Sang Penakluk Petir

13

Mei 9, 2010 oleh sedjatee


Aku menutup buku “Babad Tanah Jawa” (1941) yang telah beberapa kali kubaca, tepat ketika kendaraan kami sampai di Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Tak banyak yang ditulis oleh Olthof tentang seorang yang pusaranya merana pada sebidang pekarangan yang jauh dari pusat kekuasaan tanah Jawa, yang dirintis olehnya. Dalam kesunyiannya di sini, ia tetaplah seorang legenda. Ia lebih dari sekadar seorang yang menghancurkan kepala kerbau hutan dengan tangan kosong, atau seorang petani yang menaklukkan petir.

Aku serasa mengalami déjà vu. Bagiku, Ki Ageng Selo tidak sedang terbujur di liang lahatnya yang kusam ini. Aku melihatnya tengah berkelana di hutan, lembah dan sungai, mendalami ilmu sekaligus melakukan tirakat untuk sebuah cita-cita: kiranya ia atau mungkin anak keturunannya, menjadi penguasa tanah Jawa. Hasratnya bukanlah sebuah bualan semata karena di dalam tubuhnya masih ada tetes darah Brawijaya V, penguasa Majapahit terakhir.

Di tengah belantara, aku melihatnya terperanjat bangun pada tengah malam itu. Betapa ia tercenung ketika kilau cahaya wahyu itu tak merasuk ke tubuhnya melainkan ke raga Karebet, murid yang tidur di sampingnya. Terlihat garis wajahnya yang kecewa. Bisa saja ia menyingkirkan Karebet saat itu, namun ia sadar bahwa itu semua ketetapan Tuhan yang seorang Ki Ageng Selo tak berhak mengutak-atiknya. Ia merestui Karebet alias Jaka Tingkir, muridnya, untuk meraih takdirnya ke Kesultanan Demak. Akhirnya ia hanya menitipkan cucu-cucunya : Pemanahan, Panjawi dan Juru Martani, untuk bisa terus bersama Karebet sekiranya kelak di kemudian hari benar meraih wahyu.

Kini Ki Ageng Selo terlihat berada di tengah alun-alun Kesultanan Demak. Ia sedang diuji oleh Sultan Trenggana untuk menjadi tamtama kesultanan Demak. Kerbau hutan ganas yang menyerangnya takluk dengan kepala pecah, namun ia membuang wajah dari percikan darah, sikap itu membuatnya ditampik. Ia mengamuk sampai amukannya dihentikan oleh Karebet yang telah dipilih Sultan sebagai ketua tamtama. Ia kembali ke desa dengan segala rasa kecewa.

Makam itu merana. Tak tampak kebesaran seorang Ki Ageng Selo, sosok yang menjadi benang merah penghubung mata rantai terputus antara trah Majapahit dengan Mataram. Orang-orang yang berduyun melakukan pengeramatan pada kijing batu itupun terkadang tak faham bahwa sosok yang bersemayam dipusara itu adalah leluhur Paku Buwono, Hamengkubuwono, Mangkunegoro, dan semua darah biru yang kini bertahta di istana-istana.

Aku melihat seorang petani yang mencangkul di tengah hujan. Ketika orang berhamburan pulang menghindari petir yang menyambar-nyambar, Ki Ageng Selo tetap berjibaku dengan cangkulnya. Maka inilah sang legenda: ia menaklukkan petir, meringkusnya ke dalam sebongkah batu. Batu yang akhirnya ia persembahkan kepada Sultan Demak: ”Yang Mulia, inilah batu berisi petir, jagalah karena ia akan meledak jika terkena air”. Sang Sultan lalai dan seorang nenek tua menyiramnya dengan seteguk air, meledak. Disinilah awal mula mitos: jikalau kita terancam oleh sambaran petir, maka sebutlah nama Ki Ageng Selo, niscaya petir akan bertekuk lutut.

