Bambang dan Kisah Fobia Terbang

Surat tugas perjalanan dinas itu menuliskan namaku pada baris yang sama dengan kolom nama kota Denpasar. Tak ada kata tidak, aku harus kesana dengan pesawat terbang. Kontan saja perutku mual dilanjutkan dengan keringat dingin, sebuah reaksi alamiah orang takut terbang yang mendapat perintah untuk bepergian dengan pesawat. Perintah dinas itu membawaku bernostalgia pada penerbangan horor ke Medan beberapa tahun yang lalu, dimana turbulensi paling mengerikan dalam sejarah telah membuatku sementara jera untuk bepergian dengan burung besi. Dan peristiwa itu terjadi tepat sehari sebelum pesawat Mandala nyungsep setelah gagal lepas landas dari bandara Polonia, destinasi penerbanganku sehari sebelumnya.

Meski didahului dengan susah tidur dan kehilangan selera makan, akhirnya sampai juga di bandara Soekarno Hatta. Lutut yang gemetaran itu akhirnya berhenti. Bukan karena imaji kenyamanan terbang dengan Boeing 737-900ER yang konon lebih aman. Juga bukan karena membayangkan senyum pramugari yang belahan roknya setinggi paha orang dewasa. Tetapi karena sebuah kekuatan pesona mahadahsyat yang membangkitkan rasa percaya diri.

Pria berwajah menarik itu berdiri tepat disebelahku di loket check in. Cengar-cengir, mengejawantahkan sebuah keramahan spesies Homo Sapiens yang lahir di pulau beras ini. Ketika aku diberi salah satu tempat duduk diantara 10 kursi kelas bisnis, atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa pria menarik itu diplot duduk di sebelahku. Dan seperti reaksi Kaka ketika Gonzalo Higuain mencetak gol untuk Real Madrid, ia mengajakku tos. Pria yang baik, sepertinya ia dipilih Tuhan untuk duduk di sebelahku dan hendak memberi ketenangan padaku yang takut terbang.

Perkenalkan, namanya Bambang, satu nama yang menjadi judul entri Om Wikipedia, dan ditaut dengan 26 artikel tentang nama tersebut. Entah itu nama depan, tengah atau nama belakangnya. Saat saling berkenalan dan menatap wajahnya, jujur saja, yang langsung terbayang olehku adalah wajah Bambang Gentolet, bukan Bambang yang lain. Ia dengan wajah katroknya terlihat keren memakai fesyen bermerek terkenal, terlebih ia menyebut alasan paling keren ke Denpasar yaitu berjalan-jalan. Ia jenaka. Aku senang ia terus berkicau selama di ruang tunggu. Aku berharap ia akan terus bercerita selama penerbangan untuk mengalihkan tekanan batinku yang takut terbang.

Pria 26 tahun yang ramah itu berceritera tentang banyak hal, politik, klenik dan pengalaman masa lalu. Kami ngobrol sambil sesekali tertawa. Ia pernah merantau ke Batam bahkan nyaris menjadi TKI di luar negeri. Dan kini, tanpa lupa bersyukur, ia mengatakan kehidupannya sebagai seorang lajang telah jauh membaik. Pekerjaan bergengsi, fasilitas hidup mumpuni dan penghasilan lebih dari cukup. Aku meyakininya dengan melihat penampilannya yang seperti turis dari Negara Ngalengka.

Memasuki kabin ia kembali mengajakku tos. Ia terperangah dengan jenaka melihat takdir kami duduk di kelas bisnis yang cukup wah. Setelah itu kami sesaat disibukkan dengan ritual menjelang keberangkatan. Ketika pesawat bergerak, segalanya menjadi berubah. Bambang tiba-tiba menjadi pendiam, mak klakep seperti orong-orong terinjak. Ketika pesawat mendongak untuk lepas landas, wajahnya pias sepucat kapas. Terlebih ketika burung besi ini bermanuver menuju ketinggian jelajahnya, ia berkeringat dingin dengan mata tertutup, pura-pura tertidur.

