Hentikan Tangismu, Sasi

21

Februari 15, 2010 oleh sedjatee

Pancaka yang tadi menggelegak perlahan menyurutkan kobarannya. Para tetamu telah berpamitan kepadaku dan meninggalkan Pringgodani untuk kembali ke kancah Kurusetra yang haus darah. Sisa api dan asap putih dari panggung pembakaran jasad itu terus membubung ke langit gelap, diselingi gemeretak kayu cendana yang harum terbakar. Biarlah aku tetap disini menguras air mataku. Selama asap itu masih mengepul aku akan terus tegak disini. Cukuplah kesunyian itu dialami sepanjang hidupnya saja. Kini di alam keabadiannya, akan kutemani perjalanan sukmanya agar ia tak merasakan kesunyian itu lagi.

Sasi, Hentikan tangismu. Akulah yang paling pantas untuk terus menangis. Aku tak menangisi kematiannya, karena ia gugur dengan kepahlawanan yang gagah berani. Ia gugur secara terhormat di tangan seseorang yang sama sekali bukan tandingannya. Adipati Karna yang melepaskan Kunta Wijayadanu ke tubuhnya, hanya bisa ditandingi oleh ayahku, bukan ayahmu. Itulah sekelumit kebanggaan yang harus tersemat di dadamu.

Sasi, Bertanyalah tentang ayahmu kepada nenekmu Arimbi, meski itu berarti engkau menggali lagi jurang kesedihannya. Kesedihan seorang ibu yang tak diberi waktu untuk menimang si buah hati. Ayahmu terlahir begitu cepat ketika nenekmu belum puas mendidik di dalam rahimnya. Bahkan ayahmu direnggut dari buaian dengan tali pusar yang belum terpotong, lalu para dewa menceburkannya ke Kawah Candradimuka bersama segenap senjata kahyangan. Lalu ayahmu terbang menginggalkan kawah sebagai seorang ksatria tanpa tanding. Pandawa dan para dewa bersorak, karena kini mereka punya petarung yang digjaya, namun sesungguhnya itu menjadikan hati nenekmu semakin perih.

Sasi, Bernyanyilah menghiburku. Itulah lagu yang tidak sempat diajarkan oleh Arimbi kepada ayahmu. Mainkanlah boneka dan mainan yang tak sempat dipegang oleh ayahmu. Ia hanya bergulat dengan peperangan yang terkadang ia tak tahu mengapa ia harus melakukannya. Ia tak sempat cengkerama dengan masa kanak-kanak seperti Kangmas Antareja dan Antasena, ia hanya bercengkerama dengan raksasa dan para pemberontak yang mengganggu negara, lalu ia bergulat untuk membunuh, atau terbunuh. Ia tidak pernah bermain-main perang-perangan dengan teman sebayanya. Ia hanya mengenal peperangan yang sesungguhnya, dan menjadikan nyawa sebagai taruhannya.

Sasikirana anakku, simpan senjatamu. Menjauhlah dari hasutan yang memengaruhimu terjun ke Kurusetra. Lebih baik engkau belajar terbang, seperti mendiang ayahmu. Sasi, akan kupenuhi hatimu dengan belai kasih sayangku. Akan kujadikan dirimu sebagai pria yang sempurna, meski engkau adalah putra ksatria yang hatinya beku sedingin salju. Mari bermain, Sasi. Biarlah nestapa ini pupus oleh canda dan keceriaanmu. Engkaulah duniaku yang tersisa.

Dewata, teduhkan terik mentarimu dan biarkan Sasikiranaku bermain, berlari dan menerbangi awan-awan melatih kepak tangannya. Dewata, turunkanlah hujan karena ingin kulihat Sasikiranaku bercanda riang dengan teman sepermainannya bermandi gerimis. Dewata, beri kesempatan bagiku untuk menunaikan pesan mendiang suamiku, Kangmas Gatotkaca, untuk mendidik bocah yatim itu menjadi pembela kebenaran. Beri kekuatan kepadaku untuk tetap dapat berdiri tegak didepan pancaka yang masih mengepulkan asap, membubungkan harapanku ke tempat tertinggi.

–%–

Pancaka itu kini sepenuhnya padam. Lalu Pregiwa, wanita sedih berbusana hitam itu menatap langit sembari tersenyum. Di sana, di langit Pringgodani, Sasikirana, buah hatinya, kini terbang segagah mendiang ayahnya…

21 thoughts on “Hentikan Tangismu, Sasi

  1. Hary4n4 mengatakan:

    cantik sekali penggambaran kisah yg kau tulis ini, sobat..
    smoga satria2 sejati, akan selalu hadir di bumi ini..
    dan peperangan itu, adalah jalan bagi lahirnya kesatria sejati..

    salam hangat dan damai selalu…

  2. darahbiroe mengatakan:

    sungguh sob km pandai merangkai kata2 indah nian kata2 cerpen gatotkaca ini heheh

    mantapp

  3. z4nx mengatakan:

    bener..keren..dibikin buku aja sob..

  4. kopral cepot mengatakan:

    sepertinyah masih ada kelanjutannyah … Sasikirana sang ksatria, keawamanku tercerahkan disinih..
    btw .. mas ngak maen fb kayak mas wardoyo ?😉
    satu lagie bila ceritah inih semuah tlah jadi buku … kasih tau yah
    Salam ..

  5. sunflo mengatakan:

    oh, tnyata nama sasikirana tuh dari kisah bharatayudha juga yaa… baru ngeh… ^^

  6. Abula mengatakan:

    mantap,,, terasa nikmat membaca untaian kata yang dikau rangkai…

    Salam Hangat Selalu

  7. dedekusn mengatakan:

    Untaian yg penuh makna pastinya, Mas Sedjatee ternyata cerdas dalam bercerita terutama cerita2ini🙂

  8. darahbiroe mengatakan:

    maaf baru bisa merespon

    link anda sudah saya pasang di blog saya mohon di cek balik,

    makasihh

    dan kalau bisa request link balik saya kasih nama “tips n trick blog facebook gratis”

  9. ABDUL AZIZ mengatakan:

    Menarik sekali Mas, kisahnya. Saya sebenarnya tidak akrab dengan tokoh-tokoh cerita ini, tapi apa yang diungkapkan sangat menarik. Ada semangat optimisme, kasih sayang, dan kepedulian yang sangat terasa dari cerita ini.

    Terima kasih Mas,
    Salam.

  10. yusrizal mengatakan:

    Sukses terus sedjatee…. dengan cerita-cerita yang semakin mantap!!!

  11. arkasala mengatakan:

    susunan kata pilihan di artikel ini. Inspiratif Mas.
    Terima kasih sekali kunjungannya ke Blog saya.
    Semoga persahabatan kita akan terjalin dengan baik.
    Salam hangat selalu🙂

  12. citromduro mengatakan:

    memang mangstab dengan pewayangan sebagai latar

    sukses dan mangstab sobat

    dari pamekasan madura mengucapkan salam dengan membawa citrohadidan maduraexpress

  13. […] kerumah cari kesejatian di sedjatee. Masih cerita pewayangan disana. Mangstabs dan hebat dalam mencari jejak […]

  14. Kakaakin mengatakan:

    Tetep konsisten ya, Mas…🙂

  15. ariefmas mengatakan:

    Kisah perang bharatayuda, kisah perang yang saya suka.
    Menunggu lanjutan tulisannya..

    Jadi inget widya sasi kirana, ternyata kilatsih🙂 : bende mataram.

  16. triswlaharwtnbms mengatakan:

    blog yang bagus..

    salam
    http://trisnowlaharwetan.wordpress.com

  17. sasi kirana mengatakan:

    mas…blog yang sangat menarik..ijin ya untuk mengcopy-nya…

  18. Adran mengatakan:

    Saya selalu tertarik dan begitu meresapi cerita kayak gini. Semua seolah nyata, dan jiwa ini seakan saksimata dari peristiwa yg terjadi. Mantap Mas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: