Senyum Bumi Esok Hari

21

April 21, 2010 oleh sedjatee


Saya hanya ingat bahwa teori Malthus tentang pertambahan populasi dan pangan adalah pelajaran yang saya terima di Sekolah Dasar. Saat ini, 23 tahun setelahnya, saya membaca ringkasan An Essay on the Principle of Population yang ditulis oleh Thomas Robert Malthus tahun 1798 untuk kemudian meyakini pendapat beliau tentang the unequal nature of food supply to population growth.

Pada awal dilontarkannya pendapat ini, banyak fihak menyebutnya sebagai rumor untuk menciptakan ketakutan, tetapi secara perlahan pendapat Malthus mulai dibenarkan. Mungkin karena pembenaran itulah planet ini kemudian memacu produktifitasnya. Alam semesta pun mulai berkenalan dengan pestisida, insektisida, pupuk kimia termasuk hormon buatan. Untuk beberapa jenak, rekayasa kimiawi itu memberi jeda pada mimpi buruk krisis pangan yang dikhawatirkan penghuni planet biru ini. Dan mimpi buruk krisis pangan sepertinya benar-benar akan berakhir ketika masyarakat agraris menemukan istilah ekstensifikasi pertanian. Konversi hutan menjadi lahan pertanian tak pernah disadari sebagai deforestrasi hingga akhirnya penghuni bumi merasa gerah dengan iklim global yang merangkak naik.

Cuaca ekstrim dan kepunahan beberapa spesies satwa bukanlah fenomena dadakan melainkan suatu akibat dari proses destruksi lingkungan yang panjang. Dodo, burung tak pandai terbang ini, adalah ikon kepunahan bangsa satwa. Gambar tentang Dodo masih sama antara dahulu dan sekarang, walaupun dodo terakhir meninggalkan kita sejak 1680. Hingga kini, perjalanan menuju kepunahan masih terus berlangsung dalam status vulnerable, endangered, critical, extinct in the wild maupun extinct. Sebagai bahan renungan, World Conservation Union memiliki daftar 1600 satwa dalam kategori extict.

Orang jawa mengatakan: kali ilang kedunge, alas ilang kumandange (sungai-sungai kehilangan palungnya, hutan-hutan kehilangan keriuhannya). Dalam kesunyian itulah muncul bisikan-bisikan yang menggugah kesadaran akan sistem hidup. Setidaknya itulah yang terjadi pada 1962 ketika burung-burung piaraan di Pennsylvania mati akibat penyemprotan DDT untuk membunuh nyamuk. Momentum itu menginspirasi Rachel Carson untuk menuturkan keprihatinan akan munculnya suatu musim semi yang bisu, yang tanpa kicau burung atau kepak sayap serangga, lalu ia menuliskan “Silent Spring”.

Kerinduan kepada masa lalu bumi yang hijau dan segar kini telah menjadi hasrat kolektif warga dunia. Setidaknya inilah yang juga dirasakan oleh Gaylord Nelson, senator yang rajin mengusung isu-isu lingkungan ke ruang kongres. Kegigihannya menemui hasil dengan pencanangan Hari Bumi pada 22 April 1970, setelah bertahun-tahun Nelson memperjuangkannya. Selanjutnya gerakan pelestarian alam terus berperang di semua lini dengan perusakan alam yang berdalih menyuplai kebutuhan pangan manusia dan ternak.

Saat ini para environmentalis yang lantang menggelorakan Revolusi Hijau belum sepenuhnya tersenyum. Masih banyak warga bumi yang merintih kelaparan, memberi indikasi bahwa ratusan tahun setelah diucapkan, teori Malthus tetap relevan di bumi yang sempit ini. Tanpa sadar, kita penghuni bumi terus menerus memeras tanah tempat kita berpijak, juga air, tanaman dan mineral di dalam perutnya untuk menyambung mimpi di tanah yang semakin riuh dan pengap. Itu semua tak terhindarkan, karena bumi adalah ibu kita. Kita kini hanya dituntut berlaku lebih santun kepada orang tua yang semakin renta.

Ketika cetusan pertama, tahun 1970, hanya warga Paman Sam saja yang memeringatinya. Sedangkan pada milestone ke-20, hari bumi 1990 ditandai dengan keseragaman 140 negara mengangkat isu lingkungan secara bersama-sama. Ini jugalah yang menginisiasi Konferensi Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992. Selanjutnya pada edisi ke-30 tahun 2000, ketika teknologi informasi telah menjadi makanan pokok penduduk bumi, para aktivis lingkungan kembali merangkul ratusan juta penduduk di 184 negara untuk melakukan suatu tindakan memperbaiki bumi. Esok, pada kali ke-40 bumi ini diperingati, kesadaran pada rumah warga dunia ini semakin besar. Kita bisa melakukan apapun, sekecil apapun, dengan satu niat menciptakan bumi lebih baik untuk hari esok. Juga di kampus ini, meski hanya dengan selembar poster kecil sebagai pengingat bahwa kita harus mencintai bumi ini dengan cara yang lebih santun. Sedikit kontribusi kita kepada tanah kehidupan kita, akan menjadi suatu prasasti kecil bagi kehidupan yang baik di masa mendatang. Marilah kita bertanya pada diri kita, apa yang telah kita lakukan untuk merangkai senyum di bumi esok hari?

Sumber gambar : frogsaregreen.com dan http://www.rtlibrary.org

21 thoughts on “Senyum Bumi Esok Hari

  1. M Subchan mengatakan:

    setuju seribu persen bang. semua dari kita harus memulai aksi nyata untuk menyelamatkan bumi. mulai dari yang paling sederhana, mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang juga. alhamdulillah, setelah dua windu tak mengayuh pedal sepeda, dua bulan terakhir, saya mulai kembali mengayuh sepeda menuju kantor. hal biasa saja sebenarnya, tapi saya yakin menyumbang banyak untuk menjaga kelangsungan planet bumi.

  2. kopral cepot mengatakan:

    inimah tulisan seurius😉 .. jadi inget lirik lagu ” mau dibawa kemana bumi kita” …
    hatur tararengkyu😉

  3. asepsaiba mengatakan:

    Harimau Sumater semoga tidak jadi Dodo selanjutnya ya mas…
    Manusia semakin rakus saja…

  4. nurrahman mengatakan:

    ulasan ilmiah kreatif, saya juga sepakat setiap manusia haru smemulai “green”

  5. andry sianipar mengatakan:

    hello-
    salam hangat dari pulau Bali-
    wah, kalau di Bali seeh masyarakatnya sudah cukup sadar akan kelestarian bumi lho……

  6. engkaudanaku mengatakan:

    Bumi kita sudah semakin tua dan renta,
    ia sudah begitu rapuh,
    padahal kita ada di permukaannya,

    🙂 “Senyum indah hari ini untuk Bumi kita”🙂

  7. jumialely mengatakan:

    saya akan tetap melakukan yang terbaik dari diri saya dulu mas untuk menuju masa depan indonesia lebih baik

    terima kasih atas pencerahannya

    salam hangat

  8. Usup Supriyadi mengatakan:

    memang sudah saatnya action jangan terus berwacana saja .:mrgreen:

    Go Green!

  9. wardoyo mengatakan:

    Sudah absen kelamaan dari dunia blog, sekarang berkunjung lagi ah. Memang perlu sekali kesadaran untuk menjadikan bumi ini tempat yang lebih indah untuk dihuni… dan semuanya dimulai dari diri sendiri…
    Salam bumi, bung sedjatee!

  10. ABDUL AZIZ mengatakan:

    Assalamu’alaikum,

    Maaf Mas, sudah lama saya tidak mengunjungi Mas. Terima kasih Mas selalu mengunjungi saya.

    Tulisan tentang rumah kita ini selalu menarik, walau tulisan ini bagi saya cukup berat. Kita sebenarnya sudah diingatkan Allah hampir 15 abad yang lalu, bahwa kerusakan bumi ini akibat ulah manusia. Tapi kita tidak kapok-kapoknya merusak alam ini, walau didera bencara berulang-ulang.

    Terima kasih.
    Salam.

  11. delia4ever mengatakan:

    Benar2 rindu dengan alam masa kecilku….
    kalo dilihat2 tanaman disekitar hijaunya tidak seperti dulu lagi… hikss hikss.. semoga program 1000 pohon benar2 sukses…

    GO green🙂

  12. bundadontworry mengatakan:

    lakukan segera aksi utk selamatkan bumi, jangan hanya sekedar wacana saja.
    paling tidak, mulailah dr diri sendiri dan mulailah dr sekarang.
    Menanam sebatang pohon dihalaman pun sudah sangat membantu,apalagi jika dilakukan berjamaah.
    salam

  13. abang haris mengatakan:

    selamat hari bumi
    hari bumi juga hari ultah ane kang😀

  14. haris ahmad mengatakan:

    mulailah dari diri kita untuk menyelamatkan bumi ini, mulailah dari hal kecil dengan tidak merusak alam

  15. darahbiroe mengatakan:

    acungkan jempol buat sahabat…
    topik yang berat namun bisa dikemas dengan bahasa yang simple
    ayooo stop global warming

  16. Vulkanis mengatakan:

    Semoga aja bumi bisa tersenyum

  17. Vulkanis mengatakan:

    Mari Boz kita jaga bumi ini.. selalu dn bersama&sama

  18. mas tyas mengatakan:

    tulisan yang menggugah jiwa, tak sadar selama ini lebih cenderung upayakan senyum untuk saat ini saja, besok/ lusa? Opo jare mengko..:mrgreen:

  19. yanrmhd mengatakan:

    bumi oh bumi, marahkah kau pada kami???
    smoga tidak…:mrgreen:

  20. sunflo mengatakan:

    setelah bumi hampir sekarat … manusia pada nyadar yaa… dulunya pada lupa, bahwa kehidupan akan terus berlangsung di muka bumi ini hingga anak cucunya nanti… meski terlambat… mari kita selamatkan bumi untuk kelangsungan hidup anak cucu kita jua nantinya… ^^

  21. rose mengatakan:

    bumi yang dulu begitu teduh dan segarnya… kasihan anak cucu kita nanti… mereka akan menikmati bumi yang seperti apa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: