Catut Tuan Kondektur

31

Maret 10, 2010 oleh sedjatee


Akhirnya buskota sialan ini sampai juga di stasiun. Huh, dasar buskota, hanya berbadan besar, malas, lamban, tak beda dengan kerbau SiBuYa yang kemarin dimirip-miripkan dengan seorang kepala negara. Dengan semangat anggota pansus partai non-koalisi aku menuju loket kereta api idolaku. Perlahan kuusap peluh yang mengucur, hemm, boleh jadi aroma tubuhku telah sama dengan aroma kerbau. Sebagai pengguna jasa kereta api yang beradab, aku mendatangi loket membawa uang sejumlah harga karcis. Tetapi olala, mereka ternyata menulis sebuah apoloji kepadaku: MAAF TEMPAT DUDUK HABIS. Aku langsung lemas dengan wajah seperti orang yang tidak diajak naik ke perahu Nabi Nuh.

Kemudian aku terinspirasi lagu tak terkenal berjudul ”Kuyakin Sampai Disana” yang berarti aku tak boleh menyerah. Tempat duduk habis bukan berarti aku tak bisa pulang. Namun seorang master sains bidang ekonomi tak akan sudi membayar harga karcis penuh jika tak diimbali dengan tempat duduk yang layak, terhormat dan bermartabat. Dengus lokomotif memberi isyarat genit kepadaku: lanjutkan perjuanganmu, Kawan.

Sesampai di peron aku tetap saja pringas-pringis seperti pengutil yang digajul satpam. Hanya wajah-wajah beringas pemeriksa kereta api yang selalu menggerutu. Entah dimana dewa penolong yang akan berbaik hati memberi solusi pada orang yang kehabisan tiket kereta. Tiba-tiba senyum seseorang memberi secercah harapan. Aku bertemu pemuda kurus berambut cepak yang sering disebut-sebut sebagai deputi kondektur gadungan. Lalu terjadilah transaksi di tempat gelap dan berbau pesing: dia bisa membantuku pulang dengan kereta api seperti biasa, dengan ongkos yang ehm.. ehm…

Satu jam meringkuk di sela-sela dengkul penumpang berkursi, saat paling mendebarkan itu akhirnya tiba. Tuan Kondektur berwajah sangar masuk ke gerbong ini dengan kumis dipilin, topi pejabat kereta api, plus kawalan dua polisi kereta yang bersenjata. Catutnya mulai beraksi, menggunting lembar-lembar karcis dari tangan para penumpang.
”Hey Mas, mana tiket sampeyan” tanya Tuan Kondektur sembari mengayunkan catut karcisnya kepadaku. Aku yang tak punya tiket menjadi pucat pasi mirip wajah Burisrawa ketika bertemu Setyaki di peperangan Baratayudha. Agar terlihat bermoral, pura-pura kugerayangi semua kantong baju dan celana mencari karcis yang memang tak ada. Mata Tuan Kondektur melotot seperti mata ikan mas koki, sampai terdengar suara cempreng menghentikan lototan matanya “dia anggotaku Pak”
Mak klumpruk, aku mendesah lega seperti lenguhan orang orgasme. Dewa penolong alias deputi kondektur gadungan itu menimpali desahku dengan senyum, juga Tuan Kondektur yang ternyata baik hati itu. Tuan Kondektur akhirnya berlalu tanpa ekspresi apapun, catutnya terselip rapi di saku belakang celananya. Aku merasa ayem, senang bukan kepalang. Rasa kantuk akhirnya menidurkanku di lantai kereta api meski para pedagang asongan secara tidak beradab itu mulai melangkahi tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

— ooo —

Orang bijak berkata, pengalaman baik akan selalu menarik untuk diulangi lagi. Dalam konteks diriku, kebaikan Tuan Kondektur bersama sang deputi membuatku selalu bersemangat untuk bepergian menggunakan jasa kereta api. Dan perjalanan menuju stasiun dengan buskota yang berbadan besar, dungu dan lamban menjadi terasa indah, seindah berkendaraan dengan kereta Batara Indra. Aku selalu bersemangat dan selalu berdoa kepada Tuhan, agar setiap kali aku ke loket karcis aku menjumpai tulisan MAAF TEMPAT DUDUK HABIS. Sebuah doa yang tak berlebihan, karena aku hanya ingin ndlosor beralas koran bekas diantara kaki para penumpang kereta. Lalu aku akan menunggu Tuan Kondektur datang dengan senyum ramah menyapaku, dan aku akan memastikan bahwa catut karcisnya kini tak lagi teracung-acung di depanku.

Sumber gambar: tutinonka.wordpress.com dan farm3.static.flickr.com

31 thoughts on “Catut Tuan Kondektur

  1. alamendah mengatakan:

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Emang sang kondekturnya sekarang suka tersenyum, apa?

  2. peri01 mengatakan:

    salam kenal…..

  3. wulan mengatakan:

    gambaran suasana mengingatkanku belasan taon yll, sebulan sekali melakukan perjalanan antar kota dengan kereta…jakarta – jogja… suka ndlosor di kolong favorit beralaskan selimut sewaan… tidur nyanyek walo.. pedagang asongan lalu lalang melangkahi kita lengkap dengan teriakan nya…. plus berisik suara kereta.. ..
    kangen juga suasana itu euyy…

  4. dedekusn mengatakan:

    SY turut merasakan kekesalan itu. Semoga tidak terulang.

  5. Rudini Silaban mengatakan:

    wah koq ada sangkut pautnya ama sibaya,,,heheheh

    ntar ada yg tersinggung lho..

  6. Bee'J mengatakan:

    wah, kalo saya mas, naek kereta nggak pernah beli karcis. begitu kondekturnya dateng, kasih aja seribu rupiah saja, tapi kalo ga ada kondekturnya gratis deh.. hehe
    jangan ditiru ya…😀

  7. Dangstars mengatakan:

    Wah…yang penting selamat sampai tujuan Mas

  8. Olas Novel mengatakan:

    Salam kenal pak dhe…………. apa kabar… sukses selalu :))

  9. M. 'Arief B. mengatakan:

    catutnya lumpuh juga kena kata-kata “dia anggotaku Pak”🙂

    memang hebat rasa kekeluargaan di Indonesia, bisa melumpuhkan catut yang keliatannya tegas dan menakutkan🙂

    Salam hangat🙂

  10. Usup Supriyadi mengatakan:

    hm…
    saya sebagai seorang manusia kereta, karena senang berpergian dengan kereta, merasa terenyuh dgn kisah ini….entah kenapa…

    salam kenal….

  11. hanif IM mengatakan:

    menarik ceritanya, jadi siapa yang salah yah? tempat duduk habis. hm…

  12. herico mengatakan:

    Ya memang ga dulu ga sekarang sama. Ada aja ulah oknum dimana-mana. Maklum aja indonesia masih jadi negara terkorup.

  13. asepsaiba mengatakan:

    Semoga selamat sampai tujuan…😀

  14. sunflo mengatakan:

    tapi ada juga pak kondektur yg ramah loh mr… ga semuanya kek pak raden…:mrgreen:

  15. sunarnosahlan mengatakan:

    saya sudah lupa seperti apa wajah sang kondektur, karena sudah lama tidak naik bus lagi

  16. Kakaakin mengatakan:

    Saya belum pernah naik kereta, jadi belum tau gimana rasanya🙂
    Nelangsa banget ya sampai duduk di bawah gitu🙂

  17. zhaomoli mengatakan:

    Hwhahaha,saya juga pengGUNA kereta api,tapi jalur sby-mlg,,pngen sbruntUNG km,
    g0od luck🙂

  18. Hajier mengatakan:

    Posting ini mengingatkan aku peristiwa beberapa tahun lalu dalam perjalanan Jombang-Jogja-Jombang.
    Tapi, sebellum bisa tidur ndelosor dilantai yang beralaskan tikar, aku dan teman2 harus negosiasi dulu dengan Kondektur di t4 yang gelap dekat wc, t4 menyatunya gerbong satu dengan gerbong lainnya.
    Dan dah lama gak naik kereta, jadi kepengen lagi neh…

  19. Halaman Putih mengatakan:

    Pernah merasakan nikmatnya naik kereta kelas ekonomi. Ya, ndelosor di lantai beralaskan koran lebih nikmat dan leluasa.

  20. vempuzka mengatakan:

    wah udah biasa naik kereta juga…
    kadang juga banyak yang bayar langsung di atas kereta…
    tapi sekrang kayaknya lebih ditertibkan karena sekarang banyak polisi keretanya

  21. oelil mengatakan:

    Tulisan sampeyan yang detil berikut penggambarannya sangat mudah di bentuk jadi teater maya di pikiranku pak…
    Makasih pak atas doanya…

  22. achoot mengatakan:

    wah emang ada yah bus sialan,, jurusan mana tuh boss?? hehehe..

  23. citromduro mengatakan:

    namanya juga bus kota jadi tidak bisa melenggak lenggok karena kota yang sesak

  24. citromduro mengatakan:

    komentar disini sambil tanam link mas sedjatee
    semakin rame sekarang blognya dan mantabs

    terus semangat
    salam dari pamekasan madura

  25. BULETIN mengatakan:

    Maaf br sempat kunjung nich! Wah pengalaman yg mengasikkan kalau itu terjadi padaku he.he.he…

  26. engkaudanaku mengatakan:

    😀
    Jadi ingat pengalaman pertama naik kereta api Bandung – Cicalengka beberapa bulan yang lalu, Bapak Kondekturnya pun ramah, penuh senyuman..🙂
    “Ternyata naik kereta api itu indah ya…”

  27. […] Sahabat hari ini berbondong bondong nara blog berkunjung ke sana untuk mengikuti ujian khusus yang sedang digelar. ya hari ini blog_nya kang sedjatee mengadakan milad besar-besaran, lewat postingan ini saya langsung pesan kue ulang tahun pada jawara kue. Alhamdulillah saya langsung angkat kuenya dan saya persembahkan kepada kang sedjatee, […]

  28. orchidlily mengatakan:

    Bagus tulisannya..wah-wah..bahaya nih, kereta kelebihan muatan..apalagi pas mau ato pasca lebaran..suasana bener-bener seperti camp pengungsian..bahkan toilet kereta pun bisa jadi tempat tidur terindah (pengalaman pribadi di K.A Ekonomi) haha lebai ya saya

  29. kiply adjah mengatakan:

    semuanya tergantung sdm-nya bro??????jngn nyalahkan siapa2,,,,!tau tiketny hbis n kretanya udah penuh,ya udah g usah maksain diri! salam 1 nyali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: