Andai Aku Bisa Menunggu

Tujuh tahun lalu, siang itu matahari masih diatas ubun-ubun. Cuaca panas di Medan menguatkan keinginan untuk balik ke kantor tidak dengan sepeda motor. Tetapi aku harus menunggu dalam interval waktu yang tak jelas sampai montir datang untuk menuntaskan servis mobilku. Sesuatu yang tak mungkin kulakukan siang itu mengingat setumpuk pekerjaan masih teronggok di mejaku. Akhirnya sepeda motor kembali menjadi pilihan dalam keterpaksaan.

Jalanan cukup lengang siang itu. Di ruas jalan searah ini aku memacu motor seperti Burisrowo dikejar Setyaki memakai motor Valentino Rossi. Aku berkeyakinan tak ada makhluk yang coba curi-curi pandang untuk memotong jalan atau melawan arus. Tetapi rasanya kurang seru jika di kota Medan tak ada pengemudi memotong jalan, melawan arah atau bermanuver seenaknya di tengah jalan. Dan kekonyolan itu tiba-tiba saja nyelonong dalam jarak yang tinggal beberapa jengkal di depan hidungku.

Rem kuinjak sedalam mungkin, tetapi jarak tak memungkinkan lagi untuk berhenti dengan selamat. Maka seperti gerakan penyulih adegan di filem-filem laga, rem mendadak itu membuatku terpelanting dan mendarat dengan gaya tidak akrobatik lalu terkapar. Merasa baik-baik saja, aku bangun. Perempuan nekat yang nyaris kutabrak itu pucat pasi, tetapi ia memastikan bahwa dirinya dan kendaraannya baik-baik saja.

Seusai adegan filem laga itu, aku mencoba menegakkan motorku yang jungkir balik di aspal panas. Tetapi aku merasa ada yang tak beres pada tangan kiriku, hanya terkulai, tak bertenaga. Aku terus mencoba meluruskan tangan kiriku, kendati itu sulit dan meyakinkan. Sampai seorang mengamati tanganku dan mengatakan ada tulang yang patah di dua titik pada lengan kiriku. Teman-teman bersepakat membawaku ke ahli tulang tradisional. Dan pengobatan yang terasa menyakitkan itu mempercepat pemulihan tanganku.

Kejadian yang sangat mengerikan itu sempat menanamkan kekhawatiran yang berlebihan bagiku untuk menaiki sepeda motor. Kondisi itu membuatku secepatnya berusaha mengemudikan mobil lagi, meski penyembuhan tanganku belum pada taraf yang mengizinkan untuk mengemudi.

Tujuh tahun setelah peristiwa itu, aku mulai merasakan salah satu akibat patah tangan kiriku. Ketergesaanku untuk mengaktifkan tangan kiriku, kini terasa saat aku kembali bermain dengan bola basket kecintaanku. Kendati bukan seorang kidal, lemparanku terasa kurang akurat, dan itu kusadari sebagai akibat dari tak sempurnanya penyambungan tangan kiriku. Meski bisa sepenuhnya berfungsi seperti semula, tangan kiriku pulih kurang presisi. Aku mengambil hikmah semuanya sebagai pelajaran bagi kesabaranku. Aku harus bersabar atas kejadian itu. Termasuk kesabaranku menunggu montir menyelesaikan servis mobilku.

–==808==–

Tulisan ini kupersembahkan sebagai partisipasi hajatan Saudaraku Tercinta Haris Ahmad. Beliau menggelar festival seandainya waktu kembali, dan semoga tulisan ini dapat dicatat sebagai salah satu kontestan yang memeriahkan acara. Buat sahabatku Haris Ahmad, tetap semangat, semoga tulisan ini bisa menjadi perekat persahabatan tak kasat mata antara kita semua, blogger indonesia.

sumber gambar: mygpdream.com

Iklan

24 pemikiran pada “Andai Aku Bisa Menunggu

  1. ketergesaaan yg membawa akibat yg tdk mengenakkan ,
    dan selalu ada hikmah dibaliknya.
    terimakasih krn telah berbagi Mas.
    Semoga sukses dlm acaranya Mas Haris dan berhasil jadi pemenang,amin
    salam

  2. Pengalaman yg luarr biasa, sy membayangkan waktu nginjak rem terus terpelantingnya … wah kayax di Film2 action ya Mas 😀

    Insya Allah sudah banyak hikmat yg Mas Sedjatee rasakan dibalik peristiwa ini.

  3. sabar menghadapi hasil yang diperoleh sekarang akan lebih baik dari menyesalinya,,
    itulah mengapa kita harus memohon pada Allah agar diberi kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit..

    tetap semangat mas Sedjatee!! sukses dan berkah selalu.. 🙂

  4. Kisah yang luar biasa…
    seandainya .. merupakan kata2 kita ketika kita menyesal.. 😦
    namun setidaknya kita mendapatkan makna dari itu…

  5. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Alhamdulillah, karena saya sampai saat ini belum bisa mengendarai kendaraan bermotor maka yang ada saya seringnya jadi korban ketidakpatuhan para pengguna jalan, beberapa kali rasanya saya berhadapan dengan maut dijalanan, atau saat lagi menyeberang. semoga hal seperti itu tidak diulangi lagi ya kang . karena kita hidup tidak sendiri, segala yang kita lakukan itu bisa berdampak sistemik lho, baik keburukan atau kebaikan . 😀

    selamat berkompetensi, semoga berhasil . 😀

  6. hubby juga pernah kek gtu mr… kecelakaan, dan tentu mengurangi keoptimalan fungsi alat geraknya… tapi alhamdulillah masih kuat beraktivitas… 🙂

  7. wah, q kira ini cerita yang sedang dialami dirimu sobat, eh ga taunya cerita 7 tahun yang lalu.. hikz… 🙂
    ==
    blog ku yang achot.toalh.com sekarang hanya tinggal kenangan aja sob, sejak di suspend n akun na di delete dari byethost, karena udah ga pantes lagi nempatin hosting gratisan ( kata admin na gitu), akhirnya pindah ke achoot.com..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s