09. Memutuskan Kekerabatan

Allah berfirman, Dan bertaqvalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain , dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. (An-Nisa’: 1) Maksudnya jangan sampai memutus hubungan silaturrahim.

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang- orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka . (Muhammad: 22-23)

Dan orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian , dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan , dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. (Ar-Ra’d: 20-21)

Dengan (al-Qur an) itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah , dan dengan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 26-27)

Dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus ikatan rahim.” Barangsiapa memutuskan hubungan dengan kerabat yang lemah, mengisolir mereka, bersikap takabbur terhadap mereka, dan tidak berbuat baik kepada mereka, padahal ia kava sedanakan mereka fakir.. maka ia termasuk kategori yang diancam dengan hadits ini. Terhalang dari masuk surga. Kecuali jika bertaubat kepada Allah lalu berbuat baik kepada mereka.

Rasulullah telah bersabda, “Barangsiapa mempunyai kerabat yang lemah lalu tidak berbuat baik dan mengalokasikan sedekahnya kepada selain mereka . niscaya Allah tidak akan menerima sedekahnya dan tidak akan memandangnya pada hari kiamat . Sedangkan barangsiapa dalam keadaan fakir , hendaknya menyambung (ikatan rahim) dengan mengunjungi mereka dan selalu menanyakan kabar mereka.” Pun Nabi telah bersabda, “Sambunglah ikatan rahim kalian walaupun hanya dengan ucapan salam. : Beliau juga bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya menyambung ikatan rahimnya ,”

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman: “Aku adalah ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan dia adalah ikatan rahim. Barangsiapa menyambungnya Aku-pun menyambung hubungan dengannya. Dan barangsiapa memutuskannya Aku-pun memutuskan hubungan darinya .” Ali bin Husein berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, jangan sekali-kali kamu bersahabat dengan orang yang memutuskan ikatan rahim. Sesungguhnya aku mendapatkannya terlaknat dalam kitabullah pada tiga tempat.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia mengadakan majlis untuk mengkaji hadits Rasulullah sgg Dia berkata, “Aku merasa sesak dada kepada setiap orang yang memutuskan ikatan rahim sampai orang itu pergi dari antara kita.” Tidak ada yang beranjak pergi kecuali seorang pemuda yang duduk di bagian terjauh halaqah itu. Ia pergi ke rumah bibinya sebab sudah sekian tahun ia bermusuhan dengannya, la jalin kembali ikatan rahim itu. Keheranan bibinya bertanya, “Apa yang membawamu ke mari, keponakanku?” Pemuda itu menjawab, “Sungguh, aku tengah mengikuti majlisnya Abu Hurairah, salah seorang sahabat Rasulullah Dia berkata, Aku merasa sesak dada kepada setiap orang yang memutuskan ikatan rahim sampai orang itu pergi dari antara kita.” Bibinya berkata, “Kembalilah ke majlisnya dan tanyakan mengapa demikian.” Pemuda itu pun kembali ke majlis dan menceritakan kepada Abu Hurairah perihal sengketa antara dia dan bibinya. Dia bertanya, “Mengapa Anda tidak mau bermajlis dengan orang yang telah memutuskan ikatan rahim?” Abu Hurairah menjawab, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya rahmat tidak akan turun kepada suatu kaum yang di dalamnya ada orang yang memutuskan ikatan rahim.”

Hikayat

Diceritakan ada seorang laki-laki yang kaya menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Sesampai nya di Mekah ia menitipkan uangnya sebanyak 1000 dinar kepada seseorang yang terkenal dapat dipercaya dan shalih sampai seusai wuquf di Arafah. Ketika ia telah menyelesaikan wuqufnya ia kembali ke Mekah dan mendapati orang yang dititipinya telah meninggal. Ia menanyakan perihal uangnya kepada keluarganya. Ternyata tidak seorang pun dari anggota keluarganya yang mengetahuinya. Orang itu pun mengadukan masalahnya kepada para ulama Mekah. Mereka berkata, “Apabila separuh malam telah berlalu mendekatlah ke sumur Zamzam, lihatlah, dan panggil namanya. Jika ia termasuk penghuni surga niscaya ia akan menjawab panggilanmu pada kali pertama.” Maka orang itu mengikuti nasehat mereka, mendatangi sumur Zamzam dan memanggilnya. Namun tidak ada jawaban. Karenanya ia kembali kepada mereka, mencerita-kannva. Mereka berkata, “hina Ulahi wa inna ilaihi raji’un. Kami khawatir jangan- jangan temanmu itu termasuk penghuni neraka. Pergilah ke tanah Yaman, Di sana ada sebuah sumur yang dberi nama sumur Barhut. Kaatanya sumur itu berada di tepi Jahannam. Lihatlah di waktu malam, dan panggillah temanmu. Jika ia termasuk penghuni neraka niscaya ia akan menjawab panggilanmu. Maka orang itu pun berangkat ke Yaman dan bertanya-tanya tentang sumur itu. Seseorang menunjukkannya dan ia pun mendatanginya di malam hari. Ia melihat ke dalamnya dan berseru, “Hai Fulan!” Ada jawaban, la bertanva, “Di mana uang emasku?” “Aku tanam di bagian ‘anu’ dalam rumahku. Aku memang belum memberitahukannya kepada anakku. Galilah pasti kamu mendapatkannya.”, suara jawaban itu. Orang itu bertanya lagi, “Apa yang menyebabkanmu berada di sini padahal menurut prasangka kami, kamu adalah seorang yang baik?” Terdengar suara jawaban, “Aku punya seorang saudara perempuan yang fakir. Aku menjauhinya dan tidak menaruh belas kasihan kepadanya. Maka Allah menghukumku dan merendahkan kedudukanku seperti ini.”

Ini sesuai dengan sabda Nabi dalam hadits yang shahih, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan.”‘ Maksudnya memutuskan ikatan rahim seperti saudara perempuan, bibi, keponakan, dan yang lainnya dari antara kerabat.

Judul : Al Kabaair (Dosa-Dosa Besar)

Penulis: Syamsuddin Muhammad bin Utsman bin Qaimaz At-Turkmaniy Al-Fariqiy Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi’iy (Imam Adz Dzahabi)

Penerbit: Maktabah Al-Malik Fahd Al-Wathaniah

Penerjemah: Abu Zufar Imtihan Asy-Syafi’i,

Penerbit: Pustaka Arafah – Solo, Cetakan: V. Mei 2007.

Diringkas oleh penulis blog dari : kampung sunnah

24 pemikiran pada “09. Memutuskan Kekerabatan

    1. Keduaxx mas.. Posisi pertamax di embat sama Miftah.. :((
      Kau memasuki blogosphere ku ya Mif.. 🙂

      Semoga diberi kesabaran ya orang2 seperti mas Jono itu…

  1. Salam Takzim
    Perasaan sudah buat komentar pada artikel ini, kok ga muncul ya jangan jangan masuk kotak spam kang
    Terimakasih kunjungannya kang
    Salam takzim Batavusqu

  2. suka baca tulisan begini pak
    mulai sadar bahwa self actualization bisa dikendalikan dan dikondisikan juga,,mohon bimbingannya pak 🙂
    kalo maw,,boleh berkunjung ke tempat saya juga pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s