Aku, yang kupikir akan mengalami fobia, kali ini tak sanggup menahan geli dan merasa tak lagi takut. Bambang telah cukup dewasa sehingga aku tak perlu khawatir ia akan kencing di tempat duduknya. Perjalanan 1,5 jam yang kuharap penuh obrolan dan guyonan, ternyata menjadi perjalanan yang sepi karena Bambang hanya terlihat selalu memejamkan mata. Hanya sesekali saja membuka mata untuk melihat arloji. Setelah diam sekian lama, suara pertama Bambang terdengar saat pesawat mendarat di Denpasar.”Haaahhh” begitulah desahnya mirip orang sembelit setelah mengejan sekian lama. Bambang, dalam kepolosan, ketakutan dan diamnya, memberiku kekuatan spiritual (dan hiburan) untuk akhirnya menghilangkan fobia terbang.

==000==

Penerbangan kembali ke Jakarta menjadi tantangan sendiri. Kali ini aku sangat percaya diri, menghapus kenangan dan ketakutan yang dulu kualami. Aku kembali naik Boeing 737-900ER. Kali ini bukan di kursi kelas bisnis, tetapi di 30E, posisi yang mengharuskanku mempelajari tatacara membuka pintu darurat dan aturan evakuasi dalam keadaan bencana. Ah.. tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalaupun sesekali aku terkenang penerbangan menakutkan beberapa tahun lalu, maka solusinya cukuplah dengan mengingat Bambang.

Iklan

27 pemikiran pada “Bambang dan Kisah Fobia Terbang

  1. Melihat teman kita yg phobia menjadi pelajaran buat kita.. bahwa apa yg mereka takutkan belum tentu kikta takut kan.. begitu juga sebaliknya…

    sebenarnya tidak ada perlu yg ditakutkan ketika kita melihat orang lain berani pada hal yg sama… Tapi begitulah .. setiap orang punya ketakutan sendiri kan pak… ?

    salam buat mas bambang nya πŸ™‚ ……

  2. πŸ˜†
    pengalaman yang menarik sekali . wah, kalau saya sih ndak tahu fobia apa tidak soalnya belum pernah naik si burung besi . πŸ˜‰

    salam buat Mr. Bambang, and selamat atas runtuhnya benteng fobia yang menghalangi mas djati menikmati indahnya sebuah penerbangan dengan sang burung besi . ckckkc .

  3. kalu sunflo takut bayangin yang nggak2 secara sebelum terbang sering denger kecelakaan pesawat… tp setelah ada di atas pesawat yaa… pasrah ajah dech… sambil bnyak doa… ^^

  4. ,… belajar dari pengalaman atas kejadian yang menimpa orang lain, membuat hati kembali tenang… Alhamdulillah πŸ™‚

  5. Assalamu’alaikum,
    Mohon maaf, saya baru bs berkunjung sekarang, sdg ada kesibukan ngrusu buku. Yang trbaik adalah mengatasi rasa takut kita, krn rasa takutadanya dipikiran kita, dan hanya kita yg bs menghilangkannya (Dewi Yana

  6. Hahahaha….
    Ternyata ada orang yang lebih phobia dibanding mas sedjatee ya… Semoga dengan peristiwa ini bisa menghilangkan phobia yang selama ini menghinggapi

  7. dan terbang itu menyenangkan, walau terkadang ada g etar-getar yang membuat jantung berpacu cepat, apalagi lampu darurat sudah menyala. terbang lah seperti burung dan nikmati gumpalan awan yang indah itu.

    selamat atas keberhasilannya πŸ˜€

  8. Ketahuilah mas …
    Bambang itu adalah saya …

    (mirip banget dengan kelakuan saya jika sedang terbang diatas sana …)

    hahaha
    Asli … saya cengar-cengir sepanjang postingan …
    merasa di telanjangi …
    (hhiiiiii)

  9. Saya suka terbang (ceileeeh… padahal baru sekali, itupun gara2 penempatan).
    Tapi sepertinya bakalan nunggu 10 tahun lagi buat terbang lagi ya?
    Eh, ga ding, kan ada lebaran *can’t waiiiit*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s