Jono & Mie Ayam PHK

Bagi yang tak pernah pusing dengan urusan mencari pekerjaan, judul tulisan ini mungkin terlalu berlebihan. Membaca tulisan itu pada sebuah gerobak kakilima orang mungkin akan menjustifikasi: ikut-ikutan lebay atau mendadak presiden. Tetapi tidak. Jono, si pemilik gerobak itu, tidak sedang menjual kesedihannya untuk menarik simpati calon pembeli. Karena, dengan nama memelas “Mie Ayam PHK” seperti itu pun, dagangannya pernah diganyang pamong praja.

Lain Jono lain pula Amir. Ditengah guyuran hujan, ia hanya menatap kosong ke arah kotak penyimpan dagangan minumannya yang tak laku. Dulu ia bekerja kantoran, lalu krisis yang tak difahami olehnya merampas sumber pencaharian keluarganya. Amir menganggur. Tak meratap terlalu lama, Amir berdagang minuman dan nasi rames di bilangan Kebayoran Baru, ia pun lumayan lagi. Namun itu tak selamanya, gusuran satpol menyeretnya ke sudut yang sepi, warung nasinya bubar, lapak minumannya tak laku.

Membicarakan Jono, Amir dan orang-orang sejenisnya, setidaknya harus menyiapkan beberapa hal: akal sehat, empati dan nalar. Beberapa waktu lalu mereka masih bekerja, dalam sebuah ketidakpastian status pegawai partikelir kelas rendah. Namun tepat ketika para penguasa memuji prestasi kerja mereka sendiri, khususnya tentang statistika dan indikator ekonomi yang absurd, Jono dan Amir terkulai menerima status baru mereka: PHK.

Sama halnya dengan menjadi janda karena ditinggal selingkuh. Jika ada status baru yang tidak akan diupdate di jejaring sosial, boleh jadi “menjadi pengangguran” adalah salah satunya. Meski setiap buku ekonomi makro selalu membahas tentang pengangguran, atau bahasa kerennya unemployed, tak seorang pun sudi menabalkan status penganggur pada diri sendiri.

Dikutip dari Kompas, data tenaga kerja tahun 2009 menurut Bappenas menyebutkan, dari 21,2 juta masyarakat Indonesia dalam daftar angkatan kerja, sebanyak 4,1 juta atau sekitar 22,2 persennya adalah pengangguran, yang didominasi oleh lulusan diploma dan universitas dengan kisaran angka di atas 2 juta orang. Mereka, sebagaimana Jono dan Amir, tak penah bermimpi mendapatkan status itu dalam kehidupan mereka, namun sekarang mengalaminya.

Jono adalah profil ketidakberdayaan. Ketika daya tawarnya yang pas-pasan tak mampu meloloskannya dari lubang jarum PHK, ia tak mendapat perlindungan dari siapapun, baik dari wakilnya yang duduk nyaman di parlemen atau dari regulatornya di kabinet. Dalam kekalutan fikirannya saat itu, ia masih percaya kepada Tuhan. Ia juga masih percaya bahwa penguasa akan berpihak kepada orang kecil sebagaimana digembar-gemborkan menjelang coblosan.

Keyakinannya kepada Tuhan membuat Jono berfikir kreatip. Jadilah tabungannya yang tak seberapa itu menjadi gerobak Mie Ayam PHK. Ia kini tak menganggur lagi. Baginya, pilihan itu: “ini yang terbaik Mas, kalau nunggu lowongan gak bakalan ada sebulan dua bulan, itupun kalau pake outsourching.” Jono jujur, teman senasibnya tak juga berubah status dalam beberapa bulan semenjak itu. “kerja sama outsourching itu susah mas, kita yang kerja setengah mati, penghasilan mereka yang potong.”

Kepercayaan itu sepertinya hanya tersisa pada hubungan Jono dengan Tuhan, tidak lagi kepada penguasa. Jono tak habis pikir, betapa penguasa begitu sering menelantarkannya bahkan seperti memusuhinya. “disini sepi mas, tapi bisanya ya cuma di sini mas. Kalo disana agak lumayan, tetapi sering dirazia, padahal kita sudah setor keamanan”. Jono sudah pada tingkatan nalar paling tidak logis. Ia tak lagi bisa membedakan penguasa yang memusuhi kaki lima dan preman yang memungut setoran dengan wajah menggerutu.

Ada banyak Jono di negeri ini, itu belum termasuk perut lain yang melolong-lolong di rumah mereka. Bagi penguasa, mereka bukan orang penting, dan itulah pembenaran bagi penguasa untuk lebih suka mencari sensasi atau akrobat politik, daripada memikirkan orang seperti Jono. Jono bukan orang culas yang bersedia melakukan apapun dengan imbalan jabatan. Jono bukan komedian politik yang bisa mengumbar caci-maki untuk membela sebuah kroni. Atas alasan itulah penguasa mengangggap Jono dengan Mie Ayam PHK-nya boleh terus menerus ditelantarkan dan dianggap tidak penting.

Sumber gambar : http://www.padangmedia.com ; bandung.detik.com

Iklan

32 pemikiran pada “Jono & Mie Ayam PHK

  1. Hebat. Kerja keras. Tidak pantang menyerah. Toh penghasilan didapat tidak harus dari menjadi karyawan.

    Postingan inspiratif. Trims.

    Hehe, jadi ingat waktu lulus dulu, ucapan pertama yang didapat, mungkin sekedar canda: ‘welcome to unemployeed world’.

    Hidup bermanfaat. Itu saja yang sekarang jadi pegangan kepercayaan diri.

  2. Saya juga korban krisis finansial global. Sampai sekarang masih gini-gini aja. Apa itu “gini-gini” aja? Ya,….begitu deh, nganggur, kerja serabutan. Tapi sebagai alumni kakilima jalan Fachrudin Tanah Abang saya akan terus berjuang… Rezki mah ada yang ngatur, legowo. Bahasa agamanya, mungkin, ikhlas. *maklum bukan pakar agama*

  3. ternyata saya punya teman 2 juta orang lebih yah? 🙂
    alhamdulillah, sekarang kerja walau gaji sangat minim sekali.. 🙂 mgkn lebih kecil walau jika dibanding pengemis di Jakarta.. 🙂
    Negeri penuh Sumber Daya Alam ini ternyata tak berkah bagi penduduknya yah..
    Kita harus banyak beristighfar nih.. Negeri Saudi yang gurun aja berkah loh karena penduduknya lebih baik imannya dibanding kita.. mungkin..

  4. Hidup ini memang sulit apalagi bila berada di kota-kota besar, memang kita harus lebih jeli untuk mendapatkan peluang. karena kapasitas lapangan pekerjaan yang tersedia saja tidak sepadan dengan hasil kelulusan siswa.

    Mungkin inilah yang mengakibatkan Jono-Jono itu tampak semakin kerdil dihadapan para penguasa.

  5. ini memang kenyataan yg kita lihat di kota besar, apalagi Jakarta…prihatin kepada nasib rakyat kecil…tapi siapa yang disalahkan..ini mungkin resiko suatu perkembangan…

  6. selalu ada dua sisi mata uang dalam setiap kejadian. saya bisa membayangkan pemerintah yang in the nama of kemajuan juga, berusaha untuk menata Joko-Joko di perkotaan agar terlokalisir.
    tapi saya juga bisa memahami Joko yang sulit dipindahkan karena ada kemungkinan di tempat baru tidak laku. selain itu, memindahkan diri dari kenyamanan juga sebuah tantangan tersendiri.

    nah, karena saya disekolahkan di jurusan komunikasi, saya rasa dan saya percaya bahwa komunikasi adalah salah satu cara untuk menemukan jalan keluar dari perseteruan para Joko dan para aparat. mungkin…
    maaf kalau sok tahu

  7. Salam Takzim
    Perasaan sudah buat komentar pada artikel ini, kok ga muncul ya jangan jangan masuk kotak spam kang
    Terimakasih kunjungannya kang
    Salam takzim Batavusqu

  8. kadang kalau melihat penggusuran gitu sedih banget!
    tapi mau diapa mereka itu hanya melaksanakan tugas, tapi kadang ada juga yang kelewatan juga!
    Kunjung balik nich!

  9. artikel yg sangat menyentuh sampai 2 saat membaca post ini saya teringat lagu dari iwan fals-sarjana muda.. gak nyambung ya.. salam kenal aja dan sukses slalu.. Ma kasih

  10. oooohhh… masih ttg ketidakadilan dan ketimpangan sosial yaaa… ngenes dech…. hiks,kasian tuh gambarnya… tapi mang kadang razia kek gtu perlu juga kok buat ketertiban dan keindahan kota, asal para pedagang disediakan tempat khusus n rame pembeli… :mrgreen: mau nya niee…

  11. Peristiwa seperti itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari di negeri kita. Kalo gak lihat di depan mata kepala sendiri, ya lihat di tv.
    Hmm…kadang bingung siapa yang harus disalahkan. Para Pol PP kah yang dengan tidak berkemanusiaan mengobrak-abrik harapan hidup orang banyak atauuuuu…para pedagang itu yang ‘ngeyel’? Entahlah!!!

  12. suka baca tulisan begini pak
    setelah masuk kantor banyak rasa syukur yang terucap dengan pekerjaan yang dimiliki tapi masih tidak puas dengan pekerjaan yang dijalani.
    Setelah baca tulisan ini, mulai sadar bahwa self actualization bisa dikendalikan dan dikondisikan juga,,mohon bimbingannya pak 🙂

    kalo maw,,boleh berkunjung ke tempat saya juga pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s