Satu Definisi Alternatif Tentang Perguruan Tinggi Idaman

14

April 29, 2010 oleh sedjatee

Mari kita buka data Badan Pusat Statistik tentang data survei tenaga kerja nasional. Melihat fakta tentang pengangguran di Indonesia, keresahan akan masa depan akan menjadi salah satu isi fikiran dari setidaknya dua kalangan: para pelajar yang akan memasuki status angkatan kerja dan kalangan orangtua. Dengan angka pengangguran terbuka sebesar 9,11 persen hasil sakernas 2007, masalah mencari pekerjaan adalah porsi utama kegundahan setiap angkatan kerja dan orangtuanya.

Tak semua tamatan SMU dipusingkan dengan mencari sekolah atau mencari pekerjaan. Tetapi yang demikian tidaklah banyak. Saya beberapa kali berdiskusi dengan calon tamatan SMU, mahasiswa dan beberapa orangtua, dan saya telah mendengar beberapa pendapat bernada pesimis tentang relevansi kuliah dan prospek pencarian kerja. Beberapa siswa SMU menyatakan lebih suka mendapat pekerjaan daripada menempuh kuliah namun masih dipusingkan dengan mencari kerja selepas itu, namun sangat bahagia jika bisa menikmati bangku perguruan tinggi dan bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Beberapa mahasiswa menyatakan masih belum ada gambaran pasti tentang pendidikan yang ditempuh dengan keyakinan mendapatkan pekerjaan dengan bekal pendidikannya itu. Beberapa orangtua menyatakan lebih suka jika anaknya bisa kuliah di perguruan tinggi yang menyediakan pekerjaan setelah menempuh kuliah.

Dari berbagai pendapat diatas, boleh jadi satu kriteria perguruan tinggi idaman adalah yang bisa memberi solusi atas gelapnya problematika mencari pekerjaan selepas kuliah. Dan itulah pendapat saya jika pertanyaan itu dilontarkan ketika saya menyelesaikan SMU pada 17 tahun yang lalu. Ketika saya lulus SMU dan kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), saya menemukan motivasi yang sama pada rekan-rekan sekampus. Dan ketika saat ini saya masih menjadi bagian sivitas akademika STAN, saya pun melihat motivasi yang sama pada sebagian besar mahasiswa saya. Mengapa STAN? Karena lulusan STAN sejauh ini diangkat sebagai PNS di jajaran Kementerian Keuangan.

Ada banyak kriteria untuk menyebut perguruan tinggi terbaik atau perguruan tinggi favorit di Indonesia. Nama besar, kualitas pengajar, karir para alumnus dan opini peringkat perguruan tinggi adalah beberapa alasan untuk itu. Namun beberapa pernyataan diatas memberi satu kriteria alternatif bahwa perguruan tinggi idaman di kalangan para pelajar / mahasiswa mauupun kalangan orang tua adalah perguruan tinggi yang memberi gambaran (pasti maupun samar) tentang keyakinan mendapatkan pekerjaan selepas kuliah. Untuk kriteria ini, sekolah kedinasan adalah pilihannya.

Pada sisi ini, rasanya kurang berimbang jika membandingkan sekolah kedinasan dengan perguruan tinggi umum. Perguruan tinggi kedinasan lahir sebagai respon kebutuhan instansi pemerintah atas regenerasi SDMnya. Ada tautan yang pasti antara penerimaan mahasiswa sekolah kedinasan dengan kebutuhan pegawai suatu instansi pemerintah. Inilah unsur yang terkadang tak ada pada sekolah umum.

Namun begitu, bukan tak mungkin perguruan tinggi umum melakukan sesuatu yang sama dengan sekolah kedinasan dalam hal penyediaan lapangan kerja. Ada beberapa hal yang memungkinkan hal itu.

1. Penjaminan kualitas lulusan. Ini satu kata kunci yang mutlak ada. Cukupkah kualitas ditunjukkan dengan akreditasi? Sama dengan relevansi mahalnya biaya kuliah dengan kualitas lulusan perguruan tinggi. Untuk kualitas, STAN dalam kacamata kami telah mempertahankan tradisi perekrutan terbaik. Serbuan ratusan ribu pendaftar dengan nilai diatas rata-rata memberi keyakinan STAN mendapatkan input berkualitas, yangmana ini elemen penting melahirkan lulusan berkualitas. Tanpa mengesampingkan faktor yang lain, aksesabilitas dunia kerja atas lulusan suatu perguruan tinggi bisa menjadi indikasi kualitas lulusannya.

2. Kemitraan dengan penyedia lapangan kerja. Terkait dengan faktor pertama, dengan kualitas yang dibanggakan, perguruan tinggi akan sangat percaya diri untuk menawarkan lulusannya ke instansi / perusahaan yang memerlukan tenaga kerja. Garansi kualitas ini dapat menjadi keyakinan kalangan penyedia lapangan kerja untuk terus mengakses lulusan perguruan tinggi.

3. Pembinaan jejaring alumni. Yang ini telah banyak diterapkan oleh beberapa korps alumni. Komunikasi yang harmonis antara almamater dengan korps alumni dapat memupuk tingkat keterikatan alumni dengan almamater. Lebih khusus bila hal ini diterapkan pada masalah pencarian / penyediaan lapangan kerja.

Bila esok, kemudahan mengakses lapangan kerja masih menjadi salah satu definisi tentang perguruan tinggi idaman, maka tiga hal ini, sedikit banyak bisa mengubah wajah perguruan tinggi menjadi lebih optimis dalam memberi jawaban atas banyaknya keraguan tentang lapangan kerja.

Reputasi, nama besar almamater dan para pengajar, fasilitas kuliah dan tarif yang mahal, boleh jadi adalah simbol-simbol prestise dalam penentuan perguruan tinggi. Namun tak bisa dipungkiri bahwa urusan mencari kerja masih menjadi kekhawatiran tersendiri. Maka inilah saatnya bagi perguruan tinggi untuk meredefinisi bonafiditasnya.

-==808==-

Tulisan ini ditulis sebagai partisipasi dalam Lomba Blog UII yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia.

14 thoughts on “Satu Definisi Alternatif Tentang Perguruan Tinggi Idaman

  1. Ismail Agung mengatakan:

    setelah saya baca tulisan anda entah kenapa yang terlintas di kepala saya adalah

    mahasiswa lulus siap-siap jadi pekerja

    jadi mahasiswa = jadi pekerja

    wah lama-lama negeri ini jadi negeri para calon tenaga kerja… ckckckckckc

  2. Muliardy Banun Online mengatakan:

    salam kenal,
    postingannya mantap,
    semoga sukses bro,

    salam.

  3. dedekusn mengatakan:

    Komen pertamax-kah? yes….!

    • dedekusn mengatakan:

      Ternyata beneran Komen pertama..:mrgreen:
      Semoga kualitas pendidikan PT kita tambah meningkat, bukan hanya SPP-nya sj yg terus meroket😀 ….

      Smoga menang Mas, Insya ALlah.

  4. shafiragreensulaiman mengatakan:

    yang akreditasnya rendah selalu di anak tirikan, padahal banyak juga lho sosok – sosok cerdas lulusannya

  5. delia4ever mengatakan:

    menyambung komen shafira.. saya termasuk kuliah di univ yg akreditas rendah.. namun saya percaya saya termasuk lulusan yang cerdas🙂

    Selamat ya Mas untuk kontes nya..
    walaupun saya tidak bisa masuk kekampus idaman…
    tapi definisi diatas sudah sangat jelas mengutarakan bagaimana yg disebut kampus idaman🙂

  6. mahesapandu mengatakan:

    Bener banget mas. Udah kuliah mahal, lepas kuliah bingung nyari kerja. Tapi kalau bisa sih nyiptain lapangan kerja yang bisa menyerap tenaga kerja dong.. Mungkin negara kita pengekspor tenaga kerja terbesar lho.

  7. arkasala mengatakan:

    artikel yang menarik. Masalah perguruan tinggi bagi saya adalah kembali kepada kualitas dalam memberikan pendidikan kepada para mahasiswanya. Membentuk pribadi yang profesional baik itu kelak lulusannya akan sebagai pekerja atau wiraswasta. Intinya akan membentuk pribadi yang bermutu pula.
    Trims atas artikelnya. Semoga sukses lombanya.
    Salam hangat selalu🙂

  8. sunflo mengatakan:

    tidakkah bisa diubah persepsi atau paradigmanya bhw kuliah itu utk mengembangkan iptek?? seringnya di negara kita, kuliah itu buat kerja ya mr… emang mungkin baru segini tingkat kemampuan negara kita.. beda bgt ma negara maju… mereka bener2 menjunjung tinggi iptek…

  9. M Mursyid PW mengatakan:

    Tidak perlu dipungkiri, kita semua menginginkan pekerjaan yang layak dengan gaji mencukupi. Maka memang salah satu motivasi seseorang belajar di perguruan tinggi adalah dalam rangka untuk itu. Yang perlu diluruskan adalah bahwa bekerja tidak harus selalu identik dengan menjadi pekerja (kuli), tetapi juga menciptakan lapangan kerja.

  10. nuun mengatakan:

    ai ai ai… mas sedjatee lulusan STAN?? skr dinas dimana mas?

  11. Usup Supriyadi mengatakan:

    good luck😀

  12. hello there and thank you for your info – I’ve certainly picked up anything new from right here. I did however expertise some technical issues using this web site, as I experienced to reload the web site many times previous to I could get it to load correctly. I had been wondering if your web host is OK? Not that I’m
    complaining, but slow loading instances times will often affect your placement in google and
    can damage your high-quality score if advertising and marketing with Adwords.
    Anyway I’m adding this RSS to my e-mail and can look out for a lot more of your respective exciting content. Make sure you update this again very soon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: