Mendadak Pisbuk

Jikalau ibunda Mark Zuckerberg hidup di tengah-tengah masyarakat latah hari ini, mungkin ia akan turut berjibaku memproteksi anak gadisnya (kalau ada) untuk tidak berkenalan dengan makhluk keparat bernama Pisbuk atau mungkin malah ia menjadi mendadak pisbuk. Setidaknya inilah fenomena masyarakat latah belakangan ini. Merebaknya kasus anak perawan yang ilang karena diduga dijarah oleh teman Pisbuknya yang berwatak penyamun, menjadikan jejaring pertemanan buatan Mark Zuckerberg ini sebagai biang kerok.

Pisbuk memang aneh bin ajaib. Gara-gara umpatan virtualnya di jejaring ini, empat bocah terdepak dari sekolahnya. Padahal tanpa pisbuk hampir tiap hari para murid bergunjing di kantin, di sudut sekolah atau di dekat kakus tentang guru paling galak, paling pelit nilai dan paling sering menghukum di kelas, termasuk dengan sumpah serapah dan kutukan paling sarkastis di dunia.

Mendadak pisbuk. Segerombolan ibu-ibu gaptek binti katrok wal kuper yang tak melek internet, apalagi pisbuk, menjadi latah mencela teknologi. Padahal bisa jadi anak gadisnya ilang digondol wewe gombel karena pipis di bawah pohon atau diangkut pamong praja karena ngutil di warung rokok. Dan yang paling miris tentunya adalah seorang kepala daerah yang mendadak pisbuk lalu blusukan di siang bolong ke warnet-warnet untuk mengintai situs-situs yang diakses anak-anak sekolah. Seorang pengamat demokrasi mengomentarinya sebagai tindakan latah binti lebay.

Menurut tukang ramal togel dan para pemulung, fenomena lebay diyakini telah menjalar dan menjadi endemi di kalangan penguasa. Fobia demo kerbau yang menyerang bos besar sehingga ia disebut lebay, ternyata berdampak sistemik ke orang-orang disekitarnya. Kepala daerah tiba-tiba ketularan fobia pisbuk. Dan dalam rangka melestarikan budaya latah seorang mantri mulai terserang gejala fobia konten internet. Dan dampak sistemik mendadak pisbuk tadi akhirnya menular ke makhluk paling gaptek sekalipun.

Meski bukan penganut aliran Jamaah Fizbuqiyah, saya merinding melihat semangat orang-orang hendak menumpas pisbuk. Mereka itu, seperti orang yang hendak menangkap pelanduk dengan cara membakar hutan. Apa yang salah dengan benda mati? Baek atau bejatnya si Pisbuk itu tergantung si pemakai. Bukan salah pisbuknya jika ada gadis ingusan yang klepek-klepek dihipnotis rayuan gombal arjuna gadungan di jalur internet.

Seorang kawan berkisah tentang seorang ibu yang melapor ke polisi karena anaknya belum pulang ke rumah. Si polisi (yang sedang terserang wabah mendadak pisbuk) melontarkan pertanyaan pertama ”apakah anak ibu sering menggunakan pisbuk?” si ibu yang absolutely gaptek ini mak klakep, bengong lalu balik bertanya ”pisbuk itu apaan?”. ya Tuhan, semoga sendalku ini tidak hilang di stasiun, karena jika aku kehilangan sendal, maka aku pasti ditanya ”siapa saja teman sendalmu di pisbuk?” .

Mari kita hargai teknologi, lebih dari itu, mari kita hargai hak asasi. Ini bukan pembelaan untuk Mark Zuckerberg yang setengah mati gak bakalan sudi membagi sepeserpun keuntungannya karena saya menulis coretan ini. Ini hanyalah sebuah himbauan moral: jangan fobi, jangan paranoid, jangan menjadi orang latah.

Seorang rekan mengunggah tulisan yang berisi kekhawatiran eksistensi budaya menulis jika para penguasa sampai hati kepada pengelana jagad maya dengan membuat aturan tentang konten multimedia. Seorang bloger yang lain melihat benang merah mulai dari kekuatan jejaring maya menggalang dana dan opini, fobia demo kerbau, takhayul tentang pemakzulan hingga munculnya rencana pemasungan hak asasi berupa konten multimedia. Kebebasan mengemukakan pendapat, salah satu yang paling asasi dari setiap kita, kini dipagari oleh sederet aturan mulai UU Informasi dan Transaksi Elektronik, UU pers dan UU Penyiaran, RUU Perkawinan (gak nyambung) dan kini akan ada satu jerat baru bernama konten multimedia, apapun bentuknya.

Mari kita berdoa sampai Tuhan menangis, semoga aksesabilitas teknologi bangsa ini tak menjadi semakin mengenaskan karena bayang-bayang pembungkaman yang semakin menggentayang. Mari kita bermimpi agar Dewan yang mulia bersikap bijaksana. Berpendapat adalah hak asasi dan jika seorang mantri ingin memelintir kebebasan berpendapat maka harus dengan Undang-undang, tak cukup dengan peraturan. Mari kita berharap agar ide mengatur konten multimedia itu hanya sensasi mengais popularitas semata, bukan sungguh-sungguh untuk mengekang rakyat. Semoga akun twitter pak mantri yang konon telah ditaut puluhan ribu pengikut ini tambah rame. Juga akun pisbuknya pak mantri yang konon telah dijejali oleh puluhan ribu teman ini semakin meriah dan ia menjadi lebih ngetop, mendadak pisbuk gitu loh.

Iklan

29 pemikiran pada “Mendadak Pisbuk

  1. Hanya gara2 beberapa orang yang menyalahgunakan teknologi, akhirnya banyak yang beranggapan kalo tekbologi itu membahayakan. Huhh… serba salah jadinya. Dikasih teknologi malah dislahgunakan, gak dikasih teknologi, ketinggalan zaman. maunya apa eh orang2 diluar sana?!

  2. sarana yang mudah untuk bebas berekspresi dan bergaul dimanfaat dengan semestinya. Ibarat pisau bermata dua kali ya, kadang dimanfaat baik kadang juga jadi sarana untuk sesuatu yang buruk.
    Trims atas artikelnya yang menarik ini.
    Salam hangat selalu 🙂

  3. smua itu tergantung yang menggunakanya,, jika yang menggunakan tehnologi itu untuk kebaikan maka akan berbuah baik jika disalah gunakan ya bgitulah hehe

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasihh 😀

  4. Penting sekali membangun kesadaran bahwa pisbuk atawa blog hanya ada di dunia maya, bukan dunia nyata. Yang keblasuk di pisbuk itu persis fenomena ibu2 di kampung yang membenci artis sinetron karena peran antagonis yang dimainkannya.
    Semua berakar dari ketidaktahuan. Itulah akibatnya jika tidak bisa membedakan dunia nyata dan dunia “tidak nyata”.

  5. buat kakaakin dan andi suwaidi: pengen diculik sama teman pisbuknya ya?? wadhuh perlu ganti foto tuh, hehehe….

    salam sukses,.
    sedj

  6. huwadooohhh udah ketinggallan posting banyak nie…. maaf mr, bru bisa bkunjung, hbis ke mekkah, n lagi demen bikin pastel goreng… :mrgreen:
    ntar baca dulu bru komeng ya…

  7. fisbuk lagi yaaa?? 😕
    aq malah punya 2 akun, mr…. hehehe… :mrgreen:
    tapi tgantung usernya laah… segala sesuatu ditentukan oleh pemakainya… krn si pemakai itu dikaruniai olehNya akal pikiran dan jalan tuk dipilih dan kelak dipertanggungjawabkan… demikian… ^^

  8. bahasan tentang “pisbuk” emang lagi in nih sekarang bang,,
    betul banget nih gambaran abang di tulisan ini, emang itu tuh kerjaan orang sekarang, termasuk saya kalo di kantor hehehee
    salam kenal bang

  9. terkadang yang suka membesar besarkan kan bahasa media.. . berita biasa jadi luar biasa kalo di bumbui oleh sesuatu yang lagi in…
    sementara pembaca ndak siap menyikapi dan mencerna….. hiks
    btw..sandalnya lucu juga… hi3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s