga sukses, sobat..
    Salam hangat dan damai selalu..

  3. kopral cepot mengatakan:

    roda kehidupan slalu terpatri dalam memori anugrah Ilahi….
    roda kehidupan slalu memberi arti bagi hidup sang futuris sedjatee
    roda kehidupan …. dibaca hari demi hari direngkuh waktu demi waktu

    sukses braaatar sedjatee😉

  4. Pejuang Kata mengatakan:

    duduk terpaku menatap waktu
    spedah itu …
    berdiri melihat jari-jari penghubung roda hari
    spedah itu …
    berjalan menggoes dengan tapak kaki jalan mendaki
    spedah itu …

    sang kata hanya berkata “salam sukses” braatar sedjatee

  5. z4nx mengatakan:

    sangat menyentuh..jadi inget ketika abah+ambu berbahagia ketika anaknya ni mendapat kerjaan setelah mereka banting tulang membiayai sekolah..
    seandainya manusia boleh menyembah manusia..merekalah satu2nya yang aku sembah setelah sang idola abadi, Muhammad saw..
    jadi pengen nangis..

  6. darahbiroe mengatakan:

    wah ikud ngontes sepeda juga nuyy sukses yaw untuk sepedanya hehhe

    berkunjung lagi dan ditunggu kunjungan baliknya lagi makasih😀

  7. sunarnosahlan mengatakan:

    perjuangan keluarga yang luar biasa, sukses sobat, sekarang sudah jadi pejabat?

  8. Dangstars mengatakan:

    Kenangam yang indah,selamat berlomba
    Semoga sukses

  9. Dangstars mengatakan:

    Mantap Boz,,, and ceria selalu 😛

  10. zipoer7 mengatakan:

    Salam Takzim
    Selamat pagi kang, mohon maap baru bisa hadir, terimakasih saya sampaikan atas partisipasi yang diberikan kepada humberqu, sekalian izin menyerahkan artikel ini ke dewan Juri ya
    Salam Takzim Batavusqu

  11. leysbook mengatakan:

    Atas permintaan Mas Isro, saya ijin menjemput artikelnya.
    Terima kasih.
    Salam hangat selalu🙂

  12. sunflo mengatakan:

    mr sedj mau ikutan kompetisi juga yaa… ternyata masing2 punya pengalaman bersepeda yang mengesankan yaa…^^

  13. Hajier mengatakan:

    Hiks hiks…. Saya terharu membacanya.
    Kenangan selalu indah dan selalu mengharukan saat dikenang.

    Menitipkan sepeda trus keluar kota, ah….saya rindu juga saat2 itu…

  14. citromduro mengatakan:

    wah ceritanya mangstab kang

  15. tomi mengatakan:

    salam broo😀
    semoga menang dalam kontesnya😀

  16. badruz mengatakan:

    selamat sore mas, selamat mengawali pekan ini

  17. badruz mengatakan:

    mantap nih pengalaman onthe-onthelnya..
    semoga sukses di humberqu

    salam.

  18. badruz mengatakan:

    Kang Yayat bakalan bingung and pusing nih memilihnya…semua bagus2

  19. […] Alamendah 44. Bang Idepp 45. Mba Jumia Lely 46. Mbak Githa Gussova 47. Bunda Lily 48. Mas Hardjanto 49. Kang Sedjatee 50. Mbak Mimi Fanty 51. Mbak Erry Andriyati 52. Mbak Desri Susilawani 53. Mbak Dina Yuniar 54. Bang […]

  20. dinda mengatakan:

    ceritanya bagus,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: