08. Mendurhakai Orang Tua

Allah berfirman, Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah” dan janganlah kamu memben- tak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al-Israk 23)

Yang dimaksud dengan ‘berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya’ adalah berbakti, mengasihi dan lemah lembut kepada keduanya. Yang dimaksud dengan ‘membentak mereka’ ada-lah berbicara secara kasar di kala keduanya memasuki usia senja. Seyogyanyalah kita berkhidmah kepada keduanya sebagaimana mereka telah mengurus kita. Apapun, mereka tetap lebih baik. Bagai-mana mungkin bisa sama, keduanya telah menanggung derita karena kita demi mengharapkan kehidupan kita, sedangkan kita jika pun menanggung derita karena keduanya kita mengharapkan kematian-nya. Mana mungkin bisa sama? Adapun yang dimaksud dengan ‘perkataan yang mulia’ adalah perkataan yang lembut lagi santun.

Allah berfirman: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlahd’Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagai-mana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra 24) Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. (Luqman: 14) Mari kita renungkan, betapa Allah telah menyertakan syukur kepada keduanya dengan syukur kepadaNya.

Ibnu Abbas berkata, “Ada tiga ayat yang diturunkan oleh Allah bersama tiga penvertanva. Allah tidak akan menerima salah satunya jika tidak disertakan ikutannya. Yaitu firman Allah Taatilah, Allah dan taatilah Rasul’. (An-Nur: 54, Muhammad: 33 dan At-Taghabun: 12) Barangsiapa mentaati Allah tanpa mentaati Rasul, ketaatannya tidak diterima. Lalu firman Allah ‘Dan dirikanlah shalat serta bayarlah zakat’ (Al-Baqarah: 43, 83, 110, An-Nisa’: 77, Al-Hajj: 78, An-Nur: 56, Al- Mujadalah: 13 dan Al-Muzzammil: 20) Barangsiapa shalat namun tidak berzakat, shalatnya tidak diterima. Serta firman Allah ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu! 1 Barangsiapa bersyukur kepada Allah tetapi tidak bersyukur kepada kedua orang tua, Allah tidak menerimanya. Karenanya Nabi bersabda, ‘Keridlaan Allah ada pada keridlaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah ada pula pada kemurkaan keduanya.’

Abdullah bin ‘Amru bin Ash bercerita, “Seseorang datang memohon izin kepada Nabi untuk ikut berjihad bersamanya. Nabi bertanya, “Adakah kedua orang tuamu masih hidup?” “Ya.”, jawab orang itu. Beliau pun bersabda, “Maka ber jihadlah dengan berbakti kepada keduanya .”

Demikianlah, betapa Allah telah mengutamakan birrul walidain dan berkhidmah kepada keduanya dibandingkan jihad (ketika hukumnya fardlu kifayah, pent)! Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: ” Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa-dosa besar yang paling besar ? Yaitu mempersekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua.” Di sini Allah menyertakan tindakan buruk serta ketiadaan bakti dan kebajikan terhadap keduanya dengan perbuatan syirik. Rasulullah bersabda: “Tidak akan masuk surga seorang pendurhaka (kepada orang tua), mannan (orang yang berbuat baik kepada seseorang namun menyebut-nyebutnya di hadapan banyak orang), dan pecandu arak .

Beliau bersabda, ” Andaikata Allah mendapatkan suuatu hal yang lebih remeh dari kata ‘ah’ (yang dapat menyakiti hati orang tua) pastilah Dia melarangnya. Silakan saja seorang pendurhaka (kepada orang tua) itu mengerjakan apa saja yang dikehendakinya, namun sekali-kali ia tidak akan masuk surga. Sebaliknya silakan pula seorang yang berbakti kepada (kedua orang tua) itu mengerjakan apa saja yang dikehendakinya, niscaya sekali- kali ia tidak akan masuk neraka .” Juga, “Allah melaknat orang yang mendurhakai kedua orang tuanya .” Juga, “Allah melaknat orang yang mencela/ mencaci ayahnya, Allah melaknat orang yang mencela/ mencaci ibunya .” Juga, “Segala dosa itu siksanya akan diakhirkan oleh Allah -sekehen- dakNya – sampai hari kiamat kecuali dosa durhaka kepada kedua orang tua. Sungguh Allah akan menyegerakan siksanya bagi siapa yang telah melakukannya .” Yaitu siksa di dunia sebelum datangnya siksa akhirat yang pasti adanya .

Ka’ab al-Ahbar bertutur, ‘Sesungguhnya Allah menyegerakan kematian seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya untuk menyegerakan siksa baginya. Dan Allah memperpanjang umur seseorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya untuk menambahkan kebaikan baginva. Termasuk berbakti kepada keduanya adalah menafkahi keduanya jika keduanya membutuhkannya.

Seseorang menghadap Nabi dan mengadu, “Wahai Rasulullah, bapakku ingin mengambil seluruh hartaku!” Maka beliau pun bersabda, “Kamu dan seluruh hartamu itu milik ayahmu.” Ka’ab al-Ahbar pernah ditanya tentang maksud durhaka kepada kedua orang tua. Dia menjawab, “Jika ayah atau ibunya bersumpah, ia tidak memenuhinya. Jika ia diperintah olehnya, ia tidak mentaatinya. Jika keduanya meminta sesuatu darinva, ia tidak memberinya. Dan jika keduanya mempercayainya, ia mengkhianati keduanya .”

Ibnu ‘Abbas ditanya tentang ashhaabul a’raaf (para penghuni A’raf); siapakah mereka, apakah A’raf itu. la menjawab, “A’raf adalah sebuah bukit yang terletak di antara surga dan neraka. Disebut A’raf (yang tinggi) karena ia menjulang di atas surga dan neraka. Di sana ada pepohonan, buah-buahan, sungai-sungai dan mata air. Orang-orang yang menjadi penghuninya adalah orang-orang yang berangkat berjihad tanpa keridhaan ayah ibu mereka, lalu mereka terbunuh di medan jihad itu. Kematiannya di jalan Allah menghalanginya dari masuk neraka, tetapi kedurhakaannya kepada kedua orang tua menghalanginya dari masuk surga. Nah, mereka berada di A’raf itu sampai nanti Allah memutuskan perkara mereka .

Dalam Shahihain (Shahih Bukhari-Muslim) tersebutkan bahwa seseorang menghadap Rasulullah bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik?” “Ibumu.” , jawab Rasul. Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?” “Ibumu”, jawab beliau kembali. Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?” “Ibumu.”, jawab Rasul “Lalu siapa lagi”, tanya orang itu. Rasul pun menjawab, “Ayahmu, lalu kerabatmu yang terdekat , begitu seterusnya ”

Rasulullah memerintahkan berbakti kepada ibu sebanyak tiga kali dan kepada ayah sekali saja. Semua ini karena perhatian dan kasih sayang seorang ibu jauh lebih besar dari pada seorang ayah, kupun masih ditambah dengan penderitaan selama hamil, kontraksi, kelahiran, menyusui, dan berjaga sepanjang malam.

Suatu ketika Ibnu Umar menyaksikan seorang laki-laki tengah menggendong ibunya, membawanya berthawaf mengelilingi Ka’bah. Orang itu bertanya, “Wahai Ibnu Umar, adakah menurut Anda aku ini sudah dapat membalas kebaikan ibu?” “Bahkan tidak mesti untuk satu derita kontraksi kala melahirkanmu. Tapi kamu sudah berbuat baik. Semoga Allah membalas sesuatu yang sedikit itu dengan pahala yang banyak. “, jawabnva . Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda. ‘Empat orang yang dipastikan oleh Allah tidak akan dimasukkan ke surga dan tidak pula dapat mengenyam kenikmatannya; pecandu arak, orang yang makan harta riba, orang yang makan harta anak yatim secara zhalim , dan orang yang durhaka kepada kedua orang tua. Kecuali jika mereka bertaubat.”

Seseorang menemui Abu Darda’ mengadu, “Wahai Abu Darda’, aku telah menikahi seorang wanita, tetapi ibuku menyuruhku untuk menceraikannya Mendengar hal itu Abu Darda’ menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda , ‘ Orang tua itu pintu surga yang paling tengah, jika kamu mau kamu bisa menghilangkan pintu itu atau menjaganya.” Nabi bersabda: “Ada tiga doa yang pasti terkabul; do’a orang yang terzhalimi, do’a seorang musafir, dan do’a orang tua untuk anaknya .”

Wahb bin Munabbih berkisah. “Sesungguhnya Allah fc mewahyu- kan kepada Musa ‘Hai Musa, hormatilah ayah ibumu, barangsiapa menghormati kedua orang tuanya niscaya Aku panjangkan umurnya dan Aku karuniakan seorang anak yang menghormatinya. Sebaliknya, barang- siapa durhaka kepada kedua orang tuanya niscaya Aku pendekkan umurnya dan Aku berikan seorang anak yang durhaka kepadanya. Abu Bakar bin Abi Maryam berkata, Aku pernah membaca di dalam Taurat, barangsiapa memukul ayahnya hukumannya dibunuh.” Wahb berkata, “Aku telah membaca di dalam Taurat, barangsiapa menampar orang tuanya hukumannya dirajam.”

Umar bin Murrah al-Juhanniy meriwayatkan, seseorang meng- hadap Rasulullah bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku telah mengerjakan shalat lima waktu, shiyam di bulan Ramadlan, membayar zakat, dan berhaji ke baitullah? Apa yang dijanjikan untukku?” Rasulullah menjawab, “Barangsiapa menunaikan semuanya itu niscaya ia akan bersama dengan para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan para shalihin. kecuali jika ia durhaka kepada orang tua.” Beliau juga bersabda, “Allah melaknat orang yang mendurhakai kedua orang tuanya :’ juga, ” Pada malam aku di-isra’ -kan aku melihat kaum-kaum yang digantung di atas pepohonan dan api. Maka aku bertanya . ‘Wahai Jibril , siapa gerangan mereka itu?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela bapak-bapak dan ibu-ibu mereka kala di dunia .”

Diriwayatkan bahwa orang yang mencela kedua orang tuanya di alam kubur nanti akan dihujani bebatuan sejumlah tetes air yang turun dari langit ke bumi. Diriwayatkan pula, apabila seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya dikuburkan, kuburannya itu akan menghimpitnya sampai tulang-belulangnya bercerai-berai. Juga bahwa manusia yang paling berat adzabnya pada hari kiamat ada tiga; orang musyrik, pezina, dan orang yang durhaka kepada orang tua. Bisyr berkata, ‘Tidak ada seorangpun yang mendekat kepada ibunya demi mendengar pembicaraannya kecuali lebih utama dari pada orang yang menyabetkan pedangnya di jalan Allah. Memandangnya lebih utama dan pada memandang apapun.”

Sepasang suami istri yang bercerai mengadukan masalah siapa yang berhak untuk membawa anak mereka kepada Rasulullah Si suami berkata, “Wahai Rasulullah, ia adalah anakku yang keluar dari tulang sumsumku.” Si istri berkata, “Wahai Rasulullah, dia telah membawa-nya dalam keadaan ringan dan mengeluarkannya dengan kesenangan. Sedangkan aku, membawanya dalam keadaan berat dan mengeluarkannya dengan susah payah. Pun aku menyusuinya genap dua tahun.” Maka Rasulullah memutuskan bahwa anak kecil itu untuk dibawa ibunya .

Nasihat Tentang Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Wahai orang yang menyia-nyiakan hak yang paling besar, yang menjauhkan diri dari berbakti kepada kedua orang tua, yang durhaka, yang melupakan salah satu kewajiban, yang lalai dari sesuatu yang ada di hadapan, sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua itu adalah hutang bagimu. Sayang sekali kamu membayarnya dengan cara yang tidak baik, penuh noda aib. Kamu sendiri sibuk mencari surga, padahal ia ada di bawah telapak kaki ibumu. Ibumu yang telah mengandungmu selama sembilan bulan yang bagaikan sembilan kali berhaji. Ia yang di kala melahirkanmu menderita mempertaruhkan nyawa. Ia yang telah menyusuimu, menahan kantuk untukmu, memandikanmu dengan tangannya yang lembut, dan selalu mendahulukanmu untuk urusan makanan. Ia yang pangkuannya telah menjadi tempat yang nyaman bagimu. Ia yang telah mencurahkan sepenuh kasih sayangnya kepadamu, jika kamu sakit atau tampak menderita niscaya ia berduka, bersedih dan menangis tiada batasnya. Ia pasti mengeluarkan semua yang dimilikinya demi mencarikan dokter buatmu. Ia yang seandainya diminta untuk memilih kehidupanmu atau kematiannya, pastilah ia teriakkan kehidupanmu dengan suara yang paling lantang. Betapa sering kamu mempergaulinya dengan akhlak yang tercela, namun ia tetap memohonkan taufiq bagimu dalam setiap doanya.

Dus, ketika kerentaan menghampirinya, dan ia membutuhkanmu, kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang paling tidak berharga. Ketika kamu kenyang oleh makanan dan minuman, ia dalam lapar dan dahaga. Kamu selalu mengedepankan keluarga dan anak-anakmu dari pada berbuat baik kepadanya. Kamu telah melupakan semua upayanya. Urusannya kamu anggap sangat berat, padahal sebaliknya ia sangatlah ringan. Umurnya kamu anggap teramat panjang, padahal sebenarnya pendek. Kamu mengisolir dan meng-asingkannya, padahal ia tidak mendapati penolong selain dirimu. Demikian ini, pun Penolongmu telah melarangmu dari mengucapkan kata yang menyakitkannya dan menegurmu dengan teguran yang halus; di dunia kamu akan mendapati sikap durhaka dari anak-anakmu, dan di akhirat akan mendapati keadaan jauh dari Rabb semesta alam. Dia menyerumu, mengingatkanmu: ” Yang demikian itu , adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya“. (Al-Hajj: 10)

Dikisahkan, pada zaman Nabi ada seorang pemuda bernama Alqamah. Ia seorang yang menghabiskan waktu-waktunya untuk taat kepada Allah; mengerjakan shalat, shiam, dan bersedekah. Suatu hari ia sakit dan semakin hari semakin parah. Istrinya pun menyuruh seseorang menghadap Rasulullah untuk menyampaikan, ‘Suamiku, Alqamah sedang sekarat. Dengan ini aku bermaksud mengabarkan keadaannya kepadamu, wahai Rasulullah. Maka Nabi mengutus Ammar. Shuhaib, dan Bilal. Beliau bersabda, ” Berangkatlah kalian , dan talqinkanlah ia dengan kalimat syahadat.” Mereka bertiga berangkat dan memasuki rumahnya. Mereka mendapati Alqamah tengah sekarat sehingga dengan segera mereka mentalqinnya dengan ucapan ‘La ildha Mallah’. Namun lidah Alqamah kelu, tak mampu mengucapkannya. Sahabat bertiga menyuruh seseorang menghadap Rasulullah mengabarkan bahwa Alqamah tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat. Usai dibacakan, Nabi bertanya, “Adakah salah seorang ibu- bapaknya yang masih hidup?” Seseorang menjawab, “Wahai Rasulullah, seorang ibu yang sudah sangat renta.” Maka beliau pun mengutus seseorang dan berpesan, “Katakan kepadanya jika ia kuat untuk berjalan Rasulullah memanggilnya. Namun jika tidak hendaknya ia tetap tinggal di rumah. Rasulullah akan menemuinya.” Utusan itu sampai kepadanva dan menyampaikan pesan dari Rasulullah yyi,. Wanita itu berucap. “Jiwaku siap menjadi tebusan jiwanya. Aku lebih pantas untuk mendatangi beliau.” Maka wanita itu pun berdiri dengan bertelekan kepada tongkat dan berjalan menemui Rasulullah la ucapkan salam dan beliau pun menjawabnya. Lalu Rasulullah bertanya, “Wahai Ummu Alqamah, jujurlah kepadaku. Kalau pun kamu berdusta akan turun wahyu dan Allah ku . Bagaimana keadaan anakmu Alqamah?” la menjawab, “Wahai Rasulullah, ia rajin menunaikan shalat, shiyam, dan banyak bersedekah.” “Lalu bagaimana dengan dirimu?”, tanya Rasul lagi. Wanita itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku murka kepadanya.” “Mengapa?” tanya beliau. “Karena ia lebih mengutamakan istrinya dari pada diriku dan ia tidak mau taat kepada ku.”, jawab Ummu Alqamah. Rasulullah -itg bersabda, “Sesungguhnya murka Ummu Alqamah menghalangi lisannya untuk mengucapkan syahadat.” Beliau melanjutkan, “Bilal, pergi dan bawakan untukku kayu bakar yang banyak.” Wanita itu bertanya, “Apa yang akan Anda lakukan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku hendak membakarnya di hadapanmu” Wanita itu menimpali, “Wahai Rasulullah, ia adalah anakku. Hatiku tidak akan kuat menyaksikan nya dibakar di hadapanku.” “Wahai Ummu Alqamah. aazab Allah lebih dahsyat lagi kekal. Jika kamu senang terhadap ampunan Allah baginya ridlailah ia. Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, shalat, shiyam, dan sedekahnya tidak dapat mendatangkan manfaat baginya selama kamu murka.”, sabda Nabi. Mendengarnya wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku bersaksi di hadapan Allah, para malaikat, dan siapa saja yang hadir di sini dari antara kaum muslimin bahwa aku telah ridla kepada anakku, Alqamah.” Kemudian Rasulullah JgL. bersabda, “Bilal, berangkat dan lihatlah apakah Alqamah sudah dapat mengucapkan ‘La. ilaha illallah’ atau belum. Bisa saja Ummu Algamah tadi mengatakan yang bukan dari lubuk hatinya karena malu kepadaku.” Bilal berangkat dan melihat kondisi AIqamah. Ia berkata, “Wahai sekalian orang, murka Ummu Alqamah menghalangi lidahnya dari syahadat, dan ridlanya telah melepaskan kekeluan lidahnya.” Pada hari itu juga ‘Alqamah meninggal. Rasulullah hadir, memerintahkan untuk memandikan dan mengkafaninya. Lalu beliau menshalatkan dan menghadiri prosesi penguburannya. Beliau berdiri di ujung kuburnva bersabda, ”Wahai sekalian Muhajirin dan Anshar , barangsiapa mengedepankan istrinya dari pada ibunya niscaya akan mendapatkan laknat dan Allah, para malaikat, dan manusia semuanya. Allah tidak akan menerima infaqnya juga sikap adilnya sehingga ia bertaubat kepada Allah dan berbuat baik kepadanya serta memohon keridlaannya. Keridlaan Allah terletak pada keridlaannya , kemurkaan Allah terletak pada kemurkaannya .

Judul : Al Kabaair (Dosa-Dosa Besar)

Penulis: Syamsuddin Muhammad bin Utsman bin Qaimaz At-Turkmaniy Al-Fariqiy Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi’iy (Imam Adz Dzahabi)

Penerbit: Maktabah Al-Malik Fahd Al-Wathaniah

Penerjemah: Abu Zufar Imtihan Asy-Syafi’i,

Penerbit: Pustaka Arafah – Solo, Cetakan: V. Mei 2007.

Diringkas oleh penulis blog dari : kampung sunnah

10 pemikiran pada “08. Mendurhakai Orang Tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s