07. Tidak Berhaji Padahal Mampu

Allah berfirman, Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah , yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (Ali-‘Imran: 97)

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan yang dapat mengantarkannya haji ke Baitullah tetapi tidak melakoninya , semoga saja ia tidak mati sebagai seorang yahudi atau nasrani.” Yang demikian itu karena Allah telah berfirman, Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah , yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”

Um’ar bin Khaththab berkata, “ Sungguh , aku pernah berkeinginan untuk mengutus beberapa orang ke berbagai penjuru negeri untuk melihat siapa saja yang sehat dan memiliki bekal tetapi tidak berhaji agar diminta jizyahnya serta menganggap mereka sebagai non muslim

Abdullah bin Abbas berkata, “Barangsiapa memiliki harta yang cukup untuk menunaikan ibadah haji tetapi ia tidak menjalankannya atau memiliki harta sampai sebatas nishab tetapi ia tidak membayarkan zakatnya , niscaya akan meminta rajah (kembali) di kala mati.” Seseorang berujar, “Bertaqwalah kepada Allah , wahai Ibnu Abbas. Hanyasanya orang-orang kafir sajalah yang meminta rajah!” Ibnu Abbas pun menjawab, ‘Akan aku bacakan satu ayat. Allah berfirman, “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu,” lalu ia berkata: “Ya Rabbku , mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh” (Al-Munafiqun: 10)

Maksud bersedekah adalah membayar zakat, dan maksud menjadi salah seorang saleh adalah menunaikan haji.” Seseorang bertanya, “Berapa nishab harta?” “Jika uang perak telah mencapai 200 dirham atau uang emas yang setara dengannya, wajib dikeluarkan zakatnya’, jawab Ibnu Abbas. “Apakah yang mewajibkan haji?”, tanya seseorang lagi. Beliau menjawab, “Perbekalan dan kendaraan.” Sa’id bin Jubair bercerita, “Seorang tetanggaku yang kaya tetapi belum berhaji maninggal, dan aku tidak menshalatinya.”

Judul : Al Kabaair (Dosa-Dosa Besar)

Penulis: Syamsuddin Muhammad bin Utsman bin Qaimaz At-Turkmaniy Al-Fariqiy Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi’iy (Imam Adz Dzahabi)

Penerbit: Maktabah Al-Malik Fahd Al-Wathaniah

Penerjemah: Abu Zufar Imtihan Asy-Syafi’i,

Penerbit: Pustaka Arafah – Solo, Cetakan: V. Mei 2007.

Diringkas oleh penulis blog dari : kampung sunnah

16 pemikiran pada “07. Tidak Berhaji Padahal Mampu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s