Kenangan Pada Sebuah Nama


Apabila sesuatu yang dinikmati seseorang lalu memunculkan sifat adiktif itu disebut candu, maka bagi saya wayang adalah candu. Jika harus memilih karya-karya fiksi paling menarik untuk dibaca, maka cerita-cerita wayang akan menjadi jawaban pertama saya. Demikian halnya dengan file-file MP3 wayang kulit sebagai hiburan favorit telinga saya. Bacaan wayang adalah materi belajar membaca saya sebelum memasuki bangku sekolah, dan tembang mocopat adalah pelajaran menyanyi pertama sebelum saya mengenal lagu-lagu bocah yang lain. Namun saya tak yakin bahwa dua hal itu yang membuat saya kecanduan wayang.

Boleh jadi, saya tak akan segila ini terhadap wayang jika bukan suara beliau yang saya dengar setiap malam dari radio portabel di kamar ayah. Vokal beliau sangat khas dan berwatak. Hanya dari “logat”-nya, kita bisa menebak tokoh yang sedang berbicara. Lebih dari itu semua, gaya mendalang beliau yang segar dan jenaka menjadi magnet tersendiri bagi saya, penikmat wayang kelompok muda generasi akhir 80an. Beliau mahir menyisipkan humor pada setiap adegan khususnya melalui tokoh-tokoh yang sering beliau ”kerjain” semisal Pandhita Durna, Patih Sengkuni, Burisrowo, para kurawa celelekan seperti Durmagati dan Dursasana, dan panakawan sabrang Ki Lurah Togog dan Ki Lurah Mbilung.

Bila kelucuan adegan wayang hanya pada episode Goro-goro yang menampilkan Semar dan kompatriotnya, itu adalah lumrah. Tetapi jika wayang-wayang berkarakter serius semacam Kresna, Puntadewa, Bima atau Baladewa bisa melontarkan banyolan, maka sanjunglah dalang yang meng”hidup”kan mereka. Tak hanya itu, tokoh sakral sekaliber Bathara Guru dan Bathara Narada pun sesekali juga tampil “gaul” di tangan beliau. Pada sisi inilah kreatifitas beliau, oleh beberapa fihak, dianggap sebagai dekarakterisasi.

Beliau mendalang sesuai pakem, sama dengan para konservatif lainnya. “Dalam soal lakon, kalau memainkan lakon-lakon babonan saya selalu sama persis dengan apa yang ada di pakem lakon. Tetapi kalau memainkan cerita-cerita carangan, saya memang banyak menafsirkan sendiri dan saya sesuaikan dengan situasi dan kondisi sewaktu saya mendalang” demikian menurut beliau. Bagi saya, gaya ini bukanlah suatu proses dekarakterisasi, justru kepiawaian beliau ini adalah sebuah loncatan gaya mendalang yang bervisi jauh maju ke depan.

Visi beliau terbukti dari kemampuannya mengemas wayang sebagai sebuah tontonan sekaligus tuntunan. Tontonan (entertainment) ketika tampilan wayang memberi daya tarik dan menghibur pemirsanya, namun juga tuntunan (education) ketika kisah wayang mentransfer nilai budaya, filosofi, etika dan moral tanpa kesan menggurui. Pun tatkala popularitas beliau telah melampaui sekat-sekat geografis dan segmentasi budaya, beliau tetap konsisten dengan gaya beliau yang pakem, segar dan berbobot. Beliau tidak pernah terpeleset pada tren yang hanya menyajikan hiburan semata dimana tontonan wayang kering dari tuntunan nilai hidup.

Di masa remaja saya, tak banyak teman seusia yang memiliki interes terhadap wayang. Kalaupun ada sedikit yang suka, maka dapat dipastikan karena magnet gaya mendalang Sang Maestro, dalang yang suaranya selalu terdengar dari radio portabel di rumah saya. Kini, suara khas itu tetap ada di langit-langit hati pecintanya kendati si pemilik suara telah lama meninggalkan dunianya. “Kabeh janma yen wis teka titi wanci bakal tumekaning pati, marak sowan marang Sang Murbeng Dumadi” demikian sering beliau ucapkan dalam setiap pertunjukan.

Meski artefak peninggalan beliau tetap terjaga rapi dalam keping-keping CD dan VCD, rasa kehilangan tetap terasa setelah wafatnya beliau. Bila UNESCO telah menetapkan wayang sebagai warisan budaya Indonesia, maka beliau adalah garda depan penjaga warisan adiluhung itu, sebuah warisan yang kini ditinggalkan.Ya, pada 30 Besar 1940 tahun Jawa, beliau mangkat dalam usia 67, dan dimakamkan 1 Suro 1941 tahun Jawa pada sebuah pusara sederhana dengan satu nisan bertuliskan sebuah nama: Ki Hadi Sugito.

sumber gambar : photobucket.com dan wayangprabu.wordpress.com

Iklan

18 pemikiran pada “Kenangan Pada Sebuah Nama

  1. podo mas, beliau juga dalang favoritku setelah mbah Timbul. Salah satu ciri kas Ki Hadi SUgito yang paling aku sukai adalah saat memainkan tokoh pendito durno dan sengkuni, kedua tokoh ini akan ramai dan bisa mengocok perut bila dimainkan beliau.Apalagi kalau sang Durna ketemu R. Sencaki…, wah kita bakalan tertawa sampai ngleset2…

  2. wahh jadi inget, waktu kecil bacaan favorit dan wajib dari TK s.d SD adalah komik wayang , dulu inget dan paham bener nama nama dan cerita nya …
    hmmm jadi nyadar… banyak yg telah kulupakan… ada klu biar bisa merefreshnya kah ???

  3. Peninggalan beliau sungguh luar bisa..
    kita sangat bersyukur wayang diakui dunia…
    tidak dicomot lagi ama bangsa lain…

    artikel ini menambah pengetahuan lia tentang wayang…. abis lia emang sangat minim info mengenai wayang mas 😦

    makasih

  4. Kalo saya paham bahasa yang diucapkan dalang, mungkin saya akan suka mas….
    Walau saya orang jawa, tapi lahirnya di sumatera, jadi gak paham dengan bahasa yang digunakan dalang, pahamnya cuma dikit-dikit…

  5. stuju bgt… sebagai pecinta seni budaya saya merasa wayang merupakan salah satu kesenian yang mengandung nilai budaya, filosofi, etika dan moral yang sangat luar bisa,, cuma sayang perubahan zaman seolah menganak tirikan kesenian yang mengandung nilai tinggi ini..
    moga-moga wayang akan kembali memasyarakat

    maaf el jarang ol, msh da kerjaan darat.. heheheh

  6. Satu lagi generasi penjaga warisan leluhur … wayang.
    Salut bung sedjatee. Ane sendiri suka menonton wayang – waktu masih sempat, hehehe – tapi sulit sekali menyempatkan diri duduk menonton pagelaran saat ini.
    Salam wayang.

  7. Wah malu ini pak sedjatee,
    anak muda seperti kanglurik ini hanya segelintir saja yang suka dan paham tentang wayang.
    Masa kecil hampir tidak pernah diajak nonton wayang jadi mungkin sampai sekarang interestnya kurang…

    Maju Terus pak….

  8. Saya sendiri penyuka wayang, tidak hanya wayang golek, tapi juga wayang kulit. keduanya mengajarkan makna hidup, tidak sekadar hiburan semata. saya salut dengan para dalang, mereka itu benar-benar piawai. sayangnya saya malah dikatain norak hanya karena waktu malam, kawan-kawan sms, “lagi ngapain?” saya bilang, nonton wayang. ya, begitulah realita generasi muda sekarang ini. saya kira jika terus dikembangkan, sebagaimana yang diriwayatkan bahwa ada wali yang menggunakan media wayang sebagai dakwah, maka sekarang pun masih relevan sebenarnya….sangat dirindukan dalang yang da’i….. 😉

  9. Hmm… menurut saya bakalan bagus banget bila pertunjukan wayang selalu memuat nilai2 positif tentang kehidupan, sperti yang dilakukan beliau, karena spertinya setiap pertunjukan wayang selalu ditonton oleh ratusan orang selama berjam-jam 😀

  10. Cerita wayang memang inspiratif. Tokoh wayang yang konon berjumlah seribu, dengan karakter masing-masing adalah mewakili kehidupan individu manusia.kadang kita menjadi Buta (raksasa) saat mengedepankan nafsu amarah dan aluamah.Namun kita juga bisa menjadi satriya bila berbuat baik terhadap sesama.
    Wayang memang Oke …
    Salam hangat dari Solo

  11. cuman sekarang susah cari tontonan wayang.. apalagi ditempat saya. (Kalimantan)
    Padahal saya pecinta wayang. Mohon info klo ada blog tentang wayang n cerita pewayangan.
    Sampun ngantos tiyang jawa ilang jawinipun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s