Memandang Krakatau, Menjaring Harapan

Mentari hanya tinggal sejengkal diatas cakrawala biru selat Sunda. Krakatau terlihat santai tanpa kesan arogan. Angin pantai Anyer berembus pelan. Kami rehat beberapa jenak dari pembicaraan seputar rencana kerja yang tahun ini volumenya berada di kisaran Rp. 400 Miliar. Wakil kantor-kantor dari semua sudut Indonesia bercengkerama dengan hidangan mewah berlimpah. Kami tak sedang berlebihan di hotel berbintang lima dengan panorama laut ini. Ini adalah standar protokoler karena rapat dihadiri oleh pejabat eselon I dan II.

Tetapi ada situasi yang kontras hanya beberapa jengkal dari tempat kami berhimpun. Rojali alias Jali, berpeluh. Dari atas perahu yang didamparkan diatas hamparan pasir, sekuat tenaga ia menarik jejaring ikan yang luarbiasa panjang. Ia tak sendiri. Dibantu oleh setidaknya delapan pria lain, mereka menarik jaring yang panjangnya tak kurang 100 meter itu. Sementara para sekutunya menarik jejaring dari kedua ujungnya, Jali sebagai orang terakhir melipatnya didalam perahu.

Itulah ngarad. Perbuatan mencari ikan dengan teknik ini sepertinya hanya familiar di kalangan nelayan Anyer. Dengan ngarad, mereka tak perlu berlama-lama mengarungi laut yang terkadang tak ramah. Untuk memulainya diperlukan dua perahu. Satu perahu mengangkut jejaring hingga sejauh beberapa ratus meter dari bibir pantai. Di tengah laut, salah satu ujung jaring ditarik oleh satu perahu lain, lalu keduanya menepi membawa dua ujung jaring. Setelah menunggu beberapa menit, mulailah Jali dan para sekutunya menarik jejaring mulai dari kedua ujungnya.

Sore ini mereka kembali ke laut untuk menjaring harapan. Jaring telah ditebar dan kedua ujung telah berada di pantai. Para nelayan duduk-duduk merokok menunggu ikan datang ke jaring mereka sembari memandang Krakatau. Mata mereka menggaungkan pesan akan hidup yang lebih baik. Pada seutas jaring itulah, harapan Jali dan komplotannya disandarkan.

”Sepi Pak” ucapnya sembari menghimpun ikan-ikan teri sebesar kelingking yang tak memenuhi embernya. ”Kalau lagi rame, bisa dapat enam baskom. Ikannya pun ada yang ukuran besar, tak melulu teri begini” lanjutnya dengan pandangan hampa. Sore yang tak bersahabat. Yang ia tahu, jejaringnya terkadang ia bisa meraup banyak, terkadang sedikit. Namun hasil seperti sore inilah yang lebih sering didapat belakangan ini. Nalarnya tak bisa menjangkau musabab menyusutnya tangkapan mereka. Rojali dan rekan seprofesinya tak pernah menganalisis kerusakan lingkungan, pemakaian obat-obatan dan perubahan iklim sebagai faktor yang menindas perekonomiannya.

”Padahal ini musimnya lagi baik Pak. Kalau musim ombak besar kita bahkan tak bisa melaut. Kalo terpaksa sih berangkat juga, tapi resikonya terlalu besar” lanjutnya. Dalam kepasrahannya, para nelayan ini adalah orang-orang yang tangguh. ”Kalau benar-benar tak bisa melaut, kita memungut batu” pungkasnya sambil berpamit pulang. Krakatau telah hilang dari pandangan, gelap malam mengusir Rojali untuk mengakhiri ngaradnya dan pulang membawa harapan. Kami berpisah. Rojali kembali ke rumahnya, aku kembali ke hotel.  Ketika aku menyantap kambing guling dan aneka hidangan lain, mungkin Rojali sedang makan dengan apa adanya di rumahnya.

>> o <<

Pagi ini kami bersiap untuk kembali ke Jakarta, berkantor sebagaimana rutinitas hari-hari yang lalu. Hari ini, juga hari-hari berikutnya, Jali akan terus ke pantai, untuk ngarad atau memungut batuan. Bus kami mulai bergerak. Hembusan AC yang sejuk menidurkanku. Mengingat Rojali, aku terkenang kisah seorang teman yang menjadi pemungut batu di kampungku. Karena desakan ekonomi, ia mengumpulkan batu kali untuk dijual dan menafkahi keluarganya. Namun begitu masih ada orang yang tak faham keadaannya dan mengatakan: “kok bodoh sekali dia memungut batu, saban hari hanya dapat segitu. Mbok dia kerja merantau di jakarta, nanti kalo dapat duit buat beli batu”… hmmm… celoteh konyol yang menggelikan, namun kisah Rojali memaksaku untuk tak tersenyum kali ini.

Iklan

40 pemikiran pada “Memandang Krakatau, Menjaring Harapan

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Saya pernah diceritain tentang ngarad oleh seorang teman yang pernah ke daerah jabar. Keknya, sebuah usaha keras dari para nelayan kita…

  2. foto yang begitu fantastis.

    meski menarik jala sepanjang 100 m atau hanya memungut batu dan saban hari hanya dapat segitu, tapi peluh itu memberi hidup dan senyuman.

    kalau semua merantau ke Jakarta saya ndak tau lagi mau tinggal dimana semuanya, apa akan menambah sesak penghuni pinggir kali? atau rumah reot di pinggiran rel tanah kusir?

  3. selamat beraktifitas kembali mas, mungkin sesekali dinanti kembali hadirnya di medan, tetapi terkadang saya juga harus kembali kejakarta, hanya sekedar membeli sekantong bunga untuk ditabur ditanah kusir tempat indah bersemayam jasad ibunda tercinta,

  4. itulah kehidupan, ada susah ada senang, tetapi belum tentu kesenangan membawa kebahagiaan, bisa saja yg hidup susah tapi merasa bahagia, karena mereka pandai bersyukur.. 🙂

  5. Banyak rojali2 lain berada disekitar kita yang terkadang kita tak menyadarinya…
    tulisan yang menyentuh dan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas segala nikmat…
    pandai bersyukur dan sabar adalah kunci kebahagiaan…

  6. Saya pernah bergaul dengan banyak nelayan, dari mereka kita menemukan hal-hal yang bisa kita petik terutama kerja keras serta keberaniannya menanggung resiko. Sisi lain, inilah salah satu guru kehidupan (ikut istilah MT) yang lain.
    Trims atas postingan yang sarat makna.

  7. Di kampung saya namanya “mamukek/maelo pukek.” Itulah dinamika, ada cari nafkah dengan cara senang, ada yang berkeringat dengan sengatan matahari garang. *termasuk saya…*

  8. semua itu adalah pilihan hidupnya ataupun yang dipilihkan untuk hidupnya olehNya… sejauh mana org memandangnya dengan penuh penerimaan dan kesyukuran tuk menjalani kehidupannya masing2… sukses selalu, mr… ^^

  9. rezeki sudah diatur oleh-Nya, dan sebuah sunnatullah ada orang kaya dan ada orang miskin…hendaknya orang yang kaya tidak letih berderma untuk mereka yang miskin dan tidak bergaya hidup berlebih-lebihan sehingga mengiris hati si miskin yang menyaksikannya….barakallahu fiik

  10. heu,,,nelayan tradisional mereka emng pekerja keras
    demi keluarga dan masa depan…smangat!!!!!

    tp yg di hotel itu bagi2 dooooong, hehehe…
    smoga hari baik itu datang, para agniya
    menyantuni para fukoro wal masakin, amin,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s