Rintik gerimis perlahan membuyarkan lamunanku tentang masa lampau. Sayup-sayup masih terdengar riuh suara keluarga besar Ki Pemanahan dan Ki Juru Martani, yang tak lain adalah keturunan Ki Ageng Selo, melakukan eksodus ke hutan Mataram, tanah yang dianugerahkan oleh Sultan Adiwijaya atas kemenangannya menumpas Arya Penangsang. Di dalam liang lahatnya, aku yakin Ki Ageng Selo telah melihat isyarat dari jerih payah laku prihatinnya, inilah jalan bagi anak keturunannya meraih wahyu yang tertunda. Wahyu yang sempat mampir ke dalam diri Karebet, yang bergelar Sultan Adiwijaya itu telah beringsut pindah ke bocah Danang Sutawijaya, yang kelak menjadi Panembahan Senapati Sang Penguasa Mataram.

Hari mulai gelap, gerimis kini menjadi hujan. Makam yang makin sepi ini terus diterangi api abadi. Aku beranjak pulang dengan bayangan penuh tentang Ki Ageng Selo. Mobil ini melaju terayun-ayun di jalanan Blora-Purwodadi yang bertanah labil. Kami makin jauh dari pusara sang legenda. Semakin jauh dari makam itu, makin sering kami menemukan petir. Tiba-tiba kilatan besar berkilau di depan kami, menyimpan daya ledak yang begitu besar. Perlahan bibirku menggumam lirih menakut-nakuti petir: “aku keturunan Ki Ageng Selo”. Lalu mitospun berjalan: kilat berhenti dan petir pun terdiam. Takluk.

Sedjatee , Blora – Purwodadi, Februari 2010

sumber gambar: lighteningsafety.gov

13 thoughts on “Sang Penakluk Petir

  1. Batavusqu mengatakan:

    Salam Takzim
    Sebuah misteri ki Ageng Selo, tetap nikmat terbaca walau telah puluhan tahun ya kang
    Salam Takzim Batavusqu

  2. dedekusn mengatakan:

    Andai sy bisa spt ki Ageng Selo😮

    Cerita yg melegenda, bukan sekedar mitos.

  3. yanrmhd mengatakan:

    mantafff ceritanya nih bung Sedjatee🙂
    wah seperti dejavu…jangan2…, heheyy

    salam sukses selalu,,😀

  4. jumialely mengatakan:

    kerennn ceritanya mas, wew

  5. kopral cepot mengatakan:

    dalem banget … tulisan spt ini yang slalu sy suka dr si mas ini😉

    Hatur tararengkyu atas inspirasi hidup yg sangat berarti

  6. sunflo mengatakan:

    petir … aq takut kalau lihat kilat dan bunyi petir… tapi kalau bunyi guruh… aku begitu menikmatinya… ^^ sukses selalu mr…

  7. wardoyo mengatakan:

    Cerita yang membius… takkan berhenti sebelum usai. Memang pesona Ki Ageng Selo luar biasa, apalagi kalau dinikmati dengan rasa hormat. Bahkan sanepo juga terdengar nyata.
    Salam.

  8. dedekusn mengatakan:

    Berkunjung lagi Mas…
    Salam sukses!

  9. delia4ever mengatakan:

    Pesona Ki ageng Selo sangat hebat🙂
    lia pernah mendengarnya

    Mengingat petir kok tiba2 hati lia sedih ya😦

  10. Ngabehi mengatakan:

    saya masih mencari-cari, sebetulnya apakah tafsir tentang kisah Ki Ageng Selo menangkap petir?.Barangkali ada salah satu pembca yang bisa membabarnya.
    salam.

    • pupuy mengatakan:

      dari pertanyaan anda saya punya pendapat tentang jawaban pertanyaan anda.kebetulan saya sedang mengkaji serat namanyaa serat tembung andupara.didalam serat menjelaskan tentang cerita ki ageng sela menangkap petir, namun dalam serat yang sama juga ada penjelasan lebih lanjut bahwasannya tidak ada petir yang tertanggkap karena cerita itu adalah perlambang yang digunakan oleh para pujannga dengan maksud tertentu.ki ageng sela adalah orang yang sakti itu benar karena kesaktiannya itulah dia masuk mencaji calon prajurit tamtama dibintara demak,syaratnya setiap calon prajurit harus menempeleng kepala banteng hinngga tewas tapi yang terjadi pada ki ageng sela justru dia memalingkan nmukanya karena enggan terpecik oleh darah si banteng… karena itulah sultan demak akhirnya menyatakan gagal untuk ki ageng sela… ki ageng marah dia kembali pulang dengan menyiapkan orang-orang untuk menghadap raja demak… raja demak tahu akan niatan ki ageng sela. setelah ki ageng sela dan kawannya berada di depan istana kerajaan dengan menunggangi kudanya tepat didepan istana rajapun sudah menunggu dengan panahnya.. dan tak disangka raja memanah tepat dijantung kuda hinnga tewas,disitulah Sela berpikir kalau raja berkehendak tentu panah itu sudah melesak tepat pada jantungnya bukan pada jantung kudanya. dari situlah bagaimana mungkin seorang ki ageng sela bisa menangkap petir sedangkan untuk menjadi prajurit saja ia gagal.

      • yanto PKLN Kemkes mengatakan:

        ki ageng selo itu pasti nama samaran, kalo menurut analisa saya ki ageng selo bisa menangkap petir dan di tolak oleh sultan demak, begini ceritanya :
        ki ageng selo adalah ilmuawan tapi penganut agama hindu/budha,yang tekun, beliau sudah menemukan batu batery sebesar kepalan tangan manusia dewasa, yang kegunaanya bisa untuk penerangan atau bom bila di picu oleh air. dari mana enargi batu batery tersebut didapat, ki ageng selo sudah mengajarkan klo petir itu adalah sumber energinya, dan ki ageng selo sudah tahu klo petir adalah listrik alam, maka untuk mengambil energinya dengan cara mengikatkan batu bateray ke pohon gandri, pohon gandri disini yang dimasud ki ageng selo adalah antene yang menjulang tinggi. mungkin ke ageng selo mendapatkan ilmu itu dari bangsa atlantis yang tenggelam, kenapa ilmuawan sekelas ke ageng selo bisa di tolak oleh sultan demak, kita tahu sultan demak adalah penganut agama islam, dari idiologi sudah beda, belum lagi karena kebodohan dan ilmu pengetahuan sultan demak waktu itu masih sangat rendah, sehingga batu yang bisa memberi penerangan atau dapat di pakai sebagai bom, dianggap animesme dan dinamisme sehingga dalam pemikirannya takut di puja dan di kultuskan oleh rakyatnya, dan ini secara politik bisa merugikan dirinya sekaligus sangat bertentangan dengan al Quran. dan kenapa nama samaran pakai ki ageng selo : bahasa jawa ” ki ” adalah sebutan laki laki setengah umur, “Ageng” besar atau berharga, “Selo” Batu. jadi di sini sekali lagi ki ageng selo sudah bermurah hati agar ilmu pengetahuannya yang didapat dari cerita nenek moyangnya yang masih keturunan bangsa atlantik tidak hilang, memberi sebutan “ageng selo”, yang dimasud bateray yang bisa menangkap energi petir adalah batu yang berharga (ageng selo). batu berharga di sini batu yang mengandung logam berharga misal batuan urat emas atau batuan urat timah. karena sudah terlanjur di tolak oleh sultan demak, bagaimana proses membuatnya untuk bisa jadi bateray pasti sudah hilang. maka menjadi tugas para ilmuawan indonesia untuk menyelidiki bahwa bahan batu bateray yg hebat itu ada di batuan urat emas dan timah atau justru masih ada di desa selo tempat tinggal ki ageng selo?

        dari yanto PNS PKLN Kemkes